Thursday, December 30, 2010

Bangku Taman

weheartit


Saya ini adalah gadis yang sangat menggemari bangku taman. Saya suka duduk di sana berjam-jam menunggu dan menunggu. Saya suka duduk di sana sepanjang hari, lalu menjelang maghrib biasanya saya pulang.

Tapi besoknya saya ke sana lagi. Mengulangi hal yang sama, begitu terus setiap kali. Saya suka sekali berbicara dengan dahan-dahan. Lalu kadang berbisik-bisik dengan daun-daun kering. Atau tertawa dengan rumput-rumput basah.

Hm. Mungkin semacam berbagi rahasia. Ya, saya punya rahasia yang selama ini saya tutup rapat-rapat. Entahlah, saya hanya takut kalau rahasia saya ini terbongkar. Jadi saya memilih untuk mencintai bangku taman dan bercerita dengannya.

Mari saya perkenalkan bangku taman saya yang satu ini, kalau dilihat dari kejauhan ia memang sedikit rapuh. Kulitnya sudah mulai terkelupas. Warna catnya juga sudah memudar. Tapi saya menyukainya. Saya suka tampilannya yang tua.

Lalu saya mulai bercerita kepada bangku taman itu. Cerita-cerita kecil yang menyenangkan. Cerita tentang Husky dan Jacob, dua anjing lucu di kos. Atau cerita sepele yang– mungkin lebih baik tidak usah saya tulis di sini. Cerita-cerita menyenangkan yang selalu membuat saya senyum-senyum sekali. Tiap kali mengingatnya. Ah, lagi-lagi saya berganti. Tapi saya menikmatinya. Lalu saya akan bercerita tentangmu. Ya, kamu.

Mungkin kamu yang saya tunggu-tunggu. Mungkin karena wangimu yang selalu menggoda. Mungkin karena senyummu. Mungkin karena pengertianmu. Mungkin karena kamu yang tidak rusuh seperti saya. Mungkin karena kamu begitu terbalik. Begitulah saya, selalu menyukai sesuatu yang terbalik. 

"Kamu tahu kan, jalan ke taman itu. Main ke sini yuk. Supaya saya tidak sendiri lagi." 

Mungkin kamu yang sedang saya tunggu, untuk berbagi sore. Lalu kita di sana duduk di bangku taman – berciuman lama. 



Thursday, December 23, 2010

"Au Revoir"

(Silent Bells, Silver Night solemn christmas hymns, a christmas mixtape by dimas ario berisi 14 track dapat diunduh di sini)


Mendengarkan lagu-lagu yang ada di Christmas Mixtape-nya Dimas Ario, membawa saya duduk di dalam gerbong kereta yang gelap. Sementara di luar hujan rintik-rintik – butirnya sebagian jatuh di jendela. Sebagian lagi terjun dengan bebasnya ke dedaunan.

Kursi di dalam gerbong itu berwarna kecoklatan, ada beberapa kecoak yang bolak-balik di kaki saya. Selain itu ada semacam kumbang kecil—saya tidak tahu namanya apa, lalu lalang di lorong-lorong gerbong. Saya tidak bawa apa-apa, hanya ada semacam buku bacaan yang ada di pangkuan, setelah saya ingat lagi, itu adalah buku The Alphabet Sisters yang belum selesai saya baca.

Dari jendela kereta, sore semakin menua—hari mulai berganti kulit. Kereta, tiba-tiba berhenti di suatu tempat. Banyak laki-laki dan perempuan tua, mereka bergerombol masuk dan memenuhi gerbong saya. Setelan mereka vintage, hitam-hitam—lalu mulai berdansa, berpasang-pasangan.

Kulit mereka tampak pucat tapi tetap ada senyuman mengembang di pipi mereka. Sesekali mereka mengangkat sloki-sloki kecil berisi anggur tinggi-tinggi, lalu mengucapkan sesuatu keras-keras. Semacam mengucapkan “Au revoir”— ya, kata itu diucapkan keras-keras.

Lalu mereka tertawa-tawa kencang sekali.  Mendadak gerbong saya riuh sekali.

