Wednesday, November 27, 2013

Setiap Orang Bisa Saling Mengirimkan Pesan





Temanya minggu ini adalah: setiap orang bisa saling mengirimkan pesan. Setiap orang adalah pembawa pesan bagi yang lainnya. Asalkan kita bisa buka hati kita dan merasa. Hal ini bisa disebut sebagai tanda, signal, frekuensi, “membaca” atau apapun istilahnya.

Saya selalu percaya apapun yang disebut sebagai “kebetulan” sebagai sesuatu yang bukan kebetulan. Mengutip sebuah bacaan: jika kebetulan kebetulan tersebut terlalu banyak terjadi, apakah masih bisa disebut “kebetulan.”

Sampai di sini, saya selalu melakukan itu kepada diri sendiri. Mengecek kebetulan dan meminta tanda. Sedikit absurd memang. Jika saya menjelaskannya: ini akan seperti, setiap hari, ketika saya hendak beraktivitas di pagi hari, mood apapun yang sedang saya lalui, saya selalu memejamkan mata saya dan meminta paling tidak 3 tanda.

Ketika saya membuka mata, saya akan menemukan tanda-tanda itu dari sticker yang ada di mobil yang lewat, tulisan pada papan iklan, atau bisa jadi pada tanda smile berwarna kuning yang terdapat pada helm pengendara motor.

Sebut saya gila. Tetapi jika kamu baca kalimat pembuka saya di atas bahwa “setiap orang bisa saling mengirimkan pesan” dan kamu percaya, maka mungkin kamu juga tertarik untuk melakukan hal yang sama.

Saya masih ada di dalam penelitian saya tentang hal ini. Bahwa pesan-pesan itu akan datang. Bahwa di satu titik, ternyata kita sedang berada dengan frekuensi yang sama dengan orang lain. Yang membuat kita akhirnya connecting.

Saya suka mengirimkan sinyal dan pesan saya kepada orang lain dalam diam. Kamu juga bisa melakukannya. Bisa jadi orang tersebut adalah orang yang kamu suka. Atau yang pernah ada di masa lalu kamu. Atau orang yang mungkin akan ada di masa depan kamu sekaligus. Pejamkan matamu sebentar, bayangkan orang itu sebentar, kemudian kirimlah pesanmu lewat hatimu.

Sunday, November 24, 2013

Sedikit Cerita Tentang Gita Wirjawan







Jarang sekali menemukan seseorang dengan pribadi yang terbuka. Dan pintar bermain musik. Saya pernah melihatnya secara langsung di sebuah konser yang diadakan di Surabaya pada waktu itu. Ia memiliki senyum manis. Dan ketika itu sedang duduk di belakang piano besar. Ternyata ia bernyanyi malam itu. Dengan dentingan piano dan suara yang merdu.

Suasana pada malam itu sangat syahdu ketika seorang Gita Wirjawan akhirnya menghibur setiap orang yang hadir dengan suara dan dentingan pianonya. Saya pikir ia adalah seorang musisi yang “tersesat” di dunia politik. Atau kebalikannya ia adalah seorang politikus sekaligus musisi, yang nantinya mampu menyentuh hati rakyat dari nyanyian. Atau terserah kamu mau menilainya sebagai siapa?

Dan ternyata Gita Wirjawan Berhasil meraih beasiswa musik untuk menempuh jenjang pendidikan tinggi, namun atas kehendak orang tua yang berkeinginan lain, Gita mendapatkan Bachelor Degree in Accounting (BBA) di University of Texas, Austin, Amerika Serikat pada tahun 1988. Lulus sebagai akuntan, Gita meraih lisensi Certified Public Accountant untuk negara bagian Texas.

Untuk memperluas pengetahuannya, Gita melanjutkan pendidikan Master of Business Administration (MBA) di Baylor University, Amerika Serikat, pada tahun 1989 dan Master of Public Administration (MPA) di Kennedy School of Government, Harvard University, Amerika Serikat pada tahun 2000. (sumber: gitawirjawan.com)

Akhirnya setelah pulang ke Indonesia, ia akhirnya bergabung dengan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II sebagai Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal dan ia sukses membuktikan kepemimpinannya dengan meningkatnya realisasi investasi dan dianggap sebagai pemasar andal. Dan kemudian menjabat sebagai Menteri Perdagangan Indonesia. Sikapanya juga sangat kelihatan tegas apalagi menyangkut produksi impor dan tidak mau jika impor kita mengalami ketergantungan.

