Thursday, April 28, 2011

Jacob Pulang

Ada satu cerita yang selama ini saya tunda untuk menceritakannya. Ada satu kebetulan kecil—oke, sebutlah ini mungkin kebetulan. Ketika kamu mempercayai sesuatu lalu kemudian mengikhlaskan kepercayaanmu, supaya ia berjalan sesuai dengan fungsinya. Ia akan menjadi sesuatu. Kepercayaanmu akan bertambah dari garis yang sangat tipis menjadi garis yang sangat tebal.

Keyakinan—adalah sesuatu yang sifatnya ke dalam. Ia kadang menjadi satu hal yang sangat sulit untuk dijelaskan kepada orang-orang lain di sekitarmu. Keyakinan itu adalah semacam misteri yang hanya kamu dan hatimu yang tahu. Saya punya keyakinan akan sesuatu—begitu rahasia. Hanya saya dan hati saya yang tahu.

Beberapa waktu ke belakang ini, saya banyak kuatir. Banyak hal yang akhirnya membuat saya kembali mempertanyakan keyakinan saya. Saya menjadi orang yang mudah terombang-ambing. Dan semesta tampak mengetahui hal itu—mereka sengaja mengetes saya, apakah memang saya setangguh yang kelihatannya. Atau justru rapuh?

Jawabannya, rapuh.

Untuk yang satu ini, saya tidak mau membohongi diri saya. Saya terlanjur rapuh dan retak. Beberapa hal yang sudah sempat di bangun seperti harus dibangun ulang dengan fondasi yang mantap—belum mantap. Tapi ada satu kejadian lucu. Jacob, anjing samoyed kesayangan pernah hilang. Cerita ini pernah saya tulis. Ketika itu, kelihatannya saya tidak percaya kalau ia akan kembali lagi. Tapi entah mengapa keyakinan saya mengatakan sebaliknya—Jacob pasti kembali. Hanya saja, lagi-lagi ini hanya sesuatu yang di dalam dan tidak kelihatan.

Saya mengatakan di tulisan saya sebelumnya bahwa kalau kita berjodoh, kita pasti akan bertemu kembali. Persoalan jodoh atau berjodoh dengan sesuatu, seseorang adalah sesuatu yang sifatnya ke dalam. Tidak kelihatan diluar. Hanya saja yang di dalam ini seperti bertumbuh—ia mengajakmu untuk percaya kepadanya. Ia mengirimkan sinyal yang sangat kuat—dan itu adalah pekerjaan hatimu. Misterius, tapi saya suka dengan cara kerjanya.

Jam 3 subuh saya terbangun dan mendengarkan gonggongan Jacob. Di bawah selimut sambil merem waktu itu saya hanya senyum. Besok paginya, saya mengobrol dengan Oom kos lalu bertanya, siapa yang memulangkan Jacob. Ia cerita bahwa ada tukang ojek di samping gang yang waktu itu memang mencuri dan membawa lari Jacob. Tapi kemudian di hari yang ketiga si pencuri itu hatinya gelisah—kemudian merasa bersalah, yang membuat ia harus mengembalikan Jacob.

Setelah Jacob hilang, saya menulis di tweet saya #doamalamini hai orang baik di luar sana, tolong kembalikan Jacob. Keyakinan yang besar di dalam selalu memaksa untuk melakukan sesuatu. Keyakinan yang besar di dalam tidak kelihatan—tapi ia seperti mendorong dengan caranya yang misterius untuk percaya kepadanya. Keyakinan ingin kita sepenuhnya percaya kepadanya. Keyakinan setia, ia tidak akan meninggalkanmu.

Sampai di sini. Saya seperti dikonfirmasi. Cerita Jacob akhirnya membuat saya menjadi yakin kembali. Yakin akan apa—itu misteri. Hanya saya dan hati saya yang tahu. Bayangkan begini, dengan keyakinanmu yang besar, kamu bisa membuat orang lain gelisah lalu mempertemukan kamu dengan apa yang kamu inginkan.

Milikilah keyakinan yang besar. Biarkan keyakinanmu tumbuh lalu menggerakanmu—entah bagaimana caranya. Ia akan mempertemukan—bisa jadi saat ini yang berjodoh itu seperti pergi. Tenang saja, ia akan gelisah lalu kembali kepadamu.

Untuk yang satu ini, saya terlalu percaya.

Tobucil, 27 April 2011. 12:21

Wednesday, April 27, 2011

Secangkir Latte Dingin.





Aku akhirnya pulang dan membuat kopi Latte—meminumnya pelan-pelan lalu merasakan pahitnya di kerongkongan. Ada pertanyaan yang kemudian menabrak benakku sejenak—sebegitu dalamnya kah kau mencintainya?—entah kenapa tiap-tiap mendengar kata cinta ada yang bergetar di hati, ada yang bikin mataku berkaca-kaca—pipiku basah.

