Showing posts with label bakul perjalanan. Show all posts
Showing posts with label bakul perjalanan. Show all posts

Monday, February 2, 2015

Perjalanan Menuju Pulau Osi (Bag. Terakhir)





Selesai Telaga Tenggelam, Gunung Tinggi, kami lalu menempuh perjalanan sekitar 45 menit lagi untuk menuju ke Pulau Osi. Tetapi sebelum sampai ke Pulau Osi, kami menyempatkan diri untuk makan siang sebentar.


Menuju ke Pulau Osi, kamu akan menemukan jalanan berpasir sejauh dua km, pastikan untuk menggunakan helm yang proper supaya kamu terhindar dari debu-debu yang akan masuk ke dalam mata dan mulut.

Sampai di pintu masuk, per orang dihitung Rp. 5000. Ketika masuk kamu akan menemukan jembatan pertama yang menghubungkan antara dataran yang satu dengan dataran selanjutnya. Jembatan itu dibangun dengan maksud untuk membuat pengunjung lebih mudah lagi untuk berjalan kaki maupun menaiki motor hingga akan sampai ke ujung pulaunya.

jembatan di pulau osi


cottage yang ada di pulau osi


Ketika sampai di Pulau Osi, kamu akan menemukan tanaman bakau sepanjang pulau. Tenang saja, air sepanjang pulau termasuk dangkal, kamu bisa turun ke bawah dan bermain-main di laut tanpa harus bisa berenang.



jembatan lainnya setelah meninggalkan sebuah kampung yang ada di pulau osi



Ada beberapa cottage yang disediakan di Pulau Osi, juga penginapan. Kamu bisa ajak teman-temanmu untuk datang dan menginap. Pulau Osi mungkin sudah ditakdirkan sebagai tempat sweet escape!


terima kasih yuli toisuta, aprino berhitu, ierfundy latuconsina, akbar dan aldy untuk perjalanan random yang menyenangkan!

Friday, January 30, 2015

Perjalanan Menuju Pulau Osi (Bag. Kedua)







Setelah kami menikmati Telaga Tenggelam, kami lalu menuju satu daerah di daerah Loki, Seram Bagian Barat. Kami menaiki jalan perbukitan, dengan hutan-hutan di kiri dan kanan kami menuju ke sebuah area yang disebut Gunung Tinggi, Seram Bagian Barat.

Perjalanan ke sini akan membuat kamu ternganga nganga karena selain bukit, hutan, ada laut juga di kejauhan yang bisa dinikmati. Cuaca siang itu lumayan panas, sehingga menimbulkan langit biru yang sangat menjernihkan mata.

Kami lalu tiba di Gunung Tinggi, sekilas jika melihat daerah ini, mungkin kamu tidak akan menyangka bahwa, daerah ini ada di Maluku, Indonesia. Sekilas seperti Skotlandia, dengan kawasan bukit-bukit hijau, pepohonan, dan laut di kejauhan. Sekedar beristirahat, turun dari motor dan meluruskan punggung, kami lalu memanjakan mata sejenak menikmati pemandangan sekitar.


perjalanan menuju ke gunung tinggi lalu sempat mampir dulu di kawasan perumahan ini


Dari Daerah Gunung Tinggi, kamu bisa melihat lekuk lekuk jalan di bawahmu. Dengan rerumputan yang seperti dipotong hampir setiap harinya, rapih dan berjejer. Lalu angin sepoi. Di sekitar Gunung Tinggi tidak ada rumah satupun, malah saya berpikir bahwa daerah ini akan asik jika dijadikan sebagai area perkemahan, ya tapi tidak tahu juga ya, kalau daerah sekitar masih bayak ular, hii!



Gunung Tinggi, Seram Bagian Barat, Maluku, Indonesia





Ketika ke Daerah Seram Bagian Barat, Gunung Tinggi, bisa menjadi pilihan kamu untuk memanjakan mata dan leha-leha sejenak dari aktivitas pekerjaan yang penat. Saya sendiri ingin kembali ke sana suatu hari nanti.


