Saturday, September 25, 2010

Day #8: Berpapasan



Aku suka menghirup wangi parfummu yang menyeruak ke udara, menusuk hidungku dengan tajam. Dengan malu-malu aku akan meneliti raut wajah dan ekspresi matamu dari dekat sekali.

Aku deg-degan, syukurlah kalau kau tidak mendengarnya. Tetapi kau itu begitu memesonaku. Perasaan, seperti ini entah kenapa tidak pernah aku rasa sebelumnya.

Aku suka sekali melihat kau tersenyum. Lekukan bibirmu akan terbuka sedikit lebar, menutupi bekas kerutan di sekitarnya. Karena sebenarnya kau itu suka sekali tersenyum. Kau suka menertawai kebodohan-kebodohanku.

Tetapi tidak apa-apa. Itu bukan masalah besar buatku. Selama itu membuat kau bahagia, tidak masalah. Dan tetaplah tertawa, karena sampai kapanpun aku akan selalu merindukan tawamu. Tawamu yang empuk.

Pertama kalinya kita pergi ke suatu tempat. Kau bilang mau mengantarku ke sana. Aku menurut saja, Kalau ditanya apa yang selalu membuat aku jatuh cinta. Aku tidak tahu, perasaan itu terlalu tiba-tiba.

Rambutmu sudah mulai gondrong. Pipimu juga semakin tirus, semakin mempertegas garis wajahmu. Kerutan di sekitar dahimu bertambah, mungkin kau memang sekarang sedang sibuk-sibuknya.

Dalam perjalanan pulang ketika kau mengantarku. Aku sempat menyenderkan kepalaku di pundakmu. Bulan penuh persis di atas kepala kita. Aku suka mendengarkan suaramu dari ujung pundak. Ada ketenangan di sana. Ada rasa nyaman. Mungkin rasa nyaman itu, yang membuat aku jatuh cinta?

Aku menginginkanmu bebicara sepatah kata. Mengobrol lama seperti dulu. Kau biasanya bercerita apapun yang kau suka, aku menjadi pendengarnya. Atau giliran kau yang mendengarkan aku menangis berlama-lama. Dan kau betah-betah saja.

Atau rasa nyaman itu sendiri yang membuat aku leluasa berbagi. Sebenarnya mungkin awalnya tidak ada cinta. Tapi kita sendiri yang memberikannya tempat. Kita sendiri yang membiarkannya tumbuh. Kita sendiri yang merelakannya semakin besar. Kini ketika cinta itu semakin besar, mungkin sebentar lagi cinta itu akan menikah dan membangun keluarganya sendiri. Apa kita rela melepaskannya?

Persis di hari itu, aku menemukanmu di jalan yang sama. Tidak. Kau tidak melakukannya. Aku menunggu semenit, dua menit... hening lama. Aku menunggu kau menyapaku. Aku menunggu kau bertanya sesuatu. Aku menunggu kau memanggilku dengan panggilan kesayanganmu.

Namun kau hanya diam.

Wednesday, September 22, 2010

Day #7: Sesak



Mungkin waktu itu aku berumur enam atau tujuh tahun, aku lupa persis umur berapa. Di luar sore sudah tampak remaja, udara lembab di sekitar menusuk kulitku yang telanjang.

Aku ini tidak suka kena air, kalau mau mandi harus berlama-lama dulu, buka baju, bermain air, mengobrol sendirian di kamar mandi, seakan-akan ada teman yang sedang menungguku di sana.

Kau duduk di jendela, dengan perpisahan yang menggantung di matamu. Aku tidak suka ditinggal, walaupun alasan ditinggal waktu itu adalah karena kau harus pergi bekerja. Bekerja yang membuat kau tidak bisa tinggal bersamaku. Sungguh, tidak masuk akal.

Aku hampir mandi, tapi seperti biasa aku tidak suka terburu-buru mandi. Aku telanjang dan duduk di pangkuanmu, di jendela. Jendela tua yang biasanya aku lompati setiap waktu.

Aku merasakan hangat kulitmu. Hangat kulit yang selalu membuat aku sesak di dalam. Mataku mulai berair dan biasanya aku menangis. Tak suka kencang-kencang, karena aku suka malu.

Kau bilang aku sudah mulai besar, jadi tidak boleh menangis kencang-kencang. Jadi waktu itu, aku menangis pelan-pelan saja di pundakmu.

Sekarang ini, sudah bertahun-tahun yang lalu. Jendela tua itu masih suka aku lompati setiap waktu, kamar mandi itu masih suka aku datangi setiap hari untuk bermain dan mengobrol dengan diri sendiri.

Namun sesak itu masih ada, betah sekali ia.

Tuesday, September 21, 2010

Day #6: Setia



Sudah lama aku terbaring di sini. Sendiri. Tempat tidur yang cukup empuk, untuk sekedar meluruskan badan. Aku sudah susah bergerak karena banyak laba-laba iseng di sekitar rumahku. Dan aku juga harus terbiasa dengan aroma tubuh penghuni lainnya, yang kadang tidak kusukai.

Kadang aku menyaksikan debu-debu yang menempel di karpet, atau laba-laba yang suka iseng membangun rumahnya di tubuhku. Kalau ada waktu senggang, aku suka mengobrol dengan semut-semut tua yang berjalan membawa remah-remah, pulang ke tempat yang mereka sebut rumah.

“Kau sudah pernah kemana saja?”

“Banyak. Terlalu banyak, dari yang paling mewah sampai yang paling sederhana.”

“Bersamanya? ” tanya temanku lagi.

“Tentu saja kita berdua. Kita pasangan yang sangat setia, sampai...” Aku mengusap air mataku perlahan. Temanku mengerti perasaanku, ia sedikit membungkuk untuk memeluk tubuhku yang sudah mulai renta.

