Showing posts with label Tentang Glorify. Show all posts
Showing posts with label Tentang Glorify. Show all posts

Wednesday, May 23, 2012

Profile Part #3


*kak iko dan kak lulu. pic saya ambil dari fimela.com



Selanjutnya adalah Marthin Endrico Saba. Pelatih. Mentor. Sahabat. Biasanya kita semua menyapanya Kak Iko. Ada sesuatu yang sangat menarik dari orang ini. Seperti magnet, kamu akan nyaman mengobrol lama-lama dengannya. Ketika kenal Kak Iko lebih dekat, Kak Iko seperti seorang papa sekaligus kakak laki-laki. Selalu memberi petuah. Selalu membikin nyaman.  Silakan follow twitternya di sini Berikut adalah interviyu saya dengan Kak Iko:

TR: Oke, Kak Iko, kita mulai ya. Bisa sebutin nama lengkap, TTL, dan ceritain awalnya bergabung dengan Glorify?

MS: Marthin Endrico Saba. 4 April 1970. Waktu itu GTLE latihan pertama di Tamansari (sekarang Cafe Halaman) Anggota pertamanya SABA (Kak Denny, Kak Iko, Ivan) Simangunsong Sisters (Imel, Dewi Lestari, Dede Arina “Mocca”) sama beberapa orang lagi bareng Papa Daud tentunya. Ketua awal Mas Lucky Soeryo.

TR: Oke, kak Iko bisa ceritain dong GTLE awal-awal tuh kayak gimana sih. Maksud aku lagu-lagunya terus bounding-nya?

MS: Lagu awal, Glorify Thy Name, I Love You Lord, The Lord Bless You, Doa Bapa Kami, I Am. Jadi warnanya kayak gitu. Lalu berkembang ke lagu-lagunya: Motor Citty Mass Choir, Alvin Slaughter, Joyful, Happy Day. Tapi btw, latihan awal yang hanya ber-sepuluh-an itu yang tough banget! Kadang hanya ngumpul bentar, ngobrol, lalu makan deh hehe. Kadang kalau nggak latihan di Tamansari juga di rumahnya Dewi. Mulai ambil pelayanan di acara-acara dimana aja semangaaattt! Dan pulang pelayanan selalu makan ... Papa teaaaa J

TR: Wow. Seru juga ya ternyata jaman itu. Nah kita ngobrolin tentang Papa Daud. Sosok Papa Daud di mata kak Iko kayak apa?

MS: Papa luar biasa! Papa adalah seorang ayah yang sangat menghargai anak-anaknya. Papa juga adalah sahabat, temen curhat, temen ketawa bareng, guru, sekaligus panutan. Yang paling gila, papa itu sosok yang “lintas generasi” papa lahir sebagai seniman tulen. Nah kita sebagai anak-anaknya, bayangin aja, dari kecil ‘belajar hidup’ yang artinya belajar ‘menikmati hidup’ dalam kondisi apapun. Dan yang luar biasa mama Vien beda sama papa 180 derajat. Perpaduan yang menggairahkan hahahaha ... Tapi most of it all, percaya atau nggak, papa itu sama sekali nggak pernah pukul anak-anaknya, itu keren banget. Pendekatannya selalu kayak ‘sahabat.’ Papa dan mama adalah sosok orang tua yang nggak pernah maksain kehendak sama anak-anaknya apapun jalan yang kita ambil selalu mereka hargai. Nanti kalau salah baru dikasih tahu. Yang mutlak harus ke gereja, doa nggak boleh putus, dan takut akan Tuhan itu harga mati pokoknya. Kita bertumbuh dan dididik dalam pola hidup yang sederhana, jauh dari hidup mewah tapi minum susu harus, Hahahaha. Ampuuunnn.

--Perbicangan saya dan kak Iko putus dan dilanjut dengan pertanyaan selanjutnya via email—

TR: Apa yang bikin kak Iko bertahan di GTLE?

