Monday, October 5, 2020

Tanya Pada Ibu




ia seperti tanda bisul kering di pahaku, meninggalkan ruam besar yang hitam. ibu, ingatkah kau, aku pernah bertanya mengapa anak gemas berkulit madu dan berambut sarang lebah sepertiku hampir selalu bisulan? katamu, sebab aku terlalu banyak makan telur. kau lalu menunjukkan bekas bisul di pahamu, itu bukan karena telur, nak. namun, katamu, karena kulit kita sama. kau membopongku ke kamar mandi, karena aku merajuk minta kencing. aku menujuk pada lubang di kemaluanku, dan bertanya, “kenapa ada lubang di sana?” kau menjawab, “itu untuk merasakan asmara, nak, tapi kau masih terlalu kecil. tunggu jika kau sudah besar sedikit.” kau menuntunku ke kamar, di sana kita naik ke tempat tidur yang sudah kau kebas, memandang ke langit-langit kamar yang berawan. kulihat sebuah bulan menggantung dengan sayu seperti mata seorang bocah lapar. kutanya, “ibu, kenapa bulan tidak tidur?” kau katakan, ia masih mendongeng kepada anak perempuannya.

kali ini kupalingkan muka ke tembok yang terkelupas. di tembok itu menggantung sebuah peta dengan pulau-pulau bergaris hijau dan kuning, bagian di sekitar pulau berwarna biru muda disertai nama-nama pulau yang berwarna merah tua. aku bertanya lagi, “ibu, bolehkah aku berpetualang ke pulau-pulau itu ketika aku dewasa nanti?” kau menjawab, “tentu saja, nak! kaki dan langkah-langkahmu adalah punyamu, aku tak punya hak untuk mengatur ke mana mereka harus pergi.” kepalaku meliuk masuk ke bawah ketiakmu yang hangat dan mencium bau susu, aku menjulurkan lidahku kepada putingmu dan mulai menghisap.

aku bertanya, “ibu, kenapa kau tak lelah berbagi?” kau menjawab, “nak, setiap manusia, perempuan atau lelaki, selama masih bernapas mesti saling bagi.” kau mengurai rambutmu yang gerimis dan tajam kena mata dan berbisik padaku pelan, “nak, sebelum kau bertanya, aku mau menceritakan kepadamu tentang perpisahan. kau tahu, nak, aku selalu sedih karena harus meninggalkanmu di antara kapal dan perjalananku yang berombak, aku selalu menangis diam-diam. tapi, nak, jauh sebelum kau lahir, aku sudah lebih dulu belajar untuk melepaskanmu. bukan hanya berpisah dengan tubuhku, melainkan juga berpisah dengan cita-citaku untukmu. karena kau punya jalan sendiri.”


***

salatiga, 5 oktober 2020

Sunday, June 21, 2020

Awan Mengirim Pesan







Seharian ini kuhabiskan waktu untuk duduk dan melamun di pekarangan. Tidak begitu sunyi, sebab aku masih menunggu. Aku pikir duduk dan menunggu saja itu terkadang baik. Aku dapat memperhatikan sekelilingku dengan bijaksana. Seekor kucing tua dengan muka luka bekas tersiram air panas mengendap mendekatiku. Dengan hati-hati ia meneliti diriku yang sedang duduk termangu, “Menunggu siapa?” ia bertanya. “Aku menunggu sebongkah awan yang lewat,” jawabku. “Awan sedang berlibur. Tidak ada awan hari ini. Kau lihat, langit begitu pucat,” tandasnya sambil menelungkupkan kedua kaki depannya rebah di tanah.

Aku menengadah dan meneliti langit. Langit begitu pucat, bagaikan tidak makan beberapa hari. Dan memang betul, tidak terlihat awan sama sekali. Warna kelabu gusar diam di tempat. Landasan besar di atas kepalaku hanya punya satu warna. “Aku tidak pernah menunggu selama ini. Biasanya awan lewat setiap hari, tak lupa memberi kabar dalam berbagai bentuk. Kadang menyerupai segerombolan anak anjing, kereta kuda, anak kecil dengan balon, burung merak besar, atau wajah yesus. Awan seperti berkata-kata lewat berbagai bentuknya. Awan punya bahasanya sendiri. Awan sedang menyampaikan sesuatu.

Beberapa hari ini aku duduk di pekarangan, meneliti apa saja yang aku lihat dengan mataku dan menunggu. Tak ada perubahan apa-apa. Langit masih dengan wajah yang sama. Tiga hari yang lalu, aku duduk, dan awan menyampaikan sebuah tanda. Aku melihat begitu banyak bunga melati kecil di langit. Sejenak aku bepikir, apa yang dirayakan oleh langit? Apakah ada pesta? Tentu saja pertanyaanku tidak lantas dijawab oleh langit. Keesokan harinya, aku mendengar pengumuman lewat toa masjid, berturut-turut beberapa tetanggaku dikabarkan meninggal dunia oleh wabah. Warga setempat lantas diberi himbauan untuk lebih berhati-hati, tidak sembarangan keluar rumah, berjarak dengan orang lain, dan sering mencuci tangan.

Ternyata langit tidak sedang berpesta, melainkan sebuah perayaan kematian. Aku bergidik membayangkan peristiwa kematian itu. Tidak ada satu orang pun yang diizinkan untuk mengantar jenazah-jenazah itu ke tempat peristirahatan terakhir mereka. Sirine ambulans terdengar di kejauhan menuju pekuburan. Di sana sudah ada tukang gali kubur yang sigap  memasukkan tubuh-tubuh kaku ke dalam tanah. Barangkali kalau ingat, akan disertai doa singkat di dalam hati mereka.

Sejak kejadian itu, aku jadi senang meneliti langit, menunggu awan, menantinya mengirim pesan. Aku butuh sebuah tanda. Hidup butuh penanda. Akhir-akhir ini aku seperti kehilangan harapan. Tidak banyak teman ngobrol. Ya, kucing tua muka jelek ini satu-satunya temanku mengobrol. Awan belum muncul juga. Kami berdua kaget mendengar bunyi geluduk besar sekali. Kucing tua mengeong, “Sudah kubilang, tak ada awan hari ini. Langit mengirim hujan.” Dengan sigap kami mengangkat pantat dan kembali ke dunia kami masing-masing. Dunia yang penuh kebingungan.

