Friday, February 10, 2012

The One That Got Away.




Ada bekas lipstik di cangkirmu.

“Bekas siapa?” tanya saya.


Kamu tidak menjawab pertanyaan saya. Matamu menerawang jauh. Menyulut rokok dalam-dalam. Dan mengetukkan jari-jarimu ke meja yang ada di depan. Kamu masih diam. Banyak sekali pertanyaan di kepala saya saat ini yang ingin saya tanyakan. Tetapi saya tahan.

“Saya berniat untuk tinggal di Ubud. Mungkin beberapa bulan. Saya butuh sendiri.” kata saya kemudian memecah keheningan kami. Kali ini akhirnya kamu mengangkat muka dan menatap saya.

“Untuk apa ke Ubud?” akhirnya itu yang keluar dari mulut kamu. Lalu melanjutkan menyulut rokokmu semakin dalam. Ada perih sekilas dari matamu. Pertanyaan itu akhirnya membuat saya terdiam. Saya sendiri tidak berani menjawab.

“Saya ingin meninggalkanmu. Saya ingin kamu bahagia.”

Ingin sekali saya menjawab begitu. Tapi saya tahan. Karena jawaban itu seperti membunuh diri saya sendiri. Membunuh rasa cinta yang telah saya simpan sudah berapa lama. Entah. Seharusnya saya jujur saja. Seharusnya saya mengatakan perasaan saya yang sebenarnya. Bahwa hubungan kita ini seharusnya sudah lebih dari sekedar berteman dan tidur bersama. 


Hubungan macam apa ini?

Saya menatap matanya lagi. Berharap saya berani mengungkapkan yang sebenarnya.

“Saya sayang sama kamu. Saya sebenarnya tidak ingin ke Ubud. Saya ingin di sini saja. Menemani kamu menyelesaikan pameran gila kamu itu. Dan setelah itu kita merencanakan pernikahan kita. Saya ingin kejelasan. Saya ingin punya pasangan. Sahabat sekaligus teman tidur yang menyenangkan. Dan itu adalah kamu.”

Tapi tidak. Bukan kalimat-kalimat itu yang keluar.

“Ubud itu mimpi saya. Sudah lama saya ingin dan harus ke sana. Karena galeri ayah sudah harus ada yang mengurusinya. Saya sudah menunda ini terlalu lama.”

Kamu masih menatap saya. Tatapanmu seakan meminta penjelasan lebih lanjut. Tapi saya sendiri gagu. Tidak bisa meneruskan kata-kata saya. Saya memutar mata melihat sudut ruangan. Letak tempat tidur yang masih sama. Buku-buku yang berantakan pada karpet di bawahnya. Asbak dengan puntung rokok yang tergeletak begitu saja. Ruangan ini tampak sudah lama tidak dibersihkan. Lalu pada pojok tempat tidur sebelah kiri, seonggok lingerie tergeletak.

“Punya istri saya. Hm, maksud saya mantan. Semalam ia mampir.” katamu kemudian. Seperti menjawab pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala saya.

DEG! seperti ada yang luruh dalam hati saya. 


Kebohongan apa lagi ini. Saya bahkan tidak tahu bahwa selama ini kamu punya istri. Bahkan mantan istri.


OH TIDAK! ingin rasanya saya berteriak kencang-kencang. 

“Oh, kamu tidak pernah bilang bahwa kamu punya is..” kata-kata saya terpotong ketika melihat seorang anak kecil, dengan rambut acak-acakan seperti baru bangun tidur kini berdiri di depan pintu. Tidak jauh dari meja tempat kita berdua duduk. 

“Papa..”


Wednesday, February 8, 2012

titik.








Saya adalah orang yang pandai membuat kesimpulan. Saya terbiasa saja mengucapkan kesimpulan. Mengumpulkan beberapa fakta, menganalisa, dan pada akhirnya sampai pada satu titik kesimpulan. Yang saya pikir itu mungkin benar. Padahal saya tolol. Kesimpulan saya kadang berakhir salah.

