Monday, October 4, 2010

Day #18: WOW

Ya, ini adalah hari ke delapan belas saya menulis. Tentunya saya masih dalam rangka menulis blog dalam tiga puluh hari. Sudah ada beberapa posting cerita pendek, puisi pendek, curhatan pendek, atau apa saja yang ingin saya tuangkan ke dalam blog.

Misi ini adalah misi untuk menghadiahkan diri saya sendiri dengan tulisan, apapun itu, melalui misi ini saya hendak belajar memberikan yang terbaik kepada diri saya sendiri. Untuk itulah saya menulis.

Sepanjang tahun 2009, banyak hal yang terjadi. Ini adalah tahun berkah. Ini adalah tahun yang penuh dengan kasih karunia. Di tahun ini ada Rona Kata (buku antologi puisi) yang hadir, ada Mama yang sakit, ada masa-masa labil dimana saya harus memutuskan untuk pulang ke Ambon atau tetap tinggal di Bandung, ada masa-masa terpaksa cuti dari pekerjaan sebelumnya, kos yang harus direnovasi dan harus mencari tempat tinggal baru, mencari peluang pekerjaan baru kembali, kondisi keuangan yang tidak begitu baik dan masih banyak hal yang lain.

Pertengahan bulan September sampai dengan memasuki bulan Oktober, saya memiliki banyak sekali permohonan. Satu hal yang paling esensial adalah menyangkut tempat tinggal. Seperti tulisan saya yang sebelumnya, saya mengatakan bahwa, saya sangat pemilih mencari kos.

Banyak hal yang kemudian menjadi bahan pertimbangan, namun waktu saya tidak lama lagi, karena sebentar lagi, kos yang sekarang saya tinggali akan segera direnovasi. Ceritanya, pada suatu hari saya memang sengaja berjalan di daerah sekitar Trunojoyo, untuk mencari kos dan saya menemukan sebuah pengumuman persis di depan sebuah rumah, yaitu menerima kos putri.

Akhirnya saya memasuki rumah itu dengan harapan saya akan medapat berita bagus dari si empunya rumah. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya saya bertemu dengan si empunya rumah yang sejak saat itu saya ketahui namanya adalah Tante Simon.

“Wah, Tante Simon senang sekali kalau Theo bisa kos di sini.”

“Iya Tante, aku juga suka nih, soalnya dekat kemana-mana.”

“Tapi sayang Theo, sekarang sih kamarnya masih penuh, nanti saja ya Tante kabari Theo lagi kalau kamarnya sudah kosong.”

“Yah, iya deh Tante. Aku tunggu kabarnya ya. Terima kasih.”

Itu percakapan singkat saya dengan Tante Simon, sebelum pulang kita memang sempat bertukar nomor handphone. Dengan harapan dalam waktu dekat ini, Tante Simon akan mengabari saya perihal kamar kosong.

Semenjak dari itu, saya selalu berharap dalam hati, kalau saya bisa mendapat kesempatan untuk tinggal di situ saja. Selain karena tempatnya lumayan sesuai dengan apa yang saya inginkan (walaupun berbeda jauh dengan kos saya yang sekarang) namun dari segi harga memadai dan letaknya yang sangat strategis, sekaligus ada semacam chemistry yang sudah terbangun dari awal antara saya dengan Tante Simon maupun saya dengan rumahnya. Ini awal yang bagus.

Beberapa minggu setelah itu, saya tetap berkirim kabar dengan Tante Simon, dengan harapan ada kabar baik. Selain itu kondisi di kos yang lama, juga memaksa saya untuk segera pindah. Ini adalah kondisi “tengah-tengah” antara harus pindah di kos yang baru supaya bisa fokus ke hal lain, tapi belum juga dapat kos yang sesuai.
Ini tidak enak.

Belum juga ada kabar dari Tante Simon.

Inisiatif yang lain saya jalankan, mulai dari bertanya lagi ke teman-teman. Dan mulai menyusuri daerah Dago lagi. Suatu hari saya menemukan sebuah rumah di sekitar Dago Atas, persis seperti yang saya inginkan, dengan harga yang lebih mahal sedikit dan ada kamar kosong yang tersedia.