Thursday, January 29, 2015

Perjalanan Menuju Pulau Osi (Bag. Pertama)







Perjalananan lainnya yang bisa dilakukan kemarin adalah pergi ke Pulau Osi. Pulau Osi terletak di daerah Seram Bagian Barat, Maluku. Pulau Seram adalah pulau terbesar di daerah Maluku dan masih banyak lahan yang kosong di daerah ini, dengan kata lain pembangunan belum terlalu berjalan dengan baik di daerah ini.

Alternatif perjalanan yang bisa kamu lakukan ketika pergi ke Maluku adalah jalan-jalan ke Pulau Seram. Kali ini saya dan teman-teman secara random jalan-jalan ke daerah Seram Bagian Barat.

Pagi sekitar pukul 5.30 kami berangkat dari Kota Ambon, dengan janjian bertemu di daerah pom bensin Batu Merah, kami berpasang-pasangan dengan motor, kali itu kami menggunakan tiga motor. Alasannya kenapa kami memilih motor adalah, supaya lebih praktis, dan bisa sekaligus pulang-pergi.

Jika pergi ke Pulau Seram, maka harus pergi dulu ke Pelabuhan Hunimua, Liang dan menyeberang dari sana. Ketika melewati daerah Pantai Suli, kami sempat berhenti sebentar dan menikmati sunrise yang ada. Terusterang ini adalah pemandangan yang sangat mahal, karena jarang-jarang saya bisa menikmati sunrise ketika sedang berada di Bandung. Pemandangan sunrise pagi ini benar-benar menyegarkan mata sekaligus jiwa, saya menganggapnya sebagai pertanda baik yang mengawali perjalanan kita ke Pulau Osi.



bertemu sunrise di daerah Pantai Suli, Ambon, Maluku

Sebelum sampai di Liang, kami sempatkan diri untuk membeli sarapan di daerah Tulehu, negeri yang akhirnya ramai dibicarakan karena film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku. Negeri Tulehu pagi ini sangat damai, tampak semburat matahari pagi, mulai muncul di antara sotoh-sotoh rumah, mama mama yang sudah bangun mulai pergi ke luar  mengantri nasi kuning untuk sarapan pagi mereka. Saya juga menemukan anak kucing yang jatuh ke dalam selokan dan mengeong ngeong di pagi itu.

Perjalanan kami kemudian dilanjutkan ke Pelabuhan Hunimua, Negeri Liang. Kendaraan yang mengantri di pagi itu tidaklah banyak. Nampak antrian orang yang hendak menyeberang ke Pulau Seram  juga tidaklah ramai. Karena kami menggunakan motor, kami membayar seharga motor yang hitungannya sepeda motor berbonceng adalah Rp.56.000.

Perjalanan di dalam Ferry sangatlah menyenangkan, ada kamar mandi yang bersih. Di dalam Ferry juga terdapat kafe kecil untuk membeli kopi dan sarapan-sarapan kecil lainnya. Penyeberangan menuju Pulau Seram hanya membutuhkan waktu 1 jam 30 menit. Kami pun sampai di Pelabuhan Waipirit, Kairatu, Seram.


tim ekspedisi kami



salah satu ruas jalan di daerah seram bagian barat

Kami lalu melanjutkan perjalanan dengan motor, melewati jalan-jalan yang sudah diaspal dengan baik, tampak langit biru jernih di atas kepala, dengan perpaduan pohon-pohon hijau di sepanjang perjalanan kami. Kami lalu sampai di derah Piru, kata Yuli, teman dari Baronda Maluku yang waktu itu bersama-sama dengan kami, ia menganjurkan untuk sebelum kami ke Pulau Osi, ada baiknya kami mampir dahulu untuk melihat Telaga Tenggelam. Telaga Tenggelam memang berbentuk Telaga dengan air yang bening. Ketika kami berhenti untuk sekedar membeli minuman dingin di sebuah warung yang ada di pinggir jalan, kai sempat mengobrol dengan penduduk setempat tentang Telaga Tenggelam. Ia lalu bercerita bahwa, Telaga Tenggelam itu dahulunya adalah sebuah desa yang akhirnya sengaja “ditenggelamkan”  oleh Tete Nene Moyang (Leluhur) alasan ditenggelamkan karena katanya penduduk sekitar itu melakukan kesalahan, konon begitu ya.

