Tuesday, February 9, 2016

Hari ke-6 : Surat Cinta kepada Dilale









Dilale tersayang,

Tidak ada jalan jalan yang mudah. Termasuk hal-hal yang telah disepakati, dan risiko yang mengikuti. Kau akan menemukannya. Tertidur lelap di dalam lorong-lorong gelap.

Hal pertama yang harus kau lakukan jika sudah begini adalah sabar. Hal ke dua adalah sabar. Dan hal ketiga adalah tetap sabar. Ujungnya belum kelihatan. Pintu itu seperti tertutup. Tapi sabar memang bukan pintu dan bukan ujung.

Selalu sayang kamu,

Ibu.


Saturday, February 6, 2016

Hari ke-5 : Surat Cinta kepada Dilale








Yang tersayang Dilale,

Kemudian tentang cinta. Cinta yang bulat-bulat, purnama, itu rasa-rasanya tidak selalu ada. Kadang ia berubah menjadi sabit. Bulan separuh. Ketika melihat ke langit, kau akan menemukannya.

Langit hitam dengan bulan sabit separuh. Tidurmu tidak selalu nyenyak. Ketika merasa seperti ini, jangan lupa untuk buka jendela lebar-lebar dan rasakan angin kena muka.

Lihat ke langit yang hitam kelam. Kau akan menemukan bulan sabit itu: ia sementara senyum kepadamu.

Tutup jendela lagi dan selamat tidur nyenyak.

Ibu.





Hari ke-4 : Surat Cinta kepada Dilale








Dilale sayang,


Indah itu tak selalu ada. Ada perasaan perasaan yang memang sifatnya hanya sementara. Untuk itu ketika mengerjakan segala sesuatu tidak seharusnya berlebihan.

Aku menamakannya rasa cukup. Di dalam kata cukup, tidak ada yang terlalu. Pada waktu aku belajar tentang rasa cukup ini rasanya seperti sedang menjalankan doa Bapa Kami.

Bapa Kami yang di Sorga, berilah  kepada kami makanan kami yang secukupnya.

Aku ingat Tuhan.

Aku ingat bahwa Ia memang tidak pernah berhenti pegang tanganku. Dalam masa-masa yang tidak bahagia. Tidak indah sekalipun. Dalam masa masa ketika sendiri. Dan sunyi.

Ia di sana pegang tanganku.

Di dalam ruang-ruang gelap, tidak ada satu manusia pun yang mengerti. Ia ada. Ia ada dan memberikan rasa berlebihan. Ia menyayangiku terlalu berlebihan.

Ketika aku sedang belajar tentang kata cukup, Dilale, Tuhan tidak kenal kata cukup untuk menyayangiku.

Aku sayang kamu, D.



Ibu. 

Monday, February 1, 2016

Hari ke-3 : Surat Cinta kepada Dilale






Dilale sayang,

Ajaib. Satu kata yang dapat aku temukan dalam perjalanan ini. Ketika kanak kanak, cinta hanya sebatas berbagi bekal makanan. Menjadi remaja, cinta menjelma menjadi ciuman ciuman. Kemudian dewasa, cinta menjelma menjadi kehilangan dan menemukan.

Suatu waktu, aku pernah menulis seperti ini: ketika menemukan seseorang yang tepat, kau akan lupa pernah kehilangan panjang.

Tiap aku mengingat kata menemukan, selalu ada perasaan ajaib!

Begitulah, cinta, ia menemukan. Suatu hari dalam perjalanan yang cukup panjang ke sebuah pulau, ketika itu aku sedang bahagia, aku sedang mengerjakan masa depan, aku mengalir, rasanya tidak ada yang dapat menahanku. Ia, di sana. Berdiri dengan senyuman dan sepatu berwarna coklat.

Ia santun. Dengan gaya bicara alami, pelan, tidak dibuat buat. Ia penuh cerita. Ia sederhana: tapi ia tidak berani menatapku lama lama. Lucu, karena ketika itu di dalam sini, tidak ada debar sama sekali.

Yang terjadi malah, kami, bercerita seperti sepasang teman lama. Ia mengajakku pergi melihat hutan yamdena dan gugur bunga sakura. Kami sempat mampir menyaksikan matahari terbenam.

Malamnya, di hari yang sama, kami duduk di meja makan bersama tulang tulang ikan yang telah habis dagingnya. Aroma colo colo masih menyeruak. Aku menatap matanya, dan aku menemukan sesuatu: ia tidak mau aku pergi.

Begitulah cinta, ia menemukan. Menemukan aku dan jauh jauh membawaku kepadanya, Ayahmu.

Ketika cinta hinggap, Ayahmu  menulis: melawan cinta adalah perbuatan yang sia-sia.

Oh, Dilale sayang, kami tidak melawan. Kami bahkan roboh dibuatnya. Gusar, gelisah, berbunga bunga, rindu, dan rindu dibuatnya.

Dengar, Dilale sayang, tidak ada nasihat yang paling indah tentang cinta: selain dengarkan Ayahmu: melawan cinta adalah perbuatan yang sia-sia.

Kami menyayangimu,

Ibu.



Hari ke-2 : Surat Cinta kepada Dilale













Dilale sayang,

Ketika menulis ini, Ayahmu sudah mengakhiri sesuatu. Setelah melewati banyak sekali ruang ruang gelap bersama. Akhirnya ia berhasil melompatinya.  Ayahmu adalah orang yang hebat. Namun perjuangannya belum berakhir. Kami masih harus melewati banyak sekali kemuraman. 

Tetapi taukah kamu Dilale, ada keindahan keindahan bahkan ada di dalam kemuraman sekalipun.

Pada waktunya, kau akan mengerti. Bahwa di dalam hidup, ada kalanya, kau akan dipenuhi dengan banyak sekali kemuraman kemuraman, kekhawatiran kekhawatiran, kau perlu masuk ke dalam dan mengenali rasa rasa itu, tinggal di sana, tapi ingat jangan bermalam. Melainkan berjalanlah terus: temui kegelapan kegelapan itu dan kenalilah mereka.


Karena setiap kali kita membutuhkan kegelapan, supaya bintang bintang tampak.

Dilale sayang, Ayahmu dan aku, kami sama sama punya ruang gelap. Sama seperti jiwamu juga. Tetapi di sanalah kau akan menemukan banyak sekali bintang bintang. Mereka mampu menerangi lorong lorong muram dan pekat sekalipun. Tidak perlu takut. Berkenalanlah dengan rasa itu, jadilah berani!



Ibu.  

Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...