Showing posts with label #MyThoughts. Show all posts
Showing posts with label #MyThoughts. Show all posts

Wednesday, July 2, 2014

Definisi Sukses dan Bahagia Hari Ini




Definisi sukses hari ini adalah: apa yang dipamer di sosial media. Banyak foto jalan-jalan ke luar negeri yang diunggah. Makan di tempat-tempat yang fancy. Pergi menonton konser mahal lalu fotonya diunggah. Ada di crowd orang-orang terkenal dan merasa bangga. Foto selfie melulu bersama pasangan, karena merasa dirimu “laku”, “tidak sendiri”, dan “berharga”.

Dan definisi bahagia hari ini adalah: apa yang dipamer di sosial media. Ketika berfoto bersama teman-teman segerombolan dengan wajah tertawa, seakan-akan kita adalah orang yang paling bahagia, bebas masalah, bebas beban. Atau foto makanan enak dan mahal yang kita unggah. Atau foto anak-anak kita, yang detik demi detik, setiap perkembangannya harus difoto, lalu kita bagi di media sosial.

Lagi-lagi apa yang kita bagi di sosial media kemudian menjadi sebuah tolak ukur, bagi orang lain, atau bagi diri kita sendiri bahwa “paling tidak hidup gue lebih menyenangkan dari hidupnya si anu.” Atau apapun yang kita lakukan di sosial media, adalah supaya mendapat komentar yang bunyinya “Gila! Enak banget ya hidup lo!”

Lebih dangkal lagi adalah ketika definisi sukses dan bahagia hari ini adalah: ketika apa yang sudah kita pamer di sosial media mendapat jumlah like atau love yang banyak.

Tidak hanya dangkal tetapi juga bodoh.

Sampai di sini, mungkin ada yang protes, dan bilang saya sok tahu dengan semua penggambaran di atas. Terserah saja. Ini memang adalah semata-mata pendapat pribadi saya. Dan jika kamu mau punya pendapat lain atas apa ang terjadi juga tidak apa-apa.

Jika salah satu kebutuhan manusia adalah ingin diterima, dan dihargai, maka beramai-ramailah mempunyai sosial media yang banyak, lalu ciptakan tokoh, ciptakan drama, lalu mainkan sesuka hatimu, dan jadilah tuhan.

Mungkin kamu akan bahagia, dibilang sukses, tapi sejujurnya itu hanya seperti permainan monopoli. Kamu memiliki banyak uang, kamu kaya, tetapi hanya di dalam permainan monopoli.

Fana!


Wednesday, January 8, 2014

Anak Perempuan Tidak Akan Bisa Bertahan Tanpa Nasihat Ayahnya

gambar diambil oleh saya. sunset di belakang the natsepa resort. 




Apakah peran yang paling penting dari seorang ayah kepada anak perempuannya: nasihat-nasihatnya. Anak perempuan tidak akan bisa bertahan tanpa nasihat ayahnya. Dan seorang ayah tidak akan bisa bertahan tanpa kasih sayang anak perempuannya.

Ketika berbicara mengenai rumah. Saya adalah orang yang selalu sentimentil. Sekaligus keras kepala. Kontradiktif. Dan hal-hal yang sentimentil adalah selalu menyangkut ayah dengan nasihat-nasihatnya.

Semuanya adalah kalimat-kalimat pembuka. Seperti dasar untuk mengawali tahun ini. Nasihat ayah itu seperti sesuatu yang teduh. Kamu yakin kamu tidak akan kepanasan ketika sedang berada di bawah teduh.

“Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.” Begitulah ayah memulai nasihatnya. Ada satu hal yang terbersit di dalam pikiranku bahwa, tahun ini adalah bukan tahun terkenal.

Tahun ini adalah tahun yang mengandung nama baik dan dikasihi. Karena bukan “keterkenalan” yang akan membawamu kepada kekayaan besar, melainkan “nama baik” atau dengan kata lain, saya menyebutnya “integritas.”

Dan “dikasihi” lebih berharga daripada emas dan perak. “Loving favour” bagaimana rasanya dikasihi? Dikasihi seperti ada yang selalu memelukmu selalu. Ada jaminan selalu dicintai, bahkan ketika kamu merasa bahwa kamu tidak dicintai.