Pertanyaan baru kembali muncul dalam benakku pernahkah kau membenci seseorang? Aku tidak membencinya. Sebaliknya aku menyayanginya. Dan aku ingin yang terbaik untuknya. Pertanyaan sekaligus jawaban-jawaban itu mengalir deras di dalam pikiranku—menangis kembali. Tak ada tissue. Lengan sweterku malam itu yang menjadi saksi, banyak air mataku yang singgah di sana.

Ketika kau sangat membenci seseorang. Mungkin aku harus berhati-hati, karena rasa itu bisa saja berubah menjadi benci. Begitu mudah terbalik. Kau tidak akan pernah menyangka bahwa perasaanmu kini telah berubah.

Tadi sepanjang perjalanan pulang, ada sepasang kekasih di motor. Aku melihat mereka berhenti di lampu merah. Tanpa turun dari motor, laki-laki iu lalu memanggil tukang penjual mawar yang biasanya nangkring di simpang. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar ribuan. Tak lama kemudian, ia telah memegang sekuntum mawar. Yang akhirnya ia berikan kepada perempuan itu.

Aku tertegun cukup lama, melihat pemandangan itu. Aku berpikir bahwa, suatu hari kelak kau juga akan melakukan hal yang sama untukku. Tapi mungkin itu hanya angan-anganku saja. Dan hidup dengan angan-angan kosong itu sama sekali tidak berguna, bukan?

Kini, aku begitu membencimu. Aku tidak ingin melihatmu bahagia. Terlalu tipis perubahannya, kau bahkan tidak menyadarinya. Aku memang sengaja, melakukannya perlahan. Supaya nantinya kau akan tersiksa, begitu kau sadar lalu menyesali.

Begitu terlambat.

Kita adalah sepasang kekasih, yang tidak hanya berbagi bunga, tapi juga berbagi cium, peluk, sampai berbagi selimut di tempat tidur. Banyak cerita yang hanya kita berdua yang tahu—dan hanya aku yang memahami tubuhmu—walaupun ini juga adalah angan-anganku yang kosong. Aku begitu mencintai sampai aku juga begitu membencimu—terlalu tipis.

Mungkin saat ini yang aku inginkan adalah, untuk selama-lamanya kau tidak akan bahagia. Mungkin ini bukan hanya keinginan. Ini doaku yang aku kirim untukmu melalui setiap tegukan latte dingin di dalam kerongkonganku.

Dago 349, 26 April 2011. 23:33

Tuesday, April 26, 2011

Pulang

Tak ada hujan yang meleleh sayang. Hujan tersendat entah di tingkap langit sebelah mana—kalau begitu mungkin tanah akan kekeringan hingga teksturnya menjadi pecah-pecah. Malam itu aku pulang untuk berpikir ulang—perjalanan. Pergerakan kemunduran pemberhentian.


Dan aku mendapatkan kenyataan bahwa di dalam perjalanan kita ini, kita terlalu banyak berhenti. Kita terlalu banyak menarik dan menghembuskan nafas lelah. Kita terlalu banyak memperhitungkan sesuatu yang tidak membawa keuntungan, kita terlalu banyak menangis, menjadi sedih berhari-hari, maksudku bukan kita—aku.

Suatu hari di dalam perjalanan ini aku merasa sangat lelah. Aku capek lalu aku hanya kepingin pulang. Hanya saja aku bingung, aku ini hendak pulang kemana. Aku menengok ke belakang, terlalu gelap. Senja pudar. Terlalu jauh—terlalu berliku, banyak kubangan, banyak jurang di kanan dan kiri. Terlalu curam naikan dan turunan itu. Ibarat buku, aku telah membuat banyak garis yang njelimet, sehingga aku sendiri susah menyusurinya balik.

Aku pun kebingungan harus pulang kemana.

Sementara aku melihatmu begitu jauh. Aku memanggilmu dan suaraku terpantul sendiri di dalam keheningan. Kau bahkan tidak bisa mendengarkanku di dalam keheningan. Begini, mungkin yang harus aku lakukan adalah menghapus. Menghapus perjalanan—menghapus tentangmu. Lalu menulis ulang setiap hal baru—memulai lagi dari nol. Memulai lagi dari titik paling rendah.

Pada pemberhentian itu aku menarik nafas dalam-dalam, memejamkan mata lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Jalan pulang satu-satunya yang aku tahu bukan ke arah hatimu—karena terlalu gelap.

Melainkan ke arah hatiku. Semoga kali ini aku tidak keliru.  


Dago 349, 26 April 2011. 10:10

Monday, April 25, 2011

Love me, if you dare.




Di dalam kaleng itu Sophie dan Julien memulai permainannya. Mungkin hidup ini memang hanya permainan—jatuh cinta apalagi. Menjatuhi seseorang artinya kamu semakin terperosok ke dalam permainan yang diciptakan.

