Tuesday, November 1, 2016

Karena Yang Kelihatan Populer Itu Belum Tentu Asyik







Sesuatu muncul di dalam kepala saya. Tentang popularitas. Beberapa hari sebelumnya saya membaca blog salah satu teman baik saya berjudul “Maukah Kamu Tetap Berteman Saat Aku Tidak (Lagi) Populer. Jauh sebelum saya membaca blognya, kita sudah pernah bertemu di momen Lebaran beberapa bulan yang lalu. Dan kita sempat berdiskusi tentang hal yang sama. Diskusi itu membuat kami sempat tercenung-cenung memikirkan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Silakan baca tulisannya lebih lanjut di sini.

Tapi saya setuju. Percaya atau tidak, seperti virus, jika kamu populer, maka banyak sekali yang akan berteman denganmu atau ngaku-ngaku sebagai teman kamu. Setiap orang pun mau menjadi populer dengan instan.

Ada periode tertentu di dalam hidup saya, ketika saya banyak sekali menerima surat elektronik dan isinya kurang lebih sama:

“Hai Kak, saya senang sekali dengan tulisan Kakak. Kapan-kapan kalau saya ke Bandung, kita ketemuan yuk. Ngopi-ngopi.”

Saya hampir membalas mereka dengan “Duh, maaf ya. Tapi saya tidak pergi ngopi dengan orang asing.” Tapi saya tidak sampai hati untuk membalas begitu. Karena saya pun terjebak dengan pencitraan klasik. Bahwa jika dikagumi atau disukai oleh orang lain, maka saya harus menjawab mereka dengan baik-baik supaya kesan baik dari diri saya tetap terjaga.

Hal lainnya yang membuat saya terkesima adalah popularitas lalu membawa orang lain “ngaku-ngaku” kenal denganmu. Banyak sekali contoh seperti teman SMP atau SMA yang tiba-tiba menghubungi lagi, padahal ketika masih sekolah dulu hampir tidak pernah mengobrol. Yang lebih mengerikan lagi karena “ngaku-ngaku” kenal hanya dikarenakan berteman media sosial saja. Bahkan belum pernah berjumpa apalagi berbicara secara langsung.

Fenomena popularitas ini semakin miris dengan menjamurnya media sosial yang dapat digunakan untuk eksis. Dimulai dari steller, snapchat, vlog, instagram stories, yang semuanya dapat dipakai untuk menceritakan kisah hari-hari kita secara langsung.

Oke, tidak ada yang salah dengan itu juga. Tetapi kenyataan lainnya adalah bagaimana pemuda-pemudi zaman sekarang membangun dirinya dengan mengejar popularitas secara instan tetapi menjadikannya terasing tanpa ada ikatan yang layak dengan orang-orang di sekitarnya. Bahkan rela menghalalkan segala cara untuk mencapainya.

Karena yang kelihatan, yang populer itu kayaknya lebih asyik. Maka sudah pasti yang populer jauh lebih menggiurkan untuk diajak berteman. Sedangkan yang tidak populer tidak asyik. Padahal belum tentu juga.

Lain halnya dengan jalan mencapai popularitas sendiri. Ada banyak hal besar maupun kecil suka dan duka, yang perlu dilewati untuk sampai di sana. Dan semuanya tergantung dari usaha masing-masing. Banyak usaha, doa, dan kerja keras di balik popularitas. Tetapi kebanyakan orang pemalas maunya ongkang-ongkang kaki lalu bangun keesokan paginya dan populer.

Lagipula popularitas bukan yang paling segalanya dalam hidup kok. Ia pun bukan satu-satunya tujuan hidup. Manusia tidak lantas mati jika tidak populer. Jadi bertemanlah dengan siapa saja, jangan pilih-pilih. Sebab roda kehidupan terus berputar.