Thursday, October 27, 2016

Radinka dan Payung Kuning






Radinka.

Sebuah nama tertulis pada kertas. Dengan beberapa digit nomor tertera di bawahnya. Saya memandangi kertas itu lama dan mengulang kembali nama itu di dalam hati. Radinka. Radinka.  

Ada desir halus muncul di hati ketika mengucap nama itu kembali. Saya  kembali mengingat ketika berpisah dengannya. Ketika itu hari hujan di bawah pohon kamboja. Ujung payung kuning berkibar-kibar terkena angin. Ujung-ujung kaki kita bersentuhan di antara bunga-bunga kamboja.

Radinka tidak menangis. Ia begitu tegar.

“Sudah saatnya saya pergi meninggalkan rumah.”

Saya diam. Ujung tanganku gemetar mendengar kalimat itu. Sementara di luar payung kuning, hujan semakin deras. Bis yang kami tunggu datang juga. Berhenti tidak jauh dari pohon kamboja. Radinka menggandeng tanganku erat dan berjalan menuju bis.

Langkah kakiku kini lebih berat.

Radinka pergi. Ia meninggalkanku dengan payung kuning. Hujan deras seperti berdenting. Nadanya minor.

Skidamarink a dink a dink
Skidamarink a doo

I love you.



***

Saya mendapat nomor teleponnya beberapa hari yang lalu. Tujuh tahun sudah saya kehilangan kabar darinya. Perpisahan di bawah pohon kamboja. Lalu bis yang menjemput. Dan saya dan payung kuning.

Semuanya seperti film yang kembali berputar di ingatan. Dan kini saya berhadapan dengan sebuah kenyataan bahwa Radinka telah kembali ke kota ini. Saya harus bertemu dengannya. Tekad saya bulat di dalam hati. Ruang rapat di kantor waktu itu terasa sesak. Saya butuh segera keluar dari ruangan itu. Saya butuh menelepon Radinka. Saya butuh bicara. Saya butuh bertemu dengannya.

“Bagaimana Bapak Raga, apakah Bapak punya usulan terhadap proyek kita ini?”

Pertanyaan dari atasan membuyarkan lamunanku. Saya kembali memusatkan perhatian ke dalam ruangan. Melihat kepada atasan saya. Membersihkan tenggorokan dan ...

“Saya pikir cukup, Pak. Tidak ada lagi yang perlu ditambahkan.”

Fiuh.

Rapat pun selesai. Saya menyambar jas yang ada di lengan kursi. Dan berjalan dengan cepat ke arah meja kerja. Menyambar dompet, handphone, dan kunci mobil. Lalu segera berjalan lebih cepat ke arah lift.
Saya butuh meneleponnya sekarang. Saya menunggu lift sampai di lantai dasar. Menekan beberapa digit nomor dan menunggu.

Nada panggil di telepon. Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali.

Tidak ada yang mengangkat. Oh, Radinka, please.

Saya mencoba sekali lagi sambil berjalan ke arah parkiran. Kali ini pun nihil. Saya masuk ke dalam mobil dan mencoba sekali lagi. Handphone saya hanya menghasilkan bunyi panjang tanpa jawaban.

Mobil saya sudah keluar dari kantor menuju ke jalan utama. Antrian mobil-mobil lainnya di samping kiri dan kanan membuat jalan utama itu kini tidak karuan. Saya masih penasaran dan hendak mencoba sekali lagi menelepon Radinka. Saya tahu pasti ada yang menjawab. Saya masih ingat  suara itu. Suara yang khas. Saya mau bertemu dengannya. Memeluknya. Kali ini lebih lama. Dan ia tidak boleh pergi lagi.

Bunyi nada panggil.

Tidak lama kemudian terdengar nada untuk meninggalkan pesan.

Saya sempat ragu. Menahan diri sebentar. Tapi kemudian kata-kata ini yang keluar.

“Dinka, ini Raga. Hei ... kamu di sini sekarang. Apa kabar? Semoga sehat ya. Hm, kalau sore ini kosong, kita ketemuan yuk. Kafe Payung di Jalan Kamboja. Pukul 6. Saya tunggu ya.”