Ayah dengan nasihat-nasihatnya. Selalu menjadi momen berharga bagi saya. Untuk mengawali tahun-tahun saya. Bagaimana denganmu?

Tuesday, December 10, 2013

(Part 3) Passion



Dan ini adalah cerita tentang passion selanjutnya. Yang tidak random. Kamu seperti digariskan untuk melakukannya. Hanya ada satu nama Theoresia Rumthe. Dan hanya ia yang bisa melakukannya. Kata lain dari passion adalah panggilan. Untuk itulah saya ada di muka bumi ini. Untuk itulah saya di-design.

Seperti yang sudah-sudah bahwa tidak ada yang kebetulan. Begitupun hubunganmu dengan apa yang kamu sebut dengan “passion” atau “panggilan” atau sebutlah “kegairahan” itu sebagai sesuatu yang selalu membuatmu deg-degan untuk melakukannya.

Kemudian pada suatu masa, saya menemukannya di dalam menulis. Ada “kegairahan” itu. Ketika melakukannya, rasanya persis seperti ketika kamu hendak mencuri-curi ciuman untuk pertama kalinya. Ada perasaan gugup di awal kemudian diakhiri dengan rasa hangat. Yang membuatmu kepengin lagi. Ada adiksi.

Menulis kemudian menjadi adiksi. Ada hasrat yang tidak bisa saya tahan. Selalu ingin keluar. Akhirnya ketika tidak menulis saya merasa kehidupan saya hampa. Menulis itu memisahkan saya dengan panggung dan keriuhan. Sebaliknya ketika menulis yang saya inginkan hanya kondisi yang senyap dan sendiri. Saya tidak suka keramaian ketika sedang menulis. Karena pada saat itulah saya gunakan untuk mendengarkan apa yang ada di dalam.

Passion menulis saya kemudian mempertemukan saya dengan banyak orang yang tidak pernah bayangkan sebelumnya. Akhirnya merekalah yang membawa saya menggapai semua mimpi-mimpi saya.


Sampai di sini akhirnya saya belajar bahwa: mungkin yang kamu miliki bukanlah uang yang banyak, tetapi kamu kenal dengan baik apa yang menjadi “panggilanmu” dan kamu lakukan itu secara konsisten. Maka itulah passion. Itulah kegairahan. Kegairahan yang akan menuntunmu kepada sebuah kata “berhasil” jika kamu mempercayainya. 

Monday, December 9, 2013

(Part 2) Passion




Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan passion yang kemarin. Intinya saya mau teman-teman yang membaca tulisan tulisan saya, juga menemukan passion yang ada di dalam dirimu dan hidup and live your life fully!  

Saya adalah anak yang tumbuh karena senang eksplor banyak hal. Ketika ayah dan ibu harus bertugas di lain kota, saya terpaksa sudah harus merantau sejak saya masih TK. Tinggal bergantian di rumah tante dan nenek saya. Saya kecil survive. Sering dikenal sebagai pemimpin untuk anak-anak yang masih lebih muda. Dan sangat mudah bergaul.

Saya bukan seperti anak-anak pada umumnya. Terkadang jika sudah bosan, saya memilih untuk bermain di bawah kolong tempat tidur, di belakang pintu, di dalam lemari, berbicara kepada dinding seakan-akan ada yang tinggal di sana (ada Doda, teman imajinasi saya), dan saya doyan berbicara sendiri di dalam kamar mandi.

Ketika sedang berbicara sendiri, saya selalu membayangkan bahwa saya adalah seorang ibu, atau perempuan dewasa, atau pembawa acara, atau siapa saja, tergantung suasana hati saya pada waktu itu. Saya menikmatinya, berjam-jam. Itulah yang pada akhirnya membawa saya bekerja sebagai penyiar radio, MC, moderator, voice over talent, penyanyi, dan pada akhirnya mengajar.

Ketika berbicara, ada kesenangan tersendiri. Ketika diperhatikan oleh orang lain, saya sangat menyukainya. Sejak kecil ayah dan ibu juga membiasakan kami, ketiga anak perempuannya, untuk terbiasa dengan panggung.

