Wednesday, March 14, 2012

Pertemuan






Suatu ketika pertemuan di hari pertama tidak akan dilupakan. Penting sekali mengenal detail pertemuan pertama. Penting sekali membaui kamu untuk pertama kalinya. Penting sekali menangkap mata teduhmu untuk pertama kalinya. Memasuki pertemuan saya senang mengakui bahwa keyakinan saya benar, perpisahan akan membawamu kepada pertemuan selanjutnya.

Dan memasuki pertemuan yang sekarang, saya bersyukur bahwa pernah ada perpisahan yang terakhir.   

Apa yang akan kamu catat ketika pertemuan pertama. Saya mencatat banyak, bau, senyum, hangat telapak tangan, salam pertama kali, dan mata teduhmu. Mata teduh yang berbinar ketika senang. Persis seperti saya.

Ketika senang, ketika sedih, mata saya punya binarnya sendiri. Dan jika peka, banyak orang hanya akan mengenal saya dari binar mata saya. Absurd memang. Tapi bagi saya mata tidak pernah bohong.

Jika mau jujur saya ingin mengatakan bahwa kamu punya mata yang indah. Meneduhkan. Seperti kolam bening yang dipenuhi dengan banyak pohon rindang. Saya bisa pergi kesana jika ingin melamun.

Friday, February 10, 2012

The One That Got Away.




Ada bekas lipstik di cangkirmu.

“Bekas siapa?” tanya saya.

Kamu tidak menjawab pertanyaan saya. Matamu menerawang jauh. Menyulut rokok dalam-dalam. Dan mengetukkan jari-jarimu ke meja yang ada di depan. Kamu masih diam. Banyak sekali pertanyaan di kepala saya saat ini yang ingin saya tanyakan. Tetapi saya tahan.

“Saya berniat untuk tinggal di Ubud. Mungkin beberapa bulan. Saya butuh sendiri.” kata saya kemudian memecah keheningan kami. Kali ini akhirnya kamu mengangkat muka dan menatap saya.

“Untuk apa ke Ubud?” akhirnya itu yang keluar dari mulut kamu. Lalu melanjutkan menyulut rokokmu semakin dalam. Ada perih sekilas dari matamu. Pertanyaan itu akhirnya membuat saya terdiam. Saya sendiri tidak berani menjawab.

“Saya ingin meninggalkanmu. Saya ingin kamu bahagia.”

Ingin sekali saya menjawab begitu. Tapi saya tahan. Karena jawaban itu seperti membunuh diri saya sendiri. Membunuh rasa cinta yang telah saya simpan sudah berapa lama. Entah. Seharusnya saya jujur saja. Seharusnya saya mengatakan perasaan saya yang sebenarnya. Bahwa hubungan kita ini seharusnya sudah lebih dari sekedar berteman dan tidur bersama. 

Hubungan macam apa ini?

Saya menatap matanya lagi. Berharap saya berani mengungkapkan yang sebenarnya.

“Saya sayang sama kamu. Saya sebenarnya tidak ingin ke Ubud. Saya ingin di sini saja. Menemani kamu menyelesaikan pameran gila kamu itu. Dan setelah itu kita merencanakan pernikahan kita. Saya ingin kejelasan. Saya ingin punya pasangan. Sahabat sekaligus teman tidur yang menyenangkan. Dan itu adalah kamu.”

Tapi tidak. Bukan kalimat-kalimat itu yang keluar.

“Ubud itu mimpi saya. Sudah lama saya ingin dan harus ke sana. Karena galeri ayah sudah harus ada yang mengurusinya. Saya sudah menunda ini terlalu lama.”

Kamu masih menatap saya. Tatapanmu seakan meminta penjelasan lebih lanjut. Tapi saya sendiri gagu. Tidak bisa meneruskan kata-kata saya. Saya memutar mata melihat sudut ruangan. Letak tempat tidur yang masih sama. Buku-buku yang berantakan pada karpet di bawahnya. Asbak dengan puntung rokok yang tergeletak begitu saja. Ruangan ini tampak sudah lama tidak dibersihkan. Lalu pada pojok tempat tidur sebelah kiri, seonggok lingerie tergeletak.