Seperti pasangan. Saya berpikir bahwa hubungan yang kemarin dan kemarinnya lagi adalah hubungan yang terakhir. Nah, kan! belum apa-apa saya sangat berani sekali mengambil kesimpulan. Nyatanya kali ini saya salah. Dan kesalahan saya fatal.

Ia bukan yang terakhir. Ia mematahkan semua kesimpulan baik saya. Ia bukan kata penutup. Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada doa dan harapan dala kesimpulan itu. Ia hanya segumpal titik.

...

Titik seperti tidak memberikan kesempatan kepada saya untuk menyambungkan kalimat saya. Padahal selama ini kami sama-sama membangun sesuatu. Kami membangun kata lalu menjadi kalimat lalu menjadi sebuah paragraf. Saya yakin sekali itu kami bukan hanya saya. Karena sejak lama saya sudah meninggalkan kata saya.  

Nyatanya saya salah. Ia merasa tidak membangun apa-apa. Ia merasa tidak terlibat. Ia merasa ingin lepas tangan saja. Menghapus kalimat demi kalimat. Kata demi kata. Lalu ia akan memberikan titik.

...

Malam-malam mengobrol dan tertawa panjang selesai. Malam-malam ciuman panjang selesai. Kali ini saya salah telak. Saya bahkan malu pada kesimpulan saya sendiri: bahwa ia akan menjadi yang terakhir.

Ia akan menjadi titik saya. Ia adalah kesimpulan saya.

Saya salah.




Puisi Yang Dinyanyikan


Membaca sebuah artikel tentang poet di blog.sfgate.com saya menemukan sebuah pernyataan yang menarik sekali yaitu

“Musicians have their own lists–dozens of them. So, for this project, no Bob Dylan, no Jim Morrison, no Springsteen, unless they have a separate life as a poet. Ryan Adams, for example, has published at least two books of poems. Jewel and Tupac (two sides of the same poetic coin?) have also written books of poetry. So, those works could count but their lyrics, not.”

Beberapa musisi terkenal di luar sana adalah penyair. Saya membayangkan mereka menulis puisi kemudian menyanyikannya dalam hati. Sebelum akhirnya membuatkan musik yang keren.

Ada puisi-puisi sepi yang akhirnya digubah menjadi lirik sedih pada sebuah lagu. Ada pula puisi-puisi cinta yang digubah menjadi lirik gembira. Tapi ada juga lirik sedih yang dikawinkan dengan musik gembira.

Saya suka sekali dengan Emilliana Torini, perempuan yang berasal dari iceland ini mencipta lirik-lirik sepi yang mampu membuat saya hanyut. Ada analogi rasa cinta yang begitu dalam kepada seseorang. Ada penantian yang tidak pernah menjadi nyata. Tapi ada kekuatan ketika mendengarkan lagunya.



Pertanyaannya apakah Emilliana mencipta lirik dulu atau mencipta musiknya terlebih dulu. ‘Sunny Road’

wrote you this
i hope you got it safe
it's been so long
i don't know what to say
i've travelled 'round
through deserts on my horse
but jokes aside
i wanna come back home
you know that night
i said i had to go
you said you'd meet me
on the sunny road


Perjalanan panjang yang dilakukan untuk bertemu dengan seseorang. Mungkin cinta itu adalah perjalanan panjang itu sendiri. Untuk kehilangan—menemukan—tidak lagi menemukan.

i never married
never had those kids
i loved too many
now heaven's closed its gates.
i know I'm bad
to jump on you like this
some things don't change
my middle name's still 'Risk'
i know that night
so long long time ago
will you still meet me
on the sunny road

Ketika mencintai terlalu dalam ada risiko. Risiko bahwa bisa jadi kita tidak akan pernah ada bersama-sama dengan orang itu seumur hidup. Risiko untuk tidak pernah memiliki. Tapi apa kita pernah benar-benar memiliki seseorang?