Kesimpulan saya: passion itu adalah hal yang biasanya senang kamu lakukan bahkan ketika kamu masih sangat belia. Dan ketika kamu terus melakukannya hingga kamu dewasa, passion yang membuat kamu terus memiliki semangat seperti anak-anak. Kamu tidak pernah lelah. Karena kamu adalah anak-anak. Selamanya kamu tidak akan berhenti bermain. 

Friday, December 6, 2013

(Part 1) Passion




Akhir-akhir ini saya banyak dipertemukan dengan orang-orang yang bisa dibilang, mereka sangat “nyaman” dengan hidup mereka, hingga mereka tidak tahu apa yang mereka hendak kerjakan di dalam hidup. Mereka kebingungan. Bahkan di usia tertentu, mereka masih merasa tidak ajeg dengan hidup yang sedang mereka jalani.

Garis bawahi kata “tidak ajeg” menurut pengertian saya dua kata ini memiliki arti lain yaitu: (1) tidak yakin dengan hidup yang saat ini sedang dijalani, atau (2) tidak tahu mengerjakan apa untuk hidup mereka.

Orang-orang yang saya temui itu cukup berada. Mereka tidak pernah kekurangan. Kebutuhan mereka hamper bisa dibilang selalu terpenuhi. Hanya saja mereka kebingungan. Mereka tidak punya passion. Mereka bahkan masih bertanya-tanya apa yang menjadi passion mereka.

Passion. Bersyukurlah kamu, jika kamu sudah menemukannya. Menurut Wikipedia, passion adalah passion is a term applied to a very strong feeling about a person or thing. passion is an intense emotion compelling, enthusiasm, or desire for anything.

Maka terjemahan bebas saya passion adalah ketika kita menemukan sebuah perasaan yang kuat terhadap sesuatu yang menurut kita sangat menarik, membuat kita selalu merasa antusias dan bergairah.

Ada tiga kata keren yang saya temukan di dalam passion yaitu (1) perasaan yang kuat (2) antusias dan (3) bergairah.

Tiga hal ini yang menurut saya akan menyertai apa yang kita yakini sebagai sebuah passion. Kebalikannya jika kita tidak memiliki tiga hal ini, maka itu bukanlah passion kita.

Sekarang, jika kamu belum menemukan apa yang menjadi passion kamu, coba renungkan hal ini, kira-kira ketika sedang mengerjakan apa yang membuat kamu selalu punya perasaan yang kuat ketika melakukannya, antusiasme yang tinggi, dan selalu bergairah.

Silakan tulis jawabannya di halaman comment ya.


Wednesday, December 4, 2013

Sebuah Tulisan Tentang Jodoh Yang Tak Kunjung Tiba




Setiap orang punya bucket list. Saya pun demikian. Dari nomer satu hingga nomer kesekian. Semuanya tentu pingin saya wujudkan. Ada yang dalam waktu dekat, tetapi ada juga yang akan saya wujudkan dalam waktu yang lumayan panjang.

Salah satunya adalah tentang pasangan. Saya tidak punya kriteria macam-macam soal ini. Semuanya sudah lewat. Tidak ada lagi yang harus begini dan begitu. Memasuki usia tiga puluh, kriteria saya soal pasangan sangatlah sederhana.

Uhuk. Tidak usah dibahas lebih lanjut ya. Tapi dalam obrolan saya bersama seorang teman tentang jodoh, saya kemudian menyatakan bahwa “jika berdoa dan yang diminta hanya jodoh jodoh dan jodoh. Saya merasa doa saya terlalu egois.”

Paling tidak, ini yang saya rasakan. Saya adalah perempuan dengan usia tiga puluh tahun, yang telah memasuki skala-pertanyaan-sampai bosan: “kapan menikah?” ujung-ujungnya pertanyaan-pertanyaan ini hanya akan dijawab dengan senyum manis saya. Karena saya sudah malas menjawab. Jadi saya menjawabnya dengan senyum manis-basa-basi saja.

Kalau sudah begini, komentar orang akan beragam soal jodoh yang tak kunjung datang. Misalnya:

(Komentar 1) “Makanya jangan galak-galak, supaya jodoh kamu cepet.”