MS: Ketemu dengan Tuhan Yesus di  Glorify, breakthrough & berubah di Glorify . Glorify adalah keluarga dan rumah. Di sini kita jadi diri kita apa adanya, bisa kesel juga kecewa, tapi bisa juga menerima dan saling memaafkan. Ketawa dan nangis bareng di Glorify, di sini tempat untuk bertumbuh dan jadi dewasa. Belajar yang namanya Commitment, tanggung jawab, bertahan dalam proses & menemukan arti hidup di Glorify. Glorify juga membawa masuk ke suatu waktu Tuhan untuk ketemu dengan (my one and only love) Lulu kesayanganku (Kak Iko menikah dengan Prita Laura/Lulu, presenter MetroTV). Di Glorify ketemu dengan pribadi-pribadi yang dashyat dan punya talenta luar biasae, belajar tentang pentingnya kesehatian, ibarat puzzle masing-masing kita ternyata punya peran di Glorify, nggak ada Superman! belajar untuk saling menghargai satu sama lain, Glorify ada & bisa bertahan hanya karena Kasih Karunia Tuhan .

TR: Dari dulu sampai sekarang ada nggak perubahan paling besar yang kak Iko rasain di GTLE, yang juga memberkati kak Iko?

MS: Iya doong, dalam banyak hal. Karena ada kalanya tiap angkatan itu punya 'gaya dan warna' yang berbeda. Misalnya dalam cara beradaptasi, berkomunikasi, keorganisasian, latihan, sampai juga guyonan. Yang penting dan nilai-nilai yang dipegang harus tetep kuat. Anyhow to be honest, terlepas dari apapun, kak Iko sangat terberkati ngeliat juga menyaksikan pribadi-pribadi yang 'diubahkan' oleh Tuhan. As a leader, merupakan kepuasan tersendiri, dan bersyukur karenanya. Itu nikmatnya lebih dari apapun!

TR: Lagu favorit kak Iko selama di GTLE apa dan kenapa?

MS: Lagunya Papa, Damai Abadi & Nahkodaku. Secara komposisi aransemen sangat luar biasa! Dan latar belakang cerita dari lagunya punya makna yang sangat dalam & menyentuh! Belum lagi, karena kita ngalamin juga pada saat lagu itu dibuat, jadi tambah powerful. Papa orangnya romantis, melankolis sekaligus jenius.  I'm sooo proud of him!

TR: 3 kata tentang GTLE?

MS: Komitmen,  Proses  &  Cinta.

TR: What's your best wishes for GTLE?

MS: Pray that God will give our hearts desire and expand our area where we can bless more people with our incredible God's given talent. And may He take us higher and higher to be the answer for this generation :) always remember too, kalau kita bukan hanya sekedar 'nyanyi', tapi 'melakukan'  dan 'menghidupi'  apa yang kita nyanyikan. Karena hidup kita semua adalah ibarat 'surat terbuka' yang bisa dibaca dan dinikmati oleh semua orang. Berharap kalau tiap pribadi yang ada di Glorify bisa bertahan dalam prosesnya Tuhan, dan berubah jadi seperti yang Tuhan inginkan. Berharap, ke depan kita bisa memberkati orang dengan bawain genre lagu yang lebih bisa diterima oleh lebih banyak orang lagi. Bukan hanya lagu 'rohani', tapi lagu-lagu lain juga yang punya nilai powerful. Stay in Jesus, stay humble, stay sweet & strong. Once again, semua hanya karena anugrah dan kasih karunia-Nya. Glorify The Lord Ensemble, adalah warisan yang turun temurun sampai anak cucu kita, dan akan selalu jadi berkat bagi siapapun. Ameen!

TR: Terimakasih kak Iko for sharing. Tuhan sayang kak Iko dan keluarga selalu!