Telaga Tenggelam

Kami hanya mengangguk angguk ketika didongengkan. Selain itu ternyata Tete Nene Moyang (leluhur) di negeri setempat katanya berbentuk buaya, yang biasanya juga terlihat sedang berenang-renang di sekitar Telaga Tenggelam. Beruntung sekali, saya tidak bertemu dengannya, padahal ketika mengujungi Telaga Tenggelam, saya memang masuk dan berjalan-jalan di sekitar Telaga, untuk merendam kaki.

Saya tidak membayangkan jika saya bertemu dengan seekor buaya di dalam Telaga Tenggelam itu, hm.

(Bagian dua, dilanjutkan nanti ya.)


Sunday, October 13, 2013

Sedikit Cerita Tentang Perjalanan Jogjakarta

sempat mengunjungi @LIRshop dan itu pakai kaos sablonan dari krackstudio :)

Halo, lama tidak menulis. Saya kangen sekali. Mohon maaf karena akhir-akhir ini saya banyak sekali harus menyelesaikan remah remah pekerjaan yang memang sedang sangat menumpuk.
Tetapi, tahukah kamu, bahwa saya sangat rindu untuk menulis. Rindu mendengarkan jari jari saya berbunyi diantara tuts komputer biru saya. Biasanya saya panggil dia Bung Leno.

Kali ini saya menulis dari sebuah rumah di Jogjakarta. Rumah yang asri sekali. Kamu bisa merasakan anginnya yang begitu lembut ketika kena di mukamu. Membuat kamu hanya berhasrat untuk menulis.

Terus terang Jogjakarta dengan saya, seperti sahabat lama. Aroma kota ini sangat familiar. Seperti mencium aroma eyang berkebaya dan memakai jarik.

Akhirnya saya berkunjung kembali ke kota ini karena diundang  oleh teman-teman Fakultas Ekonomi, UGM. Mereka megundang saya untuk bicara soal “Speaking Up Against Injustice.” Ah, ini pengalaman pertama kali saya bicara di UGM dan diladeni oleh panitia yang sangat telaten. Mereka profesional sekali. Terima kasih ya teman-teman!

Menarik ketika, saya datang lagi di kota ini setelah dewasa di Bandung. Kota yang pernah menerima saya ketika saya belum genap berusia tujuhbelas tahun, dan saat ini (lebih tepatnya beberapa hari lagi saya akan berusia tigapuluh tahun). 

Sungguh senang menemukan bahwa saat ini saya sudah berada di dimensi yang berbeda. Tetapi aroma kota Jogjakarta masih aroma yang sama. Sederhana dan wangi.

Menjelang usia tigapuluh, doa saya: saya ingin punya seseorang yang tepat dan ingin pergi ke kota kota lain yang lebih jauh.


Semoga! 

Thursday, January 31, 2013

Tentang Sebuah Acara Di Ambon Bernama TrotoArt





Pulang Ambon sering saya maknai sebagai sebuah kangen panjang seorang kekasih yang memiliki hubungan jarak jauh dengan kekasihnya. Saya dan Ambon adalah kekasihnya. Dan selama ini kami terpisah jarak. Saya yang harus bekerja di Bandung. Dan kekasih saya, Ambon tetap di rumahnya.

Ketika kepulangan saya sekitar sebulan yang lalu, saya sempat diundang untuk membaca puisi ke sebuah acara yang disebut dengan sebutan TrotoArt. Acara ini sudah diselenggarakan beberapa kali. Dan jika kamu ingin tahu lebih banyak lagi tentang acara ini, saya akan menceritakannya kepadamu.

Malam itu saya diajak duduk-duduk pada sebuah area wisata kuliner malam di Ambon, tepatnya di belakang Ambon Plaza, ada sebuah jalan yang kini ditutup pada sisi sebelahnya. Dan banyak sekali yang menjajakan nasi kuning enak dengan beragam teh atau kopi yang sedap.