Saturday, January 25, 2020

Sebelum Keretaku Berangkat









aku tiba di stasiun itu. keretaku sudah menunggu. deretan kursi merah dan hijau berjejer. merah bukan untuk perempuan, kan? batinku sambil melangkahkan kaki menuju deretan kursi yang merah. merah selalu menggiurkan, seperti darah segar, atau sambal pakai nasi hangat dan kerupuk. merah juga berarti kehidupan, seperti datang bulan tepat waktu. tubuhmu seperti memberitahu, ia dapat menjadi ibu. sebuah rumah untuk makhluk hidup kecil. aku melirik dan melihat kursi yang hijau. aku ingat pertautan laut. antara yang dangkal menuju kedalaman. riak dan gelombang. kita pernah terhampar di antara asin, pasir, dan bebatuan kecil. hangat. haru mengalir turun melewati kelopak. daun yang tertiup angin—luruh. sebuah kecupan terakhir.

aku mengingat sebuah kresek berwarna merah yang selalu kau bawa di laci depan tas punggungmu. berisi kerang warna-warni yang biasa kau pilih dari belakang rumah. untuk mengingat hidup, katamu. “setiap manusia itu berbeda, mestinya kita lebih gila merayakan perbedaan. bukan malah memaksa menyamakan semua.” aku menyaksikan gerak bibirmu yang naik turun. kau menatapku dengan mata sebening danau. di piringku ada telur asin tinggal separuh, tumis buncis kesukaan. kulit telur asin berwarna hijau terbongkar di samping piringku. kau bertanya, “mengapa suka sekali telur asin?” aku menjawab, “karena warnanya!” kita pun terbahak.

aku kini telah duduk di satu kursi berwarna merah. kulirik ke arah deretan kursi yang hijau hanya diduduki sekitar lima orang. aku memperhatikan belakang kepala mereka dengan topi-topi berwarna coklat menutupi kepala, seperti batang korek api. aku mengeluarkan sapu tangan berwarna hijau, pemberianmu dengan inisial namaku. aku melihat diriku seperti sapu tangan itu, hijau, rapuh, seperti sesuatu yang basah dan hendak lepas. serta mengeluarkan surat kecil yang buru-buru kau sisipkan ke telapak tanganku sebelum kau berjalan menyisakan punggung:

manusia tidak mungkin berjalan tanpa kedua kaki. jika kaki yang satu luka, kaki yang satunya lagi akan menemani dengan lebih pelan. rela terseret-seret. manusia tidak mungkin melihat tanpa kedua matanya. jika sebelah matanya buta, sebelah matanya lagi akan menjadi nyala kecil, meraba-raba dalam gelap. manusia tidak mungkin pergi tanpa kedua tangan. jika satu tangannya hilang, tangan yang satu bertugas untuk menemukan. manusia yang satu dengan manusia lainnya tidak sama, namun serupa. serupa salah satu dari anggota tubuh yang kurang lebih sama. sama-sama rela menanggung kesusahan sesama, tidak peduli kanan atau kiri, kecil atau besar, gelap atau terang, pagi atau malam, bersatu atau bercerai, jalan atau berlari—berbeda, terseret-seret tapi sama-sama menanggung.

di kejauhan kudengar peluit berbunyi. keretaku berangkat.

Saturday, December 21, 2019

Sebagai Pekerja Imaterial









kamu cenderung invisible. tidak kelihatan. dan dianggap kurang punya ‘peralatan’ seperti pekerja lainnya. sebab kamu biasa saja. waktumu banyak dihabiskan menggembel dan merenung dengan celana pendek, sendal jepit, kaus longgar kesukaan, rambut dicepol. sekali lagi, kamu seperti dianggap tidak mumpuni. atau layak dengan apa yang kamu kerjakan. jika kamu bertanya kepada saya, ‘peralatan’ apa yang saya miliki sebagai pekerja imaterial? saya punya beberapa, yaitu, satu, laptop notebook kecil berwarna biru. saya beli dengan menyicil dari seorang kawan bertahun-tahun lalu. dua, buku catatan. saya mengoleksi beberapa buku catatan. dari buku catatan bersampul kulit, yang biasanya saya pakai untuk menulis puisi-puisi. kemudian buku catatan bermerek front, yang saya dapat di toko buku. saya senang dengan tekstur kertasnya, jika dikawinkan dengan tinta spidol berwarna hitam. ia dipakai menulis catatan-catatan kecil acak yang sering saya temui. tiga, mesin ketik. albert lettera—mesin ketik saya, akan saya bawa jika ada keperluan mengetik di luar. jika tidak, ia terbuka begitu saja di samping tempat tidur, saya akan memakainya jika saya ingin mengeluarkan puisi-puisi pendek. empat—yang paling penting adalah kepala. kepala, termasuk pikiran yang sering saya bawa ke mana-mana. pendek kata, “hal-hal di kepala—termasuk pikiran saya lebih mahal dari uang, imbalan, atau nilai kelayakan lainnya yang coba kamu tempelkan. ia berharga.” saya pernah menulis tentang ini, pengertian lain untuk pekerja imaterial adalah pekerja spiritual. orang-orang yang bekerja dengan sesuatu yang tidak kelihatan—sungguh-sungguh memberi dengan jiwa mereka dengan atau tanpa imbalan. adakah jiwa seseorang mampu dibeli atau dibayar oleh orang lain? maka, sayangilah pikiranmu.


Monday, December 16, 2019

Bandara, Menunggu, dan Mimpi






kami hendak berangkat ke surabaya. saya dan weslly diundang ke gelaran sunday market, untuk meneruskan pelayaran bulan dan bahaya-bahaya yang indah. di sana, kami akan berdiskusi mengenai buku, serta membuat lokakarya kecil menulis puisi. saya dan weslly menggunakan kendaraan dari kamar kos di salatiga menuju bandara di semarang. kami tiba kurang lebih satu jam sebelum jadwal pesawat kami berangkat. semua lancar. tidak ada masalah apa-apa. kami melangkah masuk menuju ruang tunggu. menunggu.

beberapa hari sebelum jadwal keberangkatan kami ke surabaya, saya terbangun oleh sebuah mimpi. ada satu kalimat seperti paragraf awal sebuah buku, yang muncul di mimpi saya, terbawa hingga saya membuka mata. ia berbunyi begini, “kematian adalah sebuah ketidakpaksaan.”

di ruang tunggu, sebuah pengumuman menggelegar dari pengeras suara, “pengunjung yang terhormat, pesawat terbang wings air dengan nomor penerbangan (sekian) mengalami sedikit keterlambatan sebab terjadi perbaikan operasional.” mata saya tertumbuk pada pengumuman berjalan pada sebuah layar besar, dengan keterangan ‘delay’ pada pesawat kami. sejam kami menunggu. sembari menonton film ice age di HBO, kami masih menunggu. dua jam kemudian, saya mengambil kotak makanan ke petugas sebagai kompensasi seraya bertanya, ada perbaikan apa pada pesawat? dan kapankah kami dapat berangkat? petugas menyerahkan kotak makanan kepada saya sambil berkata bahwa adanya perbaikan pada AC, dan masih belum diberitahu oleh petugas di lapangan, kapan kami dapat berangkat. saya kembali ke tempat duduk, melanjutkan menonton ice age, masih menunggu.

