Wednesday, November 18, 2015

Belajar Mengenal: Patah





Patah. Adalah rasa yang perlu dikenali. Tetap harus dipeluk dan dijadikan sebagai sebuah pengalaman perjalanan. Seperti salah satu dari bagian tubuhmu, peluk ia erat. Pagi ini saya bangun dengan melihat dua buah mawar putih yang tumbuh segar di halaman. Tetapi ada satu bahkan dua—mawar lainnya yang layu, terkulai begitu saja—patah.

Selama saya hidup, patah bukan hal yang baru. Banyak orang suka mengidentifikasi kata ini dengan “patah hati” atau “kehilangan” atau “ada sesuatu yang terlepas dari dalam dirimu, padahal sebelumnya begitu melekat.”

Ketika bercerita tentang patah, saya ingat Ayah. Ayah mengalami patah (hati) yang begitu tidak dapat dijelaskan ketika Ibu meninggal. Kejadiannya, sudah setahun lebih, tetapi rasa patah itu masih ada. Sampai di sini saya menyadari satu hal: ada rasa patah yang begitu lekat, susah untuk dilepas. Bahkan waktu, mustahil untuk menyembuhkannya.  

Ketika Ibu meninggal, Ayah seperti kehilangan sesuatu yang tidak dapat saya jelaskan. Hanya saja, hal tersebut dapat dirasakan. Saya lalu merasa bahwa, rasa patah atau kehilangan semacam itu, akan terjadi di dalam diri kita, apabila kita memang nantinya akan kehilangan orang yang begitu kita cintai. Maka, berhati-hatilah dengan cinta!

Saya rasa, peringatan ini bukan bermaksud untuk menghindarkan kamu dari cinta dengan segala perasaan perasaanya, tetapi bagaimana kita bisa mengenal cinta dengan sebuah konsekuensi besar bahwa suatu hari nanti, kita bisa saja kehilangan orang yang kita cintai, yang membuat kita patah—begitu patah.

Tetapi apakah ketika ada yang patah, lantas kita kehilangan? Ataukah sebenarnya sesuatu yang kita cintai, begitu melekat, tidak akan pernah hilang dari dalam diri kita. Saya sendiri tidak tahu pasti. Maka, berhati-hatilah dengan cinta dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Karena suatu hari nanti dalam jangka waktu yang tidak ditentukan, hal-hal tersebut akan selesai, disadari ataupun tidak, selesai.

Sampai di sini, ketika memang itu harus selesai, itu bukan salah kamu, salah saya, salah kita yang menjalaninya, melainkan karena waktu yang mengijinkan. Tetapi perlu diingat, cinta, patah—patah, bukan hal yang berbahaya. Mereka sama seperti bagian dari tubuhmu, melekat, ingin dipeluk erat, kenali saja.


Dan jika kamu telah mengenal rasa patah dengan baik, sangat baik. Sebelum rasa patah itu datang, cintailah seseorang sungguh sungguh, penuh penuh, sekarang.

Monday, November 2, 2015

Tentang Hal Hal dan Perasaan Perasaan






photo by Tiara Salampessy. 



Saya tidak akan menyampaikan beberapa hal yang spesifik seperti bagaimana caranya menata rumah supaya tidak berantakan atau bagaimana supaya kamu berhenti merokok, karena asap asap rokok itu akan mengepul, terbang dan menjadi puisi di dinding-dinding. Saya tidak bermaksud mengubah kamu di dalam banyak hal, seperti yang sudah saya katakan bahwa “saya mencintaimu karena kekuranganmu” persoalan bahwa suatu hari nanti saya akan berubah, dan saya tidak akan setuju lagi dengan pernyataan ini, semoga tidak. 

Akhir-akhir ini saya suka sekali bepergian ke suatu tempat sendirian. Maksud saya, saya memang suka sendirian, dan sama sekali tidak terganggu dengan itu. Karena dari dulu hingga sekarang, saya lebih suka melakukan hal-hal menyenangkan sendirian ketimbang beramai-ramai. Bukan berarti saya pelit, melainkan saya hanya menyukainya. Itu saja. Seperti saya menyukaimu, punggung, bibir, kulit, dan hal-hal yang ingin saya rasakan lebih dari sekedar mencium ataupun meraba. Saya ingin tinggal lebih lama. Suatu saat nanti, semoga tidak lama—ataupun jika saya harus menunggu lama, saya harap kamu tidak membagi mereka dengan orang lain. Ataupun kalaupun kamu terpaksa harus membagi mereka dengan orang lain. Tinggalkan saya sedikit. Secuil.

Seperti secuil perasaan perasaan yang datang setiap kali saya begitu berjarak dan hanya dapat menikmatimu melalui bunyi nafas di telepon, bunyi ngorok, dan bunyi “Halo” yang khas atau tawa sederhana, seakan-akan kamu adalah orang yang paling bahagia, rasanya itu saja sudah cukup. Sejauh ini, saya tidak menginginkan yang lain. Saya hanya ingin kamu bahagia. Lebih bahagia, dari hari-hari sebelumnya. Dan suatu hari nanti, saya akan melihat itu terpancar keluar dari matamu. Yang di dalamnya ada bayang-bayang saya, sedang berkaca pada matamu.

Saya dapat melihat bukan hanya kebahagiaan, tetapi juga kesedihan, amarah, kecewa, hasrat, dan perasaan-perasaan lainnya yang tidak dapat dibahasakan dengan kata. Yang dapat kamu bagikan dengan saya, tidak dengan kata, hanya tatapan. Bukankah itu menyenangkan. Persoalan-persoalan seperti ini, tidak dapat dijelaskan banyak melalui tulisan, harus bertemu: berciuman panjang—lama, hingga menelanmu bulat-bulat!