Wednesday, April 30, 2014

Bacarita Dengan Weslly Johannes




Masih menyangkut puisi dan kecintaannya terhadap puisi. Sebutlah satu nama Weslly Johannes. Saya sendiri belum pernah mendengar Weslly membaca puisi, tetapi dari beberapa cerita teman-teman, cara Weslly menulis lalu membacanya akan membuat kamu yang mendengarkannya bergetar. Mari kita simak obrolan saya dengan Weslly berikut ini:

Kapan mulai menulis puisi?

Beta sudah tidak ingat persis kapan pertama kali beta menulis puisi. Kira-kira SMA kelas 2 atau mungkin kelas 3. Sejauh beta bisa ingat, suatu waktu beta pernah menunjukkan puisi yang beta tulis untuk teman-teman baca pada saat sedang bolos sekolah. Semenjak itu beta sering menulis sesuatu, yang menurut beberapa orang itu adalah puisi. Tetapi entah tulisan-tulisan waktu itu layak disebut sebagai puisi atau tidak. Bahkan sampai malam ini pun beta merasa tidak yakin kalau tulisan-tulisan yang beta tulis itu dapat disebut puisi dalam pengertiannya yang ketat. Beta lebih sering menyebut tulisan-tulisan itu "semacam puisi", atau terserahlah. Apapun namanya bukan masalah, beta tidak memusingkan hal itu. Beta hanya ingin menuliskan apa-apa yang, barangkali, bermanfaat memelihara kehidupan, dan pada saat yang sama membantu beta merenungkan sesuatu secara lebih mendalam, melihat dengan mata hati.

Pernah tembak cewek sama puisi?

Beta belum pernah pakai puisi untuk 'tembak' cewek, sekalipun beta tahu ada banyak nona yang menyukai puisi. Meski begitu, beta sudah beberapa kali bikin "semacam puisi" untuk beberapa perempuan, di antaranya untuk beta punya mama; yang kedua itu untuk mengenang Almarhumah. Pdt. Els Tarumaseley, beta punya dosen; juga untuk Talsea, perempuan yang beta kenal di kampus, dan yang terakhir untuk Petra, seorang pelukis.

Ada buku favorit yang mempengaruhi selama menulis puisi? Ada puisi favorit dari penulis tertentu dan kenapa suka sama karyanya?

Dua pertanyaan ini beta jawab sekaligus, Usi Theo. Seperti biasanya, beta sulit menjawab pertanyaan yang begini sebab beta suka banyak buku, tetapi barangkali buku-buku teologi dan filsafat-lah yang banyak memengaruhi beta selama ini dalam hal menulis puisi atau apa pun. Beta belum banyak membaca buku (kumpulan puisi), terutama jika pertanyaan ini mengharapkan akan keluar nama-nama penyair besar dari beta punya mulut. Sejujurnya, beta suka puisi-puisi karya Rudi Fofid dan Morika Tetelepta. Beta banyak kali membaca puisi-puisi beliau berdua ini sebelum menulis puisi sendiri. Di antara yang banyak itu, beta sering membaca ulang "Untuk Ibu" karya Morika, dan "Pada Ombak Putih-putih yang Datang dari Laut" karya Rudi. Apabila hal itu pertanda dua puisi ini adalah yang favorit, itu karena dua puisi ini selalu bikin beta ingat kepada beta punya mama dan beta selalu melihat beta punya bapa dalam puisi karya Rudi Fofid yang beta sebutkan terakhir.

Bagaimana menurut Weslly tentang minat baca anak anak muda Maluku? Dan apa yang bisa dilakukan soal minat baca yang kurang ini kalau menurut Weslly?