Nyong Vic, begitu ia biasa disapa. Victor Latupeirissa, nama lengkapnya. Victor terlihat santai dengan kaos dan jins. Dan ia yang selama ini rajin mengurusi acara yang berkaitan dengan pelaksanaan TrotoArt.

Jadi gimana sih awalnya acara TrotoArt ini berlangsung?

“Awalnya sih karena saya banyak bergaul dengan anak-anak band. Tapi sebenarnya saya nggak bisa main musik. Tapi suka aja kumpul sama komunitas anak-anak band. Nah akhirnya saya tahu bahwa mereka (anak-anak band-red) kadang kepengin tampil. Tapi mereka nggak punya ruang.”

Terus gimana ceritanya panggung pertama?

“Banyak band-band yang terlibat di acara ini. Mereka sangata antusias. Ada Belasting, Ikan Asar, Pangeran, dan beberapa band lainnya. Kemudian setelah panggung pertama ini kita juga ketemu dengan anak-anak band lainnya dan kumpul lalu punya ide untuk bikin panggung selanjutnya.”

Bisa cerita ide singkat kenapa ada TrotoArt?

“Simpel aja. Kita hanya ingin punya panggung. Kalau selama ini berkarya, bikin lagu. Kita hanya ingin didengar.”

Selama ini di TrotoArt apa-apa saja sih yang sudah ditampilin?

“Banyak. Ada pembacaan puisi, ada yang pernah bagi soal painting, fotografi (dari teman-teman Pardiedoe), Video Clip (dari D’Embalz) dan lain-lain.”

Tentang promosinya sendiri dan bagaimana tanggapan crowd dan orang-orang yang datang?
(oke, sejujurnya malam itu ketika saya hadir di TrotoArt saya sempat kaget karena banyak sekali anak-anak muda Amon yang datang. Entah mengapa, tapi saya percaya ini seharusnya bisa menjadi sesuatu yang besar di kemudian hari. Karena dimana satu atau dua anak-anak dengan 
“ide kreatif”bertemu, seharusnya kami bisa melakukan sesuatu yang besar.)

“Jadi selama ini kami promosi dari mulut ke mulut. Dari komunitas yang satu ke komunitas yang lain. Pake twitter juga. Dan massa yang datang ke sini-sini yah lumayan banyak.”

Ada harapan tentang TrotoArt ini sendiri?

“Tidak putus dan tetap ada terus. Dan semoga dengan adanya panggung ini teman-teman yang berkarya bisa didengarkan. Dan mereka bisa menghibur orang-orang yang datang dengan karya-karya mereka. Kami juga rencana akan bikin album kompilasi dari acara TrotoArt ini. Jadi setiap musisi yang tampil bisa menyumbang lagunya dan nantinya akan di satukan. Doakan ya.”

Amin. Semoga tercapai apa yang dicita-ctakan oleh teman-teman di TrotoArt. Harapan saya pribadi adalah semakin banyak acara-acara kreatif seperti ini diadakan di Ambon. Supaya paling tidak kita bisa tetap saling menghibur satu dengan yang lain. Dan kita sendiri tidak malu  dengan tagline Ambon The city of Music. Seharusnya tagline ini membuat kita anak-anak muda Maluku punya lebih banyak panggung. Semoga pemerintah daerah sadar akan hal ini dan semakin melapangkan hatinya untuk membantu setiap pergerakan kreatif di Maluku, khususnya di Kota Ambon.

Bulan semakin tinggi. Saya sudah harus pulang. Kembali ke rumah, kali ini membuat saya kembali menjadi anak bungsu yang punya jam malam, dan bertemu ayah yang menunggu saya dengan setia di teras rumah.

*tulisan ini untuk teman-teman kreatif/musisi/seniman di Ambon. Tetap berkarya pantang mundur! foto-foto silakan intip di https://twitter.com/pardiedoeSR :)



Wednesday, September 26, 2012

Dalenz Utra'k Bercerita


Menginterviewnya pada sebuah kesempatan. Merupakan kehormatan bagi saya. Hal ini saya lakukan untuk mendukung musisi lokal asli Maluku. Dan mungkin ini salah satu bentuk dukungan yang saya bisa lakukan. 

