Thursday, January 19, 2012

Surat Cinta #6: Untuk F






Ayah, masih ingat terakhir kali kita bertemu? 

Sekitar 3 bulan yang lalu ketika saya pulang Ambon. Waktu itu ayah berdiri di sana. Dengan senyum yang khas. Tawa yang khas. Dahi yang sedikit berkeringat. Tapi itu tidak membuat saya undur untuk berlari dan mencium pipi. Memeluk tubuh. Ayah tidak terlalu kurus seperti ketika terakhir kali kita bertemu. Waktu itu ayah sedang mengunjungi kakak. Dan ketika saya sampai terlambat, ayah menunggu saya di pinggir jalan masuk. Hanya supaya memastikan saya baik dan sampai dengan selamat. 

Karena jarak yang memisahkan, kami biasanya hanya mengobrol di telepon. Ayah terkadang menelepon hanya untuk menanyakan saya sedang dimana dan bilang hati-hati pulangnya. Saya lebih tidak penting lagi menelepon hanya untuk bertanya apa kabar ayam-ayam di halaman belakang.

Ayah selalu berpikir saya masih anak kecil konde dua. Padahal saya sudah dewasa dan sudah tahu apa itu jatuh cinta dan patah hati. Banyak keputusan salah yang pernah saya lakukan. Tapi ayah tidak pernah ngejudge. Ayah selalu mendukung.

Saya suka sekali ketika ayah memanggil saya dengan “Nona” dan saya suka sekali memanggil ayah dengan “Bung” supaya kita seperti sedang pacaran. Seperti kekasih. Tapi tentu saja cinta ayah pada saya lebih dari sekedar seorang kekasih. Karena ayah punya kekasih dan itu adalah ibu.

Tidak ada yang mencintaimu seperti seorang anak kecil—sampai mencintainya seperti wanita dewasa—kekasih. Hanya ayah yang bisa melakukannya. Dan saya mencintai ayah seperti apa? saya tidak tahu. Yang saya tahu, saya punya ayah yang keren. Kelak anak saya punya kakek yang keren. 

Ayah sedang apa? sekarang rambut saya pendek.  



Wednesday, January 18, 2012

Surat Cinta #2: Untuk B


Hai. 

Oke. Kamu pria B. Saya ingat jelas wajahmu. Kamu hanya selang waktu ketika saya lebih tepatnya hati saya selesai dengan A. Saya ingat jelas-ketika kita jalan-jalan di sekitar kota (saya tidak usah menyebutkan namanya) supaya kesannya lebih misterius. Ada perkenalan singkat. Lalu setelah itu ada obrolan-obrolan panjang kita yang dilanjutkan kembali.

Saya ingat waktu itu friendster sedang happening dan saya menemukan kamu di sana. Sedangkan kamu dan saya sudah tidak ada lagi di kota yang sama. Terakhir kali saya tahu kabar kamu, katanya kamu sekeluarga sudah fix pindah ke kota itu.

Kemudian hubungan kita pun berlanjut kepada telepon-telepon panjang dengan beberapa pesan yang panjang juga. Yang ternyata saya masih menyimpannya. Dan ketika saya membuka lagi pesan-pesan itu. Saya suka geli sendiri. Karena ... Duh, saya pernah begitu apa ya? saya tidak berani bilang bahwa saya jatuh cinta sama kamu.

Karena hanya terlalu cepat saja. Hanya saja kamu memang seorang pria yang baik. Waktu itu kita pernah bercerita soal jazz, musik, visi, komunitas dan kamu adalah teman ngobrol yang menyenangkan. Kita nyambung. Dan bahkan kalau diingat-ingat saya punya panggilan sayang untukmu.

Berbeda dengan A. Kali ini kamu ada di notes-notes facebook saya (waktu itu facebook sudah mulai ada), lalu saya mulai rajin menulis puisi-puisi pendek untukmu.

Ih, saya norak.