Dan permainan selalu butuh kreativitas—menjawab pertanyaan-pertanyaan tricky. Permainan butuh imajinasi tingkat tinggi. Permainan butuh keberanian—demikian dengan cinta. Ketika kita jatuh kepada seseorang, kita harus siap sedia memainkan permainannya. Begitupun ketika seseorang itu menjatuhi kita, dia pun sudah harus siap sedia mengikuti permainan kita.   

Tidak ada kalah atau menang di dalam permainan ini, yang ada hanyalah kepuasan karena menghidupi cinta—membuatnya naik dan turun dalam titik yang paling ekstrim. Lalu mengakui kalau cinta itu bukan sebuah garis lurus yang flat melainkan cinta seumpama garis keriting, bergelombang, penuh dengan warna.

Sophie dan Julien menciptakan permainan mereka sendiri. Ketika mereka saling menjatuhi, mereka tidak terpuruk, mereka malah belajar terbang dari satu adegan ke adegan yang lain—dan akhirnya membangun sebuah bangunan yang kokoh. Ibaratnya jika kamu sedang mempelajari cinta, hendaknya kamu bermain. Karena dengan begitu, pelajaran cinta tadi akan dengan mudah masuk ke dalam otakmu.

Tidak ada kata penakut ketika jatuh cinta—begitupun pengecut, yang ada begini—mereka yang jatuh cinta adalah mereka yang pemberani, mereka yang tidak hanya tahu resiko, tapi juga mau menanggung resiko. Sophie dan Julein mengetahui resiko itu, toh ini hanya adalah resiko dari sebuah permainan. Tidak ada yang menang ataupun kalah. Semangat bermain inilah yang akan membuat mereka tumbuh dan tumbuh.

Sophie yang bercita-cita menjadi Cream Puff dan Julien yang bercita-cita menjadi Tyrant—akhirnya menjadi apa yang mereka inginkan. Mereka bahkan mencapai cita-cita mereka lewat permainan. Tidak ada yang serius ketika bermain. Dan justru ketika bermain di situlah kau akan benar-benar serius.

Setelah jatuh cinta—bermainlah. Tapi carilah partner bermain yang tepat, jangan sampai kau salah pilih. Itu akan membuat permainanmu berakhir dalam kebosanan. Begitu kau menemukan partnermu, pastikan dia juga memiliki keberanian yang hakiki. Walaupun yang akan kalian lakukan ke depan adalah bermain dan bermain. Menemukan kehilangan. Jatuh cinta patah hati. Tertawa menangis. Pipi basah pipi kering. Meninggalkan ditinggalkan. Lalu hinggap di satu titik, jatuh cinta yang adalah sebuah permainan ini, hanya bisa kau lakukan dengan sahabatmu sediri.

“Sophie is my best friend.” Begitu kata Julien.

Jatuh cinta, bermain, menikah, hidup sampai tua dengan sahabatmu sendiri—mengapa tidak? Toh, bermain dengan sahabatmu sendiri—tidak ada hitung-hitungan menang atau kalah.

Dago 349, 25 April 2011. 10:55

*Sebutlah, ini semacam review untuk film Love me, If you dare. Film wajib yang harus ditonton bagi kalian yang mengaku sudah punya pasangan? Jatuh cinta itu permainan. Sudahkah kalian serius untuk bermain?

Friday, April 22, 2011

Pakai baju daerah? penting atau tidak.

Dua puluh satu April selain ulang tahun Ayah saya. Juga selalu menjadi jadwal tetap saya menjadi MC pada acara apapun yang mengaku memperingati hari Kartini. Seperti yang terjadi beberapa tahun belakangan ini, saya adalah langganan MC (baca: Em Ce :D) di gedung merdeka sehubungan dengan rangkaian ulang tahun Konperensi Asia Afrika juga.

Sedikit cerita, rangkaian acara tersebut selalu diadakan selama seminggu. Dan diisi dengan berbagai macam kegiatan—diskusi, talkshow, pameran foto, pemutaran film, tempat berkumpulnya komunitas Bandung, sampai kepada Asian African Woman and Youth Gathering.

Acara terakhir yang saya sebutkan jatuh pada tanggal dua puluh satu, dan ini adalah tahun kedua saya selalu ditunjuk menjadi MC pada acara ini. Pak Isman Pasha, selaku kepala Museum Konperensi Asia Afrika, adalah orang di belakang layar yang saya tahu punya semangat yang cukup tangguh untuk mengembalikan Museum kepada rakyat. Semangat ini perlu ditegaskan, karena Museum selama ini, selalu identik dengan milik pejabat.

Saya suka dengan semangat ini. Singkat cerita—Asian African Woman and Youth Gathering pun terselenggara. Ketika dikonfirmasi, saya langsung menyatakan bersedia. Ada sedikit catatan kecil dari paniti bahwa saya harus menggunakan baju daerah itupun kalau punya. Dengan catatan kalau saya tidak punya pun seharusnya itu bukan masalah.