Tidak lama kemudian seorang perempuan tua, menghampiri saya dan menawari saya satu sloki anggur, lalu mengucapkan “selamat natal”. Saya membalasnya, mengucapkan terima kasih, lalu meneguk minuman  itu perlahan-lahan.

Ketika saya hendak bertanya, kenapa mereka mengucapkan "Au Revoir", perempuan itu telah pergi—lalu hilang.

Ah, bahkan saya lupa kalau malam ini adalah malam natal. Saya coba melongok keluar jendela, merasakan dinginnya angin malam di muka saya. Melihat ke langit, mencoba mencari bintang. Lalu saya menemukan hanya satu bintang, pelit sekali langit malam ini—pikir saya.

Tak apa, bisa jadi bintang itu semacam disuruh untuk menemani saya malam ini. Bunyi jeruji dan gesekan di rel terdengar semakin lama-semakin pelan. Kini, kereta saya tiba di suatu tempat. Saya turun, menoleh ke belakang— 
tidak ada lagi pesta kecil, tidak ada lagi gerombol orang tua yang berdansa tadi.

Gerbong kini kosong—sunyi. Sayup-sayup saya mendengar lonceng di kejauhan. 
Selamat hari natal, selamat tinggal gelap-- Au Revoir. 

Tuesday, December 21, 2010

It's Over Now

pic from here

(dapatkan juga informasi tentang Bonita di sini)  

Pada suatu masa, di suatu sore. Ketika saya sedang merasa kehilangan, saya mampir di sini.  Tobucil bagi saya adalah seperti rumah untuk menemukan sesuatu. Sesuatu itu mungkin adalah lagu—lagu yang kemudian mengisimu.

Teman saya Wikupedia, sedang menyetel sebuah lagu. Lebih tepatnya lagi sebuah Album yang begitu cantik dari Bonita. Kenapa saya bilang cantik, karena terus terang saya suka dengan cover albumnya—selanjutnya ada satu track lagu yang begitu menarik perhatian saya.

Lagu It’s over now.

Entah kenapa lagu ini langsung saya putar berulang-ulang ketika itu. Kini—beberapa bulan kemudian. Saya merasakan kehilangan yang sama. Kehilangan yang rasanya sengaja—saya sengaja menghilangkan sesuatu. Tapi, tidak mau juga diisi oleh yang lain.

Lalu saya teringat kembali akan lagu ini. Mendengarkan lagu ini kembali, seperti mengajak saya melepaskan sesuatu dengan kesenangan. Seperti membuat saya belajar menghilangkan sesuatu tanpa beban.

Mendengarkan lagu ini membawa saya ke pantai, mengenakan bikini oranye. Duduk dengan minuman berwarna saya di gelas tinggi. Selonjorkan kaki panjang-panjang, lalu menikmati semilir angin. Dengan topi lebar saya ujungnya terbang-terbang.

Mungkin topi saya juga bergembira, saya telah melepaskannya. Sementara di kejauhan ada gulungan ombak, tidak terlalu besar. Cukup untuk melihat lautan biru yang super luas—merasakan kedipan langit yang jernih. 

Ah lalu setelah menikmati minuman saya, ada es krim rum kesukaan saya yang kini saya habiskan. Saya menjilati es krimnya pelan-pelan—seakan tidak ada hari esok. Melepaskan, kehilangan—lalu tidak mau buru-buru diisi.

Mendengarkan lagu ini, ada perasaan leluasa seperti biru di kejauhan. Ada jernih seperti langit, perasaan saya bergelombang tinggi—ini adalah perasaan melepaskan yang menyenangkan. Saat ini kalaupun saya sedang merasakan kehilangan yang sama, lagu ini cukup menguatkan saya untuk melepaskan—lalu tersenyum.

Begitu saja, selamat melepaskan—kali ini saya melakukannya dengan senyuman. Nikmatilah bikini oranyemu hari ini.


