Sunday, January 22, 2017

We all have our own thing. That's the magic!



Lahir dan besar dengan memiliki dua kakak perempuan membuat saya mendapatkan banyak kesempatan untuk berinteraksi dan memahami bagaimana caranya tumbuh menjadi perempuan. Saya merasa dua kakak perempuan saya hebat. Mereka punya caranya masing-masing untuk hidup dan melakukannya penuh-penuh sebagai perempuan.

Saya lalu berpikir bahwa menjadi perempuan itu tidak gampang. Belum lagi menghadapi tuntutan-tuntutan di sekitar. Bahwa menjadi perempuan itu harus begini atau begitu. Belum lagi perempuan harus berhadapan dengan memenuhi keinginan-keinginan dari orang lain terhadapnya.

Ketika mengelola www.moluccaproject.com, satu laman dengan visi memberitakan kabar baik dari Maluku, tanah kelahiran saya. Dengan visi tersebut saya berharap menemukan banyak perempuan yang dapat saya wawancarai untuk berbagi inspirasi. Tapi ternyata usaha saya tidak membuahkan hasil yang banyak. Hingga saat ini, saya belum menemukan banyak perempuan visioner yang dapat saya wawancarai. 

Saya punya harapan bahwa kelak, perempuan lebih banyak percaya kepada diri mereka sendiri, percaya bahwa mereka dapat mencipta, perempuan yang percaya bahwa talenta yang ada di dalam diri mereka itu jauh lebih mulia dari pada apapun. Dan perempuan-perempuan seperti itulah yang dapat saya tayangkan profilnya untuk Molucca Project karena mereka adalah kabar baik.

Melalui beberapa bincang ringan dengan beberapa kawan perempuan di Ambon, mereka juga ternyata kesulitan untuk merekomendasikan tipe perempuan yang saya inginkan. Saya lalu sampai kepada kesimpulan sementara di kepala saya sendiri, bahwa perempuan-perempuan masih banyak yang terkungkung. Mereka masih belum berani untuk berekspresi.

Tidak bermasud untuk membandingkan, tetapi lain halnya dengan Bandung, kota dimana saya tumbuh kurang lebih duabelas tahun terakhir ini. Profesi perempuan-perempuan muda di kota ini sudah semakin berubah. Kebanyakan kawan-kawan saya di usia yang masih sangat muda telah berpikir untuk menjalankan usaha mereka sendiri. Ada juga yang memutuskan untuk menjadi penyanyi dan mulai mengerjakan albumnya. Ada yang bertahan dengan menjadi ilustrator dengan bayaran yang lumayan. Ada yang menjadi fotografer. Ada yang buka kelas menulisnya sendiri. Ada yang memiliki restauran. Ada yang memiliki usaha clothing line. Ada yang mengelola toko buku. Dan semua profesi yang saya sebutkan ini adalah profesi-profesi yang punya satu benang merah, yaitu mereka mencipta sesuatu. 

Enterpreneurship adalah istilah yang tepat untuk mengkategorikannya. Tapi saya tidak akan membahas soal enterpreneurship. Saya menitikberatkan kepada semangat mengelola diri secara otentik. Hal itulah yang membawa perempuan-perempuan untuk tidak lagi bergantung kepada orang lain, melainkan lebih percaya kepada diri mereka sendiri.

Kembali ke kota Ambon dan soal ekspresi untuk mencipta. Saya pikir kebanyakan perempuan di kota ini harus banyak agresif dan berani mengekspresikan talenta yang ada di dalam diri kita masing-masing. Bahwa definisi pekerjaan, sudah bukan itu-itu saja. Pun harus digarisbawahi, bukan berarti juga yang bekerja kantoran atau bekerja kepada orang lain itu salah dan kehilangan otentisitas.

Saya kembali kepada ingatan ketika saya masih duduk di bangku sekolah menengah umum. Dua kakak perempuan saya sudah lebih dulu menjadi alumni di sana. Saya sebagai yang bungsu, baru masuk beberapa tahun kemudian. Saya ingat ketika ada guru mata pelajaran tertentu bilang begini kepada saya, "Kok, kamu tidak mirip sih dengan kakak kamu?" mirip yang ia maksudkan di situ adalah dalam konteks "brilian" di kelas seperti kakak saya. Saya hanya tertawa, dan bilang pelan-pelan di dalam hati, jelas saya berbeda dengan kakak saya. Lagipula apa untungnya mirip dengan orang lain. 

