Saturday, September 18, 2010

Day #3: Kejutan



Nyala, Aku mencintainya dengan segala kompleksitas yang ia miliki. Belum lagi kesukaannya tentang kecoa. Itu satu hal yang tidak dapat kumengerti sampai hari ini. Menurutku, aneh sekali ada perempuan secantik dia, suka sekali dengan binatang menjijikan satu itu.

Sedangkan aku, aku benci sekali kecoa.

Tapi Nyala bahkan selalu melarang aku membunuh kecoa. Ia selalu yakin bahwa kecoa itu adalah binatang paling tua, dan ketika mereka muncul di depanmu tiba-tiba, mereka pasti membawa pesan sesuatu.

“Kecoanya jangan dibunuh Bang, keluarkan saja mereka pelan-pelan. Atau biarkan saja mereka merayap di dinding-dinding itu lagi.” Ujarnya suatu hari sambil merengek-rengek, ketika aku menemukan kecoa di kamar mandi.

Kali itu, binatang-binatang menjijikan itu lolos dari tanganku. Semua ini hanya karena Nyala, gadisku dengan mata besarnya yang lucu, dengan rambut ekor kuda yang selalu bergoyang-goyang ketika ia bicara padaku.

Satu hal yang selalu aku perhatikan selama kita bersama adalah, kebiasaannya yang selalu berlama-lama di kamar mandi. Ketika aku bertanya kenapa ia lama sekali di kamar mandi, biasanya ia hanya nyengir dan bilang bahwa ia terlalu asik baca buku, sehingga lupa untuk lekas menyudahi aktivitasnya di kamar mandi.

Aku sih, percaya saja. Ia gadis lucu, yang akan langsung mengambil hatimu.

Begitulah cerita tentang Nyala, gadis imut yang hampir setahun ini aku pacari. Bagiku tidak ada yang terlalu bermasalah, selama menjalani hubungan dengannya. Ia adalah pasangan sekaligus teman yang menyenangkan, kita berdua juga menyukai filosofi-filosofi sederhana, yang selalu kita bagi di sela-sela acara minum teh sore kita.

***

Hari ini, setahun sudah kita berpacaran, dan aku berencana untuk merayakan ulang tahun jadian kita di suatu tempat yang cukup romantis di daerah Dago Pakar. Tentu saja, rencana ini tidak aku beritahukan sebelumnya dengan alasan supaya surprise.

Aku sengaja bangun pagi-pagi, membuatkan sarapan untuknya sebelum aku berangkat kerja. Aku membuatkan sarapan kesukaannya, yaitu sandwich isi telor dengan kopi pahit, sedangkan aku lebih suka makan sereal saja pagi-pagi.

Aku masuk ke kamar dan tampak ia masih tidur pulas.

“Selamat pagi Nyala, selamat hari jadian.” Aku berbisik pelan dihadapannya. Tampak ia membuka sedikit kedua matanya.

“Eh, pagi Bang, wah surprise banget nih, terima kasih. Selamat hari jadian juga.” Balasnya lembut sambil mencium pipiku. Setelah itu kita berciuman lama.

“Abang, mandi dulu ya. Nanti sore pulang dari kantor, Abang jemput kamu, kita makan malam diluar.”

“Oke Bang, aku tunggu.”

Aku beranjak ke kamar mandi. Ketika aku membuka kamar mandi, aku kaget luar biasa, karena tampak gerombolan kecoa, sedang asik membuat barisan mengitari daerah saluran pembuangan, dan tampak beberapa lagi sedang duduk-duduk manis di sekitar daerah WC.

Aku memekik tertahan, aku jijik sekali terhadap binatang ini. Ugh! Refleks aku membanting pintu kamar mandi. Aku berlari ke arah lemari di dapur, untuk mencari racun serangga.

“Kenapa Bang?” Nyala berteriak dari arah kamar tidur.

“Ada banyak kecoa di kamar mandi. Heran deh, kok bisa banyak gitu sih. Ini aku sedang mencari racun serangga? disimpan dimana ya?”

“Eh, JANGAN DIBUNUH Bang!” Nyala tampak berteriak panik, dan berlari kearah dapur menyusuliku.

“Loh, kenapa? mereka banyak banget Nyala.” Aku membalasnya sambil tanganku terus, membuka pintu lemari satu dengan pintu lemari lainnya, masih mencari racun serangga itu.

“Eh, bi-biar aku saja Bang, aku tahu kok cara mengusir mereka.” Nyala tampak terbata-bata, menyelesaikan kalimatnya dan langsung buru-buru berlari ke arah kamar mandi lagi.

“Dimana sih, racun serangga sialan itu, perasaan ada di lemari deh.” Aku mengumpat, karena semakin tidak sabar, belum menemukan racun serangga itu juga. Dan kini lemari terakhir yang aku buka, tidak ada juga. Aku hampir putus asa. Aku bergidik membayangkan binatang sialan itu masih berkeliaran di kamar mandiku.