Oke, seingat saya untuk kebaya saya memang hanya punya atasan. Tetapi kain atau bawahan, saya tidak punya. Kalau mau diusahakan pun masih sangat bisa—entah itu dijahit atau dipinjam. Tapi terlalu mepet juga. Jadi saya memutuskan untuk memakai kain batik biasa saja, dengan sepatu hak tinggi songket oranye andalan saya, kemudian aksesoris yang cukup lumayan. Dengan dandanan yang cukup lumayan juga. Saya tidak suka yang terlalu menor.

Acara berlangsung dengan khidmat. Banyak pagelaran kesenian. Juga diisi oleh beberapa pembicara yang cukup menarik dan antusiasme audiens yang hadir dikatakan senang. Teman-teman dari negara asing ikut menyumbang menari dengan iringan lagu manuk dadali, lalu menyanyikan lagu tentang persatuan. Itu adalah penampilan terakhir yang cukup membuat saya merinding sekaligus takjub melihat mereka.

Saya tidak menyangka bahwa mereka begitu antusias membawakan tarian daerah. Ada yang mengenakan kimono, baju daerah Zimbabwe, Timor Leste, Laos, dan beberapa lainnya yang saya tidak cukup kenal. Intinya kesatuan bukan dilihat dari keseragaman baju daerah yang kamu pakai, tapi dari berpegangan tangan dan menyatukan hatimu untuk menjunjung langit dimanapun kamu berada. Persoalan tidak sampai di situ—ketika selesai memandu acara tersebut saya mendapat beberapa ucapan terima kasih dari beberapa pihak penyelenggara yang cukup puas dengan acara yang saya bawakan.

Kemudian ada pula acara ramah tamah, di sekitar halaman Museum Konperensi Asia Afrika banyak sekali terdapat jajanan Bandung yang memang disediakan kepada para undangan untuk icip-icip sekaligus menikmati sore di sana.

Tiba-tiba gongnya adalah ketika saya hendak pulang, ada Ibu-Ibu yang samperin saya dan berbisik di kuping saya Mbak, ngemsi-nya bagus. Tapi lain kali mbok ya, pakai baju daerah biar nggak jomplang. Saya agak kaget juga, sedikit mengernyit ke Ibu tadi—kemudian saya mengeluarkan jurus jitu saya senyum yang paling lebar, sambil berbisik kepada diri sendiri santai, The. Bilang terima kasih saja..

Persis. Itu yang saya lakukan. Saya menatap Ibu tadi dengan senyum paling lebar yang saya punya dan bilang Terima kasih, Ibu. Iya, lain kali saya pakai baju daerah deh..

Bukan masalah jomplang dan tidaknya. Ini hanya stereotipe yang terlanjur terbangun di masyarakat bahwa hari Kartini identik dengan baju daerah sehingga lupa pada esensinya. Bagi saya, bukannya jasa Kartini tetap penting untuk dihargai—dan tidak akan bahas Kartini lebih lanjut.

Tapi lebih daripada itu harusnya kita sadar bahwa selama ini kita dibutakan oleh penyeragaman sikap dan respon kita kepada tanggal-tanggal tertentu. Momen tertentu. Kita lupa bahwa momen bisa diciptakan.

Menyatukan yang di dalam kadang lebih sulit daripada yang di dalam. Kenyataanya, seragam di luar, belum tentu seragam di dalam. 

Ah, paling tidak saya boleh berbangga. Ibu tadi mengakui kualitas saya bukan dari apa yang saya pakai, betul?

Lalu pertanyaan saya, kenapa pula memakai baju daerah hanya pada hari Kartini. Harusnya ada peraturan pemerintah yang mulai menyadari hal ini, kemudian menetapkan memakai baju daerah pada hari tertentu dalam seminggu. Bukan hanya memakai batik.

Rada ribet. Tapi pasti seru, karena saya membayangkan pria-pria ganteng di luaran sana memakai koteka.

Walau, ini juga bukan solusi.





*pic by Yudi Suhairi.

Enam Puluh Lima itu sexy.

Selisih waktu dua jam, tepat Ayah ulang tahun. saya agak mengantuk, tapi saya bangun lalu hendak menuliskan sesuatu untuknya—entah suatu kebetulan atau bukan, tiap kali saya menulis tentang Ayah biasanya hujan di luar.

Ini adalah tahun kesekian saya merayakan ulang tahun Ayah di luar dan hanya melalui tulisan. Kepada Ayah yang pemberani, ijinkan saya menulis sesuatu. Ini adalah ulang tahunmu yang ke enam puluh lima. Tahun-tahun panjang begitu banyak yang kau lalui.

Pengalaman dan debu perjalanan itu seperti menggantung di kerut wajahmu. Menjadi dewasa dan matang itu sendiri terlihat dari begitu banyak ubanmu. Semangat yang membara toh tidak padam dari sinar matamu. Kebijakan senantiasa keluar dari mulutmu.