selesai makan, dan memasuki tiga jam kami menunggu, belum ada pengumuman apa-apa. saya memberi kabar kepada kawan panitia di surabaya, bahwa hingga jam segini, kami masih belum juga dapat berangkat. pikiran-pikiran berseliweran di kepala saya. bagaimana kalau kerusakan AC ini parah? bagaimana kalau pesawat akan jatuh jika adanya kerusakan AC? bagaimana jika petugas hanya mengada-ada dengan mengatakan bahwa hanya reparasi AC, padahal ada kerusakan yang lebih parah? bagaimana kalau akhirnya pesawat kami jatuh? runtutan pertanyaan tentang mati, serta ketakutan lainnya masih terngiang. saya kembali teringat mimpi saya beberapa hari lalu, “kematian adalah sebuah ketidakpaksaan.” apakah ini sebuah pertanda?

weslly kepengin merokok. saya menemaninya ke ruang terbuka di lantai tiga ruang tunggu bandara. sekadar menghela udara segar, sebab kami cukup sumpek menunggu di ruang tunggu. memasuki empat jam kami menunggu, akhirnya ada pengumuman pesawat kami akan diberangkatkan pada pukul 16.45—artinya kami menunggu hampir lima jam di bandara. ada secercah lega. tapi kekhawatiran belum beranjak. “bagaimana bila nanti..”—“apakah ini sebuah pertanda?”

kami menuju pesawat. dalam keadaan masih khawatir, kami melangkahkan kaki saja. berani. pesawat terbang kurang lebih lima puluh menit. mulus tanpa ada goncangan yang terlalu berarti. sekelebat pikiran lewat di kepala saya, “kematian adalah sebuah ketidakpaksaan, kehidupan adalah sebuah kepasrahan.”

Wednesday, December 26, 2018

Ibu Pergi Takkan Lama








Mendengarkan hujan selalu merupakan pengalaman paling menggetarkan. Kala ia mengintip di jendela, menggedor atap genteng di waktu malam, menelisik di antara ujung-ujung jari tangan yang keriput, dan berada di antara percakapan panjang tengah malam, sambil minum kopi dan berciuman.

Ciuman paling pahit yang pernah kuingat, tapi aku suka. Kau yang diam-diam kukagumi menjadi sesuatu yang kubenci sekaligus kusenangi—hujan itu sendiri. Kau keramaian yang bergulir di antara kekakuanku, basah yang sering kuingini menembus kerontangku yang begitu rapuh, bagai tanah pecah, kau selalu kuinginkan untuk mengisi bagian-bagian terbelah di dalam diriku.

Kau yang diam-diam kuakui sebagai kesegaran kala penat dan kepala yang penuh, kau tempat kutumpahkan apa saja, keresahan, kegemasan, kerapuhan, rasa sunyi, tertolak, pun segala cerita-cerita masa laluku yang terlampau kelam. Kau dengan segala kelihaianmu untuk melucu akan menghiburku, kau dengan segala kegesitanmu akan melepas bajuku satu per satu, mencumbuku, menyusun kembali bagian-bagian pecah di dalam diriku hingga utuh kembali.

Ketika kecil—aku tidak diperbolehkan bermain keluar ketika hujan. Ibuku sering katakan bahwa aku bisa sakit, maka aku mesti berada di dalam rumah saja. Seringkali aku iri dengan teman-temanku yang selalu lari-larian ketika hujan, tidak takut basah, dan dengan bebas berseluncur di antara becek, yang bercak-bercaknya mengotori kulit dan rambut.

Aku mesti menerima nasibku yang tidak boleh ke mana-mana dan harus tinggal di rumah, biasanya aku membaca buku, atau bermain sendirian dengan boneka-bonekaku. Jika melihat aku sedang sendirian, Om Petir, biasanya saya memanggilnya. Ia adik ibu paling bungsu, ia tidak menghabiskan kuliahnya di kampus pada waktu itu, kata ibu, pikirannya kadang tidak waras. Aku belum mengerti apa yang dimaksud dengan itu. Bagiku ia pria yang baik, dan senang menemaniku.

Suatu ketika ibu pergi ke pasar, ia meninggalkanku bersama Om Petir, ibu katakan bahwa ia tidak akan pergi lama. Di luar hujan lebat sekali. Dari jendela aku mengintip payung hitam ibu yang berkibar-kibar tertiup angin. Dalam hatiku, aku mengingat kata-kata ibu, ibu pergi, takkan lama. Om Petir menemaniku bermain, ia mengajakku masuk ke kamar tidurnya, untuk bermain dokter-dokteran, om Petir yang jadi dokter, dan aku yang jadi pasiennya.

Aku ingat, aku bergidik untuk pertama kalinya. Om Petir setengah memaksa, walau aku sudah menggeleng, di dalam kepalaku terngiang-ngiang suara-suara ini, “ibu pergi takkan lama.” Om Petir kini telah melucuti baju dan celanaku. Ia bukan lagi pria baik hati yang kukenal. Aku mencoba mengingat suara ibu di dalam kepala, “ibu pergi takkan lama.” Semetara di luar hujan bertambah deras, dan suara petir—atau Om Petir—aku tidak dapat membedakannya lagi, meraung-raung di bawah bantal.

Thursday, December 6, 2018

Nh. Dini dan Potongan-Potongan Kenangan Kecil yang Mengikutinya











Saya mengingat Nh. Dini, sehari setelah kematiannya. Saya ingat buku Pada Sebuah Kapal, karyanya, dapat dikatakan sebagai buku 'sastra' pertama yang saya baca.

Tahun-tahun sebelumnya, saya membaca serangkaian buku cerita Enid Blyton, komik serial cantik Jepang, serial Dora Emon, buku serial Tini (yang satu ini adalah kesukaan saya, saya punya hampir semua serinya), rangkaian seri dari Hans Christian Anderson, sebelum kemudian kecanduan dengan seri misteri Goosebumps dari R. L. Stine.

Ibu Tomasoa, guru Bahasa Indonesia saya kala itu, menyuruh kami, seantero kelas jurusan Bahasa, untuk membaca novel tersebut, dan menuliskan ulasan begitu kami selesai membaca.

Biasanya pada jam pelajaran Bahasa Indonesia, atau jam keluar main, saya dan beberapa kawan akan mengunjungi perpustakaan dan mulai membaca. Karena pada saat itu, buku perpustakaan sekolah tidak bisa dibawa pulang, maka kami akan bergiliran membaca.

Ibu Tomasoa sosok yang manis, ramah, dan sederhana. Ia mengikat rambutnya berbentuk cepol, rapi ke belakang. Dengan rok panjang di bawah lutut, dan sepatu hitam lancip bersemir. Ia tidak memakai pemerah bibir. Dan bersuara sangat lembut. Bahkan seingat saya, ia termasuk guru yang tidak pernah memarahi kami.

Kelak, Ibu Tomasoa adalah sosok yang 'bertanggung jawab' menumbuhkan kecintaan saya terhadap buku, membuat saya tidak asing dengan 'kata-kata sukar', membuat saya jatuh cinta dengan lebih banyak lagi buku-buku sastra, terutama kecintaan saya untuk menulis. Diam-diam, ia pula yang meninggalkan cita-cita menjadi penulis, pada benak remaja saya.

