Friday, September 26, 2014

Bahwa Kamu Terlalu Indah







Bahwa kamu terlalu indah. Bahwa saya selalu bilang kepada diri saya sendiri bahwa, “kualitas terbaik dari diri setiap orang itu ada di sini” kata saya sambil menunjuk ke dada.  Bahwa kualitas terbaik dari diri kamu bukan ada pada bagaimana cara kamu berdandan, tetapi ada di sini.

Semoga kamu percaya. Bahwa setiap kali saya hendak mandi, menyikat gigi, dan melihat ke cermin, saya selalu bicara kepada diri saya sendiri lalu menunjuk kepada dada saya sendiri, dan bicara kepada diri saya sendiri bahwa saya juga punya kualitas baik.

Saya adalah orang yang percaya bahwa kamu sangat lembut. Bahwa saya harus berhati- hati denganmu, karena saya takut kamu pecah. Kamu sangat rapuh, saya harus memperlakukan kamu dengan benar. Tetapi di balik kamu yang rapuh itu, kamu sebenarnya adalah pelindung yang kokoh. Bahwa kamu bukan hanya yang pertama, kamu adalah yang melindungi itu.

Saya bisa merasakan bahwa ada mekanisme pertahanan yang biasanya kamu bangun untuk diri kamu sendiri, supaya orang tidak melihat sisi kamu yang lainnya, tetapi jauh-jauh di dalam hatimu saya percaya bahwa kamu itu berbeda. Kamu punya visi. Walaupun pada saat ini mungkin belum kelihatan.


Saya bukan hanya sedang tergila-gila, saya sedang mendoakan kamu setiap hari. Semoga kelak, kita bertemu walaupun saat ini mungkin jalan-jalan kita bercabang.

Wednesday, September 24, 2014

Review Buku Dunia Simon
















Satu buku ini saya temukan ketika sedang nongkrong di Tobucil. Lalu ada beberapa stock buku yang baru datang. Salahsatunya adalah buku kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh Wihambuko Tiaswening Maharsi.

Dunia Simon berisikan cerita-cerita pendek yang membahas kebanyakan mengenai keseharian perasaan perasaan perempuan. Saya senang dengan cara menulis Tias. Ia menghadirkan perasaan perasaan gamang seorang perempuan dengan caranya, tanpa malu-malu.

Sesekali, saya merasa saya adalah perempuan yang dimaksud di dalam cerita-cerita Tias. Ada sebuah cerita yang menjadi favorit saya yaitu ketika seorang perempuan bertemu dengan seorang laki-laki di dalam kereta, saling melirik, dan saling melemparkan pesan melalui mata.

Saya sepakat dengan Tias bahwa hal-hal seperti ini seringkali terjadi. Bertemu manusia-manusia stranger hampir setiap hari di dalam kehidupan kita, kebanyakan hanya berpapasan, kebanyakan bertemu dan saling melihat tiak lebih dari limat menit, ataupun duduk di dalam kereta bersama selama beberapa jam, lalu saling mengirimkan pesan.


Cara Tias bertutur terkadang merepet, tetapi terkadang ia menahan banyak. Hal ini yang membuat buku kumpulan cerita pendek ini menarik untuk dilahap. Sebaiknya membaca buku kumpulan cerita pendek ini dengan ditemani secangkir kopi hitam, sesekali disesap lalu dikulum sebentar di dalam mulut baru kemudian ditelan. Demikian juga sensasi membaca buku ini. Ah, ilustrasi di buku Dunia Simon juga menarik sekali. 

Thursday, September 11, 2014

Sedikit Cerita Tentang Lupita Nyong'o














Ketika hendak bercerita tentang Lupita Nyong’0 tentunya saya dan kamu akan balik lagi dan menonton 12 Years A Slave. Film pertama yang ia bintangi dan kemudian membuat Lupita mendapatkan banyak sekali penghargaan sebagai pemeran pembantu di sana. Lahir pada tanggal 1 Maret 1983. Lupita punya seorang ayah seorang politikus di Kenya. Tentu saja ketika melihat sosok Lupita, tidak heran saya langsung menebak bahwa ia adalah seorang perempuan dari keluarga yang terpelajar dan punya hubungan yang sangat baik dengan ayahnya.