“Punya istri saya. Hm, maksud saya mantan. Semalam ia mampir.” katamu kemudian. Seperti menjawab pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala saya.

DEG! seperti ada yang luruh dalam hati saya. 

Kebohongan apa lagi ini. Saya bahkan tidak tahu bahwa selama ini kamu punya istri. Bahkan mantan istri.

OH TIDAK! ingin rasanya saya berteriak kencang-kencang. 

“Oh, kamu tidak pernah bilang bahwa kamu punya is..” kata-kata saya terpotong ketika melihat seorang anak kecil, dengan rambut acak-acakan seperti baru bangun tidur kini berdiri di depan pintu. Tidak jauh dari meja tempat kita berdua duduk. 

“Papa..”


Wednesday, February 8, 2012

titik.





Saya adalah orang yang pandai membuat kesimpulan. Saya terbiasa saja mengucapkan kesimpulan. Mengumpulkan beberapa fakta, menganalisa, dan pada akhirnya sampai pada satu titik kesimpulan. Yang saya pikir itu mungkin benar. Padahal saya tolol. Kesimpulan saya kadang berakhir salah.

Seperti pasangan. Saya berpikir bahwa hubungan yang kemarin dan kemarinnya lagi adalah hubungan yang terakhir. Nah, kan! belum apa-apa saya sangat berani sekali mengambil kesimpulan. Nyatanya kali ini saya salah. Dan kesalahan saya fatal.

Ia bukan yang terakhir. Ia mematahkan semua kesimpulan baik saya. Ia bukan kata penutup. Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada doa dan harapan dala kesimpulan itu. Ia hanya segumpal titik.

...

Titik seperti tidak memberikan kesempatan kepada saya untuk menyambungkan kalimat saya. Padahal selama ini kami sama-sama membangun sesuatu. Kami membangun kata lalu menjadi kalimat lalu menjadi sebuah paragraf. Saya yakin sekali itu kami bukan hanya saya. Karena sejak lama saya sudah meninggalkan kata saya.  

Nyatanya saya salah. Ia merasa tidak membangun apa-apa. Ia merasa tidak terlibat. Ia merasa ingin lepas tangan saja. Menghapus kalimat demi kalimat. Kata demi kata. Lalu ia akan memberikan titik.

...

Malam-malam mengobrol dan tertawa panjang selesai. Malam-malam ciuman panjang selesai. Kali ini saya salah telak. Saya bahkan malu pada kesimpulan saya sendiri: bahwa ia akan menjadi yang terakhir.

Ia akan menjadi titik saya. Ia adalah kesimpulan saya.

Saya salah.




Sebuah Tulisan Tentang Puisi Yang Dinyanyikan


Membaca sebuah artikel tentang poet di blog.sfgate.com saya menemukan sebuah pernyataan yang menarik sekali yaitu

“Musicians have their own lists–dozens of them. So, for this project, no Bob Dylan, no Jim Morrison, no Springsteen, unless they have a separate life as a poet. Ryan Adams, for example, has published at least two books of poems. Jewel and Tupac (two sides of the same poetic coin?) have also written books of poetry. So, those works could count but their lyrics, not.”

Beberapa musisi terkenal di luar sana adalah penyair. Saya membayangkan mereka menulis puisi kemudian menyanyikannya dalam hati. Sebelum akhirnya membuatkan musik yang keren.

Ada puisi-puisi sepi yang akhirnya digubah menjadi lirik sedih pada sebuah lagu. Ada pula puisi-puisi cinta yang digubah menjadi lirik gembira. Tapi ada juga lirik sedih yang dikawinkan dengan musik gembira.

Saya suka sekali dengan Emilliana Torini, perempuan yang berasal dari iceland ini mencipta lirik-lirik sepi yang mampu membuat saya hanyut. Ada analogi rasa cinta yang begitu dalam kepada seseorang. Ada penantian yang tidak pernah menjadi nyata. Tapi ada kekuatan ketika mendengarkan lagunya.