Tidak heran jika Gita Wirjawan patut dipertimbangkan untuk Indonesia yang jauh lebih baik. Sepak terjang dan latar belakangnya membuat saya berpikir bahwa ada sebuah harapan dalam diri seorang Gita Wirjawan. Dengan salah satu misinya yaitu: Mewujudkan Indonesia yang berdaulat, memiliki sumberdaya manusia yang unggul, berlandaskan semangat kemandirian dan jati diri “bangga berbangsa”

Semoga ini adalah semangat untuk mengembalikan rakyat Indonesia kepada jati dirinya. Kepada rasa percaya diri bahwa bangsa kita jauh lebih besar dari bagaimana keaadaan kita selama ini. Dan semoga kita tidak kehilangan mimpi-mimpi kita.
    


Thursday, November 21, 2013

#perempuansoreBikinKuis



Siap-siap dapatkan notebook magic quotes perempuansore! Caranya dengan ikutan kuis dari saya berikut ini:


1. Pilih satu tulisan favorit kamu dari blog perempuansore!
2. Dan tulislah 10 alasan kenapa kamu menyukai tulisan itu
3. Silakan posting link tulisan kamu pada comment di bawah postingan ini
4. Batas posting adalah 21 Desember 2013
5. Satu review yang beruntung itu akan saya publish di blog perempuansore 


salam hangat. 

#SemacamEvent






come and see you!

Thursday, November 14, 2013

Sebuah Pengalaman Relijius Bahwa Kita Tidak Lupa Untuk Selalu Bersyukur






“Yang saya naksir dari kamu adalah you are what you are.”

Ini adalah sebuah pesan yang saya dapat dari seorang sahabat. Ia perempuan. Kami bersahabat sejak SMA, dan kini kami masih berteman baik, bertukar cerita dan berbagi kabar.

Jika kata sahabat saya yang lain “Kamu itu kalau lagi marah, mukanya langsung kelihatan. Pun kalau lagi sedih. Apalagi jatuh cinta! Kamu itu terlalu ekspresif.”

Saya begitu. Saya rasakan segala sesuatu yang ada di dalam. Saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri. Saya tidak bisa membohongi perasaan saya. Bahkan ekspresi muka saya akan menujukkan seperti apa saya.

You are what you are, yang sahabat saya maksud di sana bukan hanya sekedar ungkapan be yourself yang seringkali kita dengar. Tetapi lebih kepada bagaimana kita jujur. Bagaimana kita merayakan diri kita secara natural. Secara otomotis menerima diri kita apa adanya. Tidak perlu bersusah payah untuk menjadi seperti orang lain.

Saya dulunya tidak menyukai rambut keriting saya. Saya meluruskannya sampai beberapa kali. Tetapi saya berubah ketika saya melihat diri saya berbeda, bahwa rambut keriting yang saya miliki, adalah identitas.

Saya dulunya tidak menyukai bagian dada saya yang rata, tetapi akhirnya saya bersyukur banyak bahwa dengan ukuran dada yang tidak terlalu besar. Saya bisa bergaya dengan beha yang warna warni dan lebih gaya. Dan harganya jauh lebih murah, tentunya.

Saya dulunya tidak menyukai ini itu blah blah blah.

STOP.

Kalimat di atas seharusnya diganti dengan: saya menyukai semua tentang diri saya. Bahwa ungkapan kita menyukai diri kita adalah sebuah pengalaman relijius, bahwa kita tidak lupa untuk selalu bersyukur.


Tuesday, November 12, 2013

Kamu Tidak Pernah Jatuh Cinta Dengan Orang Yang Salah







Akhir-akhir ini saya sedang berpikir bahwa sebenarnya kehidupan terdiri dari pola-pola. Di dalam percakapan saya dengan seseorang di masa lalu, kami sepakat bahwa cinta kami adalah sebuah pola. Bahwa sebenarnya kami hanya mengulangi kisah cinta yang dulunya pernah terjadi oleh orang-orang di atas kami.

Saya pernah melakukannya. Jatuh cinta dengan orang yang salah, katanya. Tetapi saya tidak percaya. Saya tidak percaya bahwa ada kesalahan ketika kita mencintai seseorang. Saya tidak percaya bahwa terdapat sebuah “kesalahan” ketika kita mencintai orang lain. Seperti sebuah “kesalahan” pada lembaran jawaban siswa. Dan ketika salah, guru akan menandainya dengan bolpoin merah.

Hanya saja saya tidak suka kalimat ini: Jatuh cinta dengan orang yang salah.