Monday, December 20, 2010

Swing and Jingle

pic from here


(feel free to Download 'N Enjoy @leonardo_music New Christmas Single "Swing and Jingle" here)

Kadang kau ingin lari dari kesibukan di hari Senin, lalu pergi ke pesta dan berdansa. Mendengarkan lagu Leonardo membawa saya kesana. Seperti sedang ada di arena dansa. Saya dengan gaun backless sematakaki, lalu menari dengan kaki-kaki lincah mengikuti irama. Saya ada di bawah sorotan lampu-lampu warna, sendirian menggoyangkan badan tak peduli ada yang melihat.

Banyak orang yang berdiri di sekitar saya seperti mencibir, mereka ingin masuk ke dalam arena. Tapi terlalu terintimidasi dengan gerakan saya yang begitu lihai. Saya bahkan sampai lupa kalau ini adalah lagu Natal. Ah, Natal itu untuk siapa saja bukan?

Natal mungkin untuk saya. Untuk mereka. Untuk siapa saja yang mungkin tidak percaya kepada Natal. Terserah, yang penting saat ini saya tidak berhenti menghentakkan kaki. Yang penting saat ini saya tidak berhenti menggoyang-goyangkan kepala saya ke atas dan ke bawah.

Semangat di lagu ini seperti meloncat—menusuk batas antara agama dan bersenang-senang. Tidak ada kesenangan dalam agama. Oleh karena itu saya pilih untuk bersenang-senang saja. Ada kegembiraan—begitu panjang yang terdengar di lagu ini.

Saya merasa bebas untuk bergerak, saya merasa bebas untuk memilih, bahkan saya tidak terlalu peduli ketika gaun saya robek—waktu sedang menari. Biarkan saja, sesuatu yangg terlalu mengekang itu tidak baik—robek saja.

Tidak ada batas yang mengikat. Tidak ada tembok yang menjarak. Tidak ada benteng yang terlalu tinggi. Ketika mendengarkan lagu ini, yang ada di pikiran saya adalah berdansa dan berdansa. Berputar dan meloncat-loncat di arena—sendirian.

Sampai orang berpikir saya orang gila, tidak apa toh saya gembira. Bukankah Natal untuk semua?—lebih dari sekedar perayaan agama. Jadi berdansalah.




Mungkin sepi hanya perjalanan

didedikasikan kepada: Kembali Sepi – Buat Gadis Rasid, di sini

Ini bukan review. Ini hanya tulisan pendek yang coba saya buat kepada teman musisi favorit saya. Salah satunya adalah Galih Su atau yang biasanya kita kenal dengan nama Deugalih.

Mendengarkan lagu Galih adalah membawa saya kepada perjalanan. Menelusuri sungai panjang, hanya ada batu-batu besar, gemericik air, angin yang bertiup di muka.

Yang didengarkan adalah sepi. Lalu, saya duduk dengan kopi, kemudian mulai mendengarkan diri saya sendiri. Perjalanan panjang itu kemudian menghentikan saya kepada bongkahan yang ada di hati saya sendiri. Alih-alih hendak berjalan mendekat kepada bongkahan itu. 

Tapi saya terlalu takut. Saya tidak berani mendekat. Saya melihat ke arah kiri dan kanan, tidak ada siapa-siapa kok, kenapa musti takut. Tangan saya gemetar, ketika hendak menyentuh bongkahan di hati saya. Cukup keras—lalu kini saya melihat saya sudah membuka kertas pembungkusnya perlahan.

Bibir saya mulai bergetar. Mata saya basah—sedikit. Terus terang, saya agak malu kalau kedapatan menangis. Jadi saya buru-buru menghapus air mata saya sebelum mereka jatuh menyatu dengan aliran sungai. Larut lalu mengalir. Terseok-seok sedikit dengan batu-batu sungai tapi tetap mengalir.

Bongkahan itu kini terlihat. Saya melihatnya dengan jelas. Telinga saya mendengarnya dengan jernih. Tak ada pemisah lagi diantara saya dengannya. Pelan-pelan saya memeluk bongkahan itu, entah kenapa saya begitu pengecut meninggalkannya sendirian selama ini.

“Brengsek!”