Seingat saya, bukan hanya Pada Sebuah Kapal, daftar membaca dan mengulas buku-buku lainnya di kelas terus bertambah: Pada Ilalang di Belakang Rumah (Nh. Dini), Siti Nurbaya (Marah Rusli), Di Bawah Lindungan Ka'bah (Hamka) dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (Hamka).

Ketika itu, pada waktu petang, saya masih bebas berjalan kaki ke daerah emperan jalan A.Y. Patty. Mampir di tukang majalah langganan, untuk mencuri baca serial cerita pendek kesukaan saya, dari sebuah majalah ibukota: serial Nana Dkk, yang ditulis oleh Casey (tentu bukan nama sebenarnya).

Saya tidak punya uang untuk membeli majalah tersebut. Maka, berjam-jam, saya habiskan untuk duduk membaca, membuka berita-berita lain tentang Hanson, The Moffats, Gil, dan serial Party of Five.

Nh. Dini, perpustakaan sekolah, Ibu Tomasoa, tukang majalan langganan, jalan A.Y. Patty, adalah potongan-potongan kecil kenangan manis yang masih saya pelihara di 'dalam sini'. Jauh sebelum kota kami dihantam kerusuhan dan sekolah kami diliburkan berbulan-bulan.

Monday, October 8, 2018

RUMAH







Ada sebuah kalimat, aku lupa pernah membacanya di mana, mungkin di salah satu buku yang biasa dibaca oleh ibu. Kalimat itu berbunyi begini: Rumah—Ia bukan hanya bangunan, ia mata, jiwa, dan telinga—yang tersembunyi di antara dinding-dinding beton.

Beberapa minggu belakangan ini, aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Pada malam-malam saat semua orang sedang tidur, aku sering mendengar ada yang bercakap-cakap. Aku selalu bertanya-tanya, dari mana suara-suara itu berasal. Seperti tadi malam, aku memasang telingaku dengan seksama, sebab kali ini suara-suara itu muncul kembali. Kali ini aku mendengarkan dua atau bahkan tiga suara yang sedang bercakap-cakap. Aku bangkit dari kamar tidur dan berjalan ke luar kamar sambil terus memasang telinga, berharap aku akan menemukan siapa yang sedang bercakap tengah malam tersebut, namun suara-suara itu menghilang seperti ditelan bumi.

Pagi ini kubangun dengan perasaan sedikit ganjil. Ibu sudah menyiapkan sarapan nasi goreng untuk Nicky, anak semata wayangnya. Setiap pagi ibu suka duduk menonton siaran berita di ruang tengah sambil memangku Munah, kucing kampung peliharaannya. Aku duduk diam dengan sebuah kebingungan di kepala. Sembari menghirup aroma kopi dari arah dapur, muncul sebuah ide untuk bertanya kepada ibu, barangkali ia juga mendengar hal yang sama, barangkali semalam dan malam-malam yang lain ia juga memasang telinga untuk suara-suara itu.

Tapi aku sendiri mesti ragu-ragu—di rumah ini hanya ada Nicky dan ibu, ayah sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Rumah peninggalan kakek Nicky, ini memang cukup besar untuk mereka. Nicky sendiri memang sudah punya rencana untuk pindah ke rumah yang lebih kecil, jika kelak ia menikah dengan Melody, ibu juga bersikeras supaya Nicky dan Melody mencari rumah lain saja. Aku sendiri bingung, karena ibu dan Melody memang tak begitu akur. Beberapa kali aku kerap mendengar ibu dan Melody beradu pendapat. Kalau sudah begitu, Nicky sendiri akan lebih banyak diam.

Ibu lebih senang sendiri sejak kepergian ayah, ia seperti mengunci dirinya di dalam rumah besar ini. Sejak ayah meninggal, ia tidak pernah lagi menerima tamu satupun baik keluarga maupun kolega. Padahal dulu sekali ketika ayah masih ada, rumah ini tak henti-hentinya menerima tamu. Berjarak dua ratus meter dari rumah kami memang ada dua rumah berhadapan persis. Satunya adalah rumah Pak Hasyim, ketua RT komplek kami. Dan satu lagi adalah sebuah rumah tua, yang kira-kira umurnya sama denganku.

“Ibu..” sedari tadi ia masih tidak bergerak dari sofa dengan mata yang masih terus menatap televisi. Ia bahkan tidak menjawab panggilanku.

“Ng, saya mau bertanya saja, apa ibu juga mendengar suara-suara seperti orang sedang bercakap-cakap tadi malam?” Ibu mengerutkan alisnya, ia tampak berpikir keras, tapi ia masih tidak menjawab pertanyaanku. Aku nyengir dan menggaruk kepala. Masih merasa bingung dengan pertanyaanku sendiri, aku pun melamun.

*

Sepanjang hari ini berjalan dengan lambat. Aku melihat Mar datang. Mar yang berasal dari kampung sebelah, akan memasak makan siang untuk ibu dan Nicky, tapi tentu saja Nicky akan makan siang di kantor dan akan sampai di rumah larut malam. Mar juga biasanya membantu membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyetrika. Jika ibu tidak melihat, Mar biasa membawa pulang bumbu masak, daging beberapa potong dari dalam kulkas, atau uang dalam saku celana Nicky yang biasanya Mar temukan. Mar akan menyumpel barang-barang yang ia ambil tadi di dalam tong sampah di pagar depan rumah. Kemudian ia akan mengambilnya ketika hendak pulang ke rumah. Sementara uang yang ia temukan, dengan sigap langsung ia simpan di beha-nya. Aku ingin sekali mengadu kepada ibu tentang apa yang akan dilakukan Mar, tapi jika Mar tidak lagi bekerja di rumah ini, siapa lagi yang akan menemani ibu.

Pada kali lain, aku juga menyaksikan hal-hal aneh di rumah ini. Percintaan antara Melody dan Nicky di kamar, yang semakin membuatku merasa sedih, bahwa hingga kini aku masih belum punya pasangan dan masih seorang diri.

Petang tiba. Setiap petang ibu masih akan memangku Munah, duduk di meja makan dengan cangkir kopinya dan mengisi TTS. Kacamatanya melorot, ubannya tampak semakin berkilau dari kejauhan, daster yang dipakainya sudah sangat melorot. Tubuh mungil dengan dadanya yang rata, menyatakan tentang nasib umurnya yang sudah semakin menyerah kepada zaman. Setelah mengisi TTS, ibu biasanya membaca buku—hingga tertidur.

Novel-novel tebal kesukaannya itu tersusun rapi di rak buku berdebu yang ada di ruang kerja ayah. Ruangan yang sama sekali tidak boleh dimasuki oleh siapapun, kecuali ibu. Bahkan kondisinya masih sama seperti terakhir kali ayah meninggal—dengan cara yang tidak wajar—eh, aku tidak tahu apakah aku dapat menceritakannya kepadamu atau tidak, tapi yang pasti ayah bunuh diri. Iya, aku sempat melihatnya ketika ia menelan pil-pil yang kemudian membuatnya meregang nyawa. Aku menangis. Dengan derasnya air mataku mengalir melalui tiris-tiris, seperti hujan—persis hujan.