Di dalam hati saya berpikir, oke, kalaupun saya akan tinggal di kos ini, berarti saya harus berpikir untuk budget tambahan yang harus saya alokasikan untuk kos baru dan ini peer baru lagi untuk saya. Di dalam hati saya bilang begini, oke deh Tuhan, kalau memang saya harus kos di sini, Engkau harusnya mencukupi saya. Kalau tidak berikanlah saya kos sebelumnya yang sesuai dengan budget saya saat ini, terserahlah Kau yang lebih tahu. Ya, sebutlah itu semacam keyakinan saya.

Setelah hari itu, saya memang berjanji untuk kembali lagi pada tanggal 3 Oktober, tepatnya kemarin sekaligus pindah kos. Tetapi karena tanggal 2 sebelumnya saya ada acara di Jakarta dan baru subuh sampai ke Bandung, maka rencana packing sebelumnya terpaksa saya undur. Tadinya akan dikerjakan Sabtu pagi itu saja, tapi entah kenapa saya melewatkannya lagi. Saya malah menghabiskan waktu untuk online dan menulis.

Kalau memang belum waktunya, itu tidak akan diberikan kepadamu. Kalaupun memang sudah waktunya ia akan diberikan, bahkan damai sejahtera di alam akan menghantarkannya padamu dalam diam. Tuhan pegang keyakinan saya, apa yang tidak pernah saya sebutkan lewat bibir saya. Sesuatu yang saya hanya simpan di hati saya, sendiri. Sesuatu yang saya tidak perlu saya pamer kepada orang lain, yaitu: keyakinan saya.

Di hari Minggu sore, di hari yang seharusnya saya packing untuk pindah ke kos di daerah Dago Atas, handphone saya berdering, ada nama Tante Simon di layar.

“Hallo, Theo, iya nih Tante Cuma mau bilang, kebetulan sekarang ada kamar kosong untuk Theo. Mari berkumpul.”

WOW.

Tidak ada kata lain, saya kaget. Jantung saya berdegup kencang, antara senang bercampur dengan kegelisahan saya untuk memaknai segala sesuatu yang baru saja saya alami.

Begitulah ceritanya. Saya selalu percaya Tuhan sudah pensiun dari gereja. Dia kini banyak duduk di luar gedung mewah itu, Dia ada di sekitarmu, Dia tidur di hatimu dan mendengarkan apa yang bahkan tidak pernah kau minta dengan lantang. Dan saya hampir lupa, ini hari minggu. Bahkan kau tidak perlu duduk di gereja untuk mendapatkan mujizat.

Mujizat itu mengikutimu. 


 pic by Jena

Mereka kejutan.

Sunday, October 3, 2010

Day #17: Hilang



kini kau pergi,
meninggalkan tahun yang tidak berpenghuni
kalender kosong dan kekuningan
tanggal dan harinya rapuh berguguran

di luar gerimis berpayung hitam
menemani pilu orang hilang.
darah tangisnya mengalun pelan
kau purapura tuli.

Friday, October 1, 2010

Day #16: Selfnote




Apa yang kau harapkan di umurmu yang ke dua puluh tujuh. Apa yang pernah kau impikan ketika kau melangkahkan kakimu di angka dua puluh tujuh. Tentunya kau memiliki banyak mimpi, kau mulai menulis mimpimu di balik Alkitab, kau mulai mendoakan mimpimu, salah satunya adalah kau mulai mendoakan bertemu dengan seseorang yang tepat.

Angka dua puluh tujuh, mungkin adalah sebuah perjalanan panjang. Dari angka ke dua puluh enam ke angka dua puluh tujuh. Atau tergantung dari mana kau mulai menghitung. Menghitung untuk mulai jatuh cinta. Menghitung untuk kemudian patah hati. Menghitung untuk kemudian jatuh cinta lagi. Dan patah hati lagi.

Sampai kemudian kau mulai bosan menghitung. Sampai kemudian kau mulai tidak menyukai sesuatu yang bergerak maju. Kau hanya mau jatuh cinta di tempat. Kau hanya mau cintamu diam, kau merasakan getarnya sendiri, kau merayakannya dalam diam, tanpa seorangpun yang tahu kalau kau sedang jatuh cinta.