well, this is it
i'm running out of space
here is my address
and number just in case.
this time as one
we'll find which way to go
now come and meet me
on the sunny road

Saya pikir ada kepastian di akhir. Akhir adalah kesimpulan. Saya selalu mengira akhir dari segala sesuatu adalah jawaban. Padahal belum tentu. Akhir bisa jadi justru adalah proses mengawali. Akhir bukanlah penutup yang selama ini kita cari. Akhir adalah awal yang baru. Memulai kembali. Dan tidak tahu kapan kita bisa mengakhirinya.



Sunny Road.

Adalah imajinasi. Sebuah jalan mimpi. Hanya ada pada sebuah petualangan yang diciptakan oleh diri kita sendiri. Sejujurnya tidak pernah ada.

Ini hanya satu contoh sebuah lirik sepi. Puisi sepi. Kemudian dinyanyikan. Dinyanyikan dalam hati. Atau menjadikannya musik yang bagus sekalian. Lagu adalah puisi yang dinyanyikan. Penyanyi adalah penyair yang mendengungkan karyanya di dalam hati menjadi nada. 


Monday, February 6, 2012

Oeroeg






Membaca Oeroeg karya Hella S. Haasse. Ketika membaca buku ini saya larut ke dalam persahabatan kental antara si tokoh “aku” dan Oeroeg. “Aku” adalah seorang anak Belanda yang ayahnya adalah administrateur di sebuah perkebunan dimana ayah Oeroeg—Deppoh bekerja sebagai mandor.

“Aku” adalah si tokoh kesepian yang tidak punya teman. Yang ketika dilahirkan hanya punya seorang teman yaitu Oeroeg. Karena kebetulan mereka juga dilahirkan dalam selang waktu yang tidak terlalu jauh. Kemudian mengalami petualangan-petualangan liar sejak kecil. Bermain di hutan. Menyerbu pohon-pohon. Menangkap binatang di sungai.

Persahabatan eksotik antara si “Aku” dan Oeroeg dengan segala perbedaan yang mereka miliki. Ada ketulusan yang ditemukan di dalam persahabatan ketika masih kecil, kemudian hal tersebut berubah ketika dewasa. Lantas kenapa? inilah yang mungkin disebut sebagai proses manusia dengan pilihan bebasnya mencari siapa yang akhirnya berhak menjadi “sahabat” dan siapa yang “tidak.”

Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada siapa. Walaupun yang satu anak mijhneer dan lainnya inlander. Atau warna kulit yang berbeda. Persahabatan jauh lebih daripada itu. Ia seperti mencintai tanah kelahiranmu—atau bangsamu.

Dan terkadang bangsamu tidak mencintaimu balik. Apakah ini sebuah ironi? Ya. Dalam hidup kadang kita mempunya hal-hal semacam ini. Mencintai terlalu banyak dan tidak dicintai balik. Tetapi kita tidak pernah tahu apa yang benar-benar ada di hati setiap orang bukan? Silakan pilih mau mencintai seperti "aku" atau Oeroeg? 

Friday, February 3, 2012

Where Do I Come From


*pulau Kei. source: google

"There are only two lasting bequests we can give our children - one is roots, and the other, wings."  - Hodding S. Carter

Saya sedang penasaran untuk mengetahui akar saya. “Akar” salam hal ini adalah darimana saya berasal. Dan apa yang membuat saya menyenangi apa yang saya lakukan sekarang.

Seorang teman pernah berkata bahwa, jangan-jangan siapa kita yang sekarang ini memang adalah semacam “representasi” dari nenek moyang kita turun temurun. Misalnya jika dulu nenek moyang kamu adalah raja-raja, berarti itu pasti ada hubungannya dengan apa yang kamu kerjakan sekarang. Bisa jadi kamu adalah seorang pengambil keputusan dimanapun kamu berada sekarang.