Karena pembicaraan ini masih sekitar puisi, maka apa yang masih bisa dilakukan adalah membuat anak muda Maluku menyukai puisi, menyukai sastra. Barangkali salah satu caranya ialah terus bikin #MalamPuisi, seperti yang sudah Usi Theo dan kawan-kawan di Ambon lakukan beberapa waktu lalu. Mengembalikan puisi sebagai salah satu bentuk ekspresi kehidupan manusia, lepas dari klaim siapa yang penyair dan siapa yang bukan penyair. Di samping itu, beta merasakan ada kebutuhan untuk menambah jumlah perpustakaan di kota Ambon dan kota-kota lainnya di Maluku saat ini, dan bukan melulu pusat-pusat perbelanjaan, juga taman-taman bacaan di pelosok-pelosok negeri ini supaya sejak kecil anak-anak Maluku dapat dibiasakan untuk membaca. Barangkali dari situlah, anak muda Maluku akan mulai gemar membaca.

Ada pesan untuk adik-adik yang mau belajar nulis puisi?

Untuk semua yang mau belajar menulis puisi, tulislah. Belajarlah juga dari karya-karya penyair terdahulu, sambil tetap berusaha menemukan atau menciptakan hal-hal baru dalam karyamu. Mari mengasah kepekaan dengan berpuisi sebab ada banyak nurani yang hampir mati. Selamat merayakan hidup sebagai puisi.

***

Sedikit catatan dari Weslly Johannes:

Sudah pagi hari dan beta balas pesan ini dalam keadaan lelah campur kantuk, tetapi terima kasih banyak, karena Usi Theo menyediakan cara yang bermanfaat bagi beta untuk melewati malam. Beta akan siap-siap berangkat dari Saumlaki untuk kembali pulang ke Makatian, sebuah negeri di Tanimbar Selatan, tempat beta sedang menjalani masa vikariat, masa persiapan untuk menjadi seorang pendeta di Gereja Protestan Maluku. Beta lahir, dan menikmati masa kanak-kanak hingga masa remaja di Nametek, pemukiman baru bagi penduduk Dusun Kayeli Kristen yang direlokasi karena bencana banjir yang membinasakan semua rumah. Daerah itu berada sekitar empat kilometer dari Kota Namlea, Pulau Buru. Masa-masa yang indah sebelum akhirnya harus menyingkir ke Ambon karena kerusuhan yang memuncak dan merambat ke mana-mana. Tamat dari SMA Negeri 6 Ambon, beta pergi belajar teologi di Universitas Kristen Indonesia Maluku. Menjelang akhir masa kuliah, beta berjumpa kawan-kawan dari berbagai komunitas di Kota Ambon dan sepanjang perjumpaan itu kami telah menjadi seperti saudara. Pada waktu itu, beta bersama-sama dengan anak-anak pengungsi dari Kayeli membentuk satu komunitas bernama Gunung Mimpi untuk saling tolong, belajar, dan beraksi bersama-sama. Kegiatan belajar dan berbagi itu masih terus berlangsung hingga sekarang. Pada saat itu pula, beta kembali menulis puisi. Ada banyak semangat yang beta rasakan dari perjumpaan dengan kawan-kawan Bengkel Sastra Maluku, dari Rudi Fofid dan Morika Tetelepta, sampai Revelino Berry dan Wirol Haurisa. Pengalaman paling mendebarkan adalah, oleh Rudi Fofid, beta tiba-tiba 'ditodong' untuk membaca puisi pada malam Pawai Obor Pattimura. Ini kali pertama beta membaca puisi di untuk didengar banyak orang. Baru di Ambon pula beta pertama kali baca puisi yang beta tulis sendiri di depan banyak orang. Pengalaman paling mengasyikkan adalah membaca puisi di #TrotoArt, panggung seni pinggir jalan yang diadakan oleh kawan-kawan Ambon Band Community. Lalu yang paling terakhir, beberapa minggu yang lalu beta sempat membacakan sebuah puisi dari mimbar gereja, rasanya jauh berbeda dari yang di pinggir jalan, namun tetap saja mengasyikan sekaligus mendebarkan dan menggairahkan.

***

Silakan follow Wessly Johannes di twitter @prov_weslly :)


Monday, April 14, 2014

Sebuah Perenungan Hari Ini












Bukan berarti nggak boleh kritis sama hidup. Tapi manusia terlalu kerdil untuk rencana rencana besar terhadapnya. Semua telah diatur.