Kata itu keluar perlahan dari bibir saya. Tiba-tiba saya sadar satu hal, bongkahan itu bukan benda asing—atau punya orang lain. Itu punya saya sendiri. Kemudian saya memeluknya erat. Lalu mulai menangis sekencang-kencangnya.

ooo tenang.. ujarmu tenanglah

Sepenggal lirik dari kembali sepi. Menguatkan saya. Begitu sejuk mengalir perlahan di pipi. Saya mulai memberanikan diri untuk berdiri, memasukkan kaki saya ke air sungai yang dingin. Dinginnya menerpa telapak kaki saya yang telanjang.

antara daun daun hijau, padang lapang dan terang
anak anak kecil tidak bersalah

Sepucuk lirik dari lagu Buat Gadis Rasid, mengangkat muka yang tertunduk untuk sedikit menghela nafas lalu menghirup udara. Kini saya biarkan memenuhi paru-paru saya, membelai sedikit bongkahan, yang masih ada—tidak lagi tersesat. Mungkin sepi hanya perjalanan. 

Kopi saya habis, saatnya saya pulang.

Tapi Pergilah

weheartit


Saya tidak suka ini. Ketika saya hendak bergerak maju, kau selalu datang. Saya sudah tidak terbiasa lagi dengan kedatanganmu. Saya hendak berpergian. Saya hendak menjelajah tempat baru. Saya hendak terbang tinggi ke tempat dimana kau tidak bisa menjangkau saya.

Lalu, kau memang tidak akan menjangkau saya. Kau tidak bisa. Bagi saya kau sudah mati. Bagi saya kau sudah tidak seru lagi untuk dibahas di hati dan juga di pikiran saya. Mau apa lagi sih? Terakhir kali kita bertemu, kau bilang kau kangen.

Ya, saya masih menjawabnya dengan: aku juga kangen.

Tapi tiba-tiba, segala sesuatu berubah. Betul? Kau buat saya sedih dengan keputusan-keputusanmu. Kau bersama—sudahlah. Saya menghargai. Saya menghormati segala sesuatunya. Saat ini saya punya sayap. Sayap saya satu, tapi saya ingin terbang.

Tolong, saya mohon! Jangan ganggu saya.

Berhentilah muncul di mimpi saya. Berhentilah menyayangi saya lewat mimpi. Berhentilah mencium saya lewat mimpi. Berhentilah menyentuh saya, walau hanya lewat mimpi. Saya ingin melupakanmu. Tempat tidur saya kini penuh, saya meletakkan banyak bantal, supaya tak ada sisa untuk –badanmu.

Begitu saja. Saya masih suka telanjang. Saya tahu persis, bagian mana dari tubuh saya yang—paling kau suka.

Tapi pergilah.

if you're lost you can look--and you will find me
time after time
if you fall I will catch you--I'll be waiting

I’m NOT waiting for you.

Sunday, December 19, 2010

Petrichor

weheartit

Petrichor itu wangi hujan pertama. Kalau kau mengaku jatuh cinta dengan hujan, maka kau pasti akan mengenalinya. Sebutlah itu adalah aroma hujan, yang bercampur dengan tanah. Atau kau bisa mengoogling sendiri, lalu temukan maknanya di sana.

Ketika saya menulis ini hujan memang sedang turun. Wangi petrichor kemudian menyeruak memasuki kamar saya. Satu hal yang biasanya saya lakukan ketika hujan adalah, membuka pintu dan jendela lebar-lebar, supaya saya bisa menatap mereka.

Ya, hanya menatap. Saya suka menatap mereka. Saya suka mendengarkan bunyi gemerincing mereka diantara genteng. Saya suka memejamkan mata saya untuk mendengarkan hujan lekat-lekat. Hal ini kemudian menimbulkan nada sendiri.

Lalu, saya mulai menulis. Menulis apapun yang saya suka.

Sebelum menulis ada satu kebiasaan yang sering sekali saya lakukan yaitu, bermain-main dengan pikiran saya. Ada hal yang kini cukup mengganggu saya, yaitu soal bertumbuh dan menjadi dewasa. Ada kesimpulan yang mendadak hadir di kepala saya.