***

Tuesday, June 19, 2018

#PetangMemelihara: Perempuan, Rambut, dan Identitas





Latar Belakang dan Tujuan

#PetangMemelihara, perempuan, identitas, dan tubuhnya, selalu menjadi hal yang menarik bagi saya. Secara khusus, tumbuh dan memiliki rambut keriting, juga sebuah pemantik yang membuat saya banyak memperhatikan hal ini. #MemeliharaKeriting, sebuah catatan harian tentang perempuan dan rambut keritingnya, saya mulai kerjakan melalui instagram. Dimulai dengan ide kecil saja, yaitu mengajak kawan-kawan perempuan untuk berbagi cerita tentang pengalaman memiliki rambut keriting mereka dan tinggal di Indonesia. Sejak kecil dan memperhatikan tivi, saya tidak pernah menjumpai perempuan yang ada di iklan shampo berambut keriting. Tumbuh dan besar di Maluku dengan stigma dan perilaku masyarakat yang kadang kasar dan tidak adil kepada pemilik rambut keriting. Sebutan rambut kuk, karibo basi, rambut indomi, rambut sarang burung, dan sebutan 'hinaan' lainnya kerap lekat dengan pemilik rambut keriting.

Konstruksi perempuan dengan identitasnya diporakporandakan. Dominasi standar kecantikan budaya tertentu, yakni kecantikan konvensional, misalnya: cantik adalah berambut lurus, yang berkelindan dengan gempuran pasar, dan untuk waktu yang lama telah berhasil membuat perempuan-perempuan berambut keriting mengalami beragam peristiwa yang tidak menyenangkan, baik di dalam dirinya sendiri maupun di lingkungan sosialnya. Mendadak masyarakat menilai bahwa rambut keriting itu adalah sesuatu yang mesti disembuhkan. Sebab ia semacam penyakit. Perempuan kemudian ditekan untuk malu menjadi dirinya sendiri, malu mengakui rambut alaminya, malu dengan identitasnya. Perasaan rendah diri, merasa kecil, dan tidak punya kendali atas tubuhnya kemudian menjadi hal yang sehari-hari untuknya. @MemeliharaKeriting hadir sebagai sebuah kesadaran bahwa rambut adalah bagian dari perlawanan. Sebuah perlawanan untuk merayakan individualitas perempuan, perlawanan terhadap stereotipe masyarakat luas, penyeragaman definisi kecantikan, dan nilai diri palsu yang dengannya perempuan dikuasai dan diasingkan dari dirinya sendiri sendiri.

#PetangMemelihara adalah sebuah acara tatap muka dan diskusi langsung untuk pertama kalinya. Akan diawali dengan workshop cara-cara tidak kreatif untuk menulis puisi, dan dilanjutkan dengan obrolan santai tentang perempuan, rambut, dan identitas dengan beberapa nara sumber yang diundang. Tujuan kecil dari acara ini adalah semoga kita, perempuan atau laki-laki yang hadir lebih percaya pada diri kita sendiri dan merayakan individualitas di dalam diri dan menjalani menjadi diri kita dengan sungguh-sungguh. 

Petang Memelihara




Mr. Guan Coffee & Books X Theoresia Rumthe mempersembahkan Petang Memelihara, dengan dua acara menarik berikut ini:

(1) WORKSHOP: cara-cara tidak kreatif untuk menulis puisi (mulai pukul 2)

Di workshop ini kita akan bereksperimen, bermain-main, menemukan ide, dan mencipta puisi dengan cara-cara yang tidak biasa.

(2) POJOK: memelihara keriting (mulai pukul 4)

Di pojok memelihara keriting, saya akan mengajak Grace Sahertian, Dhira Bongs, Alamanda Hindersah, Gabriella Maria, Almavastri Sidhya, untuk berbagi cerita tentang pengalaman bersama rambut keriting mereka, percaya diri, identitas, perempuan, pencapaian-pencapaian, dan tentu saja berbagi tip dan trik untuk memelihara rambut keriting. Grace Sahertian dan Dhira Bongs juga akan menampilkan lagu mereka secara langsung. Acara ini GRATIS!

Jangan lupa luangkan waktumu:
Minggu, 24 Juni 2018
di Mr. Guan Coffee & Books
Jl. Tampomas no. 22 Bandung
Pukul 14-18 wib

Sampai jumpa di Petang Memelihara!


Tuesday, June 12, 2018

Sebuah Catatan Harian: Menunggu Diganti Menemukan






Saya menemukan buku-buku lama yang pernah saya baca, tentang 'jodoh yang tak kunjung tiba, dan perempuan mesti menunggu.' Saya berpikir ulang tentang kata 'menunggu' dan mendapatkan sesuatu yang mengusik saya, bahwa kata 'menunggu' di situ kerap diidentikan sebagai subordinasi perempuan. Bahwa perempuan tidak punya hak untuk memilih siapa yang akan menjadi pasangannya. Sementara laki-laki punya hak istimewa untuk memilih dan memutuskan pilihannya atas perempuan.

Ide lain dari kata 'menunggu' yang juga mengganggu saya adalah perempuan diam, berdandan, menjaga sikap dengan baik, menjaga keperawanan, hingga saat yang tepat ia akan bertemu dengan laki-laki yang (dirasa tepat) untuk menjadi pasangannya. Selain itu kata 'menunggu' juga kerap menggambarkan bahwa perempuan tidak boleh agresif, dalam pengertian, agresifitas hanya boleh dimiliki oleh laki-laki sebagai sebuah tindakan untuk memburu perempuan, sebab lagi-lagi perempuan dianggap sebagai makhluk yang pasif, tidak berdaya, dan tidak berhak untuk memilih.

Saya kembali mundur pada nilai-nilai yang ada dan berkembang di sekitar saya. Tentang bagaimana masyarakat sangat memuji perempuan dengan keperawanan. Bahwa tugas untuk untuk menjaga keperawanan hingga 'waktunya tiba' adalah sebuah tugas mulia yang mesti diemban oleh seorang anak perempuan. Sementara kita tidak mengajarkan hal yang sama kepada anak laki-laki kita. Terdapat sebuah perbedaan besar antara cara membesarkan anak perempuan dan anak laki-laki. Bahwa anak perempuan tidak boleh terlalu agresif, mesti banyak menjaga sikap, jangan terlalu ekspresif untuk menyatakan perasaan, jangan terlalu ambisius, dan harus menjaga keperawanan. Sementara standar yang sama tidak dipelakukan kepada anak laki-laki.

Lalu, untuk mengganti kata 'menunggu' tadi, saya menyukai kata 'menemukan' (to discover, to found, to have, to detect, to invent). Baik perempuan dan laki-laki punya peran yang sama, untuk 'menemukan' siapa dirinya, 'menemukan' seksualitasnya, 'menemukan' bagaimana sikapnya terhadap seksualitasnya, 'menemukan' ambisinya, 'menemukan' perasaan-perasaanya, 'menemukan' dan membuat pilihan secara sadar siapa yang menjadi pasangannya.