Kalimat tersebut terlalu egois. Seakan-akan kita tidak pernah melakukan kesalahan di dalam hidup. Kalimat itu juga seakan menyiratkan bahwa, jika kesalahan itu ada di pihak kita, selamanya kita yang benar, dan pihak sebaliknya yang salah.

Bagi saya, setiap orang terbuat dari kesalahan. Tidak ada yang berhak menghakimi orang lain. Saya pernah ada di dalam kondisi yang “salah” dan saya dihakimi. Saya berpikir ulang, kenapa saya dihakimi? dan yang parahnya adalah orang tersebut tidak hanya menghakimi saya. Ia juga menghakimi orang-orang yang berada di dekat saya.

Saya belajar beberapa hal dalam kondisi ini: ketika kamu dihakimi oleh orang lain, sebenarnya orang tersebut sedang menghakimi dirinya sendiri. Itu adalah perwakilan dari isi hatinya. Jangan terlalu dekat dengan orang yang suka menghakimi orang lain.

Kamu tidak pernah jatuh cinta dengan orang yang salah. Tidak ada satu orang pun di bahwa langit ini yang punya kuasa untuk mengatur, yang itu “salah” yang itu “benar” atau yang itu “tepat” karena konon hati manusia itu terlalu dalam untuk dinilai hanya dari permukaannya.

Friday, November 8, 2013

Generasi Digital Adalah Generasi Pamer



Sadar atau tidak sadar, banyak orang yang mengejar untuk kelihatan “keren” coba perhatikan sekelilingmu, semua orang berlomba-lomba untuk punya gadget terbaru, semua orang aktif di sosial media untuk, memosting foto sedang liburan kemana, atau nongkrong sama siapa, atau meng-RT pujian ketika dipuji di twitter, bahkan yang lebih dangkal adalah berlomba-lomba melakukan “unjuk gigi pencitraan” supaya mendapat banyak follower.

Lain halnya ketika kita bermain path atau instagram, kita akan memosting pose-pose foto kita dengan berbagai gaya, dalam rangka mendapat pujian atau mengejar-ngejar komentar yang bikin hati kita senang. Ya ujung-ujungnya supaya kita dibilang cool. Kita dibilang keren. 
Yang muncul dalam kepala saya ketika melihat fenomena ini adalah: generasi digital adalah generasi  pamer.

Tapi selamat datang di era digital, teman-teman. Dan selamat datang di era “ketika lo nggak pamer, lo nggak keren.”

Oke, tulisan ini dibuat bukan untuk menegur siapa-siapa. Tulisan ini dibuat untuk menegur diri saya sendiri yang terkadang juga melakukannya.

Berbeda dengan jaman dulu, ketika banyak orang tidak banyak bicara, tetapi mereka menghasilkan sesuatu. Banyak musisi yang kemudian bisa menghasilkan lagu bagus tanpa perlu berkoar-koar dulu di twitter. Banyak penulis yang menghasilkan buku bestseller, tanpa perlu pamer dia begadang malam-malam ketika menuliskannya. Banyak fotografer yang sukses dengan pekerjaan memotretnya, tanpa perlu “pamer” dulu di facebook, instagram, dlsb.

Sedangkan jaman sekarang mau liburan saja, harus pamer dulu dengan status “Lagi packing nih.” Ujung-ujungnya pengin ditanya, “mau kemana sih?”

Yang lagi kencan sama pacarnya, harus pasang status “malam mingguan dulu ya, sama hunbun.” Ujung-ujungnya pengin dikomentari, “Ejieee.”

Atau status sok sibuk yang biasanya kita sengaja lakukan, contoh: “duh, meeting to meeting nih. Sudah kopi ke berapa ya.” Ujung-ujungnya pengin dikomentari, “Sukses ya!” atau “Semangat!”

Hal lainnya, ketika kita pasang status nowplaying sebisa mungkin kita cari musik yang lagi update banget dan kalau bisa yang susah, supaya ketahuan kalau kita memang mendengarkan musik-musik yang “keren” dan tidak biasa.

Ternyata semua yang kita lakukan di atas ini hanya untuk satu kata: pamer. Kita adalah generasi yang senang memamerkan hal-hal yang terlalu dangkal untuk berlomba-lomba disebut “keren.”

Suatu hari obrolan saya dengan beberapa sahabat tentang betapa banyak orang saat ini banyak yang berlomba-lomba untuk terlihat keren dengan hal-hal yang dangkal.