Thursday, May 17, 2012

Profile Part #2


gue dan Ojak. Nggak dapet foto lain nih :D




Selanjutnya adalah seorang pria yang telah menikah dan punya anak satu. Kocak abis dengan banyolan-banyolan yang dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah. Tapi anehnya tetap lucu. Ojak Parulian Hutagalung, cowok kelahiran Bandung 17 Januari 1977. Saat ini bekerja sebagai marketing manager di PT. Venamon, Bandung. Ojak dipercaya beberapa tahun menjadi ketua Glorify The Lord Ensemble. Rehat sejenak. Dan saat ini ia kembali ada di posisi ketua. Bertahan selama 16 tahun di Glorify The Lord Ensemble tidaklah mudah, banyak jatuh dan bangun. Follow Ojak di sini yuk, kita simak cerita saya dan Ojak dalam interviyu berikut ini J

TR: Bisa cerita awal masuk GTLE?

OH: Sama kayak Watti, dulu Om Daud ngelatih paduan suara SMA Yahya tahun 1996 terus ikutan festival paduan suara ITB dan juara. Beberapa anggotanya ditarik masuk Glorify termasuk si  ganteng ini :D

TR: Hahaha. Iya deh yang ganteng :D oke, dari 96 sampai sekarang, apa yang bikin lo bertahan di GTLE?

OH: Bingung kalau ditanya kenapa bertahan. Tapi jawabannya Cuma satu sih CINTA. Umurku sekarang 35 tahun, Glorify 19 tahun, jadi hampir setengah hidup gue di Glorify dari mulai SMA, kuliah, kerja, nikah dan sekarang sudah punya anak satu. Luar biasa. Semua karena cinta. (Ojak menikah dengan Evi dan punya satu anak perempuan bernama Cissi)

TR: Wow. Selama masa-masa itu lo pernah bosan nggak?

OH: Itu dia, mungkin karena perasaan cinta itu jadi nggak pernah bosan. Meskipun pernah kecewa, dikecewain, marah, dimarahin. Tapi semua itu nggak bisa mengalahkan rasa cinta gue sama komunitas ini. Meskipun teman-teman seangkatan (angkatan lama) sudah hampir nggak ada semua. Tapi gue tetap stay di sini karena rasa itu. Bahkan keputusan gue untuk menjadi ketua lagi, itu semua karena gue sayang sama komunitas ini.

TR: Oke. Dari tahun 1996 sampai sekarang, ada gak kejadian/peristiwa paling “nyentuh” yang paling lo inget?

OH: Banyak banget. Tapi yang paling gue ingat adalah tahun 1999 waktu papaku kritis di rumah sakit, anak-anak Glorify hampir semua ada di rumah sakit, sampai akhirnya papa meninggal setelah kritis tapi anak-anak Glorify ada di sana. Itu sangat menyentuh.

TR: *emoticon sedih* hehe. Baiklah. Lanjut ya, kalau peristiwa “kocak” yang lo inget?

OH: Nama gue aja udah Kocak Parulian Hutagalung. Bukan kocak lagi sih tapi sedikit memalukan. Kira-kira di tahun 2002-an ada pelayanan kebaktian penyegaran iman di GKI Kebonjati, karena buru-buru nggak ngecek celana dulu, naik angkot sampai ke Kebonjati, pas turun kok orang-orang di angkot pada senyum-senyum gitu ngeliatin gue. Tapi gue cuek aja ah, nah pas sudah di gereja dan sedang kebaktian, sebelum nyanyi, gue ngerasa kok dingin gitu ya bagian bokong. Eh ternyata celana gue sobek jahitannya area bokong dari ujung sampai ke bawah. Langsung aja deh ngacir cari cara untuk tutupin sobekannya. Akhirnya pakai selusin peniti, masalahnya pas nyanyi ada penitinya ada yang lepas satu-satu gitu dan nusuk pantat. Aw, wewik banget lah. Akhirnya gue tahu kenapa semua orang di angkot kok senyum-senyum. Eh ternyata lihat pantat bohay gue.

