Friday, July 25, 2014

Dan Kamu Adalah Keindahan Itu







Saya tidak terlalu ambisius. Saya menyenangi sesuatu yang natural dan sederhana saja. Kesenangan saya itu bisa berbentuk punggung, lengan, senyuman, binar mata, warna kulit, apapun yang memberikan keindahan di dalam diam.

Dan kamu adalah keindahan itu.

Kamu bagi sebagian orang adalah sebuah kesalahan. Tetapi bagi saya, kamu adalah sebuah keindahan. Keindahan yang menimbulkan sebuah kata, rindu. Saya tidak hanya rindu untuk menikmati kamu, hanya sedikit—seperti hanya kamu dalam bentuk punggung. Tetapi juga kamu yang versi lengkap. Dengan segala kekurangan dan kesalahan kamu.

Saya tahu bahwa ini tidak mudah. Tidak mudah untukmu. Tidak mudah juga untuk saya. Untuk belajar menerima. Saya menerima kamu dengan seluruh kekurangan serta kelebihan yang kamu punya di dalam sebuah kesederhanaan yang mereka sebut cinta.

Saya mendoakan semua kualitas terbaik dari pencipta dikeluarkanNya kepadamu. Tetapi kenyataannya, saya mendapati kamu sedang dalam sebuah kebingungan entah apa, sedikit sulit untuk menjelaskannya. Kebingungan itu seperti ada di dalam kamu, dan terpancar melalui kesedihan mata kamu.

Lalu satu hal lagi, bahkan di dalam kesedihan: kamu tetap indah.


Semoga kita bertemu di sebuah waktu dimana semua lebih natural dan sederhana. Sesungguhnya Tuhan itu pecinta. Ia lebih paham. 

Wednesday, July 2, 2014

Definisi Sukses dan Bahagia Hari Ini




Definisi sukses hari ini adalah: apa yang dipamer di sosial media. Banyak foto jalan-jalan ke luar negeri yang diunggah. Makan di tempat-tempat yang fancy. Pergi menonton konser mahal lalu fotonya diunggah. Ada di crowd orang-orang terkenal dan merasa bangga. Foto selfie melulu bersama pasangan, karena merasa dirimu “laku”, “tidak sendiri”, dan “berharga”.

Dan definisi bahagia hari ini adalah: apa yang dipamer di sosial media. Ketika berfoto bersama teman-teman segerombolan dengan wajah tertawa, seakan-akan kita adalah orang yang paling bahagia, bebas masalah, bebas beban. Atau foto makanan enak dan mahal yang kita unggah. Atau foto anak-anak kita, yang detik demi detik, setiap perkembangannya harus difoto, lalu kita bagi di media sosial.

Lagi-lagi apa yang kita bagi di sosial media kemudian menjadi sebuah tolak ukur, bagi orang lain, atau bagi diri kita sendiri bahwa “paling tidak hidup gue lebih menyenangkan dari hidupnya si anu.” Atau apapun yang kita lakukan di sosial media, adalah supaya mendapat komentar yang bunyinya “Gila! Enak banget ya hidup lo!”

Lebih dangkal lagi adalah ketika definisi sukses dan bahagia hari ini adalah: ketika apa yang sudah kita pamer di sosial media mendapat jumlah like atau love yang banyak.

Tidak hanya dangkal tetapi juga bodoh.

Sampai di sini, mungkin ada yang protes, dan bilang saya sok tahu dengan semua penggambaran di atas. Terserah saja. Ini memang adalah semata-mata pendapat pribadi saya. Dan jika kamu mau punya pendapat lain atas apa ang terjadi juga tidak apa-apa.

Jika salah satu kebutuhan manusia adalah ingin diterima, dan dihargai, maka beramai-ramailah mempunyai sosial media yang banyak, lalu ciptakan tokoh, ciptakan drama, lalu mainkan sesuka hatimu, dan jadilah tuhan.

Mungkin kamu akan bahagia, dibilang sukses, tapi sejujurnya itu hanya seperti permainan monopoli. Kamu memiliki banyak uang, kamu kaya, tetapi hanya di dalam permainan monopoli.

Fana!


Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...