Mereka lupa bahwa orang-orang “keren” tidak pernah berupaya dengan keras untuk “berteriak” kepada dunia bahwa ia sudah melakukan sesuatu.  Orang “keren” yang sebenar-benarnya “keren” tidak perlu pamer.


Tuesday, November 5, 2013

Bercerita Dengan Erni Aldjai



Ketika saya dipilih untuk menjadi Host untuk Blog Guest tulisan dari penulis Gagas Debut, untuk Novel Kei karangan Erni Aladjai, maka saya berniat untuk bertanya beberapa hal kepada dia melalui email yang saya kirimkan. Kurang lebih, ini beberapa pertanyaan saya untuk Erni, selamat membaca.


Mengapa memilih Kei?
Sebab Kei punya budaya yang menarik. Waktu saya membaca adat dan budaya Kei, saya langsung jatuh cinta dengan ajaran leluhurnya.

Ada kesulitan tidak ketika riset tentang falsafah dan adat istiadat di Kei?
Kesulitannya saya tidak tahu siapa orang yang harus saya wawancara untuk berbicara tentang Kei, kemudian riset novel ini, saya alihkan dengan riset pustaka saja. Setelah menulis ‘Kei’ justru terbuka jalan untuk mengenal orang-orang yang tahu tentang Kei. Alhamdulilah.

Bab berapa dari buku ini yang kamu rasa berat sekali ketika menuliskannya?
Pada Bagian Satu ‘Malapetaka’ bagaiamana perang saudara itu merenggut banyak hal dari kedua belah pihak. Pada bagian ini juga saya harus menuliskan ‘mayat-mayat’ korban kerusuhan. Ini yang paling berat.

Saya suka sekali kisah cinta Namira dan Sala di buku ini, dan saya kepingin tahu bagaimana pendapat kamu tentang jatuh cinta berbeda agama?
Salah satu yang tak bisa dikendalikan adalah kepada siapa kita jatuh cinta. Ini seperti ‘hati’ itu punya Tuhan sendiri. Gus Dur pernah ditanya, apakah menikah beda agama boleh? Gus Dur bilang: Tentu saja boleh. Karena yang melarang adalah mereka yang mengajinya belum khatam, baru sampai ke al-Bhaqarah, belum memahami al-Maidah“. Saya suka jawaban Gus Dur ini.

Jika kamu punya satu orang kesayangan yang ingin kamu ucapkan terima kasih dalam pembuatan buku ini, siapa dia dan kenapa?
Pacar saya, sejak awal dia mendukung saya menulis ‘Kei’. Dia mengirimkan buku-buku tentang Maluku ke Sulawesi untuk saya pelajari. Dia duduk berjam-jam membaca ‘Kei’ di saat saya lelap, dan kemudian keesokannya dia memberi beberapa saran. Dia juga yang memprintkan naskah Kei, memasukkannya dalam amplop dan mengirimkannya ke panitia DKJ.

Apakah ada musik yang jadi soundtrack ketika menuliskan Kei?
Maksud Kak, Kei terinspirasi dari sebuah lagu ya? Kalau itu maksudnya, tidak. Tapi kalau maksudnya saat menulis ‘Kei’ saya mendengar musik saat menuliskan ‘Kei’, itu ada. Saya mendengar lagu-lagu Iwan Fals, Kla Project, Slank dan Carla Bruni.

Kira-kira jika Namira dan Sala jadi menikah, kamu kebayang nggak nama anak mereka siapa?
Jika Sala dan Namira menikah, nama anaknya Samira ini kalau perempuan. :P. Tapi kalau lelaki : Kai. Kai artinya laut.

Ada "filosofi hidup" yang ingin dibagi?
Kita berbuat baik pada orang lain, bukan karena agamanya. Tapi karena seharusnya itulah yang kita mesti lakukan sebagai manusia. (Norak ya kak? jangan ketawai ya kak.)

Terima kasih Erni untuk waktunya. 

Silakan follow Erni di @ErniAladjai dan baca tulisannya di pohonsagu.blogspot.com 




Sejumlah Alasan Kenapa Saya Mengangkat Lokalitas dalam Novel ‘Kei

Oleh : Erni Aladjai


Saya menyukai novel. Saya mulai membaca novel sejak usia saya delapan tahun.  Tentu novel anak-anak yang saya baca ketika itu. Membacanya masih di perpustakaan sekolah. Saya tinggal di pulau kecil. Terpencil. Ribuan mil jauhnya dari toko buku.