Saya percaya. Karena di dalam tubuh saya ada gen yang saya bawa turun temurun. Saya dibesarkan dengan darah Maluku yang cukup kental. Tidak banyak basa-basi. Dan selalu mengungkapkan sesuatu “straight to the point.” Ayah saya berasal dari Kei. Sebuah pulau kecil yang ada di daerah Maluku Tenggara. Pulau eksotis menurut cerita beberapa orang. Saya sendiri belum pernah pulang untuk melihatnya secara langsung di usia dewasa.

Menurut wikipedia, leluhur orang Kei berasal dari Bal (Bali), wilayah kerajaan Majapahit di kawasan Barat Nusantara. Konon dua perahu utama berlayar dari pulau Bali, masing-masing dinahkodai oleh Hala'ai Deu dan Hala'ai Jangra. Setibanya di kepulauan Kei, dua perahu ini berpisah. Perahu rombongan Jangra menepi di Desa Ler-Ohoylim, pulau Kei Besar, dan perahu rombongan Deu berlabuh untuk pertama kalinya di Desa Letvuan, Pulau Kei Kecil.
Kami juga punya bahasa Kei. Saya ingat sejak kecil ayah selalu memakai bahasa ini dengan tante saya ketika mereka sedang mengobrol. Mengenai bahasa, ini bisa dibaca lebih lanjut di wikipedia.
Sama halnya dengan ibu. Kakek saya juga asli Kei. Dan nenek saya berasal dari kisar. Sebuah kepulauan tak kalah eksotik lainnya dengan nama lain yaitu Yotowawa. 

*baju adat Kisar

Saya sendiri tidak punya pengalaman lahiriah dengan kakek dan nenek saya dari kedua orang tua. Karena ketika saya lahir mereka semua sudah meninggal dunia.
Kakek dari ibu saya akhirnya menikah lagi dengan seorang perempuan Jawa bernama asli Sutiyem, yang di kemudian hari saya kenal dengan nama “Oma Jawa” atau biasa dipanggil juga “Ibu Jawa.”
Oma Jawa, sehari-hari masih sering berbahasa Jawa. Ketika saya kecil, beliau masih suka berkebaya lengkap dengan jarik juga konde untuk beraktivitas. Karena saya sering dititipkan di Oma Jawa, saya besar dengan cerita-cerita perang yang biasanya sering beliau ceritakan.
Ketika menulis ini, saya sendiri masih penasaran ingin tahu lebih jelas tentang “family tree” baik dari pihak keluarga ayah maupun ibu. Dan bercita-cita suatu hari nanti saya sendiri bisa pulang ke Kei dan mengenal lebih detail “roots” saya.
Mengenal “roots” akan menjadikan saya pohon yang kuat. Tumbuh tanpa malu. Dan percaya bahwa akar-lah yang menopang.

Thursday, February 2, 2012

Pergilah Ke Sekolah Minggu






Saya yang sekarang adalah saya yang dibentuk dari masa lalu. Tidak ada masa lalu yang buruk. Seburuk apapun kondisinya, ketika bersyukur akan membentuk sesuatu. Dibesarkan dengan dua orang tua yang selalu pindah-pindah tempat dari kecil karena pekerjaan. Ayah dan ibu tidak pernah berada di rumah bersama-sama kami.

Sejak kecil saya dan kedua kakak dititipkan ke oma dan tante. Saya tidak ingat saya merantau sejak umur berapa. Tetapi sejak TK saya ada di rumah tante dan beliau yang bertanggungjawab mengantar saya pergi dan pulang dari sekolah.

Hal manis yang paling saya ingat ketika kecil adalah pergi ke sekolah minggu. Gereja dan lingkungan Maluku yang ramah pada waktu itu seperti panggung. Ketika natal, saya yang waktu itu berumur empat tahun menghadapi panggung pertama saya.