“Eh, masih ada satu lemari yang belum dibuka, ah, tidak ada juga.” Aku tampak kesal dan membanting lemari yang terakhir. BRAK. PRANG. Tampak sesuatu jatuh dari atas lemari, dan itu dia, itu penyelamatku, botol racun serangga dengan tutup merah jatuh persis di depanku.

“Nyalaaa, ini aku nemu..” Aku berlari ke arah kamar mandi, tampak Nyala sedang duduk dan menunduk ke arah kecoa-kecoa itu, entah apa yang dilakukannya. Kali ini tidak ada ampun bagi kalian, kataku dalam hati sambil melihat ke arah kecoa-kecoa itu.

Nyala berbalik dan melihatku dengan racun serangga di tangan kananku. Wajahnya langsung berubah pucat. “Ja-jangan Bang, jangan bunuh mereka dengan itu.” Nada suaranya bergetar, ia berdiri dan berusaha menghalangiku dengan tubuh kecilnya.

Aku sudah tidak mau lagi mendengarkan. Tidak, untuk kali ini Nyala, balasku dalam hati.

“Bang, jangaaann..” Rengekan Nyala kini berubah menjadi tangis yang tertahan.

SREETT. SREETT. SREETT.

Aku menyemprot racun serangga, ke seluruh penjuru kamar mandi. Sesaat aroma racun serangga yang tajam itu, langsung menusuk penciumanku. Kecoa-kecoa yang saling menumpuk di lantai itu, mulai linglung dan melangkah satu-satu, sebelum akhirnya mati di tempat.

Bukan hanya itu, Nyala pun ikut limbung ke lantai kamar mandi. Tubuhnya menciut semakin kecil, dan berubah menjadi kecoa kecil, yang kini sudah tidak bernyawa lagi.

Friday, September 17, 2010

Day #2: mawar merah



Ranjang tua dengan seprai motif bunga mawar merah belum berhenti berderit. Aku kenali setiap jengkal kamar luas ini. Berapa kali seminggu, kamar ini akan menjadi saksi bau keringat dan bau sperma bercampur menjadi satu.

“Kamu suka sayang?” Wing bertanya sambil membelai lembut rambutku. Sementara aku masih terbaring puas di bawah selimut dengan tubuh telanjang.

“Ya, seperti biasa, aku suka.” Jawabku perlahan sambil menyulut rokokku dalam-dalam. Pikiranku sesekali menerawang ke rumah yang aku tinggalkan selama dua hari terakhir. Pras pasti sudah pulang, bisa saja ia mencari aku setelah ini. Aku harus bergegas pulang kalau begitu.

Ketika aku hendak turun dari tempat tidur, Wing, lelaki di sampingku, menarik tubuhku lagi perlahan. Mendekatkan aku kembali di pelukannya yang hangat itu. Kami berciuman lagi, semakin lama semakin erat. Wing, tidak mau melepaskan aku dari pelukannya.

“Aku tidak mau kamu pulang, aku mau kamu tinggal di sini.” Ia berbisik di kupingku.

“Kalau begitu, nikahi aku. Aku bisa berhenti kerja bersama Pras, dan tinggal bersamamu.”

“Aku mau Wid, nikahi kamu. Tapi sayang, aku belum bisa. Bukankah kita sudah seringkali, bicara soal ini. Ibuku sedikit keberatan kalau aku menikah bukan dengan keturunan Cina, dan aku harus menyenangkan Ibuku. Ini demi perusahaan Wid, toh kamu juga tidak pernah kekurangan.”

“Mau sampai kapan kita begini terus Wing? kamu hanya menginginkan tubuhku. Kamu tidak pernah menginginkan aku sepenuhnya. Kamu selalu menyenangkan Ibumu, sedangkan kamu sendiri tidak pernah dapat apa yang kau inginkan.”

Aku bergegas, memakai bajuku kembali. Dan buru-buru keluar dari rumah itu. Rumah besar di kompleks mewah yang biasanya aku datangi, dengan alasan mengajar privat.

***

Ranjang tua dengan seprai motif bunga mawar merah belum berhenti berderit. Aku kenali setiap jengkal kamar luas ini. Mereka sama persis, hanya di rumah yang berbeda. Aku selalu suka mawar merah. Selalu memesona walaupun berduri.

“Aku senang permainanmu tadi Pras. Bagaimana pekerjaannya di Kalimantan?”

“Ya, Lancar Wid, kamu sendiri bagaimana? Apa muridmu yang berkebutuhan khusus itu, masih suka mengurung dirinya di kamar?”

“Ya, begitulah Pras, beberapa hari ini aku intens mengunjunginya, bahkan menginap di sana. karena dia tidak mau bicara kepada siapa-siapa, hanya padaku.”

“Begitu, ya sudah. Koperku tolong di bongkar ya Wid, bawa baju beberapa saja untuk liburan beberapa hari. Aku ingin bersenang-senang denganmu dulu, sebelum Nyonya pulang. Dan kalau Nyonya pulang, jangan lupa panggil aku Pak Pras, Bapak Pras.”

Thursday, September 16, 2010

Day #1: namanya, Hujan.