Hal yang baik itu menular, Ayah. Seperti katamu selalu lakukan segala sesuatu itu tulus, tulus saja. Anak macam apa yang ketika dinasehati seperti ini tidak mau mendengarkan. Tidak mudah menjalani usiamu, 
Yah. Tidak—lalu saya bertanya? Dengan apa kau bisa bertahan?

Saya ini anak bungsu ndablek Ayah, yang musti berkali-kali dibilangi dulu baru mengerti kemudian. Tapi Ayah selalu menyayangi saya, lucunya setiap Ayah berulang tahun selalu ada berkah yang kecipratan untuk saya di perantauan.

Besok saya, ngemsi. Tepat di Hari Kartini, ulang tahun Ayah. Saya selalu dipercaya membawakan acara. Saya tak pakai konde, Yah. Atau seragam daerah seperti di TK dulu. kali ini saya akan memakain sepatu hak tinggi motif songket oranye kesayangan saya.

Betul—anak perempuan Ayah sudah dewasa. Banyak yang naksir. Tapi belum ada yang serius mengajak saya—begitulah. Jangan tanya kenapa? jaman tidak segampang dulu ketika Ayah bertemu Ibu. Atau pria-pria itu memang tidak sepemberani Ayah saja. Mereka penakut.

Terima kasih untuk punya gen dari Rumthe. Terima kasih untuk memberi nama yang begitu kuat kepada saya Theoresia Laratwaty. Terima kasih meluruhkan ketulusan. Terima kasih sudah mengajarkan kalau di dalam hidup, ketika jatuh tak lupa untuk berdiri lagi.

Ah, yang sehat Ayah. Kita belum ke bulan, berdua saja! Selamat ulang tahun Alberth Erens Rumthe. Enam puluh lima tahun itu sexy!

Cium.

Dago 349, 20 April 2011. 22:44

*sedang ingin memanggilnya, Ayah. Padahal biasanya Papa :)


Gerimis Patah

Di luar gerimis patah-patah—sesuatu yang patah pastinya pernah jatuh. Entah jatuhnya perlahan atau jatuhnya cepat. Bila ini terjadi kepada gerimis, kemungkinan ia juga sedang mengalami hal yang sama.

Gerimis tak sedang kesepian. Hanya saja ia mungkin sedang mencari teman tidur yang tepat. Yang menyenangkan. Yang membuatnya nyaman sehingga ia dapat tidur sampai liurnya menetes dalam damai—juga mengorok.

Kemudian ia mencari tanah. Hinggap di rerumput. Tumbang di dedaun. Menyentuh bulu ulat bulu. Pelipismu. Pekerjaan gerimis adalah mencoba jatuh kepada siapa dan apa saja—sampai akhirnya ia merasa click dan memutuskan bahwa pada akhirnya ia bertemu.

Teman tidur yang tepat.

Perjalanannya begitu panjang. Kadang terantuk antuk di atas gerigi genteng. Terpelanting di bawah ban mobil. Terpeleset di payung hitam, berwarna, kepala berketombe. Sudahlah gerimis, apa kamu tidak lelah jatuh terus?

Mungkin sudah saatnya kau pensiun dari jatuh. Pensiun dari patah—sekarang gantian tanah yang menghampirimu. Rerumput yang mencarimu. Dedaun dan ulat bulu yang menemukanmu. Lalu mereka jatuh kepadamu. Sampai mungkin mereka patah karenamu.

Sampai ke tahap itu kau bukan milik siapa-siapa. Mereka akan tahu diri, bahwa kau adalah milik semua orang. Kalau sudah waktunya mereka akan membebaskanmu. Wahai gerimis—sesekali kau akan berjalan dengan angkuh. Dagumu sedikit di angkat ke atas. Angkat gaunmu sedikit dan sesekali berjalan berjinjit.

Mungkin selama ini kau membangunkan teman tidurmu. Karena langkah-langkahmu yang terlalu cepat dan berisik itu.

Dago 349, 20 April 2011. 22:21. 

Wednesday, April 20, 2011

Kinanti.





Kinanti lama tak pulang.

Sepatu kuda dan dokar menunggu. Bapak tak lagi berangkat ke sawah. Ibu tak lagi menanak nasi seperti biasa. Pekarangan dan desa tiba-tiba sepi—tak ada lagi yang bernyanyi setiap pagi dengan rambut ekor kuda.

Tak ada lagi yang rajin menangkap embun dan menyimpannya berhari-hari di dalam botol. Tak ada lagi yang menyalakan lampu teplok. Bermain-main dengan kunang-kunang. Tak ada lagi yang bercerita kepada kawan-kawannya tentang tidur di langit dan mencium bintang.

Ah, kinanti. Kau gadis mungil nan lucu. Senang sekali bermain petak umpet sampai malam-malam. Sesekali menangkap kodok di sawah. Layanganmu kini hanya tergantung di atas ruang makan mungil itu.