Tidak hanya itu drama, puisi, menyanyi, cerdas cermat, merupakan panggung-panggung saya selanjutnya. Ketika ada yang bertanya: apa yang membuat saya begitu “jago bergaul” seperti sekarang? tidak ada jawaban lain selain pergilah ke sekolah minggu.

Di sana saya belajar bersosialisasi. Belajar menjadi ketua geng. Belajar mengkoordinir anak-anak lain untuk diam-diam melakukan kejahatan-kejahatan kecil. Haha. Bandel, iya. Saya anak yang tidak bisa diam. Sedikit tomboy. Dan keras kepala sejak kecil.

Sekolah minggu atau biasanya kami sebut dengan kata “sondagh” atau artinya “minggu” kalau tidak salah diambil dari bahasa belanda. Membuat kami anak-anak Maluku yang terbiasa pergi ke sekolah minggu punya “panggung” kami. Di sana kami belajar tampil. Dan akhirnya mencipta panggung kami sekarang di luar. 

Ibu menjahitkan saya beberapa baju ketika kecil dan akan saya pakai untuk membaca sajak ketika natal.

Sajak saya berbunyi “Yesus berkata akulah terang dunia.”

Apakah itu ayat favorit kamu?




Idol.


Siapa sih diantara kita yang tidak punya “idol” seseorang yang biasanya kita “sembah” dalam hal ini kita mengagumi karyanya, cara berpakaiannya, cara bicaranya, cara berjalannya, cara bergaulnya. Dan silakan tambahkan daftarmu sendiri.

Kita tidak hanya sekedar kagum. Tapi kita seperti menjadi mirip dengan “idol” kita, karena kita bahkan meniru dia. Kita ingin mirip. Bahkan kalau bisa sama. Walaupun saya sendiri cenderung tidak setuju dengan kalimat terakhir.

Saya dibesarkan dengan mendengarkan musik Teti Kadi, Jim Reeves, sampai dengan musik pop akhir 80-an dan awal 90-an siapa lagi kalau bukan aliran boy band di jaman itu Boys II Men, Boyzone, Caught In The Act, Bed and Breakfast, Backstreet Boys, Hanson, The Moffats.

Saya lupa ketika kecil saya pernah dibelikan kaset apa, tapi seingat saya kaset pertama saya Hanson. Ketika itu dibelikan kakak saya yang sudah kuliah di Jogja. Dan kemudian dilanjutkan dengan merekam sendiri hits-hits keren dari radio (saya rasa kami yang tumbuh pada jaman itu melakukannya)

Ketika SMP saya sering sekali nongkrong di radio. Waktu itu ada seorang penyiar radio ganteng, idola semua anak remaja kota Ambon namanya adalah Patrick Courbois. Kalau sekarang saya jadi penyiar, Patrick-lah yang paling banyak bertanggungjawab. Karena saya suka sekali dengan dia. Ketika saya menulis ini juga, mungkin Patrick tidak akan pernah tahu. Bahkan sejak SMP saya memang sudah kepikiran untuk menjadi penyiar suatu hari nanti.

ini Patrick? tapi Patrick yang versi saya bule Ambon Jerman. Ganteng abis :)

Saya juga tidak bisa dibilang anak yang gaul banget. Tapi kalau banyak berteman, iya. Karena dari dulu saya suka sekali berteman. Saya masih ingat di kamar saya penuh dengan poster/pin-up dari majalah-majalah remaja yang biasanya saya pajang. Antara lain yang nge-hits di jaman itu: Leonardo Dicaprio, Devon Sawa, Brad Renfro, dan  Hanson. Haha. Kamar saya penuh dengan poster dan pin-up Hanson. Karena saya bercita-cita ingin menikah dengan Jordan Taylor Hanson. Ya, saya memang gila dari dulu.

Saya punya idola. Sepanjang hidup saya selalu terkagum-kagum dengan orang lain. Ketika SMP saya punya seorang teman namanya Anna dan Astrid. Mereka berdua punya tulisan yang bagus. Setiap hari di rumah saya berlatih menulis supaya tulisan saya mirip dengan mereka. Dan berhasil. Saya punya tulisan yang bagus.

