Saturday, August 21, 2010

Ibu

/1/

ada Ibu di dalam sebotol wine
aku tuang ke dalam gelas
untuk aku sesap sesekali.
aku rasakan pahit dan manisnya
menikam kerongkongan kecilku

sebotol wine penuh
akhirnya tinggal setengah.
mengasihani aku yang teler di meja
karena mabuk Ibu

/2/

gerimis adalah anak hujan yang butuh Ibu
mereka berjalan sempoyongan, mereka berlari tak karuan,
mereka meleleh perlahan, mereka mencari sesuatu,
tidak menemukan sesuatu.

Ibu mereka sembunyi, entah dimana?
tapi namanya anak, mereka suka bermain,
tak ada kesedihan yang terlihat
walau mereka terus mencari


/3/

puisi pun demikian.
ia suka mengetik air mata lewat kata
hendak di kirim kepada perempuan
yang dipanggilnya Ibu

(2010)

Friday, August 20, 2010

dan gerimis belum berhenti

waktu itu belum terlalu larut, gerimis yang keluar masuk melalui jendela kamar mulai berdesak-desakan menginginkan tempat yang layak. mungkin di luar mereka tidak tenang, karena terganggu dengan bisingnya kendaraan di jalan raya.

satu-satu kakinya melompat, ke kanan dan ke kiri seperti sedang main lompat karet. ada yang hanya duduk-duduk di kisi jendela, menyentuh pinggiran jendela dengan pantat kurus mereka.

ada yang bergelantung diantara gorden coklat tua, mengelap sesuatu di sana entah apa. memang, aku sempat melihat ada sesuatu yang mengalir dari mata gerimis. atau bisa jadi mereka sedang mengelap kesedihan.

ada yang kakinya menginjak lantai keramik di bawah jendela, menyatu dengan debu di situ. debu yang tadinya sedang tidur dengan tenang, harus terusik dengan kehadiran gelembung-gelembung air itu. mungkin saja mereka memang sehati dan hendak berbagi dingin.

ada yang menetes diantara ventilasi, seperti sedang bermain ayunan, ujung-ujung kaki gerimis terlihat kurus dan rapuh, sesekali sedikit bergoyang-goyang tertiup angin, yang kemudian mulai melelehkan tubuh mereka dengan pasrah.

aku pikir, apa pula yang hendak dilakukan gerimis selarut ini di kamarku, mereka belum juga mengantuk. atau mereka memang sengaja, menerobos masuk melalui jendela kamarku.



gerimis selalu turun beramai-ramai, supaya aku mengerti bahwa sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang benar-benar sendiri.

Thursday, August 19, 2010

gerimis

aku suka mendengar derap langkah gerimis di atas tanah, semen, genteng, dedaunan. mereka itu seperti langkah kaki yang berbaris, menari, bergotong royong mengerjakan sesuatu, terlalu cekatan.

kadang kala mereka berlari cepat, kadang kala mereka melangkah lambat. tapi tidak pernah ada yang diam. gerimis seperti menawarkan langkah maju, lagkah tidak tinggal diam, langkah yang senantiasa ceria ketika kau sedang berduka sekalipun.

gerimis tidak punya pola tertentu. kau tidak bisa menebak kapan mereka akan turun, walau mungkin yang kau lihat di luar adalah mendung. gerimis melangkah dengan pola yang mereka ciptakan sendiri. singgah di tempat yang mereka mau. dan berpijak di tempat yang terkadang kau tidak bisa kira.

aku berteman baik dengan gerimis. aku akan menikah dengan hujan. aku ini pecinta celoteh mereka. salah satu kegemaran gerimis adalah menyentuh pipi. aku pikir itu hanya pola baru saja, supaya tidak bosan menginjak yang keras terus.

kalau gerimis jatuh ke wajahku kemudian menyentuh pipiku, aku suka biarkan mereka lama di sana. tidur-tiduran sebentar, lalu lelap. gerimis pun terkadang butuh istirahat. jadi biarkan saja.