Jawaban saya: Jodoh cepat tidak ada hubungannya dengan saya galak atau tidak. Biasanya saya akan galak jika saya disuit-suitin jika sedang berjalan sendirian di jalan. Saya pernah mendatangi langsung orang yang melakukannya dan bertanya “ada apa suitin saya? Ada masalah?”

(Komentar 2) “Kamu sih terlalu mandiri, jadi aja cowok-cowok pada segan.”

Jawaban saya: Duh maaf ya, saya tidak demen sama cowok yang tidak percaya diri. Cowok yang tidak punya value atas dirinya sendiri. Apalagi cowok yang takut karena perempuannya jauh lebih terkenal daripada dirinya.

(Komentar 3) “Makanya, banyak berdoa dong, supaya jodoh kamu cepat datangnya.”

Jawaban saya: Saya percaya kuasa doa. Tetapi terlalu egois, jika yang saya doakan hanya masalah jodoh. Saya ulangi: terlalu egois! Ijinkan saya berbagi logika sederhana saya denganmu, bagi saya hubungan saya dengan Tuhan itu seperti hubungan saya dengan ayah. Ayah saya di dunia, sangat baik membesarkan saya dan kedua kakak perempuan saya.

Kami bukan dari keluarga yang mampu. Tetapi ayah mampu memenuhi segala kebutuhan kami. Saya ingat ayah akan mengusahakan segala sesuatu secara halal untuk penghidupan kami. Ayah akan berusaha. APALAGI, Ayah yang ada di atas sana.

Saya percaya bahwa jika memang Ayah hendak memberikan jodoh kepada saya, IA tidak perlu meminta saya untuk berdoa yang banyak, melakukan kebaikan sebanyak mungkin, lalu setelah itu saya akan mendapat pasangan sebagai reward. 

Karena ayah saya yang di dunia, tidak pernah melakukannya. Sebaliknya ayah saya di dunia, jika ingin memberikan sesuatu, ia akan memberikannya, karena saya adalah anak perempuannya. Karena ia memang tahu bahwa saya pantas mendapatkannya. Karena ia memang tahu bahwa ini sudah waktunya. Itulah, bagaimana doa itu bekerja, kalau memang sudah waktunya.

Masih banyak yang bisa kamu “minta” dalam doa kamu. Jangan egois, dengan berdoa hanya demi meminta jodoh. Karena “jodoh” akan datang tepat pada waktunya. Bagianmu adalah tetap sibuk dan bersabar.  




Wednesday, November 27, 2013

Setiap Orang Bisa Saling Mengirimkan Pesan





Temanya minggu ini adalah: setiap orang bisa saling mengirimkan pesan. Setiap orang adalah pembawa pesan bagi yang lainnya. Asalkan kita bisa buka hati kita dan merasa. Hal ini bisa disebut sebagai tanda, signal, frekuensi, “membaca” atau apapun istilahnya.

Saya selalu percaya apapun yang disebut sebagai “kebetulan” sebagai sesuatu yang bukan kebetulan. Mengutip sebuah bacaan: jika kebetulan kebetulan tersebut terlalu banyak terjadi, apakah masih bisa disebut “kebetulan.”

Sampai di sini, saya selalu melakukan itu kepada diri sendiri. Mengecek kebetulan dan meminta tanda. Sedikit absurd memang. Jika saya menjelaskannya: ini akan seperti, setiap hari, ketika saya hendak beraktivitas di pagi hari, mood apapun yang sedang saya lalui, saya selalu memejamkan mata saya dan meminta paling tidak 3 tanda.

Ketika saya membuka mata, saya akan menemukan tanda-tanda itu dari sticker yang ada di mobil yang lewat, tulisan pada papan iklan, atau bisa jadi pada tanda smile berwarna kuning yang terdapat pada helm pengendara motor.

Sebut saya gila. Tetapi jika kamu baca kalimat pembuka saya di atas bahwa “setiap orang bisa saling mengirimkan pesan” dan kamu percaya, maka mungkin kamu juga tertarik untuk melakukan hal yang sama.

Saya masih ada di dalam penelitian saya tentang hal ini. Bahwa pesan-pesan itu akan datang. Bahwa di satu titik, ternyata kita sedang berada dengan frekuensi yang sama dengan orang lain. Yang membuat kita akhirnya connecting.