Bunyi tweet saya. Bukan hanya sebuah tweet, tetapi itu juga dalah sebuah perenungan panjang, ketika akhir-akhir ini saya sering berpikir. Mendadak perenungan itu kok sepertinya menyiratkan bahwa kita “menyerah” terhadap hidup. Seakan-akan terlalu nrimo dan ujung ujungnya tidak mau berbuat apa-apa lagi.

Tetapi akhir-akhir ini saya sedang berpikir tentang sebuah penyerahan hidup yang paling dalam. Bahwa penyerahan hidup ini hanya semata-mata karena saya hanya terlalu kerdil untuk sebuah rencana rencana besar yang akan terjadi di dalam kehidupan saya. Sungguh saya tidak akan pernah mengerti jalan-jalannya. Sungguh saya tidak pernah mengerti karena konon otak saya hanya sebesar bakpau.

Pernahkah kamu bangun di pagi hari dan kamu mendapati dirimu masih diberikan kesempatan nafas hidup, lalu kemudian kamu turun dari tempat tidur, agak sedikit melakukan perenggangan sejenak, minum air putih yang banyak, membuka gorden jendela kamarmu lebar-lebar, melihat pucuk daun hijau di luar jendela kamarmu dan berpikir kenapa kamu masih hidup? ataukah kok bisa ya saya masih dikasih kesempatan untuk hidup? ini mungkin akan menjadi pertanyaan yang paling aneh yang kamu lakukan. Tapi begitulah, hidup tidak datang dengan sendirinya, begitupun mati, semuanya ada yang mengatur.

Sebagai manusia yang terlalu kerdil, ada kemungkinan saya tidak punya hak apa-apa untuk menggugat segala sesuatu yang terjadi. Satu hal yang saya pelajari dan coba renungi selama hari-hari ini adalah: bagaimana saya tetap mensyukuri hidup yang menghampiri saya, dan menyerahkan hidup saya ke tangan sang kuasa dalam-dalam. Ini bukan klise. Ini hanya sebuah keyakinan bahwa, apapun yang terjadi di dalam kehidupan saya tidak lepas dari  kendali dan pemeliharaan yang kuasa.


Saturday, April 12, 2014

Lucu Ketika Hidup Akan Mengajarimu Untuk Jauh Lebih Sederhana














Hidup jauh lebih sederhana ketika kamu memakai sendal jepit dan bercelana pendek. Meminum kopi perlahan. Menggigit kentang yang digoreng dengan kulit, menyikat gigi, keramas, duduk di pojok kafe favorit lalu membaca buku, membaca huruf-huruf: SEMUA DILAKUKAN LEBIH PELAN.

Saya tidak tahu definisi hidup sederhana itu seperti apa. Saya belum punya jawaban akhirnya. Yang saya rasakan akhir-akhir ini, saya menjalani hidup jauh lebih lambat dari sebelumnya. Lebih memilih untuk tersenyum, tidak mudah grumpy. Lebih banyak minum air putih. Kepinginnya tertawa lebih banyak. Menelepon ayah lebih sering. BBM/SMS dengan kakak kakak saya lebih sering. Dan oh, bangun lebih pagi!

Lucu, ketika hidup akan mengajarimu untuk jauh lebih sederhana: kamu tidak berhenti dengan setiap mimpimu, kamu terus bermimpi, dan mencapainya dengan cara-cara yang jauh lebih sederhana.

Saya punya bucket list, saya adalah orang yang bertahan hidup karena mimpi. Saya adalah apa yang saya inginkan. Tetapi akhir-akhir ini, ada sesuatu yang berubah di dalam diri saya. Saya merasa tidak terlalu ngoyo dengan semua itu. Semua bucket list saya berubah menjadi: apakah saya sudah melakukan yang terbaik untuk kesayangan? kesayangan saya adalah mereka yang saya sebut dengan keluarga.