Sempat saya tweet dengan hashtag #selintas: semakin tua semakin jaim. Semakin lupa tuk bermain-main.

Banyak orang ketika bertambah umur semakin jaim, mereka selalu mencoba untuk memberikan nasihat kepada orang lain. Dan sebisa mungkin kata-kata positif yang keluar dari mulut mereka.

Lalu, tiba-tiba saya mulai bosan dengan tubuh orang dewasa itu. Saya merasa orang dewasa itu terlalu banyak pakai topeng. Saya merasa menjadi orang dewasa itu selalu menjaga aturan dan kesopanan dalam berperilaku dan berkelakuan.

Hm.

Lalu, masih dari tweet #selintas: semakin dewasa. semakin sok tahu. padahal menerbangkan balon di jalan-jalan pun keindahan. butuh pengetahuan.

Jujurlah, kau pasti pernah bertemu dengan orang ini? atau mungkin orang itu adalah kau?

Kalau saat ini ada yang bertanya pada saya, lalu apa sebaiknya yang harus kau lakukan ketika menjadi dewasa.

Bertumbuhlah, tapi jangan dewasa.

Teruslah bermain seperti anak-anak.

Teruslah bermimpi, salah satu mimpi saya yaitu: Hei 2011, bawa saya ke Paris. Saya mau pakai gaun renda oranye. Terbangkan balon dengan kaki telanjang.

Saya mulai memejamkan mata. Dalam nama petrichor saya berdoa.

memanggilmu, Ilalang.

weheartit


Lalu, begini. Kini saya ada di belakang netbook ini dan menulis tentangmu. Saya harap kau tidak merasa keberatan dengan nama barumu dan semoga kau suka.

Ada cangkir berisi teh rasa lemon di depan saya dengan gula yang tidak saya aduk. Kenapa tidak diaduk? Saya malas mengaduknya? Biarkan ia larut sendiri. Sama seperti cinta, kadang kau harus biarkan cinta itu larut.

Lalu saat ini saya sudah larut ke dalam matamu yang hitam dan bibirmu yang tertawa. Saya begitu terbius dengan kata-kata dalam tulisan-tulisanmu, yang begitu indah. Apalagi ketika kau menggambarkan-- ah sudahlah.

Kau tahu saya suka hujan, lalu saya begitu tergila-gila denganmu-- Kau begitu memesona saya. Kau buat saya jatuh cinta lagi terhadap kehidupan, rasa ini membuat saya begitu sembuh --sembuh total.

Untuk menjalani kembali hari-hari saya. Entah kenapa saya merasa begitu tolol, saya tidak bisa memilikimu. Kau punya dia, kau mencintainya. Semoga ini tidak berlebihan.

Tapi tidak apa, saya mau mencinta. Dan kau tetaplah di sana, tetaplah dengan keberadaanmu, tetaplah seperti sedia kala, seperti sebelum saya menemukanmu di balik rumput hijau.

Lalu, saya memanggilmu ilalang. Kalau kau tanya? Kenapa saya memanggilmu ilalang. Karena kau tumbuh liar diantara rumput hijau.

Kau datang dengan liar lalu memesona. Begitu saja.

Friday, December 17, 2010

Day #30: Kupu

bangkai kupu
di dedaun
merah ungu
kibaskan sayap
patah, menuju
taman bunga
ilalang.
belum mati.

Thursday, December 16, 2010

Day #29: Pagi Rindu

gelisah--
pagi tak
menghembuskan
nafasmu,
ilalang.
bisu
di antara
denting
pepohonan.
rinduku
berhamburan
di dedaunan. 
berguguran
berhelai
ingin mengecup
matamu
yang sendu. 

Wednesday, December 15, 2010

Day #28: Sepanjang Jalan

kicauan di atas
langit kedinginan, daundaun
bergerak menggantung sepi,
ilalang sedang apa?
aku bertanya.

lalu deras kicau, menjadi
lirik pagi. hari bernyanyi,
berdengung panjang
sungai di pipi, kering
kali ini tak ada mata air.

berdiri tegak
antara rumput, demikianlah
aku mengenalmu, ilalang.
terbungkuk bungkuk dengan sopan
hendak ku petik, lalu
ku bawa pulang.

kecup aku sepanjang jalan.