TR: *pas baca bagian ini, ngakak edan gue* *masih ngakak* Entar ya, ketawa dulu. Geblek!

OH: Salam dari pantat bohay dan kolor jaring-jaring.

--SKIP--

TR: Oke, next ya, sebutin satu orang di Glorify yang pengen lo peluk dan ngucapin terimakasih (entah untuk alasan apapun itu)?

OH: Semua orang di Glorify pengen gue peluk. Cuma kalau harus menyebutkan satu orang ya orang yang masih setia di Glorify bertahun-tahun. Salah satunya Denni (Denni Saba) karena bareng dia tahun 1999 kita bertobat dan dibaptis bareng di Salatiga dan dulu kita pernah berpikir pengen Glorify bisa pelayanan ke Salatiga, pokoknya kemana-mana dan itu kesampaian meski belum semuanya. Meski kadang dalam beberapa hal kita sering berbeda, tapi dia juga menunjukkan kalau dia punya rasa yang sama terhadap Glorify. Buktinya dia juga masih stay di sini.

TR: Lagu favorit lo selama di GTLE? Dan kenapa?

OH: Glorify Thy Name. Itu lagu kalo dinyanyiin bikin merinding, makanya pas nikahan gue lagu itu dibawain pas pemberkatan.

TR: 3 kata tentang GTLE?

OH: Faith, Hope, Love.

TR: Terakhir ya Jak, What’s your best wishes for GTLE?

OH: Glorify terus ada sampai anak cucu kita. Pelayanan kita berkarakter dan makin tajam. Pelayanan kita jadi berkat buat kita pribadi, keluarga dan orang-orang di sekitar kita. Dan album Glorify bisa jadi berkat buat banyak orang. God Bless Glorify The Lord Ensemble. Happy birthday. Keep winning.

TR: Sip. Thanks for sharing ya Jak. God Bless lo juga dan keluarga :)





Wednesday, May 16, 2012

Profile Part #1





Profil pertama adalah Jeffry Wattimena. Lahir di Bandung, 21 January 1979. ‘Watti’ biasanya disapa. Cowok Ambon, hitam manis ini di Glorify adalah pelatih. Watti dikenal oleh teman-temannya memiliki keisengan yang luar biasa besar. Haha. Kadang cerewet dan tak bisa diam. Tapi selain itu hatinya lembut dan nyaman sekali kalau di dekat dia. Makanya banyak cewek-cewek suka luluh kalau di dekat dia *uhuk* dan fakta lainnya, masih single loh dia *uhuk lagi* kamu boleh follow dia di sini berikut sedikit interviyu saya dengan Watti lewat bbm, silakan menyimak J

TR: So, pertanyaannya adalah apa yang bikin lo betah di GTLE?

JW: Karena gue suka nyanyi. Nyanyi buat BOKAP gue. Manusia (anggota) silahkan ganti. Tapi nyanyi nggak bisa hilang dan keganti.

TR: Jadi nyanyi itu semacam kebutuhan?

JW: Emang. Gue berterimakasih (kepada BOKAP) dengan ngomong langsung dan juga nyanyi.

TR: Lo ngerasa punya bakat nyanyi sejak kapan?

JW: Dari SMA. Kalau kecil nggak mikirin itu bakat atau bukan. Yang penting cuma suka nyanyi. Pas SMA bukan sadar juga sih, orang lain yang bilang.

TR: Oke, terus apa yang bikin lo memilih untuk tetap jadi penyanyi (secara profesional) lo ngerasa itu panggilan lo apa gimana?

JW: Buat gue, being professional adalah doing what you love and get paid. Jadi siapa yang nggak mau melakukan yang dia cinta dan dibayar untuk itu.

TR: Balik ke GTLE. Kenapa GTLE? Maksud gue kan banyak tempat pelayanan. Tapi kenapa musti di GTLE? Bisa cerita juga awal masuknya lo?