Jika cerita lebih lanjut, tulisan ini akan panjang sekali. Tetapi yang berusaha yang saya ungkapkan adalah: tidak masalah punya idola. Silakan terinspirasi darinya. Tapi kamu adalah kamu. Saya adalah saya.

Sayang sekali saya tidak akan menjadi orang lain. Tidak mau. Dan tidak bisa. Karena saya tahu saya punya panggilan hidup yang berbeda dengan kamu. Saya punya cita-cita, mimpi, tujuan hidup, yang hanya bisa dilakukan oleh diri saya sendiri dan bukan orang lain.

Pagi ini saya mendapat bbm dari seseorang yang bilang: “Ih, enak yah jadi kakak bisa MC, nyanyi, ngajar bla bla bla.”

Mungkin saat ini, saya “idol” itu. Tapi kamu juga bisa jadi “idol” dengan caramu. Dengan panggilanmu. Dengan talenta yang kamu punya. Dengan segala kapasitas yang ada pada diri kamu.

Karena satu hal yang saya percaya, saya dan kamu. Kita tidak berbatas J

Wednesday, February 1, 2012

Bukan Superhero




Saya sedang berpikir tentang sebuah pengalaman memiliki seseorang. Saya pernah menulis bahwa sebenarnya mungkin saya atau juga kamu yang membaca tulisan ini tidak pernah benar-benar bisa memiliki seseorang.

Untuk alasan cinta mati sekalipun. Kita tidak bisa memiliki seseorang. Karena setiap orang punya “free will” hal inilah yang pada akhirnya memiliki kita. Sedangkan cinta bagi saya juga punya “free will”-nya sendiri. Seperti cupid yang memanah. Ia hanya memanah. Tidak pernah merencanakan targetnya siapa.

Perjalanan dengan seseorang sepanjang hidup. Pahit dan manis. Patah hati tidak membuat saya dan kamu kapok jatuh cinta. Bagi saya berjalan dengan seseorang bukan persoalan fisik dimana saya akan eksis kelihatan berdua. Atau akan “eksis” ketika “kelihatannya” punya pacar. Lalu kemudian pacaran itu hanya sebatas “status” di facebook.

Ketika saya punya pengalaman bersama dengan seseorang itu seperti kisah. Kisah mengucap selamat pagi. Kisah bercerita sebelum tidur. Lalu seseorang itu bukan hanya pasangan. Tetapi kami adalah sahabat. Yang punya pengalaman bercinta yang hebat. Kemudian kami akan tertawa-tawa sampai pagi dengan bir.

Idealnya sih begitu. Seiiring dengan pengalaman. Saya kadang terlalu banyak dengar. Dia terlalu banyak cuek. Saya terlalu liar. Dan dia anak baik-baik. Seperti tidak seimbang. Kami seperti ada di frekuensi yang berbeda. Haha.

Bagi saya pasangan bukan superhero. Ia tidak perlu seperti batman atau superman. Ia hanya perlu ada di sana mengucap selamat pagi dan bercerita kembali sampai pagi setelah bercumbu lama.

Kalau saya dikasih Batman pada saat ini, 



saya akan setuju dengan statement Joker "It's simple. We, uh, kill the Batman."

“Sick” Society


*gambar dari jakartapost


Beberapa hari terakhir ini saya menghabiskan waktu untuk browsing dengan membaca banyak sekali berita sekaligus. Biasanya berita yang saya baca berasal dari link yang di-share di twitter. Lalu saya menemukan satu berita dari jakartapost.

Inti dari berita di atas adalah bagaimana saat ini banyak sekali orang-orang yang kemudian takut keluar rumah karena jalanan sudah semakin tidak aman. Banyak hal yang buruk yang nantinya bisa menimpa mereka di jalan. Dan yang lebih mengerikan lagi adalah banyak sekali masyarakat “sakit” yang saat ini sedang berkeliaran di luaran sana. Mereka sudah tidak lagi bisa dipercaya. Mereka orang jahat. Dan tidak ada lagi orang baik di muka bumi ini.