Kemudian kita kembali terlelap dalam gelap.

Bulan redup. Sinarnya menghilang entah kemana. Aku ingat saat-saat terakhirku bersamanya, di luar hujan deras, kondisinya pada saat itu memang sudah sangat lemah. Ia memang sudah merasa bahwa mungkin waktunya tidak akan lama lagi. Tapi kita berdua, memang dalam keadaan terpaksa. Kita harus menurut.

Kondisi jalan tidak memadai, banyak tanjakan dan bolong di sana-sini. Tetapi karena dipaksakan, aku mau bilang apa. Aku melirik ke arahnya, napasnya mulai terengah-engah, dari sorot matanya, ia sudah tidak kuat lagi.

Bertahanlah, sebentar lagi kita sampai. Aku berbisik pelan di kupingnya, tapi ia tampak sudah tidak dapat mendengar aku lagi. Kini, napasnya mulai satu-satu. Ia mulai mencari tanganku, dan menyuruhku memeluknya. Aku tidak hanya memeluk, aku mengecup bibirnya perlahan.

Aku ti-tidak kuat lagi. Itu kalimat terakhirnya.

“Ah sial, hak gue pake acara patah lagi nih. Kalian duluan aja deh, gue cari sendal jepit dulu nih.”

Kalimat itu tampak samar-samar di kupingku, mataku mulai basah. Kekasihku mati persis di sampingku.

Monday, September 20, 2010

Day #5: Backspace



Mundur banyak langkah, sebelum berlari lebih jauh. Digunakan ketika kau perlu menghapus huruf perlahan-lahan. Tidak terburu-buru ketika kau menekan delete. Sama halnya dengan menghapus sesuatu, bisa jadi itu bukan hal yang harus buru-buru kau lakukan.

Backspace kadang dilakukan ketika kau tidak tahu harus menulis apa, di layar yang kosong. Kau akan menulis dengan random, satu atau dua kata, lalu menghapusnya lagi. Ketik. Backspace. Ketik. Backspace. Begitu seterusnya.

Sama halnya seperti ketika aku melamunkan, berpikir, menghayalkan, hanya sejumput huruf yang mengingatkanku padamu di benak. Aku akan memandang lama crusor yang sedang mati nyala di layar yang kosong.

Kemudian perlahan, aku mengetik beberapa huruf yang aku sangat kenal.

Namamu.

“Maaf, kau jangan merasa tersinggung ya, hanya saja aku belum siap.”

“Hum, tidak apa-apa juga sih, santai kok.”

“Kau tidak marah kan?”

“Tidak.”

Backspace. Seperti percakapan, entah berapa tahun yang lalu. Yang selalu aku simpan, di kepala juga di hati. Karena percakapan itu terlampau berarti buatku. Hari yang mengubah segalanya.

Backspace. Seperti mengajak untuk berpikir ulang, apa yang akan kau tulis kemudian. Bisa jadi kata yang kau pakai, tidak terlalu pas di dalam sebuah kalimat. Sehingga, kau harus menarik perkataanmu kembali.

“Kalau sayang sih sayang saja.”

Tidak ada respon.

Backspace. Mundur sedikit, bukan untuk melupakan. Mundur sedikit untuk mengunjungi kembali ruang berdebu dimana keping-keping namamu, pernah utuh, dan sepenuhnya hadir di dalam hidupku.

Sunday, September 19, 2010

Day #4: Rindu



Kali ini aku banyak melamun. Tidak ada tulisan yang berarti. Tidak ada puisi sama sekali. Hanya aku ditemani dengan puntung-puntung rokok, yang mulai berserakan dimana-mana. Ah, ruangan ini sudah mulai jorok. Kau pasti tidak akan suka.

Apa yang hendak kukatakan, kalau kau pulang nanti dan mendapati aku seperti ini, kau pasti akan marah besar. Sementara aku menulis ini, gerimis mulai tua di luar, tetesannya pun tinggal satu-satu.

Aku merogoh satu dari tumpukan buku-buku yang ada, dan aku melihat ada kamus besar. Ah, ini dia yang aku cari, pikirku dalam hati. Mataku langsung meneliti dengan cepat, inisial huruf R untuk kata rindu.

Mataku terus membaca definisi yang satu ke definisi yang lain, tidak ada yang keren. Kamus ini terlalu kaku. Aku menutup kamus, dan kembali menghisap batang rokokku yang hampir habis dalam-dalam.

kuhisap rindu hambar
dari ujung yang satu
dan kubiarkan gelisahku terbakar
dari ujung yang lain

Demikian aku menulis. Terserah kau mau menilai itu seperti apa. Bagiku itu bukan puisi. Itu hanya sebatang rokok yang kini hampir habis diantara ke dua jemariku.

menunggu ini sudah terendap lama
asapnya hendak kuhembuskan saja
supaya ia berlari lupa
bahwa cinta ini pernah luka

Aku berhenti menulis. Mataku berair, aku betul-betul tidak bermaksud untuk menulis sesuatu yang pahit sebenarnya. Tapi, ya sudahlah, aku ini hanya penulis amatiran. Toh, kau juga tidak tertarik untuk membaca tulisan-tulisanku. Apalagi puisi, kau sama sekali tidak mengerti puisi.

kekasih, adakah kau tahu
bahwa rindu itu hanya milik mereka yang kesepian
kelak ia akan menuju asbak
menjadi abu

Aku rasa cukup untuk hari ini. Aku bersihkan puntung-puntung rokokku. Kurapihkan kembali buku-buku yang tadi berserakan di lantai.

Dan menunggumu. Menunggu kau yang tidak pernah pulang.

Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...