Sebuah Catatan Harian: Hati-Hati Dengan Bahagia Digital dan Sikap Iri Hati






Berita kematian yang tidak biasa kembali menguar di permukaan. Kenapa saya katakan bahwa kematian yang tidak biasa, karena berturut-turut kematian tersebut disebabkan oleh: bunuh diri. Hal ini membuat sebuah tanya di dalam hati saya, mengapa? atau lebih lengkapnya mengapa mereka yang telah berada di usia lebih dari 50 tahun mesti melakukan tindakan bunuh diri untuk mengakhiri hidup mereka?

Ada rasa masygul, penasaran, sekaligus tanya yang tak kunjung usai di kepala saya. Dan hari ini saya menemukan sebuah artikel yang ditulis di time.com, dua hal yang menjadi sorotan utama dari artikel singkat itu adalah: definisi kebahagiaan yang bergeser dan bahaya dari sikap iri hati.

Saya tidak akan berusaha menjadi psikolog atau mengira-ngira apa yang menjadi penyebab dari kematian Spade dan Bourdain. Duka saya bersama mereka yang pergi dan hati saya tinggal bersama keluarga yang kehilangan. Barangkali tulisan ini saya buat sebagai pengingat kepada diri saya sendiri, bagaimana cara saya mendefinisikan kembali kebahagiaan, membuat sebuah jarak baru dengan cara-cara bahagia yang semu dan bagaimana saya tidak terjebak ke dalam sebuah sikap iri hati.

Yang akan saya bahas pertama, terdapat sebuah tren baru pada definisi kebahagiaan. Di dalam penemuan saya, ia bisa jadi seperti ini: bahagia adalah ketika menggunggah semua foto—seakan-akan bahagia—kita di media sosial. Kemudian tambahkan sedikit kutipan sensasional bahwa—seakan-akan—kita merayakan hidup dan menikmati hidup kita sungguh-sungguh. Sebuah keterjebakan yang saya sebut dengan: kebahagiaan digital. Kebahagiaan digital kemudian dikejar dengan cara-cara serba visual, artifisial, dengan caption/tagline/hashtag yang "serba merayakan hidup tadi". Padahal jauh di dalam hati, barangkali kita sebenarnya sedang tidak bahagia.

Hal kedua yaitu, sikap iri hati. Setelah terjebak dengan kebahagiaan digital, saya pikir hal merusak lainnya adalah sikap iri hati. Kita kemudian jadi senang mengiri dan membandingkan diri kita dengan orang lain. Satu contoh kecil: ketika teman kita mengunggah foto "kebahagiaan digitalnya", dengan tidak mau kalah, ada sebuah sikap untuk kepengin lebih dari teman kita itu.

Padahal kita lupa bahwa segala sesuatu yang diunggah di media sosial, tidak sepenuhnya sebuah kebenaran, ia punya pergumulannya sendiri. Iri hati kerap muncul sebagai sebuah dampak karena kita merasa "kecil" atau "kurang" dibandingkan teman kita. Padahal belum tentu teman kita itu benar-benar bahagia.

Kesadaran lain muncul di dalam benak saya untuk menemukan sebuah makna hidup yang sebenarnya, ketimbang menjerumuskan diri saya kepada sebuah keterjebakan palsu: kebahagiaan digital dan sikap iri hati (semu). Bagaimana saat ini, kita begitu gampangnya menilai kebahagiaan seseorang hanya dari unggahannya di media sosial. Atau bagaimana saat ini, kita lekas iri hati dengan foto-foto liburan orang lain. Sementara kita lupa ada sebuah pergumulan mahal untuk satu foto. Kita lupa bahwa di dalam setiap unggahan media sosial Spade dan Bourdain—yang tampak bahagia, mereka juga hanya seorang manusia biasa yang juga punya penderitaan.

Tuesday, May 22, 2018

Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai: Salatiga (Bagian III)






Pada hari Rabu, 9 Mei 2018 lalu, kami mengadakan peluncuran buku "Cara-cara Tidak Kreatif untuk Mencintai" di Kafe Cindy's, Salatiga. Pada kesempatan itu kami  menghadirkan dua pembahas, Izak. Y.M. Lattu dan Jessy Ismoyo. Keduanya adalah dosen di Universitas Kristen Satya Wacana, sahabat kami sekaligus teman diskusi yang menyenangkan. Diskusi yang panjang itu akan dipublikasi dalam beberapa bagian supaya tetap bisa dinikmati dengan santai: (1) Perihal Buku Cara-cara Tidak Kreatif untuk Mencintai; (2) Perihal Ciuman; (3) Perihal Puisi Kesukaan dan Rindu; (4) Perihal Cinta & Puisi. Selamat membaca!




Bagian IIIPerihal Puisi Kesukaan dan Rindu

Christian menyambung pernyataannya tentang ciuman dengan pertanyaan baru, “Dari 98 puisi di dalam buku Cara-cara Tidak Kreatif untuk Mencintai, apa puisi favorit kalian?” Percakapan tentang puisi kesukaan itu berlanjut dengan percakapan tentang rindu-rindu yang bertebaran di dalam puisi-puisi di buku ini.

“Ada dua puisi sebenarnya: Ciuman yang menjaga sebuah Bangsa dan Bandung-Salatiga, karena Bandung adalah satu-satunya kota besar di Indonesia yang belum saya datangi. Saya sudah tinggal di kota-kota besar dunia: NY, Boston, LA, London, dll., tetapi belum menginjakkan kaki di Bandung. Puisi itu membuat saya mengimajinasikan kota Bandung,” demikian Izak Lattu menjawab pertanyaan Christian tentang puisi yang ia sukai.

Pertanyaan yang sama juga dijawab oleh Jessy. “Di dalam puisi Pada Bulan yang Sama & Pada Tengah Malam seperti Begini,” kata Jessy, “aku merasa bahwa di situ ada kerinduan yang begitu hebatnya yang coba disampaikan dalam puisi itu. Kerinduan akan satu sosok yang betul-betul jauh dari kita, tetapi rindu yang sehebat itu hanya dicurahkan dengan satu sentuhan yang sesederhana: menyentuh bibir dengan tangan yang berkerut menjadi tindak akhir dari rindu yang sebesar itu.”

Melanjutkan percakapan tentang puisi Pada Bulan yang Sama, Theo menjelaskan, “Puisi itu yang saya tulis untuk mama saya yang sudah meninggal. Dulu ketika kecil, mama saya sering sekali memangku saya dan berdongeng tentang ibu dan anak yang tinggal di bulan. Teman-teman di Maluku juga pasti punya pengalaman yang sama (didongengkan). Mama kerap sekali pergi dan saya sering dititipkan ke tante atau nenek.”