Setiap orang berbeda. Anehnya kita masih saja suka dibandingkan. Setiap orang punya ketertarikan yang berbeda. Setiap orang dilahirkan dengan talenta yang berbeda. Dan setiap orang hanya dapat menjadi dirinya sendiri. Karena itulah keahliannya. Yang lebih menyedihkan lagi adalah membandingkan diri kita dengan orang lain.

jill scott via google.

Jill Scott, penulis puisi dan penyanyi gospel, pernah ditanya oleh seorang reporter ketika ia hendak naik ke panggung setelah penampilan dari Erykah Badu. Reporter itu bertanya begini, "Jill, are you nervous to go on stage after Erykah?" pertanyaan itu langsung ditanggapinya, "Ha Ha Ha Ha, have you ever see me before? We all have our own thing. That's the magic. That everybody comes with their own sense of strength and their own queendom. Mine can never compare to hers. And hers can never compare to mine."

Jawaban yang bagi saya memukau. Ada kekuatan perempuan di sana. Pertanyaan selanjutnya adalah jika kita masih terus sibuk untuk membandingkan diri kita dengan orang lain, kapankah kita punya waktu untuk melihat talenta yang ada di dalam kita?

So girls, everyone of us has our own queendom, stop comparing yourself with others!





Saturday, January 14, 2017

Suatu Hari Kamu Punya Jawaban Yang Memukau





Setiap cinta punya fase percakapannya sendiri-sendiri. Jika segala sesuatu dapat dimulai dengan bintang-bintang, hutan yamdena, dan pohon sakura. Maka selanjutnya barangkali lebih serius. Saat ini seringkali di percakapan-percakapan kami menemukan sesuatu yang lebih serius seperti apa yang akan dilakukan hari ini untuk masa depan.

Atau pada kesempatan lainnya seperti apa yang membuatmu jatuh cinta kepada saya, saya ingin tahu alasannya. Suatu hari kamu punya jawaban yang memukau, karena kamu adalah perempuan yang melakukan sesuatu yang kamu cintai dengan sungguh-sungguh.

Tak ada yang lebih menggugah perasaan saya daripada mengetahui bahwa kamu tidak hanya mencintai saya, melainkan juga mencintai apa yang saya kerjakan. Karena itu jauh lebih penting. Saya pikir pernikahan bukanlah soal akhir dari sebuah perjalanan dan lalu saya melupakan apa yang telah saya kerjakan selama ini. Melainkan pernikahan adalah kebersamaan yang beriringan dan akan tetap mengerjakan apa yang terlanjur saya cintai. Termasuk mencintaimu. Baik sebagai sahabat maupun kekasih seumur hidup. 

Lalu fase percakapan-percakapan ini mulai terdengar dewasa. Barangkali iya, barangkali juga tidak. Tentu kami juga tidak akan melupakan kebebasan-kebebasan kecil yang seringkali kami sendiri yang mengerti. Tak ada yang lebih mengerti hal itu ketimbang diri kami sendiri. Tak ada yang lain, walaupun orang lain mencoba. Mereka hanya akan terlihat sok tahu.

salatiga, 14 Januari, 18.03


Sunday, January 8, 2017

Di Dalam Dunia Ini Ada Hal-Hal Yang Bukan Dongeng






Terkadang kita arogan seperti anjing. Menggonggong dengan suara nyaring tanpa berani menggigit. Sepanjang malam melolong di jalan-jalan sunyi, berharap orang yang mendengarnya percaya bahwa hantu sedang lewat. Hantu-hantu yang tembus pandang, tak punya kaki, mempunyai bolong di bagian punggung dan menggantung di pepohonan gelap dengan mata berdarah.

Saya pikir cerita hantu itu memang omong kosong. Hisapan jempol semata. Cerita yang lazimnya sengaja didongengkan kepada anak-anak di waktu malam supaya mereka lekas tidur. Kenyataannya anak-anak itu tak pernah tidur. Mereka malah terbuai di dalam cerita hantu itu lalu akhirnya bertemu *suanggi di dalam mimpi mereka.

Dongeng. Kita memang senang dengan dongeng. Sesuatu yang belum pasti kebenarannya. Cerita-cerita turun temurun yang memang sedap jika ditambah dengan bumbu. Berapa banyak dongeng yang seumur hidup sudah kita dengar lalu mempengaruhi kehidupan dan membuat kita untuk percaya. Dongeng tentang nenek sihir dan gadis kecil berjubah merah misalnya adalah sebuah dongeng menyeramkan tentang anak-anak.

