Saturday, October 23, 2010

Balada Suatu Nanti




Kelak kau mungkin akan menyesal, tidak memberikan kesempatan sedikit pun kepada saya untuk mengenal. Mengenal bentuk cinta, apakah ia segitiga, lingkaran, trapesium, atau tidak berbentuk sama sekali.

Nanti kau akan mengerti, hati saya bukan seperti bunga di dalam vas bunga. Hati saya tidak selalu menyesuaikan dengan wadah. Hati saya terkadang memberikan nafasnya lebih besar dari wadah. Hati saya tidak kaku.

Hati saya tidak hanya pandai menyesuaikan diri dengan apa yang ada di sekitarnya, ia cepat lengket. Menyatu. Ia seperti lem, sekali menempeli tidak mudah lepas. Kecuali kalau kau mencabutnya dengan paksa. Maka kau akan melihat bekas lama. Bekas itu jelek.

Tapi sudahlah, bekas dari sesuatu itu tidak selamanya jelek. Terkadang bekas itu bisa jadi menjadi penggalan yang akan membawamu kepada sejarah. Sejarah bahwa kau pernah tersesat karena cinta.

Tersesat yang berjarak. Akhirnya dari jarak itu kau akan menemukan sendiri bentuk cintamu. Kau akan menemukan jalan pulang. Tidak perlu buru-buru sehat. Tidak perlu buru-buru berlagak seperti tidak terjadi apa-apa.

Bentuk cinta di dalam hati itu bisa berubah. Kadang ia hadir dengan bentuk sofa yang empuk. Kadang ia juga hadir dengan kursi tua yang ringkih. Apapun, ia adalah bentukmu. Ia adalah nadimu.

Apapun bekasnya, ia tidak jahat. Ia mengajarkanmu untuk semakin... hum, semakin dewasa? tidak juga. Bukankah saya selalu kepingin seperti anak kecil dengan hati yang elastis. Mencintai tanpa pamrih. Menampung dengan banyak.

Mungkin kelak di balada suatu nanti. Akhirnya kau baru menyadarinya. Dan itu sudah sungguh terlambat.

Mungkin waktu itu saya buta.

Tapi apa kau lupa. Kalau cinta itu buta, dalam kegelapan pun saya tidak akan tersesat menjelajahi tubuhmu.

Saya tidak pernah.

Wednesday, October 20, 2010

Gadis Berpayung Merah




Aku ini adalah gadis berpayung merah, yang berdiri di samping jalan raya. Gadis yang sama dengan baju yang tidak pernah diganti. Gadis yang sama dengan kuncir di rambutnya yang sudah mulai lusuh. Gadis yang sama dengan maskaranya yang telah luntur.

Aku ini adalah gadis berpayung merah, yang berdiri di samping jalan raya. Gadis yang sama, yang pernah kau ajak bercinta di balik jendela. Gadis yang sama yang pernah memilin rambutmu yang gondrong sebelum kau jatuh tertidur. Gadis yang sama yang selalu berbagi rokok dan cangkir kopi bersamamu.

Aku ini adalah gadis berpayung merah, ingatkah kau bertahun-tahun yang lalu kita pernah berbagi duka di dalam selimut. Aku pernah menyeka air matamu yang turun pelan. Aku pernah berbisik lembut, sehingga bisikanku membalut hatimu yang sedang luka... “aku cinta”.

Aku ini adalah gadis berpayung merah, yang pernah ada di mimpi-mimpimu. Yang selalu ada di masa depanmu. “Bagaimana kalau anak kita empat, dua laki-laki dan dua perempuan” waktu itu kau mengatakannya. “Ah tidak usah banyak-banyak, nanti repot mengurusinya” balasku. Lalu kau mencium bibirku lama.

Aku ini adalah gadis berpayung merah, yang selalu suka ketika hujan merekah, bunga-bunganya biasanya suka kita kumpulkan bersama. Kau bilang untuk menghiasi malam, kalau tak ada bintang. Dan betul saja, kita pernah menghadapi malam-malam tanpa bintang bersama. Berdua saja. Maka bunga hujan itu kita sebarkan di langit.

