Thursday, August 2, 2012

All Saints, Never Ever.





“To find peace of mind. The happy mind I once owned, yeah.” -Never Ever, All Saints

Saya lahir dan besar di sebuah kota mungil yang cantik. Ambon, Maluku. Maluku adalah negeri raja-raja. Konon arti itu sendiri berasal dari namanya. Karena roots atau akar Maluku adalah raja-raja. Hal tersebut menurun kepada kebiasaan masyarakatnya merayakan sesuatu.

Apa sih yang biasanya dilakukan oleh raja-raja ketika merayakan sesuatu? mereka merayakannya dengan membuat pesta. Menghidangkan makan dan minum yang berlimpah ruah. Juga berdansa. Ya, kami berdansa. Kami menari.

Beberapa tarian gaya Maluku antara lain: wayase, katreji, polonaise, yospan. Dan terkadang kami menari dalam jumlah besar. Laki-laki dan perempuan berpasang-pasangan menari. Kebiasaan menari ini biasanya dilakukan jika ada sebuah perkawinan besar, atau pesta ulang tahun. Pada dasarnya kita menari ketika kita sedang merayakan sesuatu.

Berdansa.

Selalu sensual. Karena ketika berdansa, kita menahan sesuatu. Hanya kulit dan kulit saling bersentuhan. Hanya mata saling memandang. Tapi kita tidak melakukan yang lebih dari itu. Ada sensasi di dalam menahan ‘rasa ingin’. Dan hal itu yang biasanya akan kita pelajari ketika kita sedang berdansa.

Ketika berdansa mungkin yang ingin kamu lakukan adalah mencium. Tapi kamu menahannya, hanya karena kamu masih terlalu muda untuk melakukannya. Dan kamu takut jika ada yang memergokimu dan melaporkannya kepada ayah.

Ketika itu lagu Never Ever dari All Saints sedang berjaya. Bahkan menjadi salah satu lagu kojo di pesta-pesta pada jaman itu. Lagu yang berdurasi cukup panjang ini akan membuatmu akan berpelukan lama dengan seseorang dan merasakan hangat kulitnya. Dan menahan hasratmu untuk menciumnya.

Sometimes vocabulary runs through my head. The alphabet runs right from A to Zed. Conversations, hesitations in my mind. You got my conscience asking questions that I can't find.

Ketika merasa seperti ini. Yang kamu perlukan adalah berdansa. Merasakan hangat kulitnya saja. Dan menahan dirimu dari mencium.

Wednesday, August 1, 2012

Lifehouse, You and Me.





"Nothing to prove, and it's you and me and all other people. And I don't know why, I can't keep my eyes off of you. What day is it? and in what month? This clock never seemed so alive." You and Me, Lifehouse. 

Lagu ini mengingatkan kembali. Semacam tanda. Membawa saya kembali ke waktu-waktu yang sudah jauh berlalu. Ketika saya dapat mengingat segala sesuatunya dengan detail. Bagi saya detail itu penting. Hal-hal kecil yang bagi orang lain tidak penting.

Bahwa jatuh cinta adalah tentang detail. Bagaimana kamu mengingat sepatu kesayangan. Bau kesayangan. Tatapan mata kesayangan. Cara mengerutkan alis. Cara berbicara. Intonasi. Respon. Semua yang pernah saya catat dalam kepala.

Bahwa ketika saya jatuh cinta saya mencatat segala sesuatunya dengan detail dalam kepala saya. Mengingatnya. Dan tidak pernah lupa. Ketika semalam ketika saya mendengar lagu itu kembali. Lifehouse. You and Me. Ada rona hangat yang tiba-tiba menjalar dari hati ke pipi saya. Saya tidak dapat melihat warnanya apa. Tapi saya bisa merasakan hangatnya dengan jelas. Saya membaca itu sebagai tanda. Bukan banyak tanda. Tetapi hanya sebuah tanda.

Jauh di dalam hati saya yang paling dalam saya percaya bahwa hidup adalah persoalan membaca tanda. Tinggal bagaimana saya menjadi pintar dan membaca tanda-tanda yang datang kepada saya. Masalahnya kadang-kadang saya tidak terlalu pintar.

Tanda yang datang itu seperti teka-teki. Puzzle kecil-kecil. Yang akhirnya akan saya susun sebagai apa. Disesuaikan.

Paling tidak begini, saat ini saya perlu menyiapkan hati ketika tanda-tanda itu datang menghampiri. Saya harus pintar membacanya. Mungkin tanda itu berupa sebuah lagu yang singgah pada kupingmu pada suatu malam. Lifehouse. You and Me. Dengan pemandangan Bandung di malam hari. Lampu-lampu malam di kejauhan. Ada perasaan hangat yang kemudian muncul dari perutmu ke hati lalu ke pipi.

Hidup adalah persoalan membaca tanda. Setuju-setuju atau tidak setuju. Tanda-tanda itu akan menghampiri siapapun yang percaya. 

Personal Soundtrack Project




Lama tak membuat project di blog. Tiba-tiba terbersit, keinginan untuk membuat project itu muncul lagi. Diawali oleh sebuah project buku yang sedang dikerjakan oleh sahabat saya Maradilla yang bertemakan “Personal Soundtrack” cukup menarik juga pikir saya untuk membuat project ini di blog.

Menulis tentang Personal Soundtrack-mu. Artinya kamu bisa menulis tentang lagu-lagu kesayanganmu yang sepanjang hidupmu selalu terngiang-ngiang. Bisa lagu dari genre apapun. Jadi kamu bisa menceritakan tentang bagaimana lagu tersebut mempengaruhi dirimu. Menimbulkan kenangan pahit maupun manis. Atau menimbulkan kenangan kepada masa kecilmu. Intinya berbagi tulisan lewat lagu yang kamu dengar. Atau menulis lagu yang punya arti besar dalam kehidupan kamu.

Maka lahirlah project ini: #30HariPersonalSoundtrack

Saya akan mencoba menulis 30 lagu sepanjang bulan Agustus ini. Semoga ini juga menginspirasimu untuk menuliskan lagu kesayanganmu juga.

Maka menulislah dan jangan bunuh diri.

love.

Kolaborasi dengan Wawbaw


Awalnya dari kesukaan saya terhadap totebag. Kenapa karena simpel dan terkesan santai. Nyaman untuk dibawa kemana-mana. Nah, waktu itu saya pernah lihat totebag bikinan Wawbaw di Tobucil. Tapi giliran mau beli, eh sudah keburu habis.

Nah suatu malam, saya iseng nge-mention Wawbaw dan bilang bahwa saya ingin berkolaborasi dengan dia. Dan gayung bersambut Wawbaw juga oke. Maka akan lahirlah totebag kolaborasi saya dan Wawbaw. Desain totebag dari Wawbaw dan quotes dari perempuansore.

Jika kamu ingin pesan, silakan email nama, nomer telepon, alamat, ke perempuansore@yahoo.com atau boleh sebelumnya mention ke @perempuansore.
Harga totebag 60 ribu, belum termasuk ongkos kirim.

Mari-mari pesan J

Seperti ini desainnya. 






Semoga kamu suka.

love. 

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...