“Kadang kita merasa bahwa kita sudah bisa cope dengan kehilangan, tetapi kadang manusia sendiri tidak bisa memastikan alam bawah sadarnya, barangkali ada hal-hal yang masih tertinggal di sana dan itu muncul dalam karya, tanpa rencana. - Theoresia Rumthe

“Ingatan yang melekat adalah didongeng oleh mama,” lanjut Theo. “Kadang kita merasa bahwa kita sudah bisa cope dengan kehilangan, tetapi kadang manusia sendiri tidak bisa memastikan alam bawah sadarnya, barangkali ada hal-hal yang masih tertinggal di sana dan itu muncul dalam karya, tanpa rencana. Kenangan-kenangan yang belum selesai itu sesekali keluar dalam tulisan-tulisan saya. Tentang rindu, kadang kita bilang tidak rindu, tapi sebenarnya rindu-dan itu keluar di karya,” ungkap Theo.

“Rindu,” menurut Weslly, “adalah sebuah pengalaman eksistensial. Rindu adalah satu kondisi di mana manusia berhadapan dengan batas-batas sebuah diri. Merindu adalah bagaimana seseorang menghadapi dengan keterbatasan dirinya. Ingin sesuatu tetapi tidak/belum bisa, itu intinya, dan itu berkaitan dengan keterbatasan manusia. Namun, merindu sebagai tindakan menghadapi keterbatasan bukanlah keadaan tak berdaya. Merindu itu sebuah daya yang menggerakkan manusia, misalnya gelombang pemudik yang berduyun-duyun pulang ke kampung halaman. Itu adalah wujud kekuatan rindu yang, pada titik itu, tidak hanya personal belaka, tetapi juga bersifat sosial.”

“Ketika kita merindukan sesuatu, keberadaan sesuatu itu akan dirasakan semakin hebat,” kata Jessy. “Dalam keadaan itu, kita cenderung berpikir bagaimana menghapus jarak antara kita dan sesuatu itu dengan hal yang instan. Kita lupa bahwa justru cinta dan rindu, menghadapkan kita pada hal itu. Kadang kita selalu meminimalisir risiko. Kita selalu takut pada kemungkinan untuk sakit. Jadi, kita menempatkan cinta sebagai urusan hitung-hitungan yang dikatakan bung Cak sebagai investasi tadi. Kita mencintai bangsa kita, misalnya, dengan tidak hanya mengharap-harap bahwa negara menyediakan keamanan, tetapi kita juga mengusahakan itu setiap harinya. Kadang kita bilang kita cinta, tetapi kita mengedepankan kepentingan diri kita sendiri. Cinta itu memang bukan luka belaka, tetapi jangan menempuh jalan-jalan instan semata-mata untuk menghindari risiko-risiko.”

Theo melanjutkan, “Kita tidak bisa lepas dari kemungkinan risiko. Keyakinan yang harus ada di dalam kepala kita adalah cinta itu memerdekakan. Kalau memang mau setia, ya kamu setia. Bukan karena orang lain. Setia adalah sebuah pilihan, bukan karena orang lain. Saya setia, karena saya setia, bukan karena orang lain. Itu mungkin yang mendasar ya. Tetapi, kemungkinan untuk merasa sakit, merasa kecewa, itu terus ada, karena kita manusia dan dari situlah kita belajar.”

(bersambung)


Monday, May 21, 2018

Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai: Salatiga (Bagian II)






Pada hari Rabu, 9 Mei 2018 lalu, kami mengadakan peluncuran buku "Cara-cara Tidak Kreatif untuk Mencintai" di Kafe Cindy's, Salatiga. Pada kesempatan itu kami  menghadirkan dua pembahas, Izak. Y.M. Lattu dan Jessy Ismoyo. Keduanya adalah dosen di Universitas Kristen Satya Wacana, sahabat kami sekaligus teman diskusi yang menyenangkan. Diskusi yang panjang itu akan dipublikasi dalam beberapa bagian supaya tetap bisa dinikmati dengan santai: (1) Perihal Buku Cara-cara Tidak Kreatif untuk Mencintai; (2) Perihal Ciuman; (3) Perihal Puisi Kesukaan dan Rindu; (4) Perihal Cinta & Puisi. Selamat membaca!



Bagian II: Perihal Ciuman

Christian melanjutkan, “Ada isu apa di balik puisi Ciuman yang Menjaga Sebuah Bangsa?” Theo atau Weslly yang lebih dulu, silakan.

“Awalnya puisi ini hanya mau bercerita tentang ciuman tetapi karena menulis apa pun, termasuk menulis puisi, adalah kegiatan yang tidak mungkin terisolasi dan bersifat dialektis, maka ‘obrolan’ saya dan Theo tentang ciuman itu akhirnya menyentuh juga pengalaman-pengalaman lain di sekitar kehidupan kita. Saya percaya bahwa semua kita punya ingatan manis tentang bangsa ini, walaupun itu tidak lalu berarti mengabaikan berbagai persoalan hidup bersama sebagai bangsa yang kerap muncul pada hari-hari belakangan ini. Puisi ini ditulis dan meluas dalam tegangan itu. Pada dasarnya, ciuman di dalam puisi ini adalah usaha menyeberangi keterasingan yang terbentang antara manusia yang satu dengan manusia lainnya,” jawab Weslly.

Sementara menurut Theo, “puisi Ciuman yang Menjaga Sebuah Bangsa adalah titik tenang untuk memandang dan memahami diri sendiri juga hubungan-hubungan manusia dalam kehidupan bersama sebagai sebuah bangsa. Membaca berita pada hari-hari belakangan kadang membuat hatimu cukup patah. Puisi adalah ruang untuk kemudian mengingat lagi hal-hal manis tentang bangsa ini dan tempat di mana harapan-harapan baik dan kebaikan-kebaikan itu dijaga dan dibiarkan untuk terus bertumbuh.”

“Awalnya puisi ini hanya mau bercerita tentang ciuman tetapi karena menulis apa pun, termasuk menulis puisi, adalah kegiatan yang tidak mungkin terisolasi dan bersifat dialektis, maka ‘obrolan’ saya dan Theo tentang ciuman itu akhirnya menyentuh juga pengalaman-pengalaman lain di sekitar kehidupan kita, ujar Weslly Johannes.





“Puisi Ciuman yang Menjaga Sebuah Bangsa kalau kita bicara tentang semiotika adalah tanda dari betapa kita merindukan intimasi pada sebuah bangsa,” demikian Izak Lattu. “Kita merindu pada saat intimasi itu hilang. Kita merindu pada apa yang membuat kita menjadi bangsa, yaitu rasa paling dalam. Dalam konteks itu, bangsa tidak hanya bisa diikat oleh hukum. Dalam buku ‘Menolak Narasi Tunggal’, saya juga pernah bilang, kalau bangsa yang cuma diikat oleh hukum saja, itu namanya persatean; kalau bangsa diikat juga oleh rasa, itu namanya persatuan. Oleh karena itu, cinta menjadi kekuatan berbangsa di dalam puisi ini. Tidak ada orang yang bisa menjadi warga bangsa yang baik, kalau dia belum pernah mencium dan mencintai. Hanya orang yang mencium dan mencintai yang bisa merasakan arti sebuah bangsa.”