Nama Lengkapnya adalah Daniel Utra. Biasanya ia dipanggil dengan sebutan Bu Dalenz atau Ka Dalenz. Lahir di Tual pada tanggal 19 Agustus. Membentuk D’embalz  pada waktu itu untuk bernayanyi reguler pada sebuah kafe. Masih terdiri dari: Julius Lawalata, Cosmas Rahawarin, Kiki, Dan Dewi (sebagai backing vocal). Asal usul nama D’embalz sendiri sangat menarik perhatian saya, belum pernah saya mendengar nama ini sebelumnya.

“Kanapa katong seng kas nae nama Maluku, Sagu, Naruwe, Nanaku, kaya-kaya bagitu su ada. Kanapa seng ada perwakilan dari Maluku Tenggara. Makanya ada Embal toh. Jadi kas nama akang Embal jua, tambah D di muka supaya keren sadiki toh.”

(Kenapa kita nggak kasih naik nama Maluku, Sagu, Naruwe, Nanaku, kan sudah ada. Kenapa nggak ada perwakilan dari Maluku Tenggara. Makanya ada Embal toh. Jadi kasih namanya Embal aja, tambah D di sepan supaya keren aja.)

Begitu penjelasannya.

Embal merupakan makanan khas asal Maluku Tenggara. Biasanya dimakan dengan ikan kuah. Atau teman untuk minum teh di sore hari. Hal ini menurutnya adalah sebuah bentuk perwakilan nama dari Maluku Tenggara. Dan juga membentuk identitas musiknya sendiri. D’embalz pertama kali membuat album itu sekitar tahun 2008 yaitu berisi 10 lagu bertemakan Natal. Kemudian di tahun 2009 lahirlah album ke-2 diberi judul “Back To Nature” dimana salah satu lagu di dalam album ini berjudul “Sopi” sopi adalah minuman “pergaulan” asal Maluku. Lagu ini konon diciptakan Bu Dalenz untuk mengembalikan kekhasan lokal.

Saya juga tertarik bertanya kepadanya bahwa apakah ada lagu-lagunya yang diciptakan dengan bahasa Kei dan hal ini dijawab dengan yakin bahwa ada. Karena menurutnya menggunakan bahasa lokal itu semacam mengingatkan kita kepada akar kita. Selain itu ia juga merasa prihatin dengan anak-anak muda jaman sekarang yang seakan-akan sudah lupa untuk menggunakan bahasa daerah/lokal.  Ia juga melanjutkan bahwa harusnya sebagai anak muda, kita tidak malu untuk mengakui identitas kita sebaga orang Maluku. “Bahasa adalah rahasia” demikian katanya. Karena dengan bahasa lokal kita bisa saja membicarakan “rahasia” kepada saudara kita. Selain itu ia juga mengatakan bahwa “Laut adalah Mama Beta” laut diidentikan sebagai ibu, laut adalah sumber makanan kita. Tapi sekarang ini laut telah banyak hancur. Dan dirusak oleh masyarakat sendiri. Demikian adalah keprihatinannya.

Alasan kenapa memilih musik reggae untuk musik D’embalz?

Ia pun lanjut bercerita bahwa konsep pulau Maluku hampir mirip dengan Jamaika. Ada pantai, kelapa, jimbe, tifa. Jadi D’embalz lebih pas jika ingin mengangkat reggae sebagai musik utamanya.

Ketika mendengarkan D’embalz seperti membawa saya kembali ke kampung halaman dan duduk sore-sore menikmati lautan biru di kejauhan. Saatnya untuk memperkenalkan musik lokal keren dari rumah sendiri. Kampung halaman sendiri.

Saat ini mereka sedang mempersiapkan album selanjutnya tungguin ya.  Seperti merasakan embal lumer di dalam mulut, bersiaplah untuk kenikmatan esksotis tersendiri ketika mendengarkan musik mereka.

