Sunday, February 7, 2010

Hujan Ringkih

jendela langit terbuka lebar-lebar. hujan menyeruak. berdesak-desakan. senggol sana sini. berhamburan menuju satu tempat. tak sabar ingin menemuinya.

gadis itu disana. Duduk. Telanjang. tenang-tenang saja. toh, ia dan hujan satu, pikirnya. Mungkin siang ini kita bisa bercinta.

dari kejauhan, hujan bergemuruh, berlari, sesekali melompat. tak peduli ujung-ujung jarinya perih menabrak aspal. asal bisa menggapainya. merengkuhnya. menjalari sekujur tubuhnya. meliuk-liuk di setiap lekukannya.

kenapa? bukankah kita satu.

“hujan sini ! peluk aku. Peluk sendiriku. “

hujan diam. tak berani maju.

“hatiku terlalu ringkih untuk kau peluk?”



(2010)

2 comments:

  1. wah bagus.
    tapi agak sedih ya aku bacanya..
    nice,, :)

    ReplyDelete
  2. Thanks ya Nitya :-) Kalau sedih, berarti sama kaya hujannya dong, dia juga sedih karena gak bisa dipeluk si gadis :-)

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...