Hujan, putriku yang cantik dengan betis mulusnya, berjalan di depanku. Ia tampak buru-buru, hanya mengenakan daster sekenanya dengan rambut acak-acakan. Berjalan mondar-mandir di antara gang sempit, tempat kita biasanya mengantri untuk sikat gigi.

Ia tampak baru bangun tidur. Entah apa yang aku dengar tadi malam, ada suara ribut-ribut dari kamar sebelah. Seperti suara bertengkar, ada lengkingan meninggi, dan kemudian diikuti dengan sesegukan panjang. Aku sendiri tidak mau ikut campur urusan anakku ini, toh dia sudah dewasa.

Terakhir yang aku tahu, hujan memang sedang menjalin hubungan dengan seorang pria, yang sering datang menghampirinya ke rumah. Mereka biasanya duduk-duduk di teras belakang sambil mengopi dan menghabiskan sisa sore.

Aku sering curi-curi pandang, melihat apa yang hujan lakukan dengan pacarnya itu. Terus terang, ini memang bukan urusan aku. Tapi aku agak kuatir, ini pertama kali hujan pacaran, aku takut ia...

Di kejauhan, mereka saling mencium, mereka mengecup lama. Tangan pacar hujan yang entah-siapa-itu tampak menggerayangi bagian depan baju hujan. Ah, ini pemandangan yang sungguh tidak pantas. Dan seharusnya aku tidak di sini.

Setelah itu, mereka biasanya masuk menuju kamar  putriku. Sekitar15 menit sampai dengan 30 menit kemudian, mereka keluar. Wajah hujan begitu sumringah, mereka keluar dengan tawa-tawa kecil yang ditahan.

Aku hanya merekam kejadian itu dari kejauhan, ah hujan, kalau saja kau tahu...

Pagi ini, aku hanya dapat memandangi wajahnya yang tampak lunglai, seperti sehabis menangis semalam, tapi aku juga tidak berani menegurnya. Ia berdiri di depan wastafel lama, memandang wajahnya di depan kaca. Memindahkan odol ke sikat giginya, mulai menyikat giginya pelan-pelan sambil sesekali menyeka air mata yang berlinang di pipinya.

Ada apakah gerangan hujan? aku bertanya di dalam hati.

Aku masih duduk di meja kopi, yang menghadap ke teras belakang. Tampak hujan saat ini, berjalan mendekatiku. Lebih dekat lagi sehingga, aku bisa melihat matanya yang bengkak dengan jelas.

“Pa, hujan hamil.”

Lambat-lambat ia berkata kepada bingkai potret tua di depannya, sebelum tangisnya pecah kemudian. Aku hendak marah, tapi kemarahanku sendiri seperti tertahan di ujung lidahku sendiri. Aku seperti tidak berdaya. 



semoga bunga kamboja di sekitar nisanku, tidak layu menunggu sampai sembilan bulan.

pintaku dalam hati.

Friday, September 10, 2010

pensil

pensil yang tajam harus melepaskan banyak. ia harus merelakan kulitnya pergi ketika ia diraut. ia harus rela, ketika tubuhnya semakin pendek dari hari ke hari, supaya bertambah tajam. ia harus rela digantikan oleh pensil yang lain, ketika tubuhnya tak layak lagi untuk dipakai.

pensil dan guratannya itu saya. saya suka mendengarkan pensil dan kertas saling bersentuhan. saya suka mendengarkan bunyi KRES KRES. mereka itu seperti nada diam. melantun dalam kesepian.

saya punya sebuah cerita kesukaan tentang pensil, cerita ini ada di buku Totto-Chan, salah satu buku kesukaan saya. kalau tidak salah di halaman ke-30 atau ke-31, saya lupa tepatnya.

ada kalimat yang kurang lebih berbunyi begini: “Tai-Chan, aku akan tetap meraut pensilmu karena aku sayang padamu.” setelah membaca kalimat ini pertama kali, kalimat ini begitu terngiang-ngiang di kepala saya. bahkan bagian ini adalah, bagian yang selalu saya baca berulang-ulang, ketika saya membaca buku Totto-Chan kembali.

bisa saja mencintai itu sama seperti meraut pensil. seberapa banyaknya kau berani untuk meraut hatimu; melepaskan kulitnya, rela menjadi pendek, supaya kau lebih tajam untuk mencintai pasanganmu.

walau ada pertanyaan ini,


tidak ada jawaban.

lalu kau harus rela untuk digantikan dengan pensil yang lain. kalau memang hal ini terjadi, apa kau masih punya hati yang besar untuk bilang,

Tai-Chan, aku akan tetap meraut pensilmu karena aku sayang padamu.

terlambat

adakah mencintai itu butuh alasan?



ya atau tidak. setuju atau tidak setuju.
aku tidak setuju.


bagiku, mencintai itu justru adalah alasan.



kenapa aku masih mengetik namamu dalam diam. dan selalu mengingatmu dalam doaku, walau kau mungkin lupa.

selamat datang musim panas. musim dimana aku tidak akan lagi bertemu dengan hujan. pungutlah, pungutlah gerimis sisa di mataku, terserah mau kau simpan dimana.


sudah terlambat.

Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...