Saya suka mengirimkan sinyal dan pesan saya kepada orang lain dalam diam. Kamu juga bisa melakukannya. Bisa jadi orang tersebut adalah orang yang kamu suka. Atau yang pernah ada di masa lalu kamu. Atau orang yang mungkin akan ada di masa depan kamu sekaligus. Pejamkan matamu sebentar, bayangkan orang itu sebentar, kemudian kirimlah pesanmu lewat hatimu.

Thursday, November 14, 2013

Sebuah Pengalaman Relijius Bahwa Kita Tidak Lupa Untuk Selalu Bersyukur






“Yang saya naksir dari kamu adalah you are what you are.”

Ini adalah sebuah pesan yang saya dapat dari seorang sahabat. Ia perempuan. Kami bersahabat sejak SMA, dan kini kami masih berteman baik, bertukar cerita dan berbagi kabar.

Jika kata sahabat saya yang lain “Kamu itu kalau lagi marah, mukanya langsung kelihatan. Pun kalau lagi sedih. Apalagi jatuh cinta! Kamu itu terlalu ekspresif.”

Saya begitu. Saya rasakan segala sesuatu yang ada di dalam. Saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri. Saya tidak bisa membohongi perasaan saya. Bahkan ekspresi muka saya akan menujukkan seperti apa saya.

You are what you are, yang sahabat saya maksud di sana bukan hanya sekedar ungkapan be yourself yang seringkali kita dengar. Tetapi lebih kepada bagaimana kita jujur. Bagaimana kita merayakan diri kita secara natural. Secara otomotis menerima diri kita apa adanya. Tidak perlu bersusah payah untuk menjadi seperti orang lain.

Saya dulunya tidak menyukai rambut keriting saya. Saya meluruskannya sampai beberapa kali. Tetapi saya berubah ketika saya melihat diri saya berbeda, bahwa rambut keriting yang saya miliki, adalah identitas.

Saya dulunya tidak menyukai bagian dada saya yang rata, tetapi akhirnya saya bersyukur banyak bahwa dengan ukuran dada yang tidak terlalu besar. Saya bisa bergaya dengan beha yang warna warni dan lebih gaya. Dan harganya jauh lebih murah, tentunya.

Saya dulunya tidak menyukai ini itu blah blah blah.

STOP.

Kalimat di atas seharusnya diganti dengan: saya menyukai semua tentang diri saya. Bahwa ungkapan kita menyukai diri kita adalah sebuah pengalaman relijius, bahwa kita tidak lupa untuk selalu bersyukur.


Tuesday, November 12, 2013

Kamu Tidak Pernah Jatuh Cinta Dengan Orang Yang Salah







Akhir-akhir ini saya sedang berpikir bahwa sebenarnya kehidupan terdiri dari pola-pola. Di dalam percakapan saya dengan seseorang di masa lalu, kami sepakat bahwa cinta kami adalah sebuah pola. Bahwa sebenarnya kami hanya mengulangi kisah cinta yang dulunya pernah terjadi oleh orang-orang di atas kami.

Saya pernah melakukannya. Jatuh cinta dengan orang yang salah, katanya. Tetapi saya tidak percaya. Saya tidak percaya bahwa ada kesalahan ketika kita mencintai seseorang. Saya tidak percaya bahwa terdapat sebuah “kesalahan” ketika kita mencintai orang lain. Seperti sebuah “kesalahan” pada lembaran jawaban siswa. Dan ketika salah, guru akan menandainya dengan bolpoin merah.

Hanya saja saya tidak suka kalimat ini: Jatuh cinta dengan orang yang salah.

Kalimat tersebut terlalu egois. Seakan-akan kita tidak pernah melakukan kesalahan di dalam hidup. Kalimat itu juga seakan menyiratkan bahwa, jika kesalahan itu ada di pihak kita, selamanya kita yang benar, dan pihak sebaliknya yang salah.

Bagi saya, setiap orang terbuat dari kesalahan. Tidak ada yang berhak menghakimi orang lain. Saya pernah ada di dalam kondisi yang “salah” dan saya dihakimi. Saya berpikir ulang, kenapa saya dihakimi? dan yang parahnya adalah orang tersebut tidak hanya menghakimi saya. Ia juga menghakimi orang-orang yang berada di dekat saya.