Ketika Lupita mendapatkan perannya di 12 Years A Slave, orang yang pertama kali ia telepon adalah ayahnya. Ia berkata pada saat itu bahwa “Ayah tahu Brad Pitt? Saya akan tampil di layar bersama dengan dia.” Dan ayahnya menjawab “ya, saya tidak kenal Brad Pitt secara personal, tapi saya senang kalau kamu akhirnya mendapatkan pekerjaan.”

Pada akhirnya saya mendengarkan banyak sekali interview Lupita di Youtube. Dan mencari apa sebenarnya yang paling menarik darinya, selain ia adalah lulusan dari Yale School of Drama. Ternyata Lupita mendapatkan telepon untuk audisi dari Steve Mcqueen (sutradara dari 12 Years A Slave) sebelum ia lulus. Lupita memutuskan untuk mengikuti audisi tersebut dan kemudian mendapatkan perannya. Tetapi ternyata jauh sebelum akhirnya ia mendapatkan peran dalam 12 Years A Slave, Lupita pernah bekerja sebagai asisten produksi, dan ketika bekerja sebagai asisten produksi, Lupita harus mengantarkan kopi kepada beberapa artis yang terlibat di dalam film tersebut.

Dalam pidato dan beberapa interviewnya, ketika Lupita ditanya bagaimana ia akhirnya bisa mengeluarkan karakter Patsey ketika bermain di dalam 12 Years A Slave ia akan menjawab dengan salah satu kutipan dari penyair Khalil Gibran “The deeper sorrow carves itself into your being, the more joy you can contain.”

Ia bercerita tentang bagaimana akhirnya ia membaca karakter Patsey lalu menangis dan menangis di dalam hotelnya. Saya membayangkan Lupita memang benar-benar melakukan tugasnya sebagai aktris ketika ia memerankan Patsey. Ia benar-benar menegeluarkan kualitas terbaik dari Patsey ketika memerankan 12 Years A Slave.

Saya memperhatikan Lupita, selain cerdas, ia adalah perempuan yang percaya diri dan penyayang. Sangat kelihatan dari caranya berbicara. Dan hal-hal yang berhubungan dengan percaya dirinya adalah karena Lupita punya hubungan yang baik dengan ayahnya. Oh, tapi bukan hanya itu, Lupita, mendapatkan kepercayaan penuh dari kedua orang tuanya untuk mengejar apa yang menjadi  panggilan hatinya.

Saya senang menuliskan tentang Lupita. Saya tidak punya alasan kenapa saya harus menulis tentang dia, yang saya tahu saya hanya harus menulis tentangnya. Lalu akhirnya saya menemukan jawabannya, ada sebuah kutipan dari Lupita, ia bilang “personally, I don't ever want to depend on makeup to feel beautiful.”


Bukankah Lupita adalah lambang dari kecantikan yang sebenarnya, apa yang tampak sekaligus apa yang tidak tampak?

Wednesday, September 10, 2014

Sedikit Cerita Tentang Minggu Minggu Ini







Sudah hampir dua bulan ini saya tidak lagi siaran. Itu artinya saya sudah tidak terlibat lagi dengan “sistem perkantoran” dan sekarang benar-benar menjadi freelance. Selama tidak siaran, saya mengajar. Fase ini saya sebut dengan fase “memperlambat hidup” karena saya sedang ingin lamban dan tidak ingin tergesa-gesa di dalam hidup.

Ada masa-masa di dalam hidup, dimana kita memang tidak perlu terburu-buru. Dan fase itulah yang sedang saya rasakan saat ini. Pernah pada suatu pagi saya bangun, lalu saya lupa bahwa hari ini adalah hari apa, dan saya harus melakukan apa. Lupakan dulu sejenak. Karena yang terjadi adalah saya bangun malas-malasan, kadang-kadang tidak mandi, lalu pergi ke tempat favorit  saya untuk ngopi, kemudian menghabiskan waktu saya seharian di sana untuk membaca buku.