Celengan ayammu bahkan masih berdiri dengan angkuh di atas meja kamarmu. Menabung tiap hari, seperti katamu, supaya kaya. Menabung tawa dan kebaikan. Begitu katamu waktu itu sambil tertawa dengan lesung di pipi kirimu.

Kinanti yang pelamun. Suka sekali duduk berjam-jam di dekat jendela. Melihat ke kolam depan jendela—menatap mata beningnya sendiri. Mengobrol dengan ikan-ikan, anehnya ikan-ikan itu seperti mendengarkannya. Kolam itu begitu tenang.

Kinanti bukan gadis asing. Kau akan mudah mengenalnya. Kau akan senang mendengarkan ia bercerita—ia suka sekali bercerita sambil bersenandung—senandung yang akan buatmu seperti dininabobokan, tetapi tidak mengantuk—ingin mendengarkan lagi dan lagi. Kau akan mengharapkan gadis itu menghantarkanmu ke dunia mimpi.

Terus bercerita dengan bibir mungilnya tentang Psycho girl, Destiny, Zsa Zsa Zsu, Polypanic room, dan Kinanti dirinya sendiri. Telingamu pasti tidak akan lepas darinya—mulutmu terkatup, sesekali hanya bisa senyum kecil karena melihat matanya yang begitu jenaka.

Tapi sesekali, kamu akan sedikit terisak dengan kesedihan yang ia bagi. Bercerita Polypanic room—kembali mendengarkannya berulang-ulang, terkesima, merasa sesuatu sedang menggelitiki ujung matamu. Menemukan makna di balik dentingnya—di balik bening mata Kinanti.

Bapak dan Ibu kini kangen, Kinanti. Rindu cerita-ceritanya. Apa kabar gadis itu sekarang? tanya mereka dalam hati. Tak berani saling menatap. Nanti mata mereka saling berembun. Jadi Bapak dan Ibu hanya duduk bersebelahan—saling melekatkan punggung tangan mereka.

Dago 349, 20 April 2011. 01:07, dini hari.

*menulis untuk review Album Katjie & Piering. Mari download albumnya, berisi lima track dan dengarkan bening denting mereka di sini :)


Tuesday, April 19, 2011

Sop Bulan Sabit







Gadis kecil dengan rok lipit merah biru berlari-lari  sesekali bermain pasir. Ia dengan tangan-tangan kecilnya yang gemuk mengaduk pasir memasukannya ke dalam tatakan seperti dandang, lalu menanaknya di kompor.

Setelah menanak pasir. Ia lalu mengambil batu-batu, kemudian dedaun di sekitarnya yang dicincang halus. Seperti lauk yang biasanya kamu makan di mejamu. Dan sekarang waktunya membuat kopi, di dekat pasir ia melihat tanah merah sedikit kehitaman.

Mencampurnya dengan air, lalu ia seperti merebus kopi. Sekarang waktunya ngemil, ada pisang mentah. serbuk daun jambu yang seperti keju. Dan batu-batu kecil seperti taburan coklat. Tapi ia tidak suka manis, ia lebih suka asin. Lalu, ia memutuskan untuk hanya membuat pisang keju saja.

Belum terlalu sore, tetapi heran sekali bulan sabit sudah muncul. Apa yang bisa ia perbuat dengan sabit, pikirnya. Bentuknya seperti celurit, yang biasa dipakai Ayah untuk memotong rumput. Sabit juga seperti sisir Ibu, yang dipakai menyisir rambutnya tiap pagi.

Ia kemudian berjalan ke langit. Menurunkan bulan sabit itu dengan tangannya sendiri. Ah, cukup berat rasanya. Tangan-tangan kecilnya yang gemuk pun tampak kesusahan memegang bulan sabit itu. Sesekali ia agak oleng. Keringat di dahi membasahi poninya.

Ia akan mulai memotong-motong bulan sabit itu. Mencampurnya dengan sedikit garam. Membuat air kaldu. Lalu menu makan malam kali ini adalah sop bulan sabit. Selesai memasak, ia mengambil mangkok warna-warni dari tempat mainannya.

Menghiasinya sedikit dengan tomat yang ia curi di tengah perjalanan pulang mengambil bulan sabit tadi. Membungkus peralatan masaknya kembali. Menutupnya kembali. Mengikat serbetnya rapat.

Semoga Ayah tidak mabuk. Semoga Ayah senang. Semoga Ayah tidak memukulnya lagi malam ini.

Doanya dalam hati, sepanjang perjalanan pulang.

Monday, April 18, 2011

Menumbuk Bintang

Bulan sendirian. Tak ada bintang. Sementara langit begitu culas meringkuk sendirian di balik selimut gelap. Tak ada yang peduli. Sementara di sisi lain begitu ribut—saya melihat kaki-kaki yang menari dengan lesung—mereka menumbuk bintang.

Serbuk-serbuknya tampias kemana-mana. Percik cahanyanya melompat kesana kemari. Agak tajam kena ke pipi perempuan-perempuan itu. Membuat berdarah. Tapi mereka terus tertawa-tawa, di satu sisi darah itu adalah kenikmatan.