Saya belajar beberapa hal dalam kondisi ini: ketika kamu dihakimi oleh orang lain, sebenarnya orang tersebut sedang menghakimi dirinya sendiri. Itu adalah perwakilan dari isi hatinya. Jangan terlalu dekat dengan orang yang suka menghakimi orang lain.

Kamu tidak pernah jatuh cinta dengan orang yang salah. Tidak ada satu orang pun di bahwa langit ini yang punya kuasa untuk mengatur, yang itu “salah” yang itu “benar” atau yang itu “tepat” karena konon hati manusia itu terlalu dalam untuk dinilai hanya dari permukaannya.

Friday, November 8, 2013

Generasi Digital Adalah Generasi Pamer



Sadar atau tidak sadar, banyak orang yang mengejar untuk kelihatan “keren” coba perhatikan sekelilingmu, semua orang berlomba-lomba untuk punya gadget terbaru, semua orang aktif di sosial media untuk, memosting foto sedang liburan kemana, atau nongkrong sama siapa, atau meng-RT pujian ketika dipuji di twitter, bahkan yang lebih dangkal adalah berlomba-lomba melakukan “unjuk gigi pencitraan” supaya mendapat banyak follower.

Lain halnya ketika kita bermain path atau instagram, kita akan memosting pose-pose foto kita dengan berbagai gaya, dalam rangka mendapat pujian atau mengejar-ngejar komentar yang bikin hati kita senang. Ya ujung-ujungnya supaya kita dibilang cool. Kita dibilang keren. 
Yang muncul dalam kepala saya ketika melihat fenomena ini adalah: generasi digital adalah generasi  pamer.

Tapi selamat datang di era digital, teman-teman. Dan selamat datang di era “ketika lo nggak pamer, lo nggak keren.”

Oke, tulisan ini dibuat bukan untuk menegur siapa-siapa. Tulisan ini dibuat untuk menegur diri saya sendiri yang terkadang juga melakukannya.

Berbeda dengan jaman dulu, ketika banyak orang tidak banyak bicara, tetapi mereka menghasilkan sesuatu. Banyak musisi yang kemudian bisa menghasilkan lagu bagus tanpa perlu berkoar-koar dulu di twitter. Banyak penulis yang menghasilkan buku bestseller, tanpa perlu pamer dia begadang malam-malam ketika menuliskannya. Banyak fotografer yang sukses dengan pekerjaan memotretnya, tanpa perlu “pamer” dulu di facebook, instagram, dlsb.

Sedangkan jaman sekarang mau liburan saja, harus pamer dulu dengan status “Lagi packing nih.” Ujung-ujungnya pengin ditanya, “mau kemana sih?”

Yang lagi kencan sama pacarnya, harus pasang status “malam mingguan dulu ya, sama hunbun.” Ujung-ujungnya pengin dikomentari, “Ejieee.”

Atau status sok sibuk yang biasanya kita sengaja lakukan, contoh: “duh, meeting to meeting nih. Sudah kopi ke berapa ya.” Ujung-ujungnya pengin dikomentari, “Sukses ya!” atau “Semangat!”

Hal lainnya, ketika kita pasang status nowplaying sebisa mungkin kita cari musik yang lagi update banget dan kalau bisa yang susah, supaya ketahuan kalau kita memang mendengarkan musik-musik yang “keren” dan tidak biasa.

Ternyata semua yang kita lakukan di atas ini hanya untuk satu kata: pamer. Kita adalah generasi yang senang memamerkan hal-hal yang terlalu dangkal untuk berlomba-lomba disebut “keren.”

Suatu hari obrolan saya dengan beberapa sahabat tentang betapa banyak orang saat ini banyak yang berlomba-lomba untuk terlihat keren dengan hal-hal yang dangkal.

Mereka lupa bahwa orang-orang “keren” tidak pernah berupaya dengan keras untuk “berteriak” kepada dunia bahwa ia sudah melakukan sesuatu.  Orang “keren” yang sebenar-benarnya “keren” tidak perlu pamer.


Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...