Saya merasa terlalu egois, ketika hidup saya hanya mengejar apa yang menjadi idealisme saya dan melupakan kesayangan saya. Nah, ada saatnya saya berhenti sejenak lalu meng-evaluasi apa yang telah terjadi di dalam kehidupan saya. Saya hanya merasa jauh sebelum-sebelumnya hidup saya agak kurang sederhana.

Apa sih definisi hidup sederhana menurut kamu?


Tuesday, April 1, 2014

Tentang Seorang Perempuan Bernama Ruth





Perempuan yang saya panggil Mama. Ia perempuan berambut keriting dengan hidung mancung dan mata besar dengan sinarnya yang lembut. Ia senang bernyanyi pada tiap kesempatan. Dengan senyum lebarnya, ia yang paling pertama mengancungkan tangan, ketika kebaktian Minggu dan pendeta bertanya “apakah ada solo atau paduan suara?” dengan lantang ia akan menjawab “saya.”

Perempuan yang ceria, tidak pernah mengeluh tentang kondisi badannya yang sudah semakin renta. Ia hanya terlalu bersemangat, melayani panggilan Tuhan di dalam hidupnya untuk menjadi seorang pendeta. Ia masih suka dipanggil melayani kebaktian walaupun jarak yang ditempuh terkadang jauh.

Ia yang menemani saya pergi beli beha untuk pertama kalinya. Dan bukan mengajarkan saya bagaimana pintar memasak di rumah, tetapi bagaimana jago berbicara di depan umum. Bukan hanya ayah. Mama yang adalah seorang pendeta pun adalah contoh bagaimana saya berani berbicara di depan umum.

Saya lupa ketika itu saya umur berapa, seingat saya sudah berusia sekolah, ketika sudah di Ambon dan kedua orang tua saya masih melayani di Larat, Tanimbar Utara, mereka mengunjungi kami hanya jika ada jadwal kapal ke Ambon. Dan setiap kali hendak berpisah lagi, karena mereka harus kembali ke Larat. Saya suka ngambek. Saya benci sekali perpisahan. Menurut saya yang masih kecil pada waktu itu, kenapa sih musti kembali lagi ke Larat dan meninggalkan kami, anak-anaknya di Ambon. Tetapi ketika dewasa saya mengerti bahwa mereka melakukannya karena pelayanan. Karena cinta terhadap Tuhan.

Saya tidak lupa ketika harus belajar mengelola uang yang ada sedikit sedikit ketika akhirnya sekolah di luar dan merantau, Mama selalu menasihati bahwa gaji pendeta itu gaji kecil, katong ini hidop hanya dari orang pung uang-uang kolekte. (kita ini hidup hanya dari orang punya persembahan di gereja).

Mama juga adalah seorang “pengumpul dokumentasi” yang handal. Ia senang merayakan momen. Ia bukan fotografer, tetapi kemanapun ia pergi, ia selalu menyempatkan untuk memotret apapun. Album kami, 3 bersaudara perempuan ketika bayi hingga wisuda, menikah, Mama mendokumentasikannya dengan lengkap.

Mama juga adalah seorang pejuang, sebagai pendeta, sebagai pelayan jemaat, ketika kerusuhan dan Jemaat Kezia yang tadinya berlokasi di kebun cengkeh harus keluar, ia dengan timnya mengusahakan untuk mencari lokasi baru, akhirnya lokasi Jalan Baru, Farmasi Atas, Dusun kate kate, Desa Urimessing yang kini kami tinggali, adalah salah satunya perjuangan dari Mama saya.

Ia mencintai ayah. Kisah cinta mereka dimulai sejak di bangku kuliah. Mereka adalah sepasang kekasih yang saling melengkapi. Tidak hanya itu mereka adalah sepasang sahabat. Karena merekalah, saya belajar bahwa pada akhirnya setiap kita tidak hanya membutuhkan pasangan. Tetapi setiap kita membutuhkan sahabat: tempat berbagi, tempat bercerita.

Mama Ruth dengan pertandingannya telah usai. Untuk itulah ia akhirnya dipanggil pulang. Tidak ada yang terlalu cepat atau tidak ada yang terlalu terlambat. Waktu Tuhan selalu tepat.