Tapi terimakasih mengenalmu. Sampai akhirnya kamu pernah mengunjungi saya. Paling tidak ketika itu, saya cukup deg-degan untuk berpikir akan pakai baju apa. Lalu pilihan saya jatuh kepada dress ungu. Ya, saya ingat pertemuan kita. Dan kini ketika saya baca lagi, saya masih menemukan ini :

“..i appreciate your writing i think you'll be a great author. truly sorry if i offend you in some ways. it has been a blessing to get to know an amazing women of God such as you. keep your foot on His track.”

Saya anggap itu support yang baik.




Tuesday, January 17, 2012

Surat Cinta #1: Untuk A


Saya termasuk yang payah. Kali ini saya tidak tertib menulis surat cinta. Tetapi setelah dipikir-pikir, kenapa tidak? saya masih punya kesempatan untuk menulis. Lalu jika ditanya menulis surat cinta tiap hari, sampai kepada hari yang ke-30. Apa yang akan kamu tulis?

Saya akan menuliskannya kepada pria ke-satu sampai kepada pria ke-30.

Ya. Dan saya akan mengawalinya dengan menulis tentang kamu. Seorang pria berinisial A yang saya kenal beberapa tahun yang lalu. Entah kenapa saya tiba-tiba ingat kamu. Tadi ketika saya hendak melewati sebuah jalan, saya ingat tentang diary. Diary-diary saya di awal tahun 2000 yang semuanya isinya penuh tentang A.

Oke, kalau saat ini ada yang bertanya kenapa sampai hal itu bisa terjadi. Itu karena saya memang jatuh cinta sama kamu A. Maksud saya, oke—sebutlah itu adalah cinta monyet—karena waktu itu saya masih sangat muda. Tapi saya memang jatuh cinta. Lalu saya ingat sejak saat itu, hanya kamu yang ada di catatan-catatan diary saya.

Bahkan beberapa kali saya menulis bahwa, mungkin suatu saat kita bisa hidup bersama. Saya selalu suka kalau kita berada di kegiatan yang sama. Apalagi kalau kita melakukan perjalanan-perjalanan yang sama, seperti ke Solo waktu itu. Dan yang paling saya suka adalah ketika kamu mulai melucu.

Waktu itu saya masih sangat muda, saya bahkan baru berumur enambelas tahun dan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Jatuh cinta yang seperti apa waktu itu. Saya sendiri tidak tahu. Yang saya tahu, saya mencatat tentang dirimu selama kurang lebih empat tahun kemudian sejak itu—lalu kemudian saya pindah kota. Dan anehnya saya tetap menulis tentang kamu.

A, saya ini memang orang yang aneh.

Sampai akhirnya saya mendengar kamu menikah di kota ini. Dan sejak itu kamu tidak pernah ada lagi di dalam diary saya.

A, kamu pasti tidak pernah tahu. 






Friday, January 13, 2012

Bohong





Hari ini saya bangun siang. Kamu pasti bangunnya pagi? seperti biasa saya tidak sedang jatuh cinta. Tapi kamu pasti tahu kalau saya bohong. Begini ya, saya hanya ingin bilang bahwa saya itu bosan jatuh cinta. Saya hanya ingin ... istirahat. Istirahat dari jatuh cinta. Tapi kalau begitu jatuh cinta itu sebuah pekerjaan dong.

Ya, seperti itulah. Saya ingin istirahat jatuh cinta sama kamu. Seperti tidur di malam hari. Saya pakai piyama oranye. Meletakan kepala saya di bantal. Selimut sampai di dagu. Tertidur. Begitu saja. Tanpa memikirkan kamu terlebih dahulu. Tanpa bermimpi naik balon terbang bersama kamu. Tanpa berpikir suatu hari kelak, kita akan menulis kutipan-kutipan kesukaan kita pada dinding perpustakaan rumah kita. Lalu saya yang keukeuh menamakan anak kita Ben untuk yang laki-laki. Dan yang perempuan kamu saja yang berikan.

Nah, mulai lagi kan saya.