Klik.

Sambungan telepon saya matikan. Saya bahkan tidak sadar kalau suara saya bergetar di telepon tadi. Saya membuang nafas pelan dan melihat keluar jendela. Bulir-bulir hujan satu per satu kini jatuh di kaca jendela. Lalu deras tiba-tiba. Jalanan tambah tidak karuan. Hati saya pun ikut tidak karuan.

Ada yang menyeberang jalan. Perempuan dengan payung kuning. Ia menoleh sebentar kepada saya dan tersenyum bahagia. Saya ingat senyum itu. Seperti ... Radinka.

Bayangan perempuan itu ikut hilang bersama derasnya hujan, kini di pelupuk di mata.


*Salatiga, 27 Oktober 2016. Pukul 00:37 wib. Menulis ini karena sore tadi hujan di Salatiga. Lewat pohon kamboja. Dan ingat nama Radinka.


(Radinka Lunar, Rest In Love, 17 Oktober 2016)




Thursday, October 20, 2016

Sikat Gigi





Menyikat gigi adalah pengalaman yang menyenangkan dan indah. Bukan hanya karena semut-semut hitam yang berjejer senang di dekat jari-jari kakimu, melainkan juga aroma masa lalu kerap muncul ketika bulu-bulu halus sikat gigi itu mengenai gigimu.

Sejumput kenangan dari rambut abu-abu nyaris putih, sepasang mata dan sepasang gusi atas dan bawah. Lengan-lengan yang mati dan terbujur kaku di peti mati. 

Tak ada lagi kehidupan. 

Saya berhenti sebentar menyikat gigi. Dan merasakan busa-busa segar di sela-sela gigi. Merasakannya dengan lidah saya dan menelannya sedikit. Rasa pasta gigi yang bercampur dengan liur itu ternyata enak juga. 

Sementara udara segar dari ventilasi kamar mandi masuk dan menelusuri punggung. Irama lagu dari radio terdengar sayup-sayup dari kamar sebelah membelai telinga. Mengajak bersenandung walaupun sedang menyikat gigi. 

Sekelebat pertanyaan itu muncul di kepala begitu saja, sebutkan satu hal terakhir yang paling menyenangkan yang akan dilakukan sebelum mati?

Apakah itu sikat gigi?

Satu bulu sikat lepas dari tangkainya. Tercerai dari kawanan, sepi. Hilang ke dalam selokan. Di sana tidak ada gusi dan gigi yang merah pucat dan putih, seperti mayat. Tetapi basah dan bau tak sedap itu begitu akrab. 

Setiap pagi ia dibawa masuk ke dalam satu dunia yang sama sekali berbeda dari keranjang biru muda tempatnya bertengger sepanjang malam. Terdorong tanpa punya pilihan lain, selain melompat-lompat di atas barisan gigi yang tak simetris, menyelinap di celah-celahnya, atau masuk ke dalam lubang-lubang tempat kebusukan bersembunyi. 

Ia tak punya pilihan. Hidup yang tak punya pilihan sama saja dengan mati. Tercerai dari kawanan, hanyut ke alam lain, dan tinggal di dalam selokan sepanjang usia tulang-belulang.

Air menderas. Bulu sikat tertancap pada celah dasar selokan yang retak. Senandung dari dalam kamar mandi menggema di selokan. Ia rindu pada hidup yang dulu, meski melompat-lompat di antara barisan gigi yang mulai ternodai kopi dan nikotin.

“I was born by the river hm hm hm hm hm..
O, and just like the river I've been running hm hm hm...”

Tiba-tiba ia ingin merasakan lagi dua katup bibir yang menggumamkannya. Bibir yang lembut dan memerah karena pasta gigi. Ia rindu ada di lagu itu. Lagu tentang hal-hal yang tidak dimengerti. Tentang hidup. Hidupnya yang tak ia mengerti tetapi entah untuk alasan apa terus saja ia lanjutkan, di keranjang biru, di antara barisan gigi, dan di selokan kini. 