Tuesday, December 14, 2010

Day #27: Jatuh?

bunyi tuts katakata
mati, mengetik
namanya tanpa henti
panggil ia: ilalang.
berayun
di langit, menyala
di tengah sore
memagut bibir
hari, tanpa ampun.
gigitlah kupukupukupu
yang muntah di perutku.

Monday, December 13, 2010

Day #26: 00:48

track ke-tiga
tanggal tiga belas
tape menyala
senyumsenyum
kecil, lampulampu
malam mengerjap
di kejauhan mata
ini terjaga. hei!
selamat pagi,
ilalang
bawa, ku terbang.
lalu bersama liarmu
rindukan aku.

Sunday, December 12, 2010

Friday, December 10, 2010

Day #23: Pojok Pulang

1

bertemu ilalang
di pojok pulang
merayap di kepala
tumbuh liar di ruasruas hati
menyala pada Desember
seperti pohon terang
ilalang, tenanglah.
menguninglah.
pelan pelan.

2

lalu, aku ini capung
meloncat kegirangan
pada lorong lorong tanah
ketika hujan reda
kalender rontok
hendak layu
sekian hari menunggu.

3

hujanku reda
ilalang, tenanglah
terbanglah.
menguninglah.

Thursday, December 9, 2010

Wednesday, December 8, 2010

Day #21: Rindu

: mengenang Munir.

ketika hujan tua
sajaksajak tumpah
mari minum kata

malaikat bercinta
tuhan tuhan mabuk
meminum kematian

rindu ini pulang
kepada rumah pahlawan
: batu nisan

Tuesday, December 7, 2010

Day #20: Dongeng Natal

pintu pintu berkaca
riuh rusa rusa malam
aku mengintip palungan
ada herodes bersepatu santa
janggutnya meleleh di jerami
membakar mas kemenyan dan mur
Tuhanku dimana?
tak ada. Ia ditelan agama.

Monday, December 6, 2010

Day #19: Dan Aku Bukan Cinderella

dan aku bukan cinderella
aku babu bersepatukaca
aku suka berdiri di jendela
menyetubuhi sajaksajak telanjang
tak kenal detik dan waktu
pukul duabelas lewat
lipstikku masih menyala
putingku masih merekah.

Sunday, December 5, 2010

Day #18: Pada Suatu Ketika

sembunyi di balik awan
terbang tinggi bersama balonbalon hitam
bibir hujan terbuka sedikit
seperti ingin menangis
rumput rumput tak lagi berlompat
ketika cinta habis di tangan.

Saturday, December 4, 2010

Day #17: Mangkuk Hujan

seporsi hujan
untukmu kawan
yang kedinginan
di bawah awan
“bawalah pulang.”
simpanlah di lemari
‘tuk kakikaki yang menari
lelah merentang hari.

Friday, December 3, 2010

Day #16: Sajak Perempuan

1

perempuan menulis kerut
pada sajaksajak mungilnya
menggantungnya di kaca
menengoknya sehabis mandi
telanjang.
sajaksajak menyetubuhinya
setiap pagi.

2

bagian favorit dari tubuhku
itu selulit.
persis di bawah payudaraku
kau gigit setiap malam
sampai kau tertidur pulas.
paginya, di bibirmu ada puisi.
mau, bacakan untukku?

3

berbagi bibir di cangkir kopi
tak ada habisnya.
aku gigit bibirmu perlahan
supaya sajak tumpah darinya
lalu kuminum hasratmu
yang belum selesai di atas kasur.

Thursday, December 2, 2010

Day #15: Sepatu Santa

kutemukan katakata
di sepatu santa
kubuat pohonterang
sinari ruas ruas hatimu.
saatnya menggantung Tuhan
salib dan bintang
di atas dahandahan
siapa tahu kau rindu pulang
malam ini besok atau lusa
entah kapan
“aku tunggu?”

Wednesday, December 1, 2010

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...