Begitulah kisahku.

Aku ini adalah gadis berpayung merah, berdiri di sepanjang jalan raya. Sepanjang pagi hingga pagi lagi. Sudah lama aku berdiri di sana. Menunggu. Tidak ada seorangpun yang melihatku.

Sunday, October 17, 2010

Jangan Jatuh Cinta

Jangan jatuh cinta dengan saya, karena kau akan menyesal. Saya tidak akan menjadi seperti yang kau mau. Saya adalah saya, yang selalu mencintai hal-hal sederhana. Seperti menghirup wangi kopi hitam di cangkir yang saya pakai setiap pagi.

Seperti menyukai wangi tanah sesudah hujan. Seperti menyukai wangi bunga rumput. Seperti menyukai sesuatu yang tidak teratur. Seperti menyukai warna oranye. Seperti menyukai kaos dengan bagian leher yang dipotong. Seperti menyukai hujan, menatap dan bercakap dengan mereka lama-lama.

... dan lainnya. Akan terlalu banyak. Kau akan sebut saya gila, kalau menyebutkannya satu-satu. Kau tidak akan pernah mengerti mengerti kalau saya menjelaskannya sampai berbusa-busa.

Jangan jatuh cinta dengan saya, karena kau juga mau seperti saya. Karena saya terlalu keren untukmu, sampai kepingin kau tiru. Maaf, saya tidak ada tiruannya. Saya hanya satu. Dan mengenai hal-hal yang saya sebutkan dan belum saya sebutkan itu, mereka hanya datang begitu saja. Karena saya yang mengundang mereka masuk ke dalam hati saya.

Berapa kali saya harus bilang, jangan membanting pintu kamar, kau harus menutup mereka dengan sopan, alias pelan-pelan. Seperti saya bilang, kau harus menutup pintu pagar tua itu dengan baik. Dan perlakukanlah Graciella (netbook saya) dengan manis, karena ia akan kembali manis kepadamu.

Seperti jendela kamar besar yang menanti saya menyapa mereka, dan lantai mengkilap setiap kali sehabis dipel, mereka bisa bercakap, mereka bisa mengerti. Ketika kau menyentuh mereka, sentuhlah dengan hati. Sentuhlah dengan cinta.

Betul kan? sudah saya bilang, jangan jatuh cinta dengan saya hei kau yang glamour itu, karena kita tidak akan pernah cocok.

Kecuali kalau kau juga mencintai hal-hal sederhana, kau pasti akan membuat saya jatuh cinta balik kepadamu.



pic by Edi Omen

I always enjoy the little things in life.


Diary Pink

"kenapa papa mengkhususkanku? apa yang kualami saat ini aku sebut dengan proses pengudusan, pada akhirnya aku baru mengerti bahwa saatnya telah tiba yaitu saat dimana papa mau aku mengenal kehendaknya dengan sempurna. setelah membaca buku Relationship-nya Les dan Leslie Parrot, papa terus berbicara bahwa “aku mengkhususkan kamu”, kenapa harus mengkhususkan? hal ini berarti, papa peduli dengan hatiku, apa yang aku alami, papa lebih kenal siapa diriku daripada aku mengenal diriku sendiri. papa tahu aku tidak akan mampu melewatinya sendiri tanpa dia, papa mau kehidupanku seutuhnya menjadi miliknya, karena ia sangat menginginkanku dengan cemburu. oleh karena itu ia mengkhususkanku. selama ini ia menjagaku dengan peraturannya, supaya apa? bukan untuk mengekang. tetapi ia tidak mau aku cacat, melainkan menjadi murni. apalagi sewaktu aku berjalan diatas sana. kenapa ia mengkhususkanku, supaya aku tidak salah pilih sebab ia mempersiapkan yang tepat itu. karena aku hanya milik seorang yang benar layak untuk mendapatkannya."

Ini dari file lama, tertanggal 28 January 2005. Saya edit sedikit sekali beberapa bagiannya. Menemukan file lama adalah hal yang terkadang membuatmu bergidik sendiri, kau pernah merekam hal-hal yang begitu intim dengan seseorang.