Diam-diam kau mulai menulis puisi, diam-diam kau mulai menulis di diary, diam-diam kau mulai menulis tentangnya dan tentangnya. Tidak ada topik yang lebih keren selain tentangnya. Tidak ada yang lebih penting selain mengetahui kesukaannya. Tidak ada yang lebih deg-degan selain; menantikan telepon darinya atau bertemu mata dengan mata dengannya.

Kau paling hapal. Kau tahu segala gerak-geriknya. Kau tahu dia akan memberikan advice apa. Kau tahu nada suaranya, kapan dia akan berbicara dengan nada ke atas, kapan dia akan berbicara dengan nada turun ke bawah. Kau akan memperhatikan kaus kakinya atau sepatu yang dia kenakan. Kau akan menilai, kemejanya paling cocok dikeluarkan atau dimasukan saja.

Kau mendengarkan segala keluh kesahnya. Kau adalah orang paling pertama yang dia hubungi. Kau mendengarkan tawanya dan tangisnya. Atau dua-duanya. Kau tidak melirik yang lain, karena kau tahu kau sudah memiliki seseorang. Kau cukup setia.

Apa yang kau harapkan ketika kau memasuki umur yang ke dua puluh tujuh; menikah? mungkin belum. Karena kau merasa, masih ada banyak hal yang kepingin kau kejar. Ada mimpi yang begitu tinggi, yang selalu kau visualisasikan sebelum kau tidur; menandatangani bukumu sendiri.

Banyak yang menyinggung soal cita-cita. Dan mereka berpikir kau itu terlalu gembel untuk memiliki cita-cita. Mereka pikir kau itu masih terlalu kecil untuk punya cita-cita. Kau masih harus diberitahu tentang ini dan itu. Kau dianggap tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Apalagi menyangkut sesuatu yang perlu dibanggakan kepada orang tua. Kau mungkin tidak punya itu.

Umur dua puluh tujuh adalah angka yang sangat istimewa. Karena kau selalu menyukai angka tujuh, angka sempurna. Karena memasuki umur ini, kau belajar banyak; belajar banyak untuk direndahkan.

Bisa jadi ketika kau memasuki angka dua puluh dan tujuh. Adalah angka dimana kau kehilangan banyak hal. Banyak yang diambil dari dirimu sekaligus. Kau harus mencari pekerjaan baru, kau harus mencari tempat tinggal baru, cinta dalam bentuk yang baru.

Rasanya, kau ingin berhenti saja. Rasanya kau ingin diam saja di tempat. Supaya apapun yang kau miliki selalu dapat kau miliki. Mereka akan selalu menjadi milikmu. Rasanya kau mau egois saja, dengan mendapatkan semuanya. Tapi bagaimana, kalau semuanya seperti diambil, tidak ada yang tersisa.

Suatu ketika kau pulang ke rumah, setelah mendengarkan lagu Adelle ‘make you feel my love’, berulang-ulang, kau hanya bisa berkaca-kaca. Kau ingin bercerita kepada seseorang, namun tidak bisa. Terpaksa, kau diam sendiri saja, kemudian menangis sendiri.

Kau bosan bercerita, karena kau pikir itu bukan urusan mereka atau urusannya. Kau pikir, angka dua puluh tujuh adalah angka dewasa, kau adalah perempuan yang kuat dan kau tidak perlu cerita-cerita kepada orang lain. Karena bukankah selama ini, kau memang sendiri. Bukankah ketika berumur enam belas, pertama kali kau memutuskan merantau, sebenarnya kau telah memutuskan hidupmu sendiri.

Sudahlah, kalaupun kau mau menangis. Menangislah untuk dirimu sendiri, jangan pamer mata bengkakmu kepada orang lain. Bukankah kau itu adalah perempuan yang ceria, kau sumber kemeriahan. Banyak orang yang selalu iri dengan kemeriahan itu. Padahal sejujurnya yang paling kau sukai adalah; pulang ke rumah, duduk di dekat jendela besarmu dan mulai menulis.

Sendiri. Mendengarkan hatimu.

Mengertilah bahwa semakin umurmu bertambah, kau mulai percaya hal-hal yang long lasting. Bukan hal-hal yang pendek. Kau semakin menginvestasikan hari-harimu untuk melihat keindahan-keindahan kecil dan menikmatinya. Seperti lidahmu yang hanya ingin mencicipi kopi di cangkir. Seperti kau yang selalu menatap hujan lama-lama dari balik jendela. Atau bermain diantara sinar-sinar sore.