Muncul satu pertanyaan di kepala saya “benarkah orang baik sudah tidak ada lagi di muka bumi. Lalu kemanakah mereka pergi?”

Oh. Mungkin mereka saat ini sudah ada di surga.

Kalau banyak orang baik pada akahirnya hanya berakhir di surga. Untuk apa bumi diciptakan? Lalu apa mungkin bumi ini hanya memang diciptakan untuk orang jahat. Di samping berita buruk yang saya baca. Sebutlah ini adalah proses kontemplasi bagi saya supaya saya menemukan dimana orang-orang baik itu ada.

Ketika di angkot saya masih menemukan anak laki-laki kecil yang sedang berbincang akrab dengan ayah yang duduk di sampingnya. Mereka tertawa-tawa. Menertawakan bahasa yang mereka mengerti sendiri. Pada waktu berikutnya di angkot ada ibu berjilbab yang diisengi terus oleh anaknya. Dan si ibu tampak tidak keberatan. Ibu dan anak itu malah bermain-main dengan si anak yang menarik jilbab ibu dan sembunyi di baliknya.

Ada anak muda yang duduk-duduk di sebuah cafe. Tanpa bermaksud untuk mencuri dengar percakapan mereka. Saya tahu bahwa mereka sedang berbagi passion dan cerita masa depan. Mereka pacaran atau tidak, saya tidak ingin menebak-nebak.

Ketika saya makan ke sebuah warung kecil saya menemukan ibu warung yang tiba-tiba menasihati saya dan seperti menguatkan ia bilang “sabar” beberapakali. Padahal ibu warung itu tidak kenal saya. Saya juga tidak pernah cerita apa-apa kepada ibu warung.

Pada kesempatan lain lagi saya menemukan orang random yang memberikan saya kalung kecil yang manis berwarna oranye. Atau hanya mentraktir makan malam. Atau saya juga mendapat beberapa bbm yang masuk yang entah kenapa it’s just made my day.

Dan ketika saya pulang tengah malam sendirian. Saya masih bisa duduk-duduk makan sendirian di sebuah fastfood. Dan pulang dengan angkot yang mengantar saya selamat sampai di tujuan. Lalu pada kesempatan selanjutnya, saya menemukan seorang teman yang bertanya kepada saya “The, punya pengalaman tentang senyum nggak?” ternyata teman saya ini percaya bahwa senyum adalah hal paling kecil yang bisa dilakukan untuk mengubah orang lain.

Sejak saat itu saya mencoba menambah senyum di bibir saya. Ketika bertemu dengan orang saya tidak hanya senyum. Saya bahkan tertawa kencang. Kencang sekali. Oh, saya memang tidak bisa tertawa pelan.

Pertanyaan saya di atas terjawab sudah “kemanakah orang baik pergi?” mereka berubah menjadi senyuman. Senyuman yang menular. Pada akhirnya juga akan membuatmu tersenyum.

Tapi tidak lantas senyuman bisa membuat pembunuhan dan kematian mengerikan di luar sana berakhir. Tidak lantas kondisi jalanan seketika berubah aman hanya dengan senyuman yang kita berikan. Tidak lantas “sick” society di luar sana berkurang. Mereka mungkin akan bertambah banyak. Dan bahkan semakin brutal. Karena dunia ini tidak akan menjadi lebih baik. Hari-hari akan semakin jahat.

Tapi pagi hari ini ketika saya bangun dan melihat ke cermin. Ada perempuan biasa saja dengan senyum lebar. Penanda ada kebaikan di sana. Yang mungkin bisa ia tularkan kepada orang lain yang bertemu dengannya sepanjang hari.

What you reppin? good or bad. There's no grey area.