Tetapi di dalam dunia ini ada hal-hal yang bukan dongeng. Mereka nyata. Mereka adalah kejahatan-kejahatan yang bersemayam di dalam diri manusia. Kejahatan-kejahatan itu berdiam dengan arogan dan manisnya. Akan menunjukkan rupa di saat yang tepat. Kejahatan-kejahatan itu akan menggonggong ketika jalan-jalan sunyi. Kejahatan-kejahatan itu tak hanya menggonggong, mereka bahkan menggigit dan dapat menimbulkan bolong pada punggung sesama. Kejahatan-kejahatan itu tak kelihatan, mereka tembus pandang, mereka lebih nista dan mereka semakin buruk karena mereka begitu nyata.

*suanggi adalah kekuatan ilmu-ilmu gaib yang biasanya kita dengar di cerita hantu turun temurun di daerah Maluku. 




gunung mimpi. 7 Jan 2017, sebelum pukul lima.


Friday, December 16, 2016

Tempat Paling Liar Di Muka Bumi : Qubeland 2016






Sorasoca adalah sebuah gerakan literasi di kota Bandung yang menjadi salah satu 'qube' di Qubicle (@qubicle_id). Kabar-kabar menyenangkan dan menggugah dapat dibaca pada lamannya. Kami beruntung sekali diberi ruang dan kesempatan untuk memperkenalkan hal-hal yang kami cintai dan sedang kami kerjakan: live poem dan musikalisasi puisi di #Qubeland2016.

Panggung Qubeland 2016 adalah perayaan kreativitas sekaligus ruang berinteraksi, berbagi, dan belajar yang diinisiasi oleh Qubicle dan qube-qube kerennya. Kreativitas yang sangat beragam dihadirkan dalam satu ruang-waktu. Qubeland 2016 adalah panggung pertama kami di Jakarta. Di sana empat puisi dari buku 'Tempat Paling Liar di Muka Bumi' kami nyanyikan. 'Mencintaimu dari Jauh' dan 'Jangan Berani' adalah dua judul yang dimusikalisasi oleh Fis Project (duo Ferdy Karel Soukotta dan Chrisema R Latuheru).



Musikalisasi puisi adalah kesenangan. Godaan untuk melakukannya jarang bisa ditolak. Bagi kami, puisi adalah pikiran-pikiran yang menemukan bunyi dan perasaan-perasaan yang menemukan nada. Kata-kata adalah bunyi. Perasaan menentukan tinggi-rendahnya. Puisi sejatinya adalah bunyi-bunyi yang bernada. Puisi-puisi yang kami nyanyikan adalah puisi kami berdua. Menyanyikan puisi-puisi sendiri itu suatu pengalaman yang menggairahkan. Puisi-puisi itu seperti lahir kembali dalam bentuk dan kekuatan yang baru. Sejauh ini, ukulele adalah instrumen yang kami rasa cocok.

Selain musikalisasi puisi, di sana kami juga melakukan #livepoem. #livepoem adalah pengetikan puisi secara langsung dari nama pengunjung. Puisi itu menjadi satu hadiah kecil bagi setiap orang yang datang ke pojok Sorasoca dan ingin namanya dipuisikan.



120 puisi sejauh ini adalah jumlah paling banyak dari beberapa perjalanan #livepoem yang pernah dilakukan sebelumnya. 120 puisi barangkali adalah rekor baru bagi Olivetti Lettera 82, buatan Yugoslavia, milik ayahanda bung Zaky Yamani. Terima kasih banyak, bung! Dan kopi yang selalu dihadirkan oleh Mbak Rere adalah jeda yang tak terkatakan nikmatnya.

#livepoem adalah usaha-usaha menahan diri dari gairah untuk 'menyunting pikiran' sendiri. Bagi kami, mengetik puisi langsung dari nama-nama yang indah itu melatih pikiran untuk mengalir saja; berlatih untuk tak menjadi tiran atas pikiran sendiri; suatu latihan yang tak selalu mulus.

Kawan-kawan yang namanya dipuisikan bilang bahwa mereka senang. Ini pelajaran kecil bagi kami dan bagi semua bahwa puisi adalah 'perbuatan' baik, sekali pun tersusun dari hanya kata-kata. Ini suatu kesadaran pentingnya kata (bahasa) bagi relasi-relasi manusia. Bahwa kata-kata bukan hanya senjata, tetapi juga obat dan jembatan untuk dua atau banyak hati dan kepala.



Mengetik puisi secara langsung (#livepoem) adalah sebuah peristiwa, bukan sekedar cara lain menulis puisi. Karena itu, ia adalah pengalaman yang tak dapat diulang. Terima kasih untuk semua kawan yang datang ke #Qubeland2016 dan singgah di pojok @sorasoca dan semua yang memungkinan pengalaman indah itu. Elan, Fierzha, Bona, dan Huyogo, terima kasih telah mendokumentasikan pengalaman-pengalaman bersama. Semoga abadi.