JW: Bukan gue yang milih. Gue dipilih (diajak) Papa Daud (Daud Saba, Founder Glorify The Lord Ensemble) Ivan Saba ajak gue tahun 1993 dan gue nggak mau. Papa Daud ajak lagi di tahun 1996 dan gue ikut sampai sekarang. Boro-boro dulu mikirin tempat pelayanan, pas SMA kan lebih penting main daripada pelayanan. Jadi sekarang, setelah GTLE, yang notabene adalah wadah pelayanan, jadi keluarga gue, untuk apa gue punya tempat pelayanan lain? Lengkap kok wadah pelayanan gue yang pelayanan “duniawi” BOKAP kasih Marcell (yap, Watti juga adalah backing vokalnya Marcell) yang pelayanan “rohani” GTLE. Dua ini sudah lebih dari yang gue minta.

TR: Baiklah, panjang juga ya perjalanan hidup lo. Hmmm.

JW: Hahaha.

TR: Dari tahun 1996 sampai sekarang, ada nggak kejadian/peristiwa paling “nyentuh” yang paling lo inget?

JW: Ya pas papa Daud “pulang” di malam gue berangkat ke Papua.
(Daud Saba meninggal dunia 31 Januari 2010. Waktu itu Watti berangkat ke Papua untuk ngajar di sana selama beberapa bulan)

TR: *emoticon sedih* kalau peristiwa “kocak” yang paling lo inget?

JW: Nggak ada sih. Nggak ada yang ter/paling, terlalu banyak “file” kocaknya, sampai kalo setiap ada yang ungkit/cerita ulang, semua bisa bikin ketawa dan nangis-nangis.

TR: Sweet *emoticon senyum* lanjut, sebutin satu orang di GTLE yang pengen lo peluk dan ngucapin terimakasih dan kenapa?

JW: Ojak (Ojak Hutagalung, Ketua GTLE) dan Kak Iko (Marthin Saba, Pelatih GTLE) Ojak sebagai besties gue. Dan Kak Iko sebagai brother.

TR: Lagu Favorit lo selama di GTLE dan kenapa?

JW: God and God Alone. Nyanyiinnya harus dengan dahsyat, gak bisa biasa-biasa. Buat gue isi lagunya nyatain kalau gak ada siapa-siapa lagi yang matter buat manusia selain Tuhan.

TR: Sebutkan tiga kata tentang GTLE?

JW: GTLE itu hmmm 3 kata ya ... Pemberian Terbaik Tuhan (buat gue).

TR: Oke, pertanyaan terakhir gue. What’s your best wishes for GTLE?

JW: Gue punya keyakinan kalau dari album berikut (album ke-dua GTLE sedang digarap. Kita sudah rekaman sekitar 11 lagu) pelayanan kita bakal “naik kelas” dua tahun besok wilayah jangkauan pelayanan kita jauh berkembang. Dan harapan gue, kita (anggota GTLE) bisa dibenahi supaya bisa jadi satu hati satu tujuan, sehingga Tuhan bisa bekerja secara nyata di setiap pelayanan kita.

TR: Baiklah, thankyou for answered my questions. Dan terimakasih sudah berbagi ya.

*obrolan saya dan Watti akhirnya berakhir sekitar pukul 02.46 subuh. Haha. Terimakasih Watti* 

Edisi HUT Glorify The Lord Ensemble





Persis di tanggal 9 Mei kemarin Glorify The Lord Ensemble berulangtahun. Kalau ada yang bertanya Glorify The Lord Ensemble itu apa, saya pernah menulis di sini. Banyak yang datang dan pergi. Tapi ada beberapa yang bertahan. Saya pernah menulis di twitter beberapa waktu yang lalu bahwa saya akan memberikan penghargaan kepada beberapa teman yang “bertahan” di Glorify lebih dari 10 tahun, bahkan 16 tahun.

