Wednesday, November 10, 2010

I Love My Job. I Always Do




Ini beberapa list, kesuksesan seorang penyiar versi saya:

1. JELAS bukan materi. Sama sekali tak ada hubungannya dengan uang.

2. Lo punya fans FREAK. Sudah setahun ini menjadi stalker. Kirim sms, komentarin blog, bikin YM khusus buat lo, kirimin lo puisi.

3. Ketika ada pendengar iseng ngajakin e*e (ini brengsek, tapi bukankah itu bukti kalau lo bikin mereka sakaw).

4. Ketika lo selalu di tunggu-tunggu. Oleh pendengar baik-baik, sampai pendengar freak sekalipun.

5. BUKAN karena gajinya. Tapi bukankah menghibur orang lain itu UPAH-nya lebih besar.

6. BUKAN karena terkenal (nya) tapi karena pekerjaan (yang tampak sepele) ini lo dicintai.

7. Ketika ada yang bilang "Terima kasih ya, sudah nemenin" atau "Gue suka deh playlist lo hari ini."

8. Lo dianterin coklat ketika lo siaran.

9. Ketika lo ulang tahun, dapat sms di on air. Dan se-kota ngerayain ulang tahun lo.

10. Ketika lo pulang ke kos dan lo menemukan ada balon bentuk hati diikat di depan kamar kos lo.

11. Ketika ada pendengar sengaja masakin opor ayam buat lo. Nasinya dibungkus pake daun pisang bentuk hati.

Satu hal yang gue sadari kenapa orang-orang masih bertahan di radio: karena mereka CINTA sama pekerjaan mereka. Gue cinta pekerjaan gue. Gue cinta kehidupan gue dan itu bikin orang lain iri. Sampai mereka mau meng-copy kehidupan gue. Sampai mereka berlomba-lomba kepingin seperti gue. Poor them. Pesan gue: jangan pernah membandingkan diri lo dengan orang lain.

***

Ya, tulisan ini juga diambil dari akun twitter saya. Tulisan ini dibuat bukan karena saya sudah sukses menjadi penyiar, tapi karena saya jatuh cinta dengan pekerjaan saya. Kalau dibaca, mungkin kesan yang kau dapatkan adalah saya sedikit agresif dan liar. Betul, itu saya. Jangan pernah kenal saya secara pribadi, karena kau akan iri melihat betapa saya mencintai kehidupan saya.

Kalau kau mengaku jatuh cinta (juga) dengan pekerjaan atau hidupmu. Seharusnya kau juga bisa menulis hal yang sama, bahkan lebih dari apa yang saya tulis. 

Renungan Hati




Belum mengampuni sama seperti jatuh cinta. Dimana-mana ada dia dia dan dia lagi. Termasuk pas buka mata hari ini.

Kalau hati tak cukup melar untuk mencinta. Mending simpan lagi ke dalam kardus. Terus fungsi hati apa?

Ya, tak ada fungsi apa-apa. Biarkan saja hati di dalam kardus. Belajar melihat dan merasa dalam kegelapan.

Sesekali, hati perlu tinggal dalam kegelapan. Supaya ia tahu kondisi terang itu seperti apa. Dan dia akan memilih.

Memilih untuk terus di dalam gelap. Atau mencari terang.

Tapi kalau hatimu sedang betah di kardus, suka sama gelap. Ya, biarin saja. Hati itu cerdas, ia belajar.

Hati yang cerdas itu tak takut sama gelap. Hati yang cerdas itu tak takut bergaul dengan dingin.

Hati yang cerdas mencium luka dan mengampuni.

Hati yang cerdas meminum lukanya berlimpah-limpah. Menyicip darahnya sendiri. Membalutnya teratur.

Hati yang cerdas tidak perlu buru-buru menjadi sembuh. Karena ia menghargai proses.

***

Tulisan ini dari akun twitter saya beberapa jam yang lalu. Tulisan ini hadir dari pikiran dungu saya. Pesan saya: cintailah pikiran dungu. Bukan pria dungu.

Tuesday, November 9, 2010

Sepatu Converse

Di luar gerimis tipis-tipis. Aku di balik netbook menulis. Aku tak tahu harus menulis apa. Tanganku menari saja. Kupingku mendengarkan bunyi tuts netbook yang menurutku itu sexy. Sambil sayup-sayup ada Kings Of Convenience bernyanyi menemaniku.

Lalu aku ini mulai mengetik sebuah nama. Nama yang dulu pernah ada bertahun-tahun di hati. Nama yang tidak perlu aku sebutkan siapa. Nama itu begitu istimewa. Tidak tergantikan oleh siapapun.

Terserah, setelah kau baca tulisan ini. Kau akan bilang aku berlebihan atau apa. Aku tidak peduli. Aku ini adalah gadis berponi yang rajin menyimpan hatiku di dalam kardus. Tiap pagi aku rajin mengunjunginya. Aku rajin membersihkan hatiku dari debu. Sesekali mengangin-anginkannya. Dan menjemurnya kalau hatiku sudah mulai lapuk.