Ketahuilah, kau tidak kehilangan apa-apa. Kalaupun pada saat ini segala sesuatu seperti sedang ditarik darimu, kau seperti sedang kehilangan banyak hal. Sebenarnya tidak, mereka diambil karena nantinya kau akan diisi penuh sampai melimpah ruah. Bersiaplah, karena ketika waktu itu datang, kau tidak akan kuat untuk menampungnya.

Tidak ada yang abadi. Mencintai itu bukan keabadian. Patah hati bukan mati. Namun kau adalah keindahan. Keindahan akan menciptakan keindahan dengan tangannya, dan setiap orang di sekitarmu akan mengerti bahwa mereka yang rugi kehilangan keindahan itu, mereka yang rugi kehilanganmu.

Jadi mari mencatat, apa yang sudah kau lakukan pada dirimu sendiri bukan kepada orang lain. Jika sekali lagi, pertanyaannya diulang; apa yang kau harapkan ketika kau memasuki umur dua puluh tujuh?

Ciptakanlah keindahan dengan tanganmu.

Hal ini tidak ada urusannya dengan pencapaianmu saat ini, jatuh cintamu saat ini, patah hatimu saat ini, menangismu saat ini, tertawamu saat ini atau apapun yang orang lain tempel kepada kehidupanmu saat ini.

Keindahan itu adalah dirimu seutuhnya. Mereka, dia, yang terlalu rugi untuk tidak melihatnya. Tertawalah yang keras, karena mereka, dia, tidak memilikimu sebagai keindahan itu.

Kalaupun besok-besok (tidak perlu buru-buru) sudah waktunya kau menikah dan kau akan memiliki anak, entah itu anak perempuan atau laki-laki (tampaknya saya akan punya dua-duanya, yang pertama laki-laki dan selang beberapa tahun kemudian baru lahir yang perempuan, kalau kelak benar, tolong ingatkan lagi kalau saya pernah menulis ini) jangan lupa ajarkan kepada mereka untuk menjadi: mencipta keindahan.

Mari rayakan keindahan.

Day #15: Kelak


*dari weheartit.com



kalau aku sudah dewasa
aku ingin menikah dengan kata
kami tinggal di rumah sederhana
tiang-tiangnya adalah air mata
ada huruf, kalimat, paragraf
duduk-duduk di sekitar halaman
mereka sedang belajar membaca
tentang apa itu cinta?
lalu mereka tertawa,
ada pernyataan begini:
“cinta itu bukan kata
cinta itu air mata.”
tapi aku tidak pernah dewasa
aku tidak.

Wednesday, September 29, 2010

Day #14: Rumah

Rumah bagi saya, bukan hanya tempat tinggal. Rumah bagi saya adalah buku cerita. Saya selalu membayangkan rumah itu seperti halaman-halaman buku kosong, yang dapat diisi oleh siapapun saja yang pernah menyinggahinya. Siapapun, kapanpun yang pernah singgah, pasti meninggalkan sesuatu dan cerita.

Saya pribadi sangat concern dengan tempat tinggal, bukan bersama siapa saya tinggal. Karena bagi saya tempat tinggal adalah representasi kehadiran. Kehadiran saya di tempat itu, dari manapun saya berasal, akan menjadi sejarah. Sedangkan tinggal bersama siapapun, itu bukanlah masalah, toh masalah berhubungan dengan orang lain, itu masalah seumur hidupmu bukan?

Sejak kecil saya beberapa kali menikmati rumah dengan kondisi yang berbeda. Rumah pertama adalah rumah tua (rumah keluarga) kami, ini adalah rumah peninggalan Opa saya dimana saya dan keluarga besar (Oma, Oom, Tante, para sepupu) kami tinggal. Rumah kedua adalah rumah Tante (adik Papa) saya, dimana saya biasa dititipkan ketika orangtua saya harus bertugas keluar kota. Rumah ketiga adalah rumah dinas pertama ketika orang tua saya bertugas pertama kalinya di Ambon. Dan rumah terakhir adalah rumah dinas kedua, yang terakhir kali kami tinggali sebelum akhirnya hancur akibat kerusuhan yang melanda Ambon di tahun 1999.