(* adalah prosa pertama yang ditulis bersama. Saya dan weslly johannes mencoba menggarap proyek tulisan kedua kami secara serius sekaligus santai. Berbekal jarak dan ketabahan, semoga kami bertahan untuk menyelesaikannya.) 

Sayang Sekali Kita Terlanjur Melihat Cinta Sebagai Sebuah Pemikiran Remeh





Saya memulai kalimat-kalimat saya dengan ini : “yang berdosa itu ketika jatuh cinta dan tidak menikmatinya.” Kalimat-kalimat itu saya ucapkan pada suatu sore selesai ciuman yang sederhana. Saya menyukai bagaimana cinta merasuk dan menghisap darah manusia seperti kutu busuk. Berawal dari jumpa dan melihat kekasihmu berubah menjadi hantu di dalam tidurmu.

Bagaimana kau mencintai bau kulitnya yang berminyak. Bau tembakau yang menempel. Pelukan di bagian punggung. Urat-urat di mata. Kelopak mata yang tertutup. Tungkai jenjangnya yang seperti perempuan di atas catwalk. Atau caranya membikinkan kopi untuk bekal menulis. Sungguh; itu semua adalah hal-hal sederhana yang tidak akan ada artinya tanpa kesungguhan.

Emma Stone berkata ia tidak akan bisa hidup tanpa cinta. Ahok tidak akan bisa bertahan tanpa cinta. Kawan-kawan yang berdemo kemarin-kemarin tidak akan melakukannya tanpa cinta. Bob Dylan tidak akan membuat lirik-lirik yang bagus tanpa cinta. Bahkan Pramoedya menulis dari dalam penjara karena cinta.

Sayang sekali kita terlanjur melihat cinta sebagai sebuah pemikiran remeh, rendah, dan mengangkang. Satu-satunya yang kerap dekat dengannya adalah orgasme: asal satu orang senang. Padahal cinta bukan masalah satu melainkan dua. Satu tambah dua sama dengan tiga. Saya ditambah kamu sama dengan Indonesia. Saya membayangkan apa yang ada di dalam benak pencipta ketika ia mencipta Indonesia. Sudah pasti bukan siapa yang paling berkuasa. Atau sudah pasti bukan siapa yang lebih berhak menjadi pemimpin sementara yang lain tidak layak. Tidak pantas. Tetapi rasanya ia mencipta karena cinta. Maka setiap orang memiliki cinta berhak untuk memimpin.  

Siang tadi kami membaca Sartre, ia menulis ada seorang laki-laki yang punya lubang hidung begitu besar sehingga ketika ia bernafas keluarganya pun akan ikutan hidup. Diam-diam saya berpikir tentang hal lainnya tentang cinta. Cinta adalah membiarkan yang lain hidup. Tetapi bukan yang lain lantas mati. 

Wednesday, October 19, 2016

Rajinlah Mencuri!






“Nothing is completely original. All creative works build on what came before. Every new idea is just a remix or mash-up of one or two previous ideas.”

Austin Kleon berkata begitu pada suatu waktu di sebuah panggung bicara kreatif. Austin Kleon yang menulis beberapa buku kreatif dan masuk ke dalam kategori best seller. Austin Kleon yang kemudian saya curi ide newspaper blackout-nya yang tersohor itu dan saya adaptasi menjadi ‘menghitamkan koran’ yang kemudian dipamerankan di poetry on the street di Ambon beberapa waktu yang lalu.

Tapi ternyata saya salah. Ide newspaper blackout yang dipopulerkan oleh Austin Kleon bukan benar-benar ide orisinal miliknya. Ide itu sudah lebih dulu dilakukan oleh Tom Phillips, seorang seniman asal Inggris yang senang sekali pergi ke toko buku, lalu membeli novel bergaya victorian dan kemudian menggambar ilustrasi di tiap halaman novel tersebut. Tom Phillips ternyata juga ‘mencuri’ ide yang dilakukan oleh William Burroughs, penulis yang pada zamannya terkenal dengan gaya menulis cut-up-method-writing- nya. Dan tidak sampai di situ saja, Borroughs juga ‘mencuri’ ide tersebut dari temannya, Brion Gyson.