Pertanyaannya apakah Emilliana mencipta lirik dulu atau mencipta musiknya terlebih dulu. ‘Sunny Road’

wrote you this
i hope you got it safe
it's been so long
i don't know what to say
i've travelled 'round
through deserts on my horse
but jokes aside
i wanna come back home
you know that night
i said i had to go
you said you'd meet me
on the sunny road


Perjalanan panjang yang dilakukan untuk bertemu dengan seseorang. Mungkin cinta itu adalah perjalanan panjang itu sendiri. Untuk kehilangan—menemukan—tidak lagi menemukan.

i never married
never had those kids
i loved too many
now heaven's closed its gates.
i know I'm bad
to jump on you like this
some things don't change
my middle name's still 'Risk'
i know that night
so long long time ago
will you still meet me
on the sunny road

Ketika mencintai terlalu dalam ada risiko. Risiko bahwa bisa jadi kita tidak akan pernah ada bersama-sama dengan orang itu seumur hidup. Risiko untuk tidak pernah memiliki. Tapi apa kita pernah benar-benar memiliki seseorang?

well, this is it
i'm running out of space
here is my address
and number just in case.
this time as one
we'll find which way to go
now come and meet me
on the sunny road

Saya pikir ada kepastian di akhir. Akhir adalah kesimpulan. Saya selalu mengira akhir dari segala sesuatu adalah jawaban. Padahal belum tentu. Akhir bisa jadi justru adalah proses mengawali. Akhir bukanlah penutup yang selama ini kita cari. Akhir adalah awal yang baru. Memulai kembali. Dan tidak tahu kapan kita bisa mengakhirinya.

Sunny Road.

Adalah imajinasi. Sebuah jalan mimpi. Hanya ada pada sebuah petualangan yang diciptakan oleh diri kita sendiri. Sejujurnya tidak pernah ada.

Ini hanya satu contoh sebuah lirik sepi. Puisi sepi. Kemudian dinyanyikan. Dinyanyikan dalam hati. Atau menjadikannya musik yang bagus sekalian. Lagu adalah puisi yang dinyanyikan. Penyanyi adalah penyair yang mendengungkan karyanya di dalam hati menjadi nada. 


Monday, February 6, 2012

[Semacam Ulasan] Buku Oeroeg, Hella. S. Haasse






Membaca Oeroeg karya Hella S. Haasse. Ketika membaca buku ini saya larut ke dalam persahabatan kental antara si tokoh “aku” dan Oeroeg. “Aku” adalah seorang anak Belanda yang ayahnya adalah administrateur di sebuah perkebunan dimana ayah Oeroeg—Deppoh bekerja sebagai mandor.

“Aku” adalah si tokoh kesepian yang tidak punya teman. Yang ketika dilahirkan hanya punya seorang teman yaitu Oeroeg. Karena kebetulan mereka juga dilahirkan dalam selang waktu yang tidak terlalu jauh. Kemudian mengalami petualangan-petualangan liar sejak kecil. Bermain di hutan. Menyerbu pohon-pohon. Menangkap binatang di sungai.

Persahabatan eksotik antara si “Aku” dan Oeroeg dengan segala perbedaan yang mereka miliki. Ada ketulusan yang ditemukan di dalam persahabatan ketika masih kecil, kemudian hal tersebut berubah ketika dewasa. Lantas kenapa? inilah yang mungkin disebut sebagai proses manusia dengan pilihan bebasnya mencari siapa yang akhirnya berhak menjadi “sahabat” dan siapa yang “tidak.”

Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada siapa. Walaupun yang satu anak mijhneer dan lainnya inlander. Atau warna kulit yang berbeda. Persahabatan jauh lebih daripada itu. Ia seperti mencintai tanah kelahiranmu—atau bangsamu.

Dan terkadang bangsamu tidak mencintaimu balik. Apakah ini sebuah ironi? Ya. Dalam hidup kadang kita mempunya hal-hal semacam ini. Mencintai terlalu banyak dan tidak dicintai balik. Tetapi kita tidak pernah tahu apa yang benar-benar ada di hati setiap orang bukan? Silakan pilih mau mencintai seperti "aku" atau Oeroeg? 

Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...