Seingat saya, di tahun 90-an, novel-novel banyak mengangkat lokalitas. Sayangnya, saya tidak mengingat nama penulisnya. Saya hanya mengingat latar novel-novel yang saya baca. Salah satunya berlatar di sebuah desa yang terletak di kaki Gunung Tambora. Novel lainnya, bercerita tentang satu keluarga Jawa yang bertransmigrasi ke satu desa di Sumatra. Meski ingatan saya samar, namun saya ingat betul, kebanyakan novel anak-anak di tahun 90-an berlatar daerah.

Sejak itu, saya menyukai latar-latar lokalitas. Saya menyukai cara para penulisnya menggambarkan setting novelnya. Ada bunga-bunga. Hamparan sawah. Jejeran pohon nyiur. Hamparan laut. Gemericik sungai. Burung-burung pipit. Sekawanan lumba-lumba. Dan matahari pagi yang menembus atap rumbia rumah-rumah di desa. Membaca latar yang dideskripsikan pada masa itu membuat saya merasa kampung sayalah yang mereka tulis.

Seiring waktu, saya belajar menulis. Saya mencoba menulis novel-novel berlatar kota-kota besar, sayangnya saya tidak pernah berhasil. Saya rasa itu karena saya adalah anak kampung. Saya lebih banyak merekam panorama desa ketimbang kota.

Suatu hari, ada teman saya bercerita. Dia seorang pekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat. Dia baru saja mendampingi sejumlah anak remaja kota tur di Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan. Di sana ada Suku Kajang yang memperlakukan hutan dengan baik. Teman saya ini gemas, melihat perilaku anak-anak kota. Mereka tak mengenal pohon kopi. Mereka terheran-heran melihat pohon cengkeh. Ketika dia menceritakan itu pada saya, saya berpikir hal-hal yang terbaikan oleh generasi mudah adalah mendalami wawasan nusantara. Di sinilah, saya kira, pentingnya novel-novel yang mengangkat budaya lokal. Sastra jangan sekadar berbicara tentang percintaan dua remaja yang bertemu di lapangan basket. Atau bertemu di dunia maya. 

Sastra untuk remaja harus lebih dari sekadar percintaan, persahabatan, atau motivasi-motivasi yang mendidihkan darah muda.

Untuk itu, inilah sejumlah alasan saya kenapa mengangkat lokalitas (baca: daerah) :

# Sama seperti sebagian orang, saya sudah jenuh membaca novel-novel berlatar kota besar yang membosakan. Perebutan harta. Pernikahan yang gagal. Percintaan lelaki kaya dan gadis miskin. Seksualitas kaum urban. Maka cara saya, adalah dengan menulisnya. Sebab saya tak punya hak untuk memberitahu para penulis agar menulis sesuai keinginan saya.

# Indonesia adalah Papua, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara. Tapi amat sulit menemukan, kota-kota itu dalam novel-novel di Indonesia. Puji Tuhan, belakangan ini, latar-latar lokal sudah banyak diangkat dalam novel Indonesia.

# Belajar dari penulis-penulis China, kebanyakan justru mereka lebih bangga menulis tentang budaya-budaya dan sejarah daerahnya.  Di Indonesia, saya lihat, kecenderungannya, orang lebih bangga jika bisa menulis tentang latar-latar di luar negeri. (Saya sendiri, ingin punya satu saja novel berlatar luar negeri.) Dan latar luar negeri, selalu punya banyak pembaca di Indonesia. Ini sama halnya kita lebih menggemari makanan-makanan barat ketimbang Soto Betawi atau Sayur Asem.

# Daerah selalu kaya akan kearifan lokal. Belajar kearifan lokal dan adat istidat daerah tertentu, saya percaya bisa memanusiakan manusia.

# Berbagi cakrawala daerah pada yang mau menerimanya. Pada mereka yang ingin berwawasan nusantara.

Dalam novel saya ‘Kei, Kutemukan Cinta di Tengah Perang’, saya mengangkat adat orang Kei—Maluku Tenggara. Bagaimana adat bisa meredam konflik persaudaraan di sana. Saya bukanlah orang Maluku, tapi saya ingin belajar tentang Maluku. Saya ingin belajar tentang Jawa. Tentang Bali. Atau tentang Papua.

Ada kebanggaan tersendiri, jika saya lebih tahu tentang tarian daerah ini, makanan tradisional ini, perayaan budaya ini, adat ini, bahasa daerah ini. Kadar kebanggaanya berbeda, dari pengetahuan yang global atau internasional.