Sekali lagi, kami ingin mengucapkan terima kasih untuk lapak #livepoem yang telah disediakan oleh @qubicle_id dan @sorasoca. Untuk setiap pengunjung yang datang kemarin pun kami mau bilang terima kasih karena sudah percaya kepada satu kebaikan kecil. Dan tunggu kisah perjalanan #livepoem selanjutnya dari kami.


Salam hangat kami,


Theoresia Rumthe & Weslly Johannes



*foto oleh Elan Budikusumah dan Fierza Fajri dari @sorasoca





Tuesday, November 1, 2016

Karena Yang Kelihatan Populer Itu Belum Tentu Asyik







Sesuatu muncul di dalam kepala saya. Tentang popularitas. Beberapa hari sebelumnya saya membaca blog salah satu teman baik saya berjudul “Maukah Kamu Tetap Berteman Saat Aku Tidak (Lagi) Populer. Jauh sebelum saya membaca blognya, kita sudah pernah bertemu di momen Lebaran beberapa bulan yang lalu. Dan kita sempat berdiskusi tentang hal yang sama. Diskusi itu membuat kami sempat tercenung-cenung memikirkan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Silakan baca tulisannya lebih lanjut di sini.

Tapi saya setuju. Percaya atau tidak, seperti virus, jika kamu populer, maka banyak sekali yang akan berteman denganmu atau ngaku-ngaku sebagai teman kamu. Setiap orang pun mau menjadi populer dengan instan.

Ada periode tertentu di dalam hidup saya, ketika saya banyak sekali menerima surat elektronik dan isinya kurang lebih sama:

“Hai Kak, saya senang sekali dengan tulisan Kakak. Kapan-kapan kalau saya ke Bandung, kita ketemuan yuk. Ngopi-ngopi.”

Saya hampir membalas mereka dengan “Duh, maaf ya. Tapi saya tidak pergi ngopi dengan orang asing.” Tapi saya tidak sampai hati untuk membalas begitu. Karena saya pun terjebak dengan pencitraan klasik. Bahwa jika dikagumi atau disukai oleh orang lain, maka saya harus menjawab mereka dengan baik-baik supaya kesan baik dari diri saya tetap terjaga.

Hal lainnya yang membuat saya terkesima adalah popularitas lalu membawa orang lain “ngaku-ngaku” kenal denganmu. Banyak sekali contoh seperti teman SMP atau SMA yang tiba-tiba menghubungi lagi, padahal ketika masih sekolah dulu hampir tidak pernah mengobrol. Yang lebih mengerikan lagi karena “ngaku-ngaku” kenal hanya dikarenakan berteman media sosial saja. Bahkan belum pernah berjumpa apalagi berbicara secara langsung.

Fenomena popularitas ini semakin miris dengan menjamurnya media sosial yang dapat digunakan untuk eksis. Dimulai dari steller, snapchat, vlog, instagram stories, yang semuanya dapat dipakai untuk menceritakan kisah hari-hari kita secara langsung.

Oke, tidak ada yang salah dengan itu juga. Tetapi kenyataan lainnya adalah bagaimana pemuda-pemudi zaman sekarang membangun dirinya dengan mengejar popularitas secara instan tetapi menjadikannya terasing tanpa ada ikatan yang layak dengan orang-orang di sekitarnya. Bahkan rela menghalalkan segala cara untuk mencapainya.

Karena yang kelihatan, yang populer itu kayaknya lebih asyik. Maka sudah pasti yang populer jauh lebih menggiurkan untuk diajak berteman. Sedangkan yang tidak populer tidak asyik. Padahal belum tentu juga.

Lain halnya dengan jalan mencapai popularitas sendiri. Ada banyak hal besar maupun kecil suka dan duka, yang perlu dilewati untuk sampai di sana. Dan semuanya tergantung dari usaha masing-masing. Banyak usaha, doa, dan kerja keras di balik popularitas. Tetapi kebanyakan orang pemalas maunya ongkang-ongkang kaki lalu bangun keesokan paginya dan populer.

Lagipula popularitas bukan yang paling segalanya dalam hidup kok. Ia pun bukan satu-satunya tujuan hidup. Manusia tidak lantas mati jika tidak populer. Jadi bertemanlah dengan siapa saja, jangan pilih-pilih. Sebab roda kehidupan terus berputar.
  


Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...