Ternyata seniman-seniman itu saling mencuri!

Jadi jangan takut mencuri. Selama selesai mencuri ide dari orang lain jangan lupa untuk digabungkan dengan ide yang ada di dalam kepalamu sendiri lalu belajar mengolah sehingga ia menjadi sebuah ide yang lebih baru kemudian mulailah untuk proses eksekusi.

Tetapi yang jadi persoalan adalah kebanyakan orang malu dituduh sebagai pencuri. Mereka memilih untuk meniru. Nah di sinilah letak perbedaan antara pencipta dan pengikut.orang-orang yang disebut sebagai pencipta itu ‘mencuri’ ide dari karya orang lain kemudian digabungkan dengan idenya sendiri di dalam kepala lalu diolah menjadi sebuah ide yang lebih segar baru dieksekusi. Sementara yang menjadi pengikut, hanya puas dengan meniru. Tidak tanggung-tanggung mereka biasanya meniru utuh-utuh.  

Pengikut-pengikut yang sudah terlanjur buntu ditambah dengan malas belajar lalu berakhir dengan meniru orang lain. Sementara pencipta selalu menemukan cara lain untuk mencuri dengan kreatif dan tanpa malu. Seperti yang dikatakan oleh Steve Jobs, “Creativity is just connecting things. When you ask creative people how they did something, they feel a little guilty because they didn’t really do it, they just saw something.” Pencipta punya banyak waktu untuk mengamati sesuatu.

Satu hal yang menyenangkan dari menjadi kreatif adalah punya banyak waktu untuk melamun dan menikmati sesuatu lambat-lambat. Karena ketika itulah ide dan inspirasi kemudian datang menghampiri. Tapi apa mau dikata, akhir-akhir ini setiap orang sangat tergesa-gesa. Nah jika tergesa-gesa, kita bahkan lupa untuk mengamati hal yang paling kecil di sekitar. Lupa pula untuk mencuri hal-hal istimewa dari sekitar kita.

Jika semua manusia adalah seniman seperti yang dibilang oleh Picasso. Maka jangan lupa bahwa Picasso juga pernah bersabda, “Good artists copy, great artists steal.” Manusia-manusia besar adalah mereka yang berani mencuri. Bukan meniru. Sebab tidak ada yang benar-benar orisinal di muka bumi. Yang orisinal hanyalah ayam kfc, saya suka pesan bagian paha!



Sunday, October 16, 2016

33







Lahir pada hari minggu, 16 oktober.
Natal di larat & panggung pertama, 4.
Punya teman imajinasi bernama doda, 6-10.
Baca puisi pertama di kematian om terkasih, 10.
Menulis cerita pendek pertama dan tidak selesai, 12.
Keluar dari rumah kebun cengkeh karena kerusuhan, 15.
Berangkat dari ambon ke jogjakarta, 16.
Pindah ke bandung lalu melamar jadi penyiar radio, 22.
Bergabung dengan glorify the lord ensemble, 22.
Bertemu dengan banyak orang-orang keren, terinspirasi & tahun-tahun belajar, 22-26.
Membuat nama perempuansore untuk blog, 26.
Menerbitkan buku puisi bersama teman-teman perempuan lainnya, 27.
Tahun ini menulis di dua kumpulan cerita pendek, 29.
Membuat kelas public speaking, 29.
Mama meninggal dan baca puisi di hari pemakamannya, 31.
Membuat molucca project, 32.
Bertemu kekasih dan jatuh cinta, saumlaki, 32.
Mendapat hadiah puisi pertama ketika ulang tahun, 32.
Membuat perjalanan pertama di buru, 32.
Membuat jurnal puisi bersama kekasih, (ide awal tempat paling liar di muka bumi), 32.
Menerbitkan tempat paling liar di muka bumi bersama kekasih, september 2016, 14 hari jelang 33.
Hari ini, minggu yang berbeda, 16 oktober, perjalanan 33 saya dimulai.

—

I praise you, for I am fearfully and wonderfully made. Wonderful are your works; my soul knows it very well.



(photo by tiara salampessy)

Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...