Dangke banyak Bu Dalenz untuk cerita inspirasinya :) follow juga twitternya di https://twitter.com/dalenzutrak

 *pic by Gracio Imanuel :D





Monday, September 24, 2012

Gonna Miss You, Oma Jawa





Saya termasuk yang jarang sekali pulang kampung. Setelah hampir lima tahun, pulang kampung terakhir yang saya lakukan adalah setahun kemarin. Sekitar bulan Oktober, saya pulang untuk sebuah event yang diselenggarakan di Ambon yaitu Ambon Jazz Festival.

Dan sekitar akhir Agustus kemarin saya harus pulang karena Oma meninggal. Saya dapat kabar Oma meninggal ketika sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan konser Glorify The Lord Ensemble “Make a Change” di Bandung.

Tapi memang jika waktunya kamu harus pulang. Maka kamu memang pulang. Oma Jawa biasanya beliau disapa. Saya besar dengannya. Sebelumnya saya pernah menulis tentang beliau. Nama aslinya adalah Sutijem (baca: Sutiyem) perempuan asli Jawa, Ambarawa yang bertemu dengan Opa saya yang asli Ambon – Kei. Mereka bertemu pertamakali di Semarang. Dan akhirnya menikah. Oma ikut Opa tinggal di Ambon.

Berpuluh-puluh tahun tinggal di Ambon membuat beliau tidak meninggalkan kejawaannya. Saya masih mendapati Oma memakai jarik dan konde. Saya juga masih mendapati beliau menggunakan bahasa Jawa sehari-hari.

Ketika saya sampai saya hanya melihat Oma Jawa di peti. Beliau begitu cantik. Seperti tidur saja. 

Malamnya kami mengadakan malam penghiburan di rumah. Bunyi terompet dan suara nyanyian bersahut-sahutan. Rumah tua tempat saya, kakak, dan sepupu-sepupu saya dibesarkan dipenuhi dengan orang yang datang.

Kematian seperti menyadarkan saya bahwa hidup hanya adalah pinjaman. Kelak kita semua akan mengembalikan “pinjaman” ini kepada pemilik yang sebenarnya.

Pada kebaktian penguburan, Ayah selaku orang yang dituakan berbicara mewakili keluarga besar kami. Satu catatan penting yang Ayah katakan bahwa “Oma selalu rajin ke gereja. Dan beliau selalu setia melakukannya setiap minggu.”

Oma Jawa dengan kesetiannya kepada Tuhan. Juga kesetiaan cintanya kepada Opa. Dan kepada rumah tua kami di Kudamati. Membat saya belajar banyak.

Gonna miss you, Oma Jawa. 

Thursday, October 13, 2011

#AMBONTRIP #AMBONJAZZ #4

donat dan kue kering kenari


ikan goreng, yang ini rasanya beda sob! :)

bersama SABA team






pantai Liang




pintu kota. *ket: 6 foto terakhir gue culik dari fb.




#AMBONTRIP #AMBONJAZZ #3

depan rumah. hanya sempat nginep semalam, bangun pagi sarapan dengan ibu dan lihat ayah mengurus ayam-ayamnya




depan rumah dan gereja kezia

Marthin Elwarin, nama Opa. sempet ke Kudamati lihat “Rumah Tua” istilah yang gue pakai kepada Rumah masa kecil sampai remaja gue. rumah ini terlalu banyak cerita. terlalu banyak kenangan. gue bersyukur punya masa kecil yang indah dan menyenangkan di rumah ini :)




#AMBONTRIP #AMBONJAZZ #2

menuju “Dancing On The Bay” di Halong


senja dari pelabuhan Ferry Halong


siap-siap untuk “Dancing On The Bay”


pemain musik siap-siap badonci

dari atas kapal ferry


semua menari dan badonci. Dancing On The Bay adalah acara penyambutan kepada semua participant Ambon Jazz Plus Festival. acara ini diselenggarakan di atas kapal ferry, yang membawa seluruh participant menikmati teluk Ambon di waktu malam





Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...