langkah-langkah kaki gemulai mereka dari luar jendela, seperti mengajakku bermain. mereka mulai menyanyikan nada lagu tertentu, dan aku seperti disuruh mencipta liriknya.

lalu, aku menulis begini,

gerimisku, selalu datang beramai-ramai, mengajakku bermain supaya gelisahku hilang. mencumbuku rapat-rapat supaya kuatirku pergi. gerimisku; kau keyakinanku, kau tidak takut luka walaupun jatuh berkali-kali.

ini bukan lirik.

ini keyakinan.

keyakinanku ada di dalam sini. mereka ditemani gerimis sore ini, ini bukan pertanda gelisah. ini seharusnya menjadi pertanda baik. kau tidak pernah sendiri, selalu ada gerimis yang menemani. karena gerimis itu selalu turun beramai-ramai, supaya tidak ada lagi sepi.

gerimisku, kau tidak takut luka walaupun jatuh berkali-kali.

Monday, August 16, 2010

Huruf Luka


aku sedang bermandikan kata. bersabunkan balon-balon huruf, mereka terbang-terbang di atas tubuhku yang telanjang. mereka itu adalah huruf-huruf yang luka, mereka sedang menangisi entah apa.

huruf-huruf luka yang kemudian mulai bernanah. nanah mereka meleleh di sekitar kloset, mengalirkan kesakitan, meneruskan kegelisahan, meneruskan kelabu yang rimbun tumbuh di dalam kerongkongan.

aku terus berendam, hendak merebut satu kata dengan jari-jari mungilku. ada huruf C yang melayang-layang di depanku. mungkin C itu untuk inisial sesuatu, CINTA? CARI? CURIGA? ah, terlalu banyak di muka bumi ini.

atau mungkin kau sendiri punya seseorang yang berinisial C?
C begitu sendu. ia tampak kritis, terbungkus darah yang meleleh kemana-mana. kemudian ada lagi H. H ini tidak semulus biasanya, ada bolong di sana-sini. padahal ia salah satu huruf yang biasanya aku pakai.

aku bahkan tak bisa menggenggam mereka dalam ingatanku, mereka perih, menusuk, dan melukai. aku tidak bisa sembarangan menangkap, aku sebut mereka huruf luka.

tak ada perban yang dapat membalut luka mereka.

Saturday, August 14, 2010

Sembunyi

menulis tanpa lagu itu aku. kata-kata seakan sembunyi, mungkin ia takut bersaing dengan lirik, atau takut bersaing dengan irama. tapi aku terlalu percaya, kalau kata-kata yang sebenarnya sedang memainkan musik mereka sendiri.

kau kebalikannya, kau tidak menulis, kau tidak pakai lagu. kau tidak punya pakem tertentu. kau hanyalah kau, yang bersahaja, dengan senyum yang bersahabat. kata-kata yang keluar dari mulutmu menyanyikan sesuatu.

di hati.

sungguh, mereka tidak kelihatan. aku mengatakannya bukit kesedihan. seperti sedang menyusun tangga menuju entah. seperti sedang mengajarkanku belajar mendaki, ketika aku hampir menyerah.

mungkin, balok-balok sepi yang dulu pernah kita mainkan di sepanjang jalan itu perlu disusun ulang. perlu diberi penanda. perlu diberi patok yang mana bagian kita yang mana bukan.

di sini.

kata-kataku sedang sembunyi. mereka itu seperti takut mati. mereka seperti sedang diburu oleh huruf dan abjad asing, yang hendak mendirikan satu barikade abjad baru. menuliskan tentang apa, entahlah.

di sana.

kata-katamu merajalela. mereka seperti memakan habis setiap kesedihan. melalap habis setiap kegelisahan. kata-katamu seperti rayap, tapi tidak membuat keropos.



kata itu nada, mereka tidak buta.

Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...