Sebelum merantau ke Jawa, saya dan keluarga untuk sementara waktu menumpang di rumah tua keluarga kami dan akhirnya sekarang orang tua saya telah menempati rumah mereka sendiri di daerah perbukitan di daerah Ambon, dengan pemandangan kota dan laut dari depan teras rumah.

Saya sendiri melanglangbuana dari kos yang satu ke kos yang lain. Dimulai dari kota Jogjakarta dan Bandung. Saya sangat menikmati tinggal bersama orang lain, juga sangat menikmati tiap tempat yang pernah saya tinggali selama di Bandung. Saya mulai menyukai rumah tua. Saya menyukai kesan sepi yang biasanya ada di setiap rumah tua. Dan entah mengapa saya percaya bahwa setiap rumah tua akan bercerita kepada saya, mereka senang didengarkan. Dan itulah yang saya lakukan, saya senang sekali mendengarkan mereka.

Saya tipe setia. Selama ngekos di Bandung, saya hanya baru tiga kali pindah. Itupun setelah tinggal hampir tiga tahun, begitupun dengan kos yang sekarang (sebentar lagi saya akan pindah) ini juga telah memasuki tahun ketiga. Kos terakhir saya ini, saya dapatkan dengan perjuangan. Perjuangan mengeceng dan menunggu. Ini kos yang pertama kali membuat saya jatuh cinta. Sedikit gambaran, kos ini adalah paviliun rumah tua, pintu dan jendela besar, dengan teras belakang dan halaman yang cukup luas. Kamarnya sendiri tidak cukup besar, tapi lumayan menampung barang-barang saya yang kebanyakan baju dan buku.

Saya betah, saya kreatif, saya banyak menulis di kos ini. Bukan hanya itu, banyak kenangan yang ada di setiap sudutnya, yang membuat saya seperti agak berat kalau harus meninggalkannya. Ada keterikatan yang tidak terlihat, yang sudah terbangun diantara kami. Pagi ini saya mencuci baju dan menjemurnya di halaman, ada teras, kursi-kursi tua, dan rerumputan. Entahlah, mereka juga sepertinya sedih sekali karena sebentar lagi saya akan meninggalkan mereka.

Mencari kos baru, sulit. Saya pemilih. Saya betul-betul memiliki kriteria khusus untuk tempat tinggal saya. Kalau ditanya standarnya seperti apa: ya, paling tidak seperti kos yang sebelumnya. Banyak teman saya yang mulai menyerah, karena untuk selera saya yang satu ini, mereka tidak bisa memenuhinya.

Kemarin, saya sengaja menyusuri daerah Jalan Aceh dan sekitarnya (Lombok, Patra Komala, Manado, Tongkeng, Sabang, Pulo Laut, Cihapit) tapi beberapa diantaranya penuh. Saya merasa, untuk mencari tempat tinggal, saya harus jalan sendiri, masuk satu-satu, mencium bau rumahnya, dan mengintip apa di dalam rumah yang akan saya tinggali itu ada teras dan halaman kecilnya atau tidak.

Beberapa waktu lalu saya juga sempat mengumumkan di status facebook saya, dibutuhkan kos baru daerah dago dan sekitarnya, rumah tua dengan jendela dan pintu yang besar, tidak di gang kecil, sirkulasi udara bagus, dan ini yang paling penting: harus ada teras belakang dan halamannya sedikit.

Ketika saya menulis ini, saya menyadari satu hal. Ternyata bukan rumah tua saja yang membuat saya tergila-gila, tetapi teras dan halaman. Teras untuk duduk-duduk, ngopi dan menulis dengan pemandangan halaman yang penuh rumput hijau. Alasannya, mereka menyembuhkan.

Ya, itu sudah semacam obsesi. Saya tidak perlu rumah besar. Cukup rumah mungil dengan teras dan halaman. Karena saya suka duduk-duduk di sana, mendengarkan ia bercerita, kemudian saya menuliskannya kembali.

(hei, ada yang mau menghadiahkan saya rumah ketika ulang tahun nanti? Atau bagaimana kalau pesta kebun? :-p)

 


dear teras belakang, sampai bertemu lagi :)

Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...