Padahal kan tadi di awal saya bilang bahwa sedang ingin istirahat jatuh cinta. Tapi kenapa saya ingin menulis posting ini untuk kamu adalah tadi pagi ketika saya habis mandi dan sedang dandan tiba-tiba ada lagu That’s How Strong My Love Is – Alicia Keys. Hm, kamu tahu lagu ini begitu kurang ajar. Kenapa? ya, karena lagu ini mengingatkan saya lagi sama kamu.

Bahwa selama ini saya tidak pernah istirahat. Bahwa saya cinta. Dan cinta saya semakin kuat. Kamu akan tahu ketika kita bertemu mengobrol bersama lagi. Dan kamu lihat ke mata saya.

Tapi kali ini saya ingin istirahat. Kalau pupil mata saya membesar. Berarti saya bohong.




Monday, January 9, 2012

New Year. New Hair.


Lama tidak ngeblog. Dan saya kangen. Hey, happy new year! Semoga tahun 2012 ini menyenangkan. Saya bingung ketika ditanya “apa resolusi kamu?” Hm. Saya tidak punya resolusi apa-apa. Saya cenderung santai. Tidak menyukai list A-Z. Dan memilih untuk tidak menulis resolusi apa-apa di tahun ini.

Tahun 2011, banyak hal-hal menakjubkan yang saya alami. Saya sendiri cenderung dikejutkan dengan banyak hal baru di tahun kemarin. Yang saya ingat memasuki tahun 2011, saya hanya berdoa bilang : pertemukan saya dengan orang yang tepat. Itu doa  saya sepanjang tahun kemarin. Dan Tuhan melakukannya. Ia selalu mempertemukan saya dengan orang “tepat.” Bagi saya, bertemu dengan orang tepat sepanjang tahun kemarin, membawa sinergi baru, membawa project baru, membawa chemistry baru.

Lalu memasuki tahun 2012. Saya potong rambut. Oke, hampir lima tahun terakhir ini saya tidak potong rambut. Jenis rambut saya keriting dan mengembang. Dan terkadang saya cukup bosan dengan gaya mengonde, menguwel-uwel, sesekali dikepang. Bosan sekali. Saya ingin gaya rambut model baru. Lalu, di suatu malam yang impulsif ketika saya selesai siaran, saya bilang kepada teman saya “Rul, gue pengen potong rambut nih. Bosen.” Teman saya lalu memprovokasi saya untuk pergi ke Barber Shop, Rock n Roll Cutting Hair, yang letaknya di Plaza Dago.

Oke. Barber Shop it’s only for gents. 

Tapi saya mau mencobanya. Singkat cerita ketika sampai di sana, saya suka tempatnya. Dan langsung klik dengan capster-nya. Yang kemudian saya tahu bernama Nana. Saya selalu percaya sama sesuatu yang saya suka pertama kali. Saya menyebutnya dengan cinta pada pandangan pertama. Tentu ini tidak berlaku untuk cinta ya. Pesan saya untuk Nana sebelum dia potong rambut saya “Nan, gue percaya sama lo ya. Bikin rambut keriting gue keren.”

Akhirnya saya memasuki tahun 2012 dengan sebuah keyakinan bahwa : ketika kamu nge-CUT sesuatu, itu berarti kamu yakin bahwa akan ada pertumbuhan baru. Seperti saya yang yakin kepada Nana yang memotong rambut saya. Saya percaya bahwa Nana akan melakukannya dengan baik. Dan dia melakukannya. Buktinya saya keren dengan rambut baru saya. *uhuk*

Theo sebelum.

Theo sesudah. 

 By Jainar Berliana.




Saya mendukung kamu buat memotong hal-hal yang sudah tidak lagi sesuai dengan hatimu, hubungan yang tidak membangun, pekerjaan yang begitu-begitu saja, pertemanan yang basi, silakan tambahkan daftarmu sendiri. Lalu selamat datang kepada pertumbuhan baru.

Selamat menjalani 2012.


love.

Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...