Kau tahu di hatiku ada sebuah nama. Ia pria bersepatu converse yang membuat aku jatuh cinta. Aku mengenalnya di hujan pertama di bulan Agustus. Waktu itu aku adalah gadis berponi yang begitu polos dan lugu.

Dan kau adalah pria bersepatu converse yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Kita bercerita di bawah hujan layu. Bunga-bunga hujan berjatuhan di atas kepala kita. Mendengarkan ceritamu selalu membuat aku betah. Aku suka.

Kalender berganti. Tahun-tahun itu sudah rontok.

Lalu hari ini, aku kembali mengunjungi hatiku. Ya, aku masih menyimpannya di dalam kardus. Hatiku begitu dingin dan lapuk. Ada namamu sudah mulai mengelupas di tengah-tengahnya. 




Itu namamu. Hei kau, pria brengsek bersepatu converse. Apa kabar?

Monday, November 8, 2010

Pelacur yang Buta Aksara

 


Aku ini buta aksara. Tolong jangan ajarkan aku membaca. Aku ingin terus buta. Karena di dalam cinta tidak ada artinya melihat. Mereka hanya merasa. Tak perlu kau tahu ini kalimat apa. Tak perlu kau kenal arti cinta itu apa.

Aku ini tersesat. Aku ingin pulang ke dalam pelukan. Tidur di antara bunyi jantungmu. Ngiler di perutmu yang keroncongan. Aku ingin meraba setrum yang pernah ada antara kita. Perasaan melayang yang selalu ada ketika kita bercinta.

Sayang, kau itu pelupa.

Aku tidak pernah bilang bahwa aku akan setia. Aku ini milik semua. Benar, aku akan setia kepada hatiku untukmu. Tapi tidak dengan tubuhku. Tubuhku milik pria-pria yang kehausan di luar sana. Pria-pria yang selalu menginginkan payudaraku yang menyembul.

Tapi untuk urusan hati, kaulah pangerannya. Kaulah pemenangnya.

Aku tidak pernah minta apa-apa. Aku hanya ingin kau memilih jalan yang tepat. Biarkan aku begini, biarkan aku memilih jalan ini. Biarkan tubuhku yang menjadi rebutan. Tapi aku berani janji, hatiku tidak.

Ini caraku bertahan melawan kerasnya hidup. Ini caraku berdiri menjadi seorang perempuan. Ini caraku mempertahankan harga diriku sebagai seorang pelacur. Bahwa sebagai pelacur aku juga layak untuk dicintai.

Terlalu banyak pria yang menginginkanku untuk kepuasan buah pelirnya. Dan hanya kau yang mendapatkan hatiku.

Harusnya kau bangga. Bukankah itu cinta?

Thursday, November 4, 2010

Tidak Kali Ini




Aku suka hujan. Tapi tidak kali ini. Aku benci hujan. Aku menyumpahnya dalam-dalam. Kenapa ia harus turun ketika kau tidak di sini. Kau tidak duduk lagi di bawah gorden tua itu. Padahal biasanya kau ada di sana dengan sweter motif kotak-kotakmu.

Kita akan mulai menatap hujan. Kaki-kaki mungilnya menyentuh jendela. Mata beningnya dengan bulu mata panjang. Lalu dress-mini-nya yang berwarna-warni. Ya, kita berdua suka tertawa-tertawa sendiri kalau sudah begitu.

tak ada lagi cinta sayang.
mereka telah habis ditiduri rayap dan penat
lalu senyummu mulai patah di dedaunan.
lunglai di rerantingan

Biasanya setelah itu kita duduk-duduk sampai pagi. Aku membuatkanmu secangkir teh tubruk panas. Kau selalu punya banyak cerita. Aku punya telinga. Kau selalu punya keluh. Aku punya peluk. Kau punya cinta, mungkin tidak banyak. Tapi aku punya hati sangat besar untukmu.

Haha. Ini bukan tulisan gombal. Aku serius. Sini, lekatkan kupingmu di antara denyutan nadiku. Kau bisa mendengarkan mereka dengan sempurna. Bahkan denyut nadiku menyebutkan namamu.

“Kau itu perempuan gombal.”

“Tapi kau suka, aku gombali.” Balasku dengan senyum dikulum.

“Janji, hanya aku yang kau gombali?”

“Hmm. Tergantung sih.” Aku masih menggodanya.

“Kelak, kau akan besar. Kelak aku mungkin tidak bisa duduk berdua lagi denganmu seperti ini.”

“Begitu. Kita masih bisa bertemu. Hubungi aku, aku akan meninggalkan semuanya demi dirimu.”

“Tuh, kan digombali lagi.”

***

terbawa angin sendu
aku tak ingin menangis (lagi)
biarkan air mataku sembunyi
mendungnya tergenangi 


Aku suka hujan. Tapi tidak kali ini. 


Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...