Hal-hal intim yang pernah kau tulis di diary berwarna pinkmu, hal-hal yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Terkadang ketika kau membacanya kembali, kau seperti dibawa kembali untuk mengenali “perasaanmu” pada saat menulis itu.

Namun apapun yang kau rasakan, saya selalu menyukai sensasi membuka kembali diary lama dan mencium bau kertas tua.





.... saya suka membolak-balik beberapa halamannya dan menghirup baunya dalam-dalam. 

Saturday, October 16, 2010

Day #30: My birthday

Ya, ini ulang tahun saya. Sekaligus juga mengakhiri misi menulis selama 30 hari ini. Dalam rangka memberikan hadiah kepada diri sendiri. Saya terlalu percaya bahwa di dalam hidup, terkadang kita terlalu banyak menuntut orang lain memberikan hadiah kepada kita.

Bagaimana kalau sebaliknya, kau yang menjadi hadiah untuk dirimu sendiri, atau kau yang menjadi hadiah untuk orang lain.

Ketika saya menulis ini, tidak ada cemilan keju lagi yang tersisa, tidak ada stock kopi lagi di dapur. Hape pun mati. Tidak ada yang sempurna. Jauh-jauh hari sebelum saya berulang tahun, saya meminta untuk dikirimkan hujan saja. Jangan lupa dibungkus dengan pita warna-warni. Mereka pikir saya bercanda. Tidak, saya terlalu menginginkan hujan untuk turun di hari ulang tahun saya.

Itu adalah hadiah.

Berulang tahun dengan uang di dompet pas-pasan. Atau jauh dari keluarga bukanlah masalah besar. Belajarlah untuk mengalami kesendirian, karena biasanya disitu akan muncul karaktermu yang sebenarnya. Tidak ada permohonan yang spesial ketika saya berulang tahun.

Karena saya sudah cukup. Saya terlalu berharga.

Paling tidak untuk diri saya sendiri. Mungkin saat ini tidak ada pencapaian yang bisa kau ceritakan kepada orang lain. Kau masih bergumul untuk mencapai cita-citamu dalam diam. Kau masih belum masuk di hitungan siapa-siapa.

Tidak perlu juga. Kau tidak perlu menjadi sesuatu hanya untuk menyenangkan orang lain. Itu adalah penyimpangan. Lakukan apapun yang kau mau. Lakukan apapun yang kau suka. Lakukan itu dengan tertawa lebar.

Hari ini saya memasuki angka dua puluh tujuh. Angka istimewa. Bukan hanya hari ini, tetapi tiap hari selalu istimewa bagi saya. Semuanya bergantung kau mau merayakannya atau tidak, bukan?

Tadi malam sebelum tidur, saya hanya bercakap-cakap dengan diri saya sendiri? apa itu bertumbuh? apa yang kau ingin tambahkan ketika kau bertumbuh? kau ingin bertumbuh menjadi apa.

Tidak mau.

Saya tidak mau bertumbuh menjadi apa-apa atau siapa-siapa. Saya mau tetap menjadi saya. Saya mau tetap muda. Saya mau tetap istimewa. Tetapi maaf itu bukan untukmu.

Saya mau bertambah.

Itu adalah untuk diri saya sendiri. Bertambah dalam kesendirian, mengajarkan saya satu hal: apa saya percaya dengan diri saya sendiri? karena ini adalah modal dasar. Modal dasar untuk terbang lebih tinggi.

Hari-hari lelah dan menguras air mata, tetap akan saya hadapi kedepan. Itulah kenyataan hidup. Begitupun sebaliknya. Tidak perlu mengeluh, toh dengan mengeluh membuatmu semakin kurang sexy.

Mari angkat gelas, rayakan ketidaksempurnaan. Dan rayakan hujan yang mengguyur di luar.

Sometimes I wish that I was the weather, you`d bring me up in conversation forever. And when it rained, I`d be the talk of the day.

Happy birthday Jhon Mayer!

Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...