Ini minggu-minggu yang sibuk sekali. Karena sebentar lagi GTLE akan retreat. Tapi saya mau sempetin waktu untuk interviyu mereka. Dan mengetik ulang isi interviyu itu. Dan menulis semacam profil mereka untuk blog perempuansore. Yang saya lakukan ini sedikit random. Entah mengapa? saya hanya mau melakukannya saja. Hihihi.

Oke, kalau ada yang tanya sebegitu pentingnya kah saya melakukan ini, sampai diangkat jadi profil segala.

Jawaban saya sederhana saja: karena mereka penting bagi saya. Saya belajar banyak dari mereka. Dan siapa tahu kamu juga belajar banyak dari mereka.

J

Jadi selamat ulangtahun yang ke 19 Glorify The Lord Ensemble. A place we called home.



Tuesday, May 24, 2011

Happy birthday, G!

 Tak ada rumah yang sempurna, paling tidak bagi saya. Suatu ketika kamu akan menemukan di rumahmu genteng bocor, sofa butut, gorden usang, pintu rusak, dapur kotor, piring-piring berserakan, debu berterbangan, rayap di lemari, tikus-tikus kecil di atas plafon, jendela pecah—bahkan adu mulut antara adik kakak, orang tua anak, sekandung maupun sepupu. Tidak hanya adu mulut, sampai berminggu-minggu pun bahkan saling ngambek tak mau bicara. Itulah rumah tidak ada yang sempurna.  

Tapi, malam itu dapur mengebul di rumah karena sedang ada ulang tahun. Ketika ulang tahun, tidak ada yang ketinggalan. Semua ikut senang dan merayakan. Tak lupa pakai kostum terbaik, juga berdandan paling oke. Siap-siap meniup lilin potong kue lalu makan malam bersama. Malam itu semua di rumah bergembira, tak terkecuali. Lagu happy birthday dilanjut dengan panjang umurnya berkumandang dengan meriah, doa-doa yang terucap jelas maupun yang hanya di dalam hati, seperti balon terlepas di udara begitu saja.

Ketika lahir kemudian bertumbuh di rumah, tidak semua langsung bisa berjalan. Segala sesuatu dimulai dari awal, belajar bilang ma-ma, pa-pa, merangkak, berdiri, berjalan tertatih-tatih, baru berlari. Semua diawali dari makan bubur, lalu ketika tumbuh gigi, akhirnya mencoba makan-makanan keras. Ada proses yang mengikat—ada belajar ketika berproses, ada air mata di dalam proses.

Suatu ketika, saya bisa saja bosan dengan cat rumah yang itu-itu saja lalu kepingin menggantinya dengan warna oranye yang bikin silau. Tidak semua setuju, jadilah saya hanya bisa memakai motif oranye pada bantal di atas sofa. Tidak semua keinginan terpenuhi di rumah, tidak semua harus setuju dan bilang “Ya” kadang yang diperlukan adalah “Tidak.”

Tapi begitulah rumah: tidak ada yang cocok. Hanya saja bukankah supaya rumah itu tetap harmonis, setiap penghuni rumah harus punya hati yang besar untuk menerima ketidakcocokan itu, begitulah yang dikatakan Kak Edwin di malam itu.

Pengikat kepala, dress warna-warni, lipstik merah, sepatu jadul—meriah sekali menghiasi suasana ulang tahun pada malam itu. Tepat di usia delapan belas, rumah kami terlihat meriah sekali. Suasana pestanya tidak mewah—melainkan hangat. Usia delapan belas, mungkin adalah usia yang labil, tetapi gairah untuk jatuh cinta sedang ranum-ranumnya di usia ini.

Semoga sepanjang tahun ke depan kita tetap saling jatuh cinta, melakukan segala sesuatu dengan penuh cinta, bertumbuh dengan penuh cinta, saling menerima dengan penuh cinta. Layaknya anak usia delapan belas, mungkin saat ini ia sedang tersipu-sipu malu membaca surat cinta pertamanya.

