Tuesday, February 16, 2010

Bermain dengan saudara kembar

Hujan punya dua saudara kembar. Namanya Guntur dan Kilat. Mungkin kamu yang membaca tulisan ini berpikir, kok bisa? Bukannya Hujan anak tunggal? Tidak. Saudara kembar itu memang ada, teman. Dan Hujan suka sekali bermain dengan mereka.

Hari ini mereka main petak umpet.

“Sembunyi ya! Pokoknya, aku bakal hitung sampai sepuluh. Kalau sudah sepuluh, kalian sudah nggak boleh kelihatan lagi”. Teriak Hujan, disambut gemuruh semangat ke dua saudara kembarnya itu.

“Oke, siap! Satu, dua, tiga, empat...” selanjutnya Hujan terus menghitung dengan semangatnya. Sambil memejamkan matanya, tak boleh curang. Di kejauhan terlihat Guntur dan Kilat berlari mencari tempat persembunyian mereka yang paling aman.

Kilat itu kurus, dengan kulit berkilau, mirip dengan Hujan. Hanya saja kilat lebih pucat. Mungkin karena Kilat suka begadang, atau kurang minum vitamin, padahal sudah sering diingatkan oleh kedua orang tuanya.

Sedangkan Guntur lebih berisi sedikit. Lebih gemuk tepatnya. Hobby lainnya adalah mebaca puisi. Ia suka sekali membaca puisi-puisinya hujan, kencang-kencang. Dan suka sekali melatih suaranya. Siapa tahu suatu hari nanti ia bisa bergabung dengan Glorify Choir, paduan suara di Bandung, yang isinya anak muda semua. Begitu cita-citanya.

“Se-pu-luh... Okay, semuanya sudah sembunyi yah. Gun-gun, Kil-kil, kalian dimana?” Teriak hujan tertahan mencari kedua saudara kembarnya.

“Nah loh, Kil-kil kamu keliatan. Ayo kamu kena. Ayo keluar, hihihi... Yesss! Kil-kil kena. Kil-kil kena.” Seru Hujan girang, karena bisa langsung melihat Kilat.

“Ah, Hujan! Kamu curang ih, pasti kamu ngintip yah? Huh.” Rajuk kilat, sambil memonyong-monyongkan bibirnya ke depan.

“Ih, aku nggak ngintip kok. WEK! Lagian, siapa suruh kamu sembunyi di langit gelap? Kan jadinya kulit pucatmu kelihatan.” Balas hujan tidak mau kalah.

“Sekarang tinggal Gun-gun nih. Mana yah? NAH! Itu Gun-gun! Hey, keluar kamu genduuuttt. Aku liat kamu, aku liat kamu.” Hujan girang sekali, ketika memergoki saudara kembar satunya lagi, yang sedang berusaha keras menahan batuknya. Padahal kadang desahnya saja kedengaran.

Aku diam-diam tertawa, melihat ulah mereka bertiga.

Kapan terakhir kali aku main petak umpet, sambil hujan-hujanan ya? Wah, sudah lama sekali. Ketika itu saudara-saudara perempuanku masih lengkap semua.

(2010)

2 comments:

  1. Hahaha ... pantesan tiga bersaudara, The ... =D

    Nice metaphor ...

    ReplyDelete
  2. wah, suka suka suka.
    *suka-nya juga kembar tiga :D*

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...