Semakin lama tarian itu semakin kencang, mereka berputar mengikuti malam. Melayang. Sesekali ada semacam mantra yang keluar dari bibir mereka. Dan saya tidak dapat mendengar jelas, mereka bilang apa. Sementara hujan turun. Bercampur dengan darah. Bau anyir menyeruak perlahan.

Bercampur dengan tumbukan bintang di dalam lesung. Saya sendiri masih berdiri diam, dan melihat apa yang mereka lakukan selanjutnya—melihat ke kanan kiri dan sungguh heran kenapa anak-anak muda yang sedang bermalam minggu di Dago tidak ngeh akan pemandangan ini.

Saya memastikan dulu letak berdiri saya dan pastikan tidak ada yang memandang aneh kepada saya. Setelah keadaan cukup aman, saya melanjutkan melihat pemandangan itu. Kini perempuan-perempuan itu tampak sedang membagi sesuatu di sloki-sloki kecil.

Dan ketika saya memincingkan mata untuk melihat jelas, itu adalah sari bintang yang tadi mereka tumbuk. Kini ia terlihat dengan kilau yang begitu kental di dalam sloki-sloki itu. Mereka masih menari. Melayang—sesekali membaca mantra.

Hujan sudah berhenti. Kini perempuan-perempuan itu menangis perlahan. Mereka seperti mabuk. Meminum sloki-sloki itu saling bergantian. Satu dua tiga empat...lima teguk—lalu mulai mabuk bintang.

Bulan sendirian. Tak ada bintang. Saya sendirian. Tak ada sisa bintang barang sedikitpun untuk saya, padahal saya juga kepingin mabuk bintang. Merasakan grenjel-grenjelnya di dalam kerongkongan saya. 









00:40




Ini sudah pukul 00:40. Mata ini belum mengantuk. Akhir-akhir ini saya sedang banyak beriman. Salah satu iman saya adalah saya menulis maka saya sembuh. Kalimat-kalimat mulai meluncur keras—huruf-huruf kecil mulai berjatuhan dari kepala saya bagai kutu.

Mereka berlompatan, sesekali terbang—menghampiri layar netbook kosong yang sudah mulai terkantuk-kantuk. Rentetan percakapan panjang di kepala saya terus dituangkan. Mereka seperti mengejek saya yang tidak dapat mengikuti nada bicara mereka.

Terkadang tanda-tanda baca bergosip di kepala saya—bahkan mereka membicarakan sex dan masa subur. Ah, sungguh menyebalkan. Karena saya tidak mampu mengelak. Saya bisa mendengarkan mereka dengan jelas bersuara.

Belum lagi tumbuhan-tumbuhan di sekitar saya mulai bersuara. Orang-orang di dalam poster di kamar saya mulai hidup. Saya mulai melihat bayangan-bayangan lain muncul—lalu saya terus menulis.

Menulis sampai saya begitu capek. Taylor Swift terus bernyanyi dengan kasarnya di radio. Saya matikan radio karena ia begitu berisik. Mana Tuhan? saya bertanya dalam hati. Mulut saya tak mampu lagi berkata-kata. Hanya tangan saya yang mampu menuliskannya.

Mana Tuhan? saya hanya mau bilang untuknya, bahwa saya punya iman. Iman saya mungkin lebih kecil dari biji sesawi, tetapi saya mau bawa iman saya yang kecil ini saya menulis maka saya sembuh. Titik.

Saya hanya mau sembuh dari setiap hal yang buruk. Sembuhkanlah saya dari setiap patah—kalimat-kalimat murung ini terus meluncur, bagai hujan deras dan guntur yang menyambar-nyambar dengan begitu galak.

Lalu saya juga mau bertanya begini? Apa urusanMu Tuhan kalau ada yang menyakiti dan membuat anak perempuanMu terluka—apa yang akan Kau lakukan?

Tuhan lambat menjawab. Hanya kata-kata yang menyalak dengan nyaring—meminta dituliskan. Playlist pun berganti, sekarang John Legend bernyanyi dengan pilu Where did my baby go. Tuhan berganti menjadi John Legend.

Begitulah akhir cerita ini. Saya hendak tidur, karena tenggorokan saya begitu sakit. Menelan pil kata-kata. Yang kata iman saya itu akan membuat saya sembuh.

Mari kita percayai saja. Semoga saya nyenyak. Tidak ada tangisan malam ini—atau apalah sebutannya. Saya tidak mau menyebutnya air mata. Mungkin ia adalah kata-kata dari mata, yang kepingin saya tuliskan juga.

Sial! Saya mulai mengantuk.


Gelisah, drama?

Tak ada yang tahu gelisah. Gelisah akan membuatmu bertanya terus. Mempertanyakan segala sesuatu, kenapa tidak begini kenapa tidak begitu saja toh nantinya begini atau toh nantinya begitu. Entah menjadi gelisah semakin mengasah ketajaman berpikirmu.