Dan itu sangat menyenangkan. Karena ada perasaan “penuh” di dalam dirimu. Akhirnya membuat saya berpikir bahwa ada satu momen di dalam hidup, dimana kita memang tidak perlu “melakukan apa-apa” hanya menikmati hidup dengan sebagaimana adanya saja. Mengikuti aliran hidup kita. Oh, bukan berarti saya tidak bekerja sama sekali juga. Saya masih menulis. Saya mengajar juga. Yang hendak saya sampaikan di sini adalah bagaimana ada rasa berani untuk “lebih menikmati hidup” sebagaimana mestinya. Tidak ada beban. Tidak ada tanggung jawab kepada siapapun, melainkan hanya kepada diri sendiri.

Ada beberapa hal yang kemudian saya catat. Dengan pada akhirnya keluar dari pekerjaan sebaga penyiar radio, bukannya meninggalkan mimpi atau passion. Tapi justru break sejenak, sebelum akhirnya melakukan sesuatu yang lebih besar. Saya merasa seharusnya passion tertinggi di dalam hidup manusia, yaitu berbagi.

Kenapa berbagi? Ada hal penting yang kemudian saya sadari bahwa, setinggi apapun kita berlari untuk mengejar “mimpi” kita, tetapi jika kita tidak berbagi, sama saja dengan hidup kita tidak berisi apa-apa. Pada akhirnya “mengajar” menjadi pilihan saya pada saat ini. Karena dengan mengajar saya bisa berbagi sepenuhnya.

Saya akan ceritakan sedikit kepadamu tentang pengalaman mengajar public speaking saya kepada teman-teman difabel. Dalam hal ini beberapa diantara mereka menderita cerebral palsy, tuna rungu, tuna netra. Pengalaman yang menarik ketika mengajar mereka. Saya tidak hanya berbagi ilmu dengan mereka melainkan saya juga belajar banyak dari mereka. Ketika mengajar teman yang tunan rungu, tantangannya adalah saya harus bisa membaca gerak bibirnya, karena saya tidak belajar bahasa isyarat sebelumnya. Sedangkan jika mengajar teman-teman yang cerebral palsy, saya harus selalu mendorong mereka untuk selalu ada di dalam posisi stand by. Karena posisi badan mereka yang tidak bisa tegak lurus.

Hal lainnya yang saya temukan ketika mengajar teman-teman yang difabel ini adalah mereka nyaman dengan diri mereka. Mereka tidak melihat kekurangan fisik mereka sebagai kekurangan. Dibandingkan dengan kita yang katanya “normal” kita malah seringkali terganggu dengan keberadaan fisik kita.

Tetapi lebih daripada apapun, berbagi adalah hal yang menyenangkan. Saya menulis di akun instagram saya pada suatu hari:

Beberapa minggu terakhir ini saya mendefinisikan banyak. Termasuk kata "bahagia" sejujurnya saya bukan orang yang sukar untuk bahagia secara sederhana, seperti melihat sore hari, langit merah, kadang-kadang sudah bikin hati saya berbunga-bunga luar biasa. Lalu saya sampai pada sebuah pertanyaan apa yang paling bikin kamu bahagia? coba hening sejenak, lalu berpikirlah. Setelah lama, akhirnya saya menemukan definisi tertinggi dari bahagia adalah ketika saya berbagi. Titik. Berbagi bukan hanya materi (karena mungkin saya tidak akan mampu) tetapi berbagi pengetahuan, kemampuan, energi, semangat, kesegaran, daya juang, daya tahan, kasih sayang, senyuman, apapun yang sudah diberikan kepada saya cuma-cuma, saatnya saya bagikan itu kepada orang lain.

Sudahkah kamu berbagi?

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...