“Mencium dan mencintai itu bukan kekuatan fisik, tetapi kekuatan rasa yang paling dalam dan kita ingin, dalam konteks bersatu sebagai bangsa itu seperti orang menikah, misalnya. Cinta itu tidak membutuhkan pengorbanan, sebab ketika kita sudah merasa berkorban, kita sudah tidak lagi mencintai, tetapi berinvestasi, melainkan kita betul-betul ingin membangun ikatan dengan saling mengaitkan kedekatan kita pada orang lain dan itu yang kemudian membuat kita menjadi bangsa. Kembali pada konteks ‘persatean’ tadi. Kita tidak mau bangsa ini hanya terikat karena hukum belaka. Kita punya pancasila, tetapi pancasila itu akan tidak ada artinya, jika orang tidak belajar untuk saling mencintai pada level keseharian. Level keseharian ini yang bisa memperkuat bangsa. Bangsa ini punya kekuatan untuk saling terikat kalau kita belajar mencintai, kalau orang boleh mencium (intimasi), saling berpelukan, dalam arti ‘menghapus jarak’. Jika kita mau menjadi bangsa, kita harus bisa menghapus ‘distance’ antara kita dengan orang lain,” tutur Izak Lattu.

“Ciuman yang nasionalis,” ucap Christian sambil tertawa, “membuat kita sadar bahwa bangsa ini masih memiliki sesuatu yang manis untuk menjadi kekuatan yang mengikat kita.”

(bersambung)


Sunday, May 20, 2018

Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai: Salatiga (Bagian I)




Pada hari Rabu, 9 Mei 2018 lalu, kami mengadakan peluncuran buku "Cara-cara Tidak Kreatif untuk Mencintai" di Kafe Cindy's, Salatiga. Pada kesempatan itu kami  menghadirkan dua pembahas, Izak. Y.M. Lattu dan Jessy Ismoyo. Keduanya adalah dosen di Universitas Kristen Satya Wacana, sahabat kami sekaligus teman diskusi yang menyenangkan. Diskusi yang panjang itu akan dipublikasi dalam beberapa bagian supaya tetap bisa dinikmati dengan santai: (1) Perihal Buku Cara-cara Tidak Kreatif untuk Mencintai; (2) Perihal Ciuman; (3) Perihal Puisi Kesukaan dan Rindu; (4) Perihal Cinta & Puisi. Selamat membaca!





Bagian 1: Perihal Buku Cara-cara Tidak Kreatif untuk Mencintai

Memulai bahasannya tentang buku “Cara-cara Tidak Kreatif untuk Mencintai,” Izak Lattu, dosen UKSW yang banyak menulis tentang relasi agama-agama dan bergiat di bidang tersebut, berpendapat demikian “Buku ini tidak hanya mengungkapkan cinta sebagai relasi romantis saja. Cinta di sini juga diartikan sebagai social relationship dan cultural relationship yang kesemuanya bertumpu pada intimasi. Romantic love, seperti tertulis di buku ini, ditempatkan ke dalam konteks sosial yang lebih luas. Dari situ, cinta kemudian dimengerti juga sebagai political expression, seperti tampak dalam, misalnya puisi Ciuman yang Menjaga Sebuah Bangsa. Tidak ada bangsa yang besar, jika orang-orang tidak saling mencintai.”

“Intimasi bertumpu pada trust (rasa percaya),” demikian ungkapnya. Tidak ada orang yang bisa saling mencintai tanpa rasa percaya. “Dalam konteks berbangsa,” menurut Izak Lattu, “trust sebagai pusat dari intimacy menjadi kekuatan bagi sebuah bangsa. Hidup berbangsa itu perlu intimacy. Jadi, sumbangan buku ini bagi Indonesia sekarang adalah soal bagaimana menghadirkan intimacy, sebab berbicara tentang bangsa, tentang masyarakat, tidak bisa dilepaskan dari individu-individu yang saling mencintai di dalam berbagai-bagai perbedaan yang ada.”


 Jadi, sumbangan buku ini bagi Indonesia sekarang adalah soal bagaimana menghadirkan intimacy, sebab berbicara tentang bangsa, tentang masyarakat, tidak bisa dilepaskan dari individu-individu yang saling mencintai di dalam berbagai-bagai perbedaan yang ada,” ungkap, Izak Lattu.


“Tulisan Theo dan Weslly ini,” lanjut Izak Lattu, “secara tersirat mengatakan bahwa Plato keliru melihat puisi. Bagi Plato, puisi itu punya daya yang berpotensi merusak bangsa. Bagi dia, puisi itu korup; puisi akan mengkorupsi pemikiran anak-anak bangsa, sedang bagi Plato logika adalah instansi tertinggi dari kehidupan manusia. Estetika diletakkannya jauh di bawah logika. Namun, ternyata kalau kita membaca buku ini, ada kecerdasan berlogika dalam puisi-puisi yang tertulis di situ. Puisi hanya bisa ditulis kalau kita mempunyai logika yang jelas.”

Terdapat 98 puisi dalam buku ini. Puisi-puisi itu membuat saya berkontemplasi di dalamnya,” kata Christian. Ia lalu mengajak kedua pembahas untuk lebih lanjut memberi tanggapan terhadap puisi-puisi di dalam buku Cara-cara Tidak Kreatif untuk Mencintai.

Kali ini, Jessy Ismoyo, dosen yang juga penulis puisi, membagikan pengalaman membaca buku Cara-cara Tidak Kreatif untuk Mencintai beserta penilaiannya.Setiap puisi dalam buku ini,” menurutnya, “selalu membawa kita pada ingatan tertentu, misalnya aku suka banget puisi Bandung-Salatiga. Di dalam puisi itu dibilang (Jessy lalu membacakannya):

rindu ada,
waktu tiada
rindu ada,
waktu tiada
rindu ada,
waktu tiada
kau di sini.

Dalam satu bait kita bisa ke mana-mana. Kadang-kadang, kepala kita bahkan mencurangi diri kita sendiri, membawa kita ke dalam ingatan-ingatan episodik (satu bagian kecil dari ingatan yang panjang), dan itu yang aku nikmati dari membaca puisi-puisi ini. Setiap aku baca dua atau tiga puisi, aku harus berhenti dan menarik napas panjang, dan bertanya, Cinta itu apa?”

“Di dalam buku ini,” lanjut Jessy, “Theo dan Weslly bisa membuat cinta yang tadinya dalam konteks pasangan menjadi lebih luas dari itu dan, pada saat yang sama, tidak kehilangan esensi dari dua individu yang saling mencintai. Mereka juga mengkontemplasikan cinta dalam hal-hal yang sangat dekat dengan mereka. Di dalam puisi-puisinya Theo menuliskan hal-hal yang tak terduga, misalnya perasaan ketika bangun pagi, bagaimana memandang bulan, atau bagaimana menerjemahkan rindu dengan menggunakan apa yang ada di sekitarnya. Puisi-puisi Theo membuat pembaca mengembuskan napas panjang pada saat selesai membacanya. Sementara puisi-puisi Weslly, satu kalimat, satu embusan napas.”

(bersambung)


Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...