Malam itu selesai pesta, saya beranjak ke kamar tidur. Terlihat saudara-saudara perempuan saya sudah tidur duluan, mungkin kecapekan berpesta semalaman. Diam-diam, ada sebuah kado dengan pita biru yang belum sempat dibuka. Diikat dengan kartu kecil di depannya, saya mengambil kartu itu dan membaca perlahan—

Happy birthday, G! Terima kasih sudah menjadi rumah, tak ada rumah yang sempurna. Tapi bukankah kemanapun kakimu melangkah pergi, pasti akan kembali ke rumah.

LOVE,
The.


happy when we sing

saya dan Ojak, partner in crime

the girls, beautiful. 

with Eka, tas keranjang saya isinya bayi kucing

all in pink.
*pic by Henry Kumanau

Wednesday, January 12, 2011

Konser Faith, Hope, and Love






Ini akan menjadi minggu-minggu yang sibuk. Terhitung kurang lebih sebulan dari sekarang, saya dan teman-teman saya di Glorify The Lord Ensemble akan mengadakan konser mungil dengan tema: Faith, Hope, and Love Tribute to Daud P.M Saba. Tepatnya pada Minggu, 13 Februari jam 6 sore di Sabuga

Kalau ada diantara pembaca yang bertanya siapa atau apa itu Glorify The Lord Ensemble, saya akan menceritakannya sedikit. Glorify The Lord Ensemble (atau GTLE) adalah Paduan Suara anak muda di kota Bandung, yang dibentuk pada 9 Mei 1993 oleh Daud P.M. Saba.

Awalnya paduan suara ini, hanya terdiri dari beberapa orang saja kemudian seiring dengan waktu, bertambah terus. Hingga kini, total anak yang berlatih hampir 40-an orang. Kami berasal dari latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang berbeda-beda. Dan nyanyian yang menyatukan kami.

Pada 31 Januari 2010, Daud P.M.Saba pelatih, pembina, mentor, Papa kami telah dipanggil pulang mendahului kami. Kemudian tercetus ide untuk menyelenggarakan konser, sekaligus memberikan penghargaan yang sebesar-besarnya terhadap beliau.

Konser mungil ini mungkin tidak dapat menggantikan kontribusi dan talenta Daud P.M. Saba, yang seumur hidupnya digunakan untuk mengasihi dan melayani sesama. Beliau yang seumur hidupnya memberikan pesan kepada generasi dan menularkan gairah “melayani” itu kepada kami anggota Glorify The Lord Ensemble termasuk saya.

Kini, kami selaku anak-anaknya tidak dapat memberikan banyak. Hanya konser mungil dengan beberapa musisi yang kami ajak kerjasama seperti Glenn Fredly, Barry Likumahuwa, Benny Likumahuwa, Dira Sugandi, Dewi Guna, Karen Pooroe, Gaby, dan masih banyak lagi.

Ketika saya menulis posting ini, ini adalah hari ke dua kami berlatih. Total lagu yang akan kami bawakan adalah sekitar 20-25 lagu. Dengan jadwal latihan yang akan padat ke depan, kami harus mengkompromikan segala sesuatu dan mulai memprioritaskan persiapan konser ini.

Banyak hal yang belum sempurna. Termasuk dana yang masih sangat minim. Hasil penjualan tiket dari konser ini, juga akan kami gunakan untuk membantu saudara-saudara yang kekurangan di Waikokak, Kupang. Tolong doakan kami, semoga apapun yang dikerjakan tidak sia-sia.

Bagi saya Glorify The Lord Ensemble lebih dari sekedar paduan suara. Ini semacam rumah untuk tumbuh bersama. Semoga kesehatian kami akan menulari kamu yang membaca postingan ini, juga bangsa ini.


Info lebih lanjut, boleh klik ini Jingle Radio atau boleh follow kami di twitter @GlorifyTheLordE

Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...