Kamu mulai menganalisa sesuatu dengan otak kecilmu yang tidak lebih besar dari kolormu sendiri. Lalu mulai mengajukan ide-ide. Dengan sendirinya mereka seperti tercuat keluar begitu saja, membantu kegelisahanmu.

Lalu pertanyaannya muncul pada titik apa yang kamu gelisahkan?

Tak ada.

Gelisah itu hanya semacam drama populer. Yang kamu ciptakan sendiri. Dan kamu adalah tokoh utamanya. Tokoh utama itu seakan-akan kamu buat untuk berpikir keras. Patah hati. Menangis tersedu-sedu. Meracau tidak jelas. Tidak suka makan. Tidak usah tidur. Kantung matanya muncul. Rambutnya acak-acakan. Dengan berat badan yang semakin tipis.

Gelisah membawamu mendengarkan lagu-lagu mellow hampir pagi. Kemudian tertidur dengan mata bengkak. Apa pula keuntungan yang dapat didapatkan ketika kamu gelisah.

Tak ada.

Di sisi lain, ada sesuatu yang bergerak di dalam hatimu. Membuatmu pikiranmu semakin tajam. Hendak menusuk orang—sampai berdarah-darah, memecahkan kepalanya yang dungu, menghabiskan nyawanya sekalian.

Supaya tidak ada lagi hal manis di antara kalian. Supaya anggap saja kalian tidak pernah punya sesuatu. Adegan ini kemudian diselesaikan dengan ucapan MAAF yang keluar dari mulut satu-satu.

Seketika sang sutradara akan meneriakkan “CUT.”

Maka drama populer itu selesai. Dengan tokoh yang adalah kamu di dalamnya berakhir. Kini kamu kembali menjadi orang biasa, yang tertawa-tawa kencang sampai perutmu sakit. Mentertawakan pikiranmu sendiri. 

Ini hanya drama, bukan?

Kamu berbisik perlahan kepada dirimu yang pura-pura tidak mendengarnya.

Saturday, April 16, 2011

Pikun.

Pernahkah kamu kepingin pikun. Hanya ingin melupakan saja. Seakan-akan kamu ingin menghilangkan sesuatu dengan sengaja, segera. Seperti ingin menghapus kenangan baik itu pahit maupun manis.

Ketika kamu pikun, kamu dapat lebih tulus lagi mencintai orang lain. Walaupun mungkin di kehidupan sebelumnya orang tersebut pernah membuatmu terluka— sebutlah saat ini saya hanya ingin pikun. Saya tidak mau mengingat-ingatmu lagi dengan detail.

Detail itu kemudian menjadi begitu brengsek, ketika kamu hendak melupakan seseorang. Atau tercipta menjadi seseorang yang begitu detail itu seperti dikutuk. Saya memejamkan mata dan berharap saya bisa melupakan kamu segera.

Bayangan-bayangan itu masih ada. Kerut-kerut wajahmu. Bentuk jari-jari tanganmu. Senyummu. Caramu mengaduk makanan. Celana jins-mu. Ujung sepatumu. Warna sendalmu. Getaran suaramu. Saya mengingatmu dengan begitu detail. Karena begitulah saya—hal kecil pun menjadi begitu penting bagi saya.
Ini yang terkadang membuat saya benci kepada diri saya sendiri. Tolol! Kenapa ada orang seperti saya yang punya ingatan begitu detail. Lalu detail ini yang nantinya membuat saya begitu terluka. 

Brengsek!

Kamu tidak membalas sms saya.

Ini mungkin hal kecil. Bagi kamu mungkin hal ini tidak terlalu penting. Beberapa kalikamu berjanji lalu kamu membatalkannya. Silakan bilang saya berlebihan. Tapi bagi saya memegang perkataan itu begitu penting.

Saya begitu percaya denganmu. Saya pegang teguh perkataanmu. Ah bodohnya saya. Lalu kalau sudah begini apa yang harus saya lakukan. Saya duduk menghadap jendela kamar—merogoh saku tas, siapa tahu saya bisa menemukan rokok. Tapi hanya sisa bungkus rokok yang saya temukan. Dengan frustrasi saya mulai membanting-banting isi tas.

“SHIT!”

Makian itu meluncur keluar dari mulut saya. Sedetik kemudian sesuatu menggelinding keluar dari isi tas saya. Cincin tunangan kita. Warna peraknya mengkilap. Sesaat saya tertegun memandanginya lama, lalu layar hape saya pun menyala.

“Bip bip.” Suara pesan masuk.

Sayang, saya tak bisa menemuimu lagi malam ini. Ada meeting di kantor.

Begitu isi pesan yang masuk. Lalu untuk kesekian kalinya, lagi dan lagi—saya merasakan air mata turun perlahan. Tidak mau saya seka. 

Kali ini saya betul